TATA CARA PUASA ENAM HARI BULAN SYAWWAL

http://www.almanhaj.or.id/content/2835/slash/0



Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan masyru’ 
(disyari'atkan). Pendapat yang menyatakan bid’ah atau haditsnya lemah, 
merupakan pendapat bathil [1].   Imam Abu Hanifah, Syafi’i dan Ahmad 
menyatakan istihbab pelaksanaannya [2].  



Adapun Imam Malik, beliau rahimahullah menilainya makruh. Agar, orang 
tidak memandangnya wajib. Lantaran kedekatan jaraknya dengan Ramadhan. 
Namun, alasan ini sangat lemah, bertentangan dengan Sunnah shahihah. 



Alasan yang diketengahan ini tidak tepat, jika dihadapkan pada 
pengkajian dan penelitian dalil, yang akan menyimpulkan pendapat 
tersebut lemah. Alasan terbaik untuk mendudukkan yang menjadi penyebab 
sehingga beliau berpendapat demikian, yaitu apa yang dikatakan oleh Abu 
‘Amr Ibnu ‘Abdil Barr, seorang ulama yang tergolong muhaqqiq (peneliti) 
dalam madzhab Malikiyah dan pensyarah kitab Muwatha.



Abu ‘Amr Ibnu ‘Abdil Barr berkata,"Sesungguhnya hadits ini belum sampai 
kepada Malik. Andai telah sampai, niscaya beliau akan berpendapat 
dengannya.” Beliau mengatakan dalam Iqna’, disunnahkan berpuasa enam 
hari di bulan Syawal, meskipun dilaksanakan dengan terpisah-pisah.  
Keutamaan tidak akan tetap diraih bila berpuasa di selain bulan Syawal. 



Seseorang yang berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah berpuasa 
Ramadhan, seolah-olah ia berpuasa setahun penuh. Penjelasannya, kebaikan
 dibalas dengan sepuluh kali lipat. Bulan Ramadhan laksana sepuluh 
bulan. Sementara enam hari bagai dua bulan. Maka hitungannya menjadi 
setahun penuh. Sehingga dapat diraih pahala ibadah setahun penuh tanpa 
kesulitan, sebagai kemurahan dari Allah dan kenikmatan bagi para 
hambaNya. 



Dari Tsauban Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda: 



مَنْ صَامَ رَمَضَانَ فَشَهْرٌ بِعَشَرَةِ أَشْهُرٍ وَصِيَامُ سِتَّةِ 
أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ فَذَلِكَ تَمَامُ صِيَامِ السَّنَةِ



"Barangsiapa berpuasa Ramadhan, satu bulan seperti sepuluh bulan dan 
berpuasa enam hari setelah hari Idul Fitri, maka itu merupakan 
kesempurnaan puasa setahun penuh".[3]



BILAMANA PELAKSANAANNYA? 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz, di dalam Majmu' Fatawa wal Maqalat 
Mutanawwi'ah (15\391) menyatakan, puasa enam hari di bulan Syawal 
memiliki dasar dari Rasulullah. Pelaksanaannya, boleh dengan berurutan 
ataupun terpisah-pisah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
menyebutkan pelaksanaannya secara mutlak, dan tidak menyebutkan caranya 
dilakukan dengan berurutan atau terpisah. Rasulullah Shallallahu 'alaihi
 wa sallam" : 



مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ 
كَصِيَامِ الدَّهْرِ 



Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian mengiringinya dengan puasa enam 
hari pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun" [4].  



Beliau rahimahullah juga berpendapat, seluruh bulan Syawwal merupakan 
waktu untuk puasa enam hari. Terdapat riwayat dari Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda : Barangsiapa 
berpuasa Ramadhan kemudian melanjutkannya enam hari dari bulan Syawwal, 
maka ia seperti puasa satu tahun [5].



Hari pelaksanaannya tidak tertentu dalam bulan Syawwal. Seorang mu`min 
boleh memilih kapan saja mau melakukannya, (baik) di awal bulan, 
pertengahan bulan atau di akhir bulan. Jika mau, (boleh) melakukannya 
secara terpisah atau beriringan. Jadi, perkara ini fleksibel, 
alhamdulillah. Jika menyegerakan dan melakukannya secara berurutan di 
awal bulan, maka itu afdhal. Sebab menunjukkan bersegera melakukan 
kebaikan [6].

  

Para ulama menganjurkan (istihbab) pelaksanaan puasa enam hari 
dikerjakan setelah langsung hari 'Idhul Fitri. Tujuannya, sebagai 
cerminan menyegerakan dalam melaksanakan kebaikan. Ini untuk menunjukkan
 bukti kecintaan kepada Allah, sebagai bukti tidak ada kebosanan 
beribadah (berpuasa) pada dirinya, untuk menghindari faktor-faktor yang 
bisa menghalanginya berpuasa, jika ditunda-tunda.



Syaikh ‘Abdul Qadir bin Syaibah al Hamd menjelaskan : "Dalam hadits ini 
(yaitu hadits tentang puasa enam hari pada bulan Syawwal), tidak ada 
nash yang menyebutkan pelaksanaannya secara berurutan ataupun 
terpisah-pisah. Begitu pula, tidak ada nash yang menyatakan 
pelaksanaannya langsung setelah hari raya 'Idul Fithri. Berdasarkan hal 
ini, siapa saja yang melakukan puasa tersebut setelah hari Raya 'Idul 
Fithri secara langsung atau sebelum akhir Syawal, baik melaksanakan 
dengan beriringan atau terpisah-pisah, maka diharapkan ia mendapatkan 
apa yang dijanjikan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebab, itu semua
 menunjukkan ia telah berpuasa enam hari pada bulan Syawal setelah puasa
 bulan Ramadhan. Apalagi, terdapat kata sambung berbentuk tsumma, yang 
menunjukkan arti tarakhi (bisa dengan ditunda)”.[7]

   

Demikian penjelasan singkat mengenai cara berpuasa enam hari pada bulan 
SyaWwal setelah puasa bulan Ramadhan. Mudah-mudahan dapat memotivasi 
diri kita, untuk selalu mencintai sunnah-sunnah Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam, yang tidak lain akan mendekatkan kita kepada Allah 
Subhanahu wa Ta'ala. Wallahu a'lam bish-shawab.  



BAGAIMANA JIKA MASIH MENANGGUNG PUASA RAMADHAN? 

Para ulama berselisih pendapat dalam masalah, apakah boleh mendahulukan 
puasa sunnah (termasuk puasa enam hari di bulan Syawal) sebelum 
melakukan puasa qadha Ramadhan. 



Imam Abu Hanifah, Imam asy Syafi’i dan Imam Ahmad, berpendapat bolehnya 
melakukan itu. Mereka mengqiyaskannya dengan shalat thathawu’ sebelum 
pelaksanaan shalat fardhu. 



Adapun pendapat yang masyhur dalam madzhab Ahmad, diharamkannya 
mengerjakan puasa sunnah dan tidak sah, selama masih mempunyai 
tanggungan puasa wajib. 



Syaikh Bin Baz  rahimahullah menetapkan, berdasarkan aturan syari'at 
(masyru’) mendahulukan puasa qadha Ramadhan terlebih dahulu, ketimbang 
puasa enam hari dan puasa sunnah lainnya. Hal ini merujuk sabda Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam : 



مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ 
كَصِيَامِ الدَّهْرِ 



"Barangsiapa berpuasa Ramadhan kemudian diiringi dengan puasa enam hari 
pada bulan Syawwal, maka ia seperti puasa satu tahun". 



Barangsiapa mengutamakan puasa enam hari daripada berpuasa qadha, 
berarti belum mengiringkannya dengan puasa Ramadhan. Ia hanya 
mengiringkannya dengan sebagian puasa di bulan Ramadhan. Mengqadha puasa
 hukumnya wajib. Sedangkan puasa enam hari hukumnya sunnah. Perkara yang
 wajib lebih utama untuk diperhatikan terlebih dahulu [8].

  

Pendapat ini pun beliau tegaskan, saat ada seorang wanita yang mengalami
 nifas pada bulan Ramadhan dan mempunyai tekad yang kuat untuk berpuasa 
pada bulan Syawwal. Beliau tetap berpendapat, menurut aturan syari'at, 
hendaknya Anda memulai dengan puasa qadha terlebih dahulu. Sebab, dalam 
hadits, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan puasa enam hari 
(Syawwal) usai melakukan puasa Ramadhan. Jadi perkara wajib lebih 
diutamakan daripada perkara sunnah [9].

  

Sementara itu Abu Malik, penulis kitab Shahih Fiqhis Sunnah berpendapat,
 masih memungkinkan bolehnya melaksanakan puasa enam hari di bulan 
Syawal, meskipun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan. Dasar 
argumentasi yang digunakan, yaitu kandungan hadits Tsauban di atas yang 
bersifat mutlak [10].  

Wallahu a’lam. 



[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun X/1427/2006M. Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]

________

Footnote

[1]. Majmu’ Fatawa, Abdul ‘Aziz bin Abdillah bin Baz, 15/389.s

[2]. Taudhihul Ahkam, 3/533.

[3]. Hadits shahih, riwayat Ahmad, 5/280; an Nasaa-i, 2860; dan Ibnu 
Majah, 1715. Lihat pula Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134. 

[4]. HR Muslim, dalam ash Shiyam, bab Istihbabish-Shaumi Sittati Ayyam 
min Syawwal, 1164. 

[5]. Ibid. 

[6]. Majmu' Fatawa wal Maqalat Mutanawwi'ah, 15\390.

[7]. Fiqhul Islam, 3/232

[8]. Ibid.

[9]. Ibid. 

[10]. Shahih Fiqhis Sunnah, 2/134.                      
                        
                                                                  

Kirim email ke