KEWAJIBAN BERBAKTI KEPADA ORANG TUA
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn
http://www.almanhaj.or.id/content/2647/slash/0

Marilah kita bertakwa kepada Allah. Kita laksanakan kewajiban yang telah 
diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta'ala, yaitu berupa hak-hak-Nya dan hak para 
hamba-Nya. Dan ketahuilah, hak manusia yang paling besar atas diri kalian ialah 
hak kedua orang tua dan karib kerabat. Allah menyebutkan hak tersebut berada 
pada tingkatan setelah hak-Nya. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وا عبدوا الله ولأ تشر كوا به شيئا وبااولدين احسنا

"Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan 
berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa ... " [an-Nisâ`/4:36]. 

Begitu pula Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman dalam surat Luqmân/31 
ayat 14: 

وو صينا الأنسن بو لد يه

"(Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang 
ibu-bapanya, ...)"

Selanjutnya Allah menyebutkan alasan perintah ini, yaitu:

حملته أمه وهنا على وهن

"(ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah)".

Yakni keadaan lemah dan berat ketika mengandung, melahirkan, mengasuh dan 
menyusuinya sebelum kemudian menyapihnya. 

Kemudian Allah berfirman:

وفصله فى عا مين أن اشكر لى ولو لد يك الى المصير

"(dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang 
ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu)". 

Nabi telah menjadikan bakti kepada orang tua lebih diutamakan daripada berjihad 
di jalan Allah. Disebutkan dalam shahîhaian dari 'Abdullâh bin Mas'ûd, ia 
berkata: 

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ 
إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ 
الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ 

"Aku bertanya kepada Nabi; "Amalan apakah yang paling utama?" Beliau 
menjawab,"Shalat pada waktunya." Aku bertanya lagi: "Kemudian apa lagi?" Beliau 
menjawab,”Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi: ”Kemudian apa 
lagi?” Beliau menjawab,”Berjihad di jalan Allah.” 

Dikisahkan dalam kitab Shahîh Muslim, bahwa ada seseorang datang kepada Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam seraya berkata: "Aku berbaiat kepadamu untuk 
berhijrah dan berjihad di jalan Allah. Aku mengharap pahala dari Allah.” Beliau 
bertanya,”Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Ia 
menjawab,"Ya, bahkan keduanya masih hidup,” beliau bersabda,”Engkau mencari 
pahala dari Allah?” Ia menjawab,”Ya." beliau bersabda,"Pulanglah kepada kedua 
orang tuamu, kemudian perbaikilah pergaulanmu dengan mereka." 

Disebutkan dalam sebuah hadits dengan sanad jayyid (bagus), ada seseorang 
berkata kepada Nabi : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin berjihad namun 
aku tidak mampu melakukannya". Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: 
"Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih ada?" Ia menjawab,"Ya, ibuku," 
beliau bersabda: "Temuilah Allah dalam keadaan berbakti kepada kedua orang 
tuamu. Apabila engkau melakukannya, maka berarti engkau telah berhaji, berumrah 
dan berjihad". 

Allah Subhanhu wa Ta'ala juga telah berwasiat supaya berbuat baik kepada kedua 
orang tua di dunia walaupun keduanya kafir. Akan tetapi, apabila keduanya 
menyuruh untuk berbuat kufur maka sang anak tidak boleh menaati perintah kufur 
ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang 
tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, 
dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang 
kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan 
kepadamu apa yang telah kamu kerjakan".[Luqmân/31:15].

Disebutkan dalam kitab shahîhain, dari Asmâ' binti Abu Bakar Radhiyallahu 
'anha, ia menceritakan ketika ibunya datang menyambung silaturrahmi dengannya 
padahal si ibu masih dalam keadaan musyrik. 

Asmâ' Radhiyallahu 'anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam : 

يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي 
قَالَ نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ 

"Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku ingin (menyambung hubungan dengan 
putrinya, Asmâ'), apakah aku boleh menyambung hubungan kembali dengan ibuku". 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,"Ya, sambunglah."

Cara berbakti kepada kedua orang tua, ialah dengan mencurahkan kebaikan, baik 
dengan perkataan, perbuatan, ataupun harta. 

Berbuat baik dengan perkataan, yaitu kita bertutur kata kepada keduanya dengan 
lemah lembut, menggunakan kata-kata yang baik dan menunjukan kelembutan serta 
penghormatan.

Berbuat baik dengan perbuatan, yaitu melayani keduanya dengan tenaga yang mampu 
kita lakukan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, membantu dan mempermudah 
urusan-urusan keduanya. Tentu, tanpa membahayakan agama ataupun dunia kita. 
Allah Mahamengetahui segala hal yang sekiranya membahayakan. Sehingga kita 
jangan berpura-pura mengatakan sesuatu itu berbahaya bagi diri kita padahal 
tidak, sehingga kitapun berbuat durhaka kepada keduanya dalam hal itu.

Berbuat baik dengan harta, yaitu dengan memberikan setiap yang kita miliki 
untuk memenuhi kebutuhan yang diperlukan oleh keduanya, berbuat baik, berlapang 
dada dan tidak mengungkit-ungkit pemberian sehingga menyakiti perasaan ibu 
bapak. 

Dan ketahuilah, para jama'ah Jum'at rahimakumullah.

Berbakti kepada kedua orang tua tidak hanya dilakukan tatkala keduanya masih 
hidup. Namun tetap dilakukan manakala keduanya telah meninggal dunia. Ada 
sebuah kisah, yaitu seseorang dari Bani Salamah mendatangi Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Ia bertanya: 

يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ أَبَوَيَّ شَيْءٌ أَبَرُّهُمَا بِهِ 
بَعْدَ مَوْتِهِمَا قَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا وَالِاسْتِغْفَارُ 
لَهُمَا وَإِنْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحِمِ الَّتِي لَا 
تُوصَلُ إِلَّا بِهِمَا وَإِكْرَامُ صَدِيقِهِمَا 

"Wahai Rasulullah, apakah masih ada cara berbakti kepada kedua orang tuaku 
setelah keduanya meninggal?" Beliau menjawab,"Ya, dengan mendoakannya, 
memintakan ampun untuknya, melaksanakan janjinya (wasiat), menyambung 
silaturahmi yang tidak bisa disambung kecuali melalui jalan mereka berdua, dan 
memuliakan teman-temannya". [HR Abu Dawud]. 

Allâhu Akbar! Demikianlah jama'ah Jum'at, betapa luas cakupan berbakti kepada 
kedua orang tua, bahkan termasuk di dalamnya keharusan memuliakan dan 
menyambung silaturahmi kepada teman kerabat.

Disebutkan dalam kitab Shahîh Muslim, dari 'Abdullâh bin 'Umar bin Khatthâb 
Radhiyallahu 'anhu :

"Suatu hari beliau Radhiyallahu 'anhu berjalan di kota Makkah dengan 
mengendarai keledai yang biasa beliau Radhiyallahu 'anhu gunakan bersantai jika 
bosan mengendarai unta. Lalu di dekat beliau lewatlah seorang Arab Badui. 
Lantas 'Abdullah bin 'Umar pun bertanya kepadanya:”Benarkah engkau Fulan bin 
Fulan?” Ia menjawab,”Ya,” kemudian 'Abdullah bin 'Umar memberikan keledainya 
kepada orang itu sambil berkata,”Naikilah keledai ini.” Beliau juga memberikan 
sorban yang mengikat di kepalanya seraya berkata,”Ikatlah kepalamu dengan 
sorban ini,” maka sebagian sahabatnya berkata,”Semoga Allah mengampunimu. 
Mengapa engkau memberikan keledai kendaraan santaimu dan sorban ikat kepalamu 
kepada orang itu?” Maka 'Ibnu 'Umar menjawab: ”Orang ini, dahulu adalah teman 
'Umar (bapakku), dan aku pernah mendengar Rasulullah berkata,'Sesungguhnya 
bakti yang terbaik, ialah tetap menyambung hubungan keluarga ayahnya".

Pada khutbah pertama, telah kami sampaikan penjelasan mengenai kedudukan 
berbakti kepada orang tua dan keagungan martabatnya. Adapun balasan berbakti 
ini ialah pahala yang besar saat di dunia maupun akhirat. Barang siapa yang 
berbakti kepada orangtuanya, maka kelak anak-anaknya juga akan berbakti 
kepadanya, serta memberikan jalan keluar dari kesusahannya. 

Dalam kitab Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari hadits Ibnu 'Umar 
Radhiyallahu 'anhu disebutkan tentang kisah tiga orang yang ingin bermalam di 
gua, lalu merekapun masuk ke dalamnya. Begitu sampai di dalam gua, tiba-tiba 
sebongkah batu besar jatuh dan menutup mulut gua tersebut. 

Merekapun kemudian bertawasul kepada Allah dengan amal-amal shalih yang pernah 
dikerjakan supaya mereka bisa keluar. Salah seorang dari mereka berkata: 

Ya Allah, sesungguhnya aku mempunyai bapak dan ibu yang sudah sangat tua. Aku 
tidak pernah memberikan susu kepada keluarga maupun budakku sebelum mereka 
berdua. 

Suatu hari, aku pergi jauh untuk mencari pohon dan belum kembali kepada mereka 
hingga mereka pun tertidur. Akupun memerah susu untuk mereka. Setelah selesai, 
ternyata aku mendapatkan mereka berdua telah tertidur. Aku tidak ingin 
membangunkannya dan tidak memberikan susu kepada keluarga maupun untukku 
sendiri. Aku terus menunggu mereka sambil membawa mangkuk susu di tanganku 
hingga terbit fajar. Mereka pun bangun dan meminum susu perahanku. 

Ya Allah, sekiranya aku melakukan itu semua karena-Mu, maka bukakanlah batu 
yang telah menutupi kami ini. 

Maka batu itupun bergeser sedikit. Kemudian demikian pula yang lainnya berdoa, 
bertawasul dengan amalan shalih yang pernah mereka kerjakan. Akhirnya, batu 
itupun bergeser sehingga gua terbuka dan mereka dapat keluar, kemudian kembali 
melanjutkan perjalanan.

Ketahuilah, berbakti kepada orang tua juga akan mendatangkan keluasan rizki, 
panjang umur dan khusnul khatimah. 

Diriwayatkan dari Sahabat 'Ali bin Abi Thâlib bahwasanya Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang senang apabila dipanjangkan 
umurnya, diluaskan rizkinya dan dihindarkan dari sû`ul khatimah, maka hendaklah 
ia bertakwa kepada Allah dan menyambung silaturahmi." Dan sesungguhnya, 
berbakti kepada orang tua merupakan wujud silaturahmi yang paling mulia, karena 
orang tua memiliki hubungan kekerabatan yang paling dekat dengan kita. 

Seorang mukmin yang berakal, sungguh sangat tidak pantas berbuat durhaka dan 
memutuskan hubungan dengan kedua orang tua, padahal ia mengetahui keutamaan 
berbakti kepadanya, dan balasannya yang mulia di dunia maupun di akhirat. 
Larangan ini sangat besar. 

Apabila telah mencapai usia lanjut, kedua orang tua akan mengalami kelemahan 
badan maupun pikiran. Bahkan keduanya bisa mengalami kondisi yang serba 
menyusahkan, sehingga menyebabkan seseorang mudah menggertak atau bersikap 
malas untuk melayaninya. Dalam keadaan demikian, Allah melarang setiap anak 
membentak, meskipun dengan ungkapan yang paling ringan. Tetapi Allah 
memerintahkan si anak supaya bertutur kata yang baik, merendahkan diri dalam 
perkataan maupun perbuatan di hadapan keduanya. Sebagaimana sikap seorang 
pembantu di hadapan majikannya. Demikian pula, Allah memerintahkan si anak 
supaya mendoakan keduanya, semoga Allah mengasihi keduanya sebagaimana keduanya 
telah mengasihi dan merawat si anak tatkala masih kecil. 

Sang ibu rela berjaga saat malam hari demi menidurkan anaknya. Iapun rela 
menahan rasa letih supaya si anak bisa beristirahat dengan cukup. Adapun 
bapaknya, ia berusaha sekuat tenaga mencari nafkah. Letih pikirannya, letih 
pula badannya. Semua itu, tidak lain ialah untuk memberi makan dan mencukupi 
kebutuhan si anak. Sehingga sepantasnya bagi si anak untuk berbakti kepada 
keduanya sebagai balasan atas kebaikannya. 

Dalam kitab shahîhain disebutkan dari Abu Hurairah, bahwasanya ada seorang 
laki-laki bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, siapakah di antara manusia 
yang paling berhak aku pergauli dengan baik?" Rasulullah menjawab,"Ibumu." 
Orang itu bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam menjawab: "Ibumu." Orang itu mengulangi pertanyaannya: "Kemudian siapa 
lagi?" Nabi pun kembali mengulangi jawabanya: "Ibumu." Iapun kemudian 
mengulangi pertanyaanya untuk yang ke empat kalinya: "Kemudian siapa?" 
Rasulullah menjawab: "Bapakmu." 

Semoga Allah memberikan taufik-Nya, sehingga memudahkan kita untuk berbakti 
kepada ibu bapak. Dan semoga Allah memberi karunia kepada kita keikhlasan dalam 
melaksanakannya. Sesunggunya Dia-lah Dzat yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.

[Diringkas oleh Ustadz Abu Sauda` Eko Mas`uri, dari ad-Dhiyâ-ul Lâmi', Syaikh 
Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn, hlm. 501-504]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 109/Tahun XI/1428H/2008 (Rubrik Khutbah 
Jum'at). Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi 
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]                        
              

Kirim email ke