BERBUKA PUASA
Oleh
Syaikh Salim bin 'Ied Al-Hilaaly
Syaikh Ali Hasan Ali Abdul Hamid
http://www.almanhaj.or.id/content/1120/slash/0
[1]. Kapan Orang Yang Puasa Berbuka ?
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam" [Al-Baqarah : 187]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menafsirkan dengan datangnya malam dan
perginya siang serta sembunyinya bundaran matahari. Kami telah membawakan
(penjelasan ini pada pembasahan yang telah lalu,-ed) agar menjadi tenang hati
seorang muslim yang mengikuti sunnatul huda.
Wahai hamba Allah, inilah perkataan-perkataan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam ada di hadapanmu dapatlah engkau membacanya, dan keadaannya yang sudah
jelas dan telah engkau ketahui, serta perbuatan para sahabatnya, Radhiyallahu
'anhum telah kau lihat, mereka telah mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Syaikh Abdur Razaq telah meriwayatkan dalam Mushannaf 7591 dengan sanad yang
dishahihkan oleh Al-Hafidz dalam Fathul Bari 4/199 dan al-Haitsami dalam Majma'
Zawaid 3/154 dari Amr bin Maimun Al-Audi.
"Para sahabat Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang-orang yang
paling bersegera dalam berbuka dan paling akhir dalam sahur"
[2]. Menyegerakan Berbuka
Wahai saudaraku seiman, wajib atasmu berbuka ketika matahari telah terbenam,
janganlah dihiraukan oleh rona merah yang masih terlihat di ufuk, dengan ini
berarti engkau telah mengikuti sunnah Rasuullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan menyelisihi Yahudi dan Nasrani, karena mereka mengakhirkan berbuka.
Pengakhiran mereka itu sampai pada waktu tertentu yakni hingga terbitnya
bintang. Maka dengan mengikuti jalan dan manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam berarti engkau menampakkan syiar-syiar agama, memperkokoh petunjuk
yang kita jalani, yang kita harapkan jin dan manusia berkumpul diatasnya.
Hal-hal tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada
pargraf-paragraf yang akan datang.
[a]. Menyegerakan Buka Berarti Menghasilkan Kebaikan.
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
"Artinya : Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan bebuka"
[Hadits Riwayat Bukhari 4/173 dan Muslim 1093]
[b]. Menyegerakan Berbuka Adalah Sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam
Jika umat Islamiyah menyegerakan berbuka berarti mereka tetap di atas sunnah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan manhaj Salafus Shalih, dengan izin
Allah mereka tidak akan tersesat selama "berpegang dengan Rasul mereka (dan)
menolak semua yang merubah sunnah".
Dari Sahl bin Sa'ad Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda.
"Artinya : Umatku akan senantiasa dalam sunnahku selama mereka tidak menunggu
bintang ketika berbuka (puasa)" [1].
[c]. Menyegerakan Buka Berarti Menyelisihi Yahudi dan Nashrani
Tatkala manusia senantiasa berada di atas kebaikan dikarenakan mengikuti manhaj
Rasul mereka, memelihara sunnahnya, karena sesungguhnya Islam (senantiasa)
tetap tampak dan menang, tidak akan memudharatkan orang yang menyelisihinya,
ketika itu umat Islam akan menjadi singa pemberani di lautan kegelapan,
tauladan yang baik untuk diikuti, karena mereka tidak menjadi pengekor orang
Timur dan Barat, (yaitu) pengikut semua yang berteriak, dan condong bersama
angin kemana saja angin bertiup.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
"Artinya : Agama ini akan senantiasa menang selama manusia menyegerakan berbuka
[2], karena orang-orang Yahudi dan Nasrani mengakhirkannya" [Hadits Riwayat Abu
Dawud 2/305, Ibnu Hibban 223, sanadnya Hasan]
Kami katakan :
Hadits-hadits di atas mempunyai banyak faedah dan catatan-catatan penting,
sebagai berikut.
Kemenangan agama ini dan berkibarnya bendera akan tercapai dengan syarat
menyelisihi orang-orang sebelum kita dari kalangan Ahlul Kitab, ini sebagai
penjelasan bagi umat Islam, bahwa mereka akan mendapatkan kebaikan yang banyak,
jika membedakan diri dan tidak condong ke Barat ataupun ke Timur, menolak untuk
mengekor Kremlin atau mencari makan di Gedung Putih -mudah-mudahan Allah
merobohkannya-, jika umat ini berbuat demikian mereka akan menjadi perhiasan
diantara umat manusia, jadi pusat perhatian, disenangi oleh semua hati. Hal ini
tidak akan terwujud, kecuali dengan kembali kepada Islam, berpegang dengan
Al-Qur'an dan As-Sunnah dalam masalah Aqidah dan Manhaj.
Berpegang dengan Islam baik secara global maupun rinci, berdasarkan firman
Allah : "Artinya : Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu dalam Islam
secara kaffah" [Al-Baqarah : 208] Atas dasar inilah, maka ada yang membagi
Islam menjadi inti dan kulit, (ini adalah pembagian) bid'ah jahiliyah modern
yang bertujuan mengotori fikrah kaum muslimin dan memasukkan mereka ke dalam
lingkaran kekhawatiran. (Hal ini) tidak ada asalnya dalam agama Allah, bahkan
akhirnya akan merembet kepada perbuatan orang-orang yang dimurkai Allah,
(yaitu) mereka yang mengimani sebagian kitab dan mendustakan sebagian yang
lainnya ; Kita diperintah untuk menyelisihi mereka secara global maupun
terperinci, dan sungguh ! kita mengetahui buah dari menyelisihi Yahudi dan
Nasrani adalah tetap (tegak)nya agama lahir dan batin.
Dakwah ke jalan Allah dan memberi peringatan kepada mukminin tidak akan
terputus, perkara-perkara baru yang menimpa umat Islam tidak menyebabkan kita
memilah syiar-syiar Allah, jangan sampai kita mengatakan seperti perkataan
kebanyak mereka : "Ini perkara-perkara kecil, furu'. khilafiyah dan hawasyiyah,
kita wajib meninggalkannya, kita pusatkan kesungguhan kita untuk perkara besar
yang memecah belah shaf kita dan mencerai beraikan barisan kita.
Perhatikan wahai kaum muslimin, da'i ke jalan Allah di atas basyirah, engkau
telah tahu dari hadits-hadits yang mulia bahwa jayanya agama ini bergantung
pada disegerakannya berbuka puasa yang dilakukan tatkala lingkaran matahari
telah terbenam, Maka bertaqwalah kepada Allah (wahai) setiap orang yang
menyangka berbuka ketika terbenamnya matahari adalah fitnah, dan seruan untuk
menghidupkan sunnah ini adalah dakwah yang sesat dan bodoh, menjauhkan umat
Islam dari agamanya atau menyangka (hal tersebut) sebagai dakwah yang tidak ada
nilainya, (yang) tidak mungkin seluruh muslimin berdiri di atasnya, karena hal
itu adalah perkara furu', khilafiyah atau masalah kulit!! Walaa haula walaa
quwwata illa billah.
[d]. Berbuka Sebelum Shalat Maghrib
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbuka sebelum shalat Maghrib[3]
karena menyegerakan berbuka termasuk akhlaknya para nabi. Dari Abu Darda'
Radhiyallahu 'anhu.
"Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi : menyegerakan berbuka,
mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan di atas tangan kiri dalam shalat" [4]
[3]. Berbuka Dengan Apa ?
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbuka dengan korma, kalau tidak ada
korma dengan air, ini termasuk kesempurnaan kasih sayang dan semangatnya
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (untuk kebaikan) umatnya dan dalam
menasehati mereka. Allah berfirman.
"Artinya : Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu
sendiri, berat terasa olehnya penderitaan olehmu, sangat menginginkan (keimanan
dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang
mukmin" [At-Taubah : 128]
Karena memberikan ke tubuh yang kosong sesuatu yang manis, lebih membangkitkan
selera dan bermanfaat bagi badan, terutama badan yang sehat, dia akan menjadi
kuat dengannya (korma). Adapun air, karena badan ketika dibawa puasa menjadi
kering, jika didinginkan dengan air akan sempurna manfaatnya dengan makanan.
Ketahuilah wahai hamba yang taat, sesungguhnya korma mengandung berkah dan
kekhususan -demikian pula air- dalam pengaruhnya terhadap hati dan
mensucikannya, tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang yang berittiba'. Dari
Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu (ia berkata) :
"Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbuka dengan korma
basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr),
jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air"[5]
[4]. Yang Diucapkan Ketika Berbuka
Ketahuilah wahai saudaraku yang berpuasa - mudah-mudahan Allah memberi taufiq
kepada kita untuk mengikuti sunnah Nabi-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam-
sesungguhnya engkau punya do'a yang dikabulkan, maka manfaatkanlah, berdo'alah
kepada Allah dalam keadaan engkau yakin akan dikabulkan, -ketahuilah
sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do'a dari hati yang lalai-. Berdo'alah
kepada-Nya dengan apa yang kamu mau dari berbagai macam do'a yang baik,
mudah-mudahan engkau bisa mengambil kebaikan di dunia dan akhirat.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
"Artinya : Tiga do'a yang dikabulkan : do'anya orang yang berpuasa, do'anya
orang yang terdhalimi dan do'anya musafir" [6]
Do'a yang tidak tertolak ini adalah ketika waktu engkau berbuka berdasarkan
hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda.
"Artinya : Tiga orang yang tidak akan ditolak do'anya : orang yang puasa ketika
berbuka, Imam yang adil dan do'anya orang yang didhalimi" [7]
Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya orang yang puasa ketika berbuka memeliki doa yang tidak
akan ditolak" [8]
Do'a yang paling afdhal adalah do'a ma'tsur dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam, bahwa beliau jika berbuka mengucapkan.
Dzahaba al-dhoma'u wabtali al-'uruuqu watsabbati al-ajru insya Allah
"Artinya : Telah hilang dahaga dan telah basah urat-urat, dan telah ditetapkan
pahala Insya Allah" [9]
[5]. Memberi Makan Orang Yang Puasa
Bersemangatlan wahai saudaraku -mudah-mudahan Allah memberkatimu dan memberi
taufik kepadamu untuk mengamalkan kebajikan dan taqwa- untuk memberi makan
orang yang puasa karena pahalanya besar dan kebaikannya banyak.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Barangsiapa yang memberi buka orang yang puasa akan mendapatkan
pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahalanya
sedikitpun" [10]
Orang yang puasa harus memenuhi undangan (makan) saudaranya, karena barangsiapa
yang tidak menghadiri undangan berarti telah durhaka kepada Abul Qasim
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dia harus berkeyakinan bahwa Allah tidak akan
menyia-nyiakan sedikitpun amal kebaikannya, tidak akan dikurangi pahalanya
sedikitpun.
Orang yang diundang disunnahkan mendo'akan pengundangnya setelah selesai makan
dengan do'a-do'a dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Telah makan makanan kalian orang-orang bajik, dan para malaikat
bershalawat (mendo'akan kebaikan) atas kalian, orang-orang yang berpuasa telah
berbuka di sisi kalian" [11]
"Artinya : Ya Allah, berilah makan orang yang memberiku makan berilah minum
orang yang memberiku minum" [Hadits Riwayat Muslim 2055 dari Miqdad]
"Artinya : Ya Allah, ampunilah mereka dan rahmatilah, berilah barakah pada
seluruh rizki yang Engkau berikan" [Hadits Riwayat Muslim 2042 dari Abdullah
bin Busrin]
[Disalin dari Kitab Sifat Shaum Nabi Shallallahu 'alaihi wa Sallam Fii
Ramadhan, edisi Indonesia Sipat Puasa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam oleh
Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid, terbitan Pustaka
Al-Haura, penerjemah Abdurrahman Mubarak Ata]
________
Foote Note.
[1]. Hadits Riwayat Ibnu Hibban (891) dengan sanad Shahih, asalnya -telah lewat
dalam shahihain- Kami katakan : Syia'h Rafidhoh telah mencocoki Yahudi dan
Nasrani dalam mengakhirkan buka hingga terbitnya bintang. Mudah-mudahan Allah
melindungi kita semua dari kesesatan.
[2]. Hal ini bukan berarti, jika manusia telah terlena dengan dunianya hingga
mereka mengakhirkan buka mengikuti Yahudi dan Nasrani, kemudian agama ini
menjadi kalah, tidak demikian keadaannya, Islam senantiasa akan menang kapanpun
juga, dan dimanapun tempatnya. Wallahu a'lam, -ed
[3]. Hadits Riwayat Ahmad (3/164), Abu Dawud (2356) dari Anas dengan sanad
Hasan.
[4]. Hadits Riwayat Thabrani dalam Al-Kabir sebagaimana dalam Al-Majma (2/105)
dia berkata : "..... marfu' dan mauquf shahih adapaun yang marfu' ada perawi
yang tidak aku ketahui biografinya". Aku katakan Mauquf -sebagaimana telah
jelas- mempunyai hukum marfu'
[5]. Hadits Riwayat Ahmad (3/163), Abu Dawud (2/306), Ibnu Khuzaimah
(3/277,278), Tirmidzi 93/70) dengan dua jalan dari Anas, sanadnya shahih
[6]. Hadits Riwayat Uqaili dalam Ad-Dhu'afa' (1/72), Abu Muslim Al-Kajji dalam
Juz-nya, dan dari jalan Ibnu Masi dalam Juzul Anshari { } sanadnya hasan kalau
tidak ada 'an-'annah Yahya bin Abi Katsir, hadits ini punya syahid yaitu hadits
selanjutnya.
[7]. Hadits Riwayat Tirmidzi (2528), Ibnu Majah (1752), Ibnu Hibban (2407) ada
jahalah Abu Mudillah.
[8]. Hadits Riwayat Ibnu Majah (1/557), Hakim (1/422), Ibnu Sunni (128),
Thayalisi (299) dari dua jalan Al-Bushiri berkata : (2/81) ini sanad yang
shahih, perawi-perawinya tsiqat.
[9]. Hadits Riwayat Abu Dawud 92/306), Baihaqi (4/239), Al-Hakim (1/422) Ibnu
Sunni (128), Nasaai dalam 'Amalul Yaum (296), Daruquthni (2/185) dia berkata :
"sanadnya hasan". Aku katakan : memang seperti ucapannya.
[10]. Hadits Riwayat Ahmad (4/144,115,116,5/192) Tirmidzi (804), ibnu Majah
(1746), Ibnu Hibban (895), dishahihkan oleh Tirmidzi.
[11]. Hadits Riwayat Abi Syaibah (3/100), Ahmad (3/118), Nasa'i dalam 'Amalul
Yaum" (268), Ibnu Sunni (129), Abdur Razak (4/311) dari berbagai jalan darinya,
sandnya shahih
Peringatan.
Apa yang ditambahkan oleh sebagian orang tentang hadits ini : "Allah
menyebutkan di majlis-Nya" adalah tidak ada asalanya. Perhatikan !!