TINGGALKAN PEKERJAAN BATIL [1]
Oleh
Syaikh Shalah al Budair
http://www.almanhaj.or.id/content/2891/slash/0

Alhamdulillah, segala puji hanyalah milik Allah. Dia-lah yang telah memberikan 
ampunan kepada setiap pelaku dosa. Dan Allah pula yang telah melipat-gandakan 
pahala bagi para pelaku kebajikan. Dia melimpahkan berbagai kebaikan dan 
kenikmatan kepada segenap makhlukNya.

Ketahuilah, pemberian terbaik yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba 
adalah keimanan dan ketakwaan. Kekayaan dan kecukupan hidup, hendaknya tidak 
menjadi kendala seseorang untuk bertakwa. Dia juga harus yakin, bahwa iman dan 
takwa merupakan nikmat dan karunia Allah semata. Oleh karena itu, pemberian 
yang sedikit, jika disyukuri dan dirasa cukup, itu lebih baik daripada banyak 
tetapi masih menganggapnya selalu kekurangan. Sehingga tidaklah berfaidah 
limpahan nikmat dan banyaknya harta bagi orang-orang yang tidak bersyukur 
kepada Allah. 

Ingatlah, kekayaan tidak disebabkan harta yang melimpah. Namun kekayaan yang 
sebenarnya adalah kekayaan yang terdapat pada jiwa. Yaitu jiwa yang selalu 
qana'ah dan menerima dengan lapang dada setiap pemberian Allah kepadanya, 
sebagaimana sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

"Sungguh beruntung orang yang telah berserah diri, diberi kecukupan rizki dan 
diberi sifat qana'ah terhadap apa yang diberikan Allah kepadanya". [HR Muslim]

Dengan sifat qana'ah ini, seorang muslim harus bisa menjaga dalam mencari rizki 
atau mata pencaharian. Ketika bermu'amalah dalam mencari penghidupan, jangan 
sampai melakukan tindak kezhaliman dengan memakan harta orang lain dengan cara 
haram. Inilah kaidah mendasar yang harus kita jadikan barometer dalam 
bermu'amalah. Allah berfirman : 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم 
بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَن تَكُونَ تِجَارَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمْ

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu 
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan 
suka sama suka di antara kamu…" [an Nisaa/4 : 29]. 

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى 
الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ 
وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu 
dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada 
hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu 
dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui". [al Baqarah/2 : 188]. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan : 

كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ 

"Setiap muslim terhadap muslim yang lain adalah haram darahnya, harga dirinya, 
dan hartanya". [HR Muslim].

Lihatlah contoh pada diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallm. Ketika 
menjual seorang budak kepada al 'Adda`, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam 
menuliskan : "Ini adalah yang telah dibeli al 'Adda` bin Khalid bin Haudhah 
dari Muhammad Rasulullah. Dia telah membeli seorang budak tanpa cacat yang 
tersembunyi. Tidak ada tipu daya maupun rekayasa," kemudian beliau Shallallahu 
'alaihi wa sallam melanjutkan : "Inilah jual beli muslim dengan muslim yang 
lainnya".

Begitulah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan contoh etika jual 
beli sesama muslim, dengan mengadakan akad secara tertulis, dan tidak ada unsur 
dusta.

Namun para pemburu dunia yang tamak, telah menempuh jalan menyimpang dalam 
mencari harta. Mereka lakukan dengan cara batil, melakukan tipu daya, 
memanipulasi, dan mengelabuhi orang-orang yang lemah. Bahkan ada yang berkedok 
sebagai penolong kaum miskin, tetapi ternyata melakukan pemerasan, memakan 
harta orang-orang yang terhimpit kesusahan, seolah tak memiliki rasa iba dan 
belas kasih. Berbagai kedok ini, mereka namakan dengan pinjaman lunak, gadai, 
lelang, atau yang lainnya. Kenyataannya, bantuan dan pinjaman tersebut tidak 
meringankan beban, apalagi mengentaskan penderitaan, tetapi justru lebih 
menjerumuskan ke dalam jurang penderitaan, kesusahan dan kemiskinan. Benarlah 
sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِي الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ 
الْمَالَ أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ

"Sungguh akan datang kepada manusia suatu masa, yaitu seseorang tidak lagi 
peduli dari mana dia mendapatkan harta, dari jalan halal ataukah (yang) haram". 
[HR Bukhari]

Kita menyaksikan pada masa ini, betapa menjamurnya usaha-usaha yang diharamkan 
agama, seperti bandar perjudian, praktek perdukunan, para wanita tuna susila, 
hasil perdagangan dari barang-barang yang diharamkan semisal khamr, rokok dan 
narkoba, hasil pencurian dan perampokan, tidak jujur dalam perdagangan dengan 
penipuan dan mengurangi timbangan, memakan riba, memakan harta anak yatim, 
korupsi, kolusi. Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah 
mengingatkan kita : 

فَوَالهِt مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ 
عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ 
فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

"Demi Allah, bukanlah kefaqiran yang aku takutkan menimpa kalian. Akan tetapi, 
yang aku takutkan adalah terbukanya dunia bagi kalian, sebagaimana telah 
terbuka bagi umat-umat sebelum kalian. Sehingga kalian akan berlomba-lomba, 
sebagaimana mereka telah berlomba-lomba. Demikian itu akan menghancurkan 
kalian, sebagaimana juga telah menghancurkan umat sebelum kalian". [Muttafaqun 
'alaih]. 

Ketahuilah, seseorang yang memakan harta haram, hidupnya tidak akan tenang dan 
bahagia. Doa yang dia panjatkan akan tertolak. Rasulullah telah menyebutkan 
sebuah kisah. Yaitu seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, 
sampai keadaannya menjadi kusut dan berdebu, kemudian dia menengadahkan 
tangannya ke langit seraya berdoa "ya Rabbi, ya Rabbi," akan tetapi makanannya 
haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dikenyangkan dari yang haram. 
Lantas, bagaimana mungkin doanya bisa dikabulkan?! [HR Muslim].

Oleh karena itu, ingatlah terhadap hisab, pembalasan dan siksa di akhirat. Para 
pelaku kezhaliman akan mengalami kebangkrutan di akhirat. Meskipun ia membawa 
pahala begitu banyak yang dikumpulkan ketika di dunia, namun pahala-pahala yang 
telah berhasil ia himpun sewaktu di dunia, akan dialihkan kepada orang-orang 
yang pernah dia zhalimi. Jika pahalanya telah habis sementara kezhaliman yang 
ia lakukan belum bisa tertutupi, maka dosa orang-orang yang dia zhalimi 
dialihkan kepada dirinya, sehingga dia terbebani dengan dosa orang-orang yang 
ia zhalimi tersebut, sehingga ia pun bangkrut tanpa pahala. Dan akhirnya 
dilemparkan ke dalam api neraka. Wal 'iyyadzu billah. 

Lihatlah sekarang ini, begitu banyak orang-orang yang pintar namun licik dengan 
memakan harta orang lain. Bahkan ada di antaranya yang mempermasalahkan dan 
membawanya ke hadapan hakim. Ditempuhlah berbagai cara, supaya bisa mendapatkan 
harta yang bukan menjadi haknya. Padahal, barangsiapa mengambil bagian hak 
milik orang lain, maka hakikatnya dia telah mengambil bagian dari bara api 
neraka. 

Sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 

مَنْ اقْتَطَعَ حَقَّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ بِيَمِينِهِ فَقَدْ أَوْجَبَ اللهُ لَهُ 
النَّارَ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ وَإِنْ كَانَ شَيْئًا 
يَسِيرًا يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ وَإِنْ قَضِيبًا مِنْ أَرَاكٍ 

"Barangsiapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah 
mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga," maka salah seorang 
bertanya,"Meskipun sedikit, wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab,"Ya, 
meskipun hanya setangkai kayu sugi (siwak)."[HR Muslim]

Kepada para majikan, ingatlah! Janganlah Anda menyunat upah para pegawai, atau 
malah enggan membayarnya. Takutlah kepada Allah. Ketahuilah, para pegawai yang 
telah bekerja tersebut, mereka telah mengorbankan pikiran, waktu dan tenaga 
untuk Anda. Para pekerja itu juga memiliki tanggungan anak dan isteri yang 
harus dinafkahi. Sungguh, celakalah orang-orang yang berbuat zhalim. Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengingatkan.

أَعْطُوا اْلأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ

"Berilah upah kepada para pegawai sebelum kering keringatnya". [HR Ibnu Majah]. 

Bahwa usaha yang haram tidak akan menghasilkan, kecuali kebinasaan. Suap demi 
suap makanan yang didapat dari jalan haram, akan menurunkan harga diri kita di 
masyarakat. Sebaliknya, usaha yang baik dan halal, walaupun sedikit, akan 
menjadi pahala dan tabungan yang selalu bertambah tidak terputus di akhirat dan 
berbarakah. 

Dalam kehidupan, terkadang kita tidak bisa dipisahkan dengan apa yang disebut 
dengan hutang, disebabkan adanya keperluan tertentu. Meski demikian, sebaiknya 
kita menjauhi dan menghindari hutang, kecuali keadaan telah memaksanya, karena 
adanya hajat mendesak, yang tak mungkin kecuali harus dengan menempuh hutang. 
Karena seorang yang berhutang, ia akan selalu dalam keadaan tertawan, sampai 
dia melunasi hutangnya. 

Dikisahkan, ada seseorang yang bertanya di hadapan Rasulullah : 

يَا رَسُولَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ قُتِلْتُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَتُكَفَّرُ عَنِّي 
خَطَايَايَ فَقَالَ رَسُولُ الهِa صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ 
وَأَنْتَ صَابِرٌ مُحْتَسِبٌ مُقْبِلٌ غَيْرُ مُدْبِرٍ إِلاَّ الدَّيْنَ فَإِنَّ 
جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلاَم قَالَ لِي ذَلِكَ 

"Wahai, Rasulullah. Bagaimana menurut engkau bila aku terbunuh fi sabilillah, 
apakah dosa-dosaku terhapuskan?" Maka Rasulullah menjawab: "Tentu, bila engkau 
bersabar dan hanya mengharapkan pahala, terus melangkah maju dan tidak surut 
mundur, kecuali jika engkau mempunyai hutang. Sesungguhnya Jibril telah 
mengatakan yang demikian itu kepadaku". [HR Muslim]

Melihat betapa besarnya pengaruh dan akibat yang akan ditanggung oleh orang 
yang berhutang, maka semestinya kita memiliki kepedulian. Karena, barangsiapa 
bisa membantu orang yang sedang dalam kesusahan, ikut meringankan beban yang 
ditanggungnya, memberikan tempo atau bahkan membebaskan orang yang terlilit 
hutang, maka Allah akan menaungi dirinya pada hari Kiamat. Sabda Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ الهُk فِي ظِلِّهِ 

"Barangsiapa yang memperhatikan orang yang dilanda kesusahan, atau bahkan ikut 
menghilangkan kesusahannya, maka Allah akan menaungi dirinya pada hari Kiamat" 
[HR Muslim]. 

Akhirnya, marilah dalam mencari rizki, tetaplah dari jalan yang halal, yang 
diridhai Allah, sehingga kita akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di 
akhirat. Kita hindari sejauh-jauhnya jalan-jalan yang diharamkan. Dan tidak ada 
kebenaran, kecuali datang dari Allah dan RasulNya. Wallahu a'lam.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun X/1427H/2006M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diadaptasi oleh Abu Ziyad dari Khutbah Jum'at di masjid Nabawi dengan tema 
: Al Makasibul Khabitsah oleh Syaikh Shalah al Budair                           
          

Kirim email ke