SADARILAH REALITA INI
Oleh
Syaikh Khalid ar-Raasyid
http://www.almanhaj.or.id/content/2840/slash/0

Pernahkah kita berfikir, berapa orang yang meninggal dunia di kota kita selama 
satu bulan ? Atau selama satu tahun ? Atau bahkan setiap hari di seluruh 
penjuru bumi ini ? Ketetapan Allâh Subhanhu wa Ta'ala terus berjalan. Ada yang 
lahir ke dunia dan sebagian lagi meninggal dunia. Suatu saat nanti, pasti kita 
akan mendapatkan giliran. Ini sebuah realita kehidupan yang tidak bisa 
dipungkiri. Namun sangat disayangkan, banyak orang lupa atau melupakan kematian.

Padahal dahulu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam banyak membicarakan tentang 
kematian kepada para sahabat, sementara kondisi hati mereka hidup. Ini sangat 
berbeda dengan realita sangat ini. Betapa banyak acara yang dibuat, upaya yang 
dirancang untuk mengalih perhatian dari kematian. Padahal kita sangat 
membutuhkannya untuk menyadarkan kita dari kelalaian dan melunakkan hati yang 
sudah mengeras !! Kalau kita mau menjawab dengan jujur, Siapakah yang lebih 
butuh terhadap pembicaraan tentang kematian, kita ataukah para shahabat 
Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam ? Jawabnya, tentu kita. 

Oleh karena itu, pembicaraan tentang kematian kami angkat. Pembicaraan tentang 
sebuah peristiwa yang amat mengerikan. Peristiwa yang memutuskan seluruh 
kesenangan dan mengubur seluruh angan-angan. Kematian berarti berpisah dengan 
orang-orang yang dicintai. Kematian memutus kesempatan beramal, dan 
mengantarkan ke gerbang hisab!

Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menasehati kita dengan 
nasehat yang menyentuh. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ : الْمَوْتَ , فَإِنَّهُ لَمْ يَذْكُرْهُ 
أَحَدٌ فِيْ ضِيْقٍ مِنَ الْعَيْشِ إِلاَّ وَسَّعَهُ عَلَيْهِ , وَلاَ ذَكَرَهُ 
فِيْ سَعَةٍ إِلاَّ ضَيَّقَهَا عَلَيْهِ

"Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Karena kematian 
itu, jika diingat oleh orang yang sedang dalam kesusahan hidup, maka akan bisa 
meringankan kesusahannya. Dan jika diingat oleh orang yang sedang senang, maka 
akan bisa membatasi kebahagiaannya itu". [HR. ath-Thabrani dan al-Hakim. Lihat 
Shahîh al-Jâmi’ush Shaghîr: no. 1222; Shahîhut Targhîb, no: 3333]

Mengingat kematian itu dapat menghidupkan hati. Orang yang benar-benar malu 
terhadap Allâh Azza wa Jalla tidak akan melalaikan kematian serta tidak akan 
meremehkan persiapan menghadapi kematian. Sebagaimana disebutkan dalam hadits :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ 
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَحْيُوا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ قَالَ قُلْنَا يَا 
رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَسْتَحْيِي وَالْحَمْدُ لِلَّهِ قَالَ لَيْسَ ذَاكَ 
وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ 
وَمَا وَعَى وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى وَلْتَذْكُرْ الْمَوْتَ وَالْبِلَى وَمَنْ 
أَرَادَ الْآخِرَةَ تَرَكَ زِينَةَ الدُّنْيَا فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ 
اسْتَحْيَا مِنْ اللَّهِ حَقَّ الْحَيَاءِ 

"Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, “Rasûlullâh 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Hendaklah kamu benar-benar malu kepada 
Allâh!”. Kami mengatakan, “Wahai Rasûlullâh, al-hamdulillah kami malu (kepada 
Allah)”. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Bukan begitu 
(sebagaimana yang kamu sangka-pen). Tetapi (yang dimaksud) benar-benar malu 
kepada Allâh adalah engkau menjaga kepala dan isinya, menjaga perut dan apa 
yang berhubungan dengannya; dan hendaklah engkau mengingat kematian dan 
kebinasaan. Dan barangsiapa menghendaki akhirat, dia meninggalkan perhiasan 
dunia. Barangsiapa telah melakukan itu, berarti dia telah benar-benar malu 
kepada Allâh Azza wa Jalla". [HR. Tirmidzi, no. 2458; Ahmad, no. 3662; Syaikh 
al-Albâni rahimahullah menyatakan ‘Hasan lighairihi, dalam kitab Shahîhut 
Targhîb, 3/6, no. 2638, penerbit. Maktabah al-Ma’ârif]

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak membiarkan kesempatan berlalu begitu 
saja. Bila ada kesempatan, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam selalu 
mengingatkan para sahabatnya tentang kematian dan berbagai rentetan persistiwa 
yang akan mengiringinya.

عَنْ الْبَرَاءِ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ 
وَسَلَّمَ فِي جِنَازَةٍ فَجَلَسَ عَلَى شَفِيرِ الْقَبْرِ فَبَكَى حَتَّى بَلَّ 
الثَّرَى ثُمَّ قَالَ يَا إِخْوَانِي لِمِثْلِ هَذَا فَأَعِدُّوا

Dari al-Bara’ Radhiyallahu 'anhu, dia berkata, “Kami bersama Rasûlullâh 
Shallallahu 'alaihi wa sallam pada (penguburan-red) suatu jenazah, lalu beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk pada tepi kubur, kemudian beliau menangis 
sehingga tanah menjadi basah, lalu beliau bersabda: “Wahai saudara-saudaraku! 
Bersiap-siaplah untuk yang seperti ini !” [HR. Ibnu Mâjah, no: 4190, di hasan 
kan oleh Syaikh al-Albâni rahimahullah]

Dalam riwayat lain, al-Barâ’ bin ‘Azib mengatakan : 

بَيْنَمَا نَحْنُ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ 
بَصَرَ بِجَمَاعَةٍ فَقَالَ : عَلَامَ اجْتَمَعَ عَلَيْهِ هَؤُلَاءِ؟ قِيْلَ : 
عَلَى قَبْرٍ يَحْفِرُوْنَهُ ، قَالَ : فَفَزِعَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ 
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَدَرَ بَيْنَ يَدَيْ أَصْحَابِهِ مُسْرِعًا حَتَّى انْتَهَى 
إِلَى الْقَبْرِ فَجَثَا عَلَيْهِ ، قَالَ : فَاسْتَقْبَلْتُهُ مِنْ بَيْنِ 
يَدَيْهِ لِأَنْظُرَ مَا يَصْنَعُ ، فَبَكَى حَتىَّ بَلَّ الثَّرَى مِنْ 
دُمُوْعِهِ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا قَالَ: أَيْ إِخْوَانِي ! لِمِثْلِ الْيَوْمِ 
فَأَعِدُّوْا

"Ketika kami bersama Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam, tiba-tiba beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallm melihat sekelompok orang, maka beliau bertanya, 
‘Untuk apa mereka berkumpul?’ Dikatakan kepada beliau, ‘Mereka berkumpul pada 
kuburan yang sedang mereka gali’. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam 
terperanjat, lalu bergegas mendahului para sahabat sehingga sampai di kuburan, 
lalu beliau berlutut ke arah kuburan. Bara’ berkata, ‘Maka aku menghadap di 
depan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk melihat apa yang akan beliau 
lakukan’. Kemudian beliau menangis sehingga tanah menjadi basah karena air mata 
beliau. Lalu beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadap kepada kami dan 
bersabda, “Wahai saudara-saudaraku! Bersiap-siaplah untuk yang sepertil hari 
ini!” [Lihat Silsilatush Shahîhah, no. 1751, karya Syaikh al-Albâni 
rahimahullah]

Demikian juga Salafus Shalih, mereka mengingat kematian dan mengingatkan orang 
lain dengannya. Diriwayatkan bahwa Uwais al-Qarni rahimahullah berkata kepada 
penduduk Kufah, “Wahai penduduk Kufah, sesungguhnya ketika kamu tidur, kamu 
berbantalkan kematian. Oleh karena itu, jika kamu telah bangun, jadikanlah 
kematian itu selalu di hadapanmu.”

Mengingat kematian itu memiliki pengaruh besar dalam menyadarkan jiwa dari 
kelalaian. Kematian merupakan pelajaran terbesar. Seorang ahli zuhud ditanya, 
“Apakah pelajaran yang paling berpengaruh?” Dia menjawab, “Melihat tempat 
orang-orang yang mati”. Ahli zuhud yang lain mengatakan, “Orang yang tidak 
berhenti dari kemaksiatan dengan (nasehat) al-Qur’ân dan kematian, seandainya 
gunung-gunung bertabrakkan di hadapannya, dia juga tidak akan berhenti!”

Sungguh, ziarah kubur, menyaksikan jenazah, melihat orang sekarat, merenungkan 
sakaratul maut, merenungkan wajah mayit setelah matinya, akan mengekang jiwa 
dari berbagai kesenangannya serta akan mengusir kegembiraan hati.

Orang yang mempersiapkan diri menghadapi kematian, dia akan beramal dengan 
sungguh-sungguh dan memperpendek angan-angan.

Al-Lubaidi berkata, “Aku melihat Abu Ishâq rahimahullah di waktu hidupnya, 
selalu mengeluarkan secarik kertas dan membacanya. Ketika dia telah wafat, aku 
melihat kertas tersebut, ternyata tertulis padanya ‘Perbaguslah amalanmu, 
sesungguhnya ajalmu telah dekat !! Perbaguslah amalanmu, sesungguhnya ajalmu 
telah dekat !!! ’.

Saudara-saudaraku, sesungguhnya orang yang hidup dengan tetap mewaspadai akhir 
kehidupan, dia akan menjalani kehidupan dengan terus mempersiapkan diri. 
Sehingga ketika kematian menjelang, dia tidak menyesal atau kalau pun menyesal 
tapi tidak terlalu.

Oleh karena itu diriwayatkan bahwa Syaqiq al-Balkhi rahimahullah berkata, 
“Bersiaplah ! Jika kematian mendatangimu, engkau tidak berteriak sekuat tenaga 
memohon kehidupan. Namun permohonanmu tidak akan dikabulkan”.

Dengan nasehat ini aku ingin membangunkan hati dari tidurnya, menghentikan jiwa 
dari bergelimang dalam kesesatan dan syahwatnya. 

Dengan nasehat ini aku ingin orang yang shalih bertambah keshalihannya dan 
orang yang lalai segera bangun sebelum menyesal atau sebelum kematiannya. 

Kalian telah melihat kehidupan ini berlalu dengan cepat, namun kebanyakan orang 
tidak menyadarinya. Ada yang lahir sementara yang lain meninggal. Rahim 
mengeluarkan bayinya, sementara bumi menelan mayit. 

Saudara-saudaraku, kehidupan di dunia ini terbatas waktunya. Dia pasti akan 
berakhir. Orang-orang shalih akan mati, begitu juga orang-orang jahat. 
Orang-orang bertaqwa akan meninggal, begitu juga yang bergelimang dosa.

Para pahlawan dan mujahid, para penakut dan orang yang lari meninggalkan medan 
jihad, semua akan mati. Orang-orang mulia yang hidup untuk akhirat dan 
orang-orang tamak yang hidupnya hanya untuk kesenangan dunia, semuanta tak akan 
luput dari kematian.

Orang-orang yang memiliki cita-cita tinggi atau hidup hanya untuk syahwat 
kemaluan dan perut, semuanya pasti dicabut nyawanya.

Allâh Azza wa Jalla berfirman :

"Semua yang ada di bumi itu akan binasa". [ar-Rahmân/55: 26]

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati". [Ali Imrân/3:185]

Semua makhluk yang bernyawa akan mengalami kematian. Ia merupakan hakekat, 
namun kita selalu berusaha lari darinya. Kematian merupakan hakekat, yang bisa 
menjungkalkan :

- Keangkuhan orang-orang yang bersombong
- Penentangan orang-orang yang menyimpang
- Kezhaliman para thagut yang mengangkat dirinya sebagai tuhan yang harus 
ditaati.

Kematian merupakan hakekat yang akan dialami oleh semua yang bernyawa, bahkan 
para Nabi dan Rasul. Allâh berfirman : 

"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu 
(Muhammad); Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal ?" 
[al-Anbiyâ’/21:34]

Kematian merupakan realita yang terdengar sepanjang zaman dan di setiap tempat. 
Dia terdengar di telinga, masuk ke pemikiran semua orang yang berakal dan 
mengetuk hati semua orang yang hidup. Dia membisikan bahwa semua orang akan 
mati, kecuali Dzat yang memiliki kemuliaan dan keperkasaan.

"Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allâh". [Al-Qashshash/28:88]

Kematian merupakan realita yang mungkin dihindari. Allâh Subhanahu wa Ta'ala 
berfirman :

"Katakanlah, "Sesungguhnya kematian yang kamu lari darinya, maka sesungguhnya 
kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allâh), 
yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang 
telah kamu kerjakan". [al-Jum’ah/62: 8]

Ya, kematian itu pasti akan menemui kamu...di mana saja kamu berada, kamu akan 
mati, 
Wahai orang-orang kuat ...
Wahai orang-orang kuat, nan muda usia ...
Wahai orang-orang cerdas dan jenius ...
Wahai pemimpin, pembesar ...
Wahai orang fakir dan rakyat jelata ...
Semua orang yang menangis (karena kematian orang yang dicintai), dia juga akan 
membuat orang lain menangis (ketika dia mati) ...
Semua pembawa berita kematian, dia juga akan diberitakan kematiannya...
Semua harta simpanan akan binasa ...
Semua yang disebut-sebut akan dilupakan ...
Tidak ada yang kekal selain Allâh.
Jika ada orang yang merasa tinggi, maka Allâh Subhanahu wa Ta'ala lebih tinggi.

Ketahuilah, semoga Allâh menjagamu, orang yang hidup pasti akan mati ... dan 
orangyang mati akan hilang (dari kehidupan) ... dan semua yang akan datang 
pasti akan tiba waktunya ...

"Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allâh, maka sesungguhnya waktu 
(yang dijanjikan) Allâh itu, pasti datang". [Al-Ankabut/29: 5]

Wahai saudaraku, kehidupanmu yang hakiki akan mulai setelah kematianmu … 
Persiapkanlah segala sesuatu untuk bekal menjalani kehidupanmu yang sebenarnya. 
Amal kebaikan, itulah bekal menghadap Allâh Azza wa Jalla. 

[Disadur oleh Abu Isma’il Muslim al-Atsari dari makalah berjudul Ablaghul 
‘Izhaat, karya syaikh Khalid ar-Raasyid]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke