KHUSYU' DALAM SHALAT DAN PENGARUHYA BAGI SEORANG MUSLIM[1]

Oleh
Syaikh Abdul Bari ats Tsubaiti 
http://www.almanhaj.or.id/content/2892/slash/0

Saya wasiatkan kepada Anda semua dan diri saya sendiri untuk bertakwa kepada 
Allah. Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا 
تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa 
kepadaNya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama 
Islam". [ali Imran : 102].

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ 
أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ 

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. 
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari 
ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan". 
[al-Ankabut : 45]

Pembicaraan tentang shalat membutuhkan pengingatan dan pengulangan, tidak boleh 
ada kebosanan untuk mendengarkannya. Karena shalat merupakan kewajiban yang 
paling besar pengaruhnya, paling agung penjelasan dan kebaikannyan dan yang 
paling berbahaya apabila ditinggalkan. Shalat merupakan tiang agama dan kunci 
surga Allah. Barangsiapa yang menjaga shalat, berarti dia telah berpegang 
dengan syariat Islam dan mengambil pondasinya. Barangsiapa yang melalaikan 
shalat, berarti dia telah melalaikan agamanya dari pondasinya.

Shalat juga merupakan obat yang bisa menyembuhkan penyakit-penyakit hati, 
kejelekan jiwa dan penyakit-penyakitnya; bagaikan cahaya yang menghilangkan 
pekatnya dosa-dosa dan kemaksiatan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
memberikan permisalan dalam sabdanya : 

أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهْرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ 
يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ هَلْ يَبْقَى مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالُوا لَا يَبْقَى 
مِنْ دَرَنِهِ شَيْءٌ قَالَ فَذَلِكَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو 
اللَّهُ بِهِنَّ الْخَطَايَا

“Apa pendapat kalian, seandainya ada sungai di depan pintu salah seorang dari 
kalian, dia mandi disungai itu lima kali sehari; apakah ada kotoran/daki yang 
tersisa?” Mereka menjawab,”Tidak akan ada kotoran yang tersisa sedikitpun.” 
Nabi berkata,”Demikianlah permisalan shalat lima waktu. Allah menghapuskan 
kesalahan-kesalahan dengan sebab shalat.” (HR Muslim). 

Hal ini juga dikuatkan oleh hadits tentang keutamaan wudhu, bahwasanya 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ 
بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ 
خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ 

"Apabila dia berdiri untuk mengerjakan shalat, kemudian memuji dan mengagungkan 
Allah dengan pujian yang pantas bagi Allah, dia mengkhusyu’kan hatinya untuk 
Allah, kecuali dia berpisah dengan kesalahannya sebagaimana keadaannya pada 
hari dilahirkan oleh ibunya". [HR Muslim].

Seperti inilah buah dari ibadah, dan sedemikian besar hasil dari pelaksanaan 
ibadah shalat ini, sehingga pantas untuk diperhatian dan ditegakkan. Mari kita 
jadikan shalat sebagai penghias hidup kita dan bisikan hati kita. 

Allahu Akbar; Hayya ‘alash shalat; Hayya ‘alal falah (mari kita kerjakan 
shalat, mari menuju kebahagiaan), panggilan yang bergema di segenap penjuru, 
adzan yang menembus telinga untuk membangunkan jasad yang bercahaya dengan 
keimanan dan hati yang khusyu’. 

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang 
khusyu' dalam shalatnya" [al Mu'minuun : 1-2]

Dengan khusyu’, seseorang yang shalat dapat menyatukan antara kebersihan 
lahiriyah dan kebersihan batiniyah, ketika dia berkata dalam ruku`nya :

خَشَع لَكَ َ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظْمِي وَعَصَبِي 

"Khusyu’ kepadaMu pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku dan 
otot-ototku". [HR Muslim]. 

Sedangkan dalam riwayat Ahmad : 

وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِي

"Dan ketika terangkatnya kedua kakiku untuk Allah".

Dengan kekhusyu’an, akan diampuni dosa-dosa dan dihapus kesalahan-kesalahan, 
dan ditulislah shalat di timbangan kebaikan, sebagaimana disebutkan dalam 
Shahih Muslim, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنِ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا 
وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ 
الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ 

"Tidaklah seorang muslim mendapati shalat wajib, kemudian dia menyempurnakan 
wudhu`, khusyu’ dan ruku’nya, kecuali akan menjadi penghapus bagi dosa-dosanya 
yang telah lalu, selama tidak melakukan dosa besar; dan ini untuk sepanjang 
masa" [HR Muslim]

Shalat, apabila dihiasi dengan khusyu’ dalam perkataan, dan gerakannya dihiasi 
dengan kerendahan, ketulusan, pengagungan, kecintaan dan ketenangan, sungguh, 
ia akan bisa menahan pelakunya dari kekejian dan kemungkaran. Hatinya bersinar, 
keimanannnya meningkat, kecintaannya semakin kuat untuk melaksanakan kebaikan, 
dan keinginannya untuk berbuat kejelekan akan sirna. Dengan khusyu’, 
bertambahlah munajat seseorang kepada Rabb-nya, demikian pula kedekatan 
Rabb-nya kepadanya. Ahmad, Abu Dawud dan Nasaa-i meriwayatkan sabda Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لَا يَزَالُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مُقْبِلًا عَلَى الْعَبْدِ َ فِي صَلَاتِهِ مَا 
لَمْ يَلْتَفِتْ فَإِذَا الْتَفَتَ انْصَرَفَ عَنْه

"Senantiasa Allah ‘Azza wa Jalla menghadap hambaNya di dalam shalatnya, selama 
dia (hamba) tidak berpaling. Apabila dia memalingkan wajahnya, maka Allah pun 
berpaling darinya"

Khusyu’ memiliki kedudukan yang sangat besar. Ia sangat cepat hilangnya, dan 
jarang sekali didapatkan. Terlebih lagi pada jaman kita sekarang ini. Tidak 
bisa menggapai khusyu’ dalam shalat merupakan musibah dan penyakit yang paling 
besar. Rasulullah juga merasa perlu berlindung darinya, sebagaimana beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa : 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ

"Ya, Allah. Aku berlindung kepadaMu dari hati yang tidak khusyu’". [HR Tirmidzi]

Dan tidaklah penyimpangan moral menimpa sebagian kaum Muslimin, kecuali karena 
shalat mereka bagaikan bangkai tanpa ruh, dan sebatas gerakan belaka. Ath 
Thabrani dan selainnya meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda :

أَوَّل مَا يُرْفَعُ مِن هَذِهِ الأُمَّةِ الْخُشُوعُ حَتَّى َلَا تَرَى فِيهَا 
رَجُلًا خَاشِعًا

"Yang pertama kali diangkat dari umatku adalah khusyu’, sehingga engkau tidak 
akan melihat seorang pun yang khusyu’".

Sahabat Hudzaifah Radhiyallahu 'anhu berkata : “Yang pertama kali hilang dari 
agama kalian adalah khusyu’, dan yang terakhir kali hilang dari agama kalian 
adalah shalat. Kadang-kadang seseorang yang shalat tidak ada kebaikannya, dan 
hampir-hampir engkau masuk masjid tanpa menjumpai di dalamnya seorang pun yang 
khusyu’”.

Shalat adalah penenang seorang muslim dan hiburannya, puncak tujuan dan 
cita-citanya. Rasulullah berkata kepada Bilal: “Tenangkan kami dengan shalat”. 
Beliau bersabda:

وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ

"Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat". [HR Nasaa-i dan Ahmad]. 

Shalat menjadi penyejuk hati, kenikmatan jiwa dan surga hati bagi seorang 
muslim di dunia. Seolah-olah ia senantiasa berada di dalam penjara dan 
kesempitan, sampai akhirnya masuk ke dalam shalat, sehingga baru bisa 
beristirahat dari beban dunia dengan shalat. Dia meninggalkan dunia dan 
kesenangannya di depan pintu masjid, dia meninggalkan di sana harta dunia dan 
kesibukannya untuk membuka lembaran yang dia sebutkan di dalam hatinya. Masuk 
masjid dengan hati yang penuh rasa takut karena mengagungkan Allah mengharapkan 
pahalaNya. 

Abu Bakar ash Shiddiq Radhiyallahu 'anhu , apabila sedang dalam keadaan shalat, 
seolah-olah ia seperti tongkat yang ditancapkan. Apabila mengeraskan bacaannya, 
isakan tangis menyesaki batang lehernya. Sedangkan ‘Umar al Faruq Radhiyallahu 
'anhu, apabila membaca, orang yang di belakangnya tidak bisa mendengar 
bacaannya karena tangisannya. Demikian juga ‘Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, 
apabila dalam keadaan shalat, seolah-olah ia seperti tongkat kayu. Sedangkan 
‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'anhu, apabila datang waktu shalat, 
bergetarlah ia dan berubah wajahnya. Tatkala ditanya, dia menjawab: “Sungguh 
sekarang ini adalah waktu amanah yang Allah tawarkan kepada langit, bumi dan 
gunung, mereka enggan untuk memikulnya dan takut dengan amanah ini, akan tetapi 
aku memikulnya”.

Di antara manusia ada yang shalat dengan badan dan seluruh persendiannya, 
menggerakkan lisannya dengan ucapan, menundukkan punggung mereka untuk ruku`, 
turun ke bumi untuk sujud, akan tetapi, hati mereka tidak bergerak ke arah 
Allah Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Mereka menampakkan ketundukan, sedangkan 
hatinya lari menjauh. Mereka membaca al Qur`an, akan tetapi tidak meresapinya. 
Mereka bertasbih, akan tetapi tidak memahaminya. Mereka berdiri di hadapan 
Allah dan di dalam rumahNya, akan tetapi, sebenarnya pandangannya ke arah 
pekerjaan mereka, tinggal bersama ruh mereka di tempat tinggal mereka. 
Begitulah keadaannya, seseorang telah mengerjakan shalat dalam waktu yang lama, 
akan tetapi ia tidak pernah menyempurnakan shalatnya, meskipun hanya sehari 
saja; karena ia tidak menyempurnakan ruku’nya, sujudnya dan khusyu’nya. 
Barangsiapa keadaannya seperti ini, sungguh ia tidak bisa mengambil manfaat 
dari shalatnya, sehingga kadang-kadang ia memakan harta manusia dengan batil, 
melakukan kerusakan di antara manusia, melaksanakan amalan yang bertentangan 
dengan agama dan akhlak, bahkan dia menjadikan shalat hanya untuk mendapatkan 
pujian manusia, untuk menutupi kejahatan kedua tangan dan kakinya. 

Saudaraku seiman, hadits berikut ini sebagai renungan, sikapilah dirimu dengan 
jujur, agar mampu melihat posisi kita masing. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda :

إِنَّ الرَّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إِلَّا عُشْرُ صَلَاتِهِ 
تُسْعُهَا ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدْسُهَا خُمْسُهَا رُبْعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا

"Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala) 
baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya, 
sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya, 
setengahya". 

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiah Radhiyallahu 'anhu berkata 
: “Sesungguhnya ada dua orang berada dalam satu shalat, akan tetapi perbedaan 
keutamaan (pahala) antara keduanya bagaikan langit dan bumi”.

Wahai orang yang shalat, sesungguhnya shalat adalah kobaran api pertempuran 
bersama setan, pertempuran was-was dan bisikan-bisikan, karena kita berdiri 
pada tempat yang agung, paling dekatnya kedudukan (dengan Allah) dan paling 
dibenci setan. Kemudian setan menghiasi di depan pandangamu dengan kesenangan, 
menawarkan keindahan dan godaan. Dia juga mengingatkan yang engkau lupakan, 
sehingga dia merasa senang ketika shalatmu rusak, sebagaimana baju yang usang, 
rusak, tidak mendapatkan pahala dan tidak pula mendapatkan keutamaan.

Wahai orang yang shalat, barangsiapa yang menempuh metode Nabi dan meniti jalan 
Nabi dalam shalatnya, niscaya dia dapat memperoleh kekhusyu’an. Untuk bisa 
meraih khusyu` ada beberapa hal yang bisa membantunya. Yaitu orang yang akan 
shalat, hendaknya segera menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, ia 
telah membersihkan pakaiannya, mensucikan badannya, mengkosongkan hatinya dari 
kesibukan dunia, semerbak harum badannya, meluruskan barisan dan menutup celah 
dalam barisan, dan ia tidak mengangkat kepalanya ke langit saat shalat, karena 
hal ini terlarang dan bisa menghilangkan kekhusyu’an.

Termasuk yang juga bisa menolong untuk khusyu’ dalam shalat, yaitu tidak 
mengganggu orang lain dengan bacaan al Qur`an, tidak shalat dengan pakaian atau 
baju yang ada gambarnya, tulisannya, ataupun baju berwarna-warni yang bisa 
mengganggunya, dan mengganggu orang lain. Begitu juga suara-suara yang berasal 
dari handphone yang mengganggu kaum Muslimin, sehingga merusak kekhusyu’an. 
Oleh karena itu janganlah membawa suara musik yang berdendang di dalam 
rumah-rumah Allah tercampur dengan kalam Allah. Kita meminta kepada Allah 
salamah dan ‘afiyah dari dosa dan kesalahan.

Dari Abu Qatadah Radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda :

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ صَلَاتَهُ قَالُوا يَا رَسُولَ 
اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا قَالَ لَا يُتِمُّ رُكُوعَهَا وَلَا سُجُودَهَا أَوْ 
قَالَ لَا يُقِيمُ صُلْبَهُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُود

"Sejelek-jelek pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya”. Mereka 
bertanya,”Wahai, Rasulullah. Bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Rasulullah 
menjawab,”Dia tidak menyempurnakan ruku` dan sujudnya,” atau ia (Rasulullah) 
berkata : “Tidak menegakkan tulang punggungnya ketika ruku’ dan sujud". 
[Diriwayatkan oleh Ahmad] 

Termasuk hal terbesar untuk bisa tenang dan khusyu’ dalam shalat, yaitu 
merenungi dan meresapi makna. Ketika mengucapkan Allahu Akbar, maka 
renungkanlah kedalaman pemahamannya dan petunjuknya. Allah Maha Besar dari 
setan yang menipunya di dunia. Allah Maha Besar dari nafsu syahwat, harta, 
kedudukan dan anak. Maka mantapkan dan tanamkan ke dalam hati, kemudian 
laksanakan segala konsekwensinya.

Juga renungkanlah pahala yang besar pada setiap bacaan al Fatihah, bacaan 
ruku`ataupun bacaan-bacaan shalat lainnya. Renungkanlah pahala yang besar, di 
antaranya apabila imam mengucapkan 

غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ 

(bukan jalannya orang-orang yang Engkau murkai, bukan pula jalannya orang-orang 
yang sesat), maka para malaikat mengucapkan “Amiin”. Barangsiapa yang ucapan 
aminnya bersamaan dengan ucapan amin para malaikat, niscaya diampuni 
dosa-dosanya yang telah lalu. Begitu pula renungkanlah pahala-pahala yang 
agung, serta keutamaan-keutamaan besar lainnya saat berdiri, duduk, 
dzikir-dzikir ruku’ dan sujud. Barangsiapa yang merenunginya, dia akan yakin 
dengan rahmat Allah, sesembahannya. 

Termasuk yang bisa mengantarkan kepada khusyu’, yaitu wasiat Rasulullah yang 
kekal : “Shalatlah dengan shalat orang yang akan berpisah (dengan dunia)”. 

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/2004M. Diterbitkan 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Diangkat berdasarkan khuthbah Jum’at Syaikh Abdul Bari ats Tsubaiti di 
Masjid Nabawi, Madinah al Munawwarah, pada tanggal 16 Rajab 1426 H.             
                              

Kirim email ke