13 MASALAH BEKAM (HIJAMAH) YANG PALING BANYAK DITANYAKAN



Oleh : dr. Abu Hana
 
Bismillah,
Bagi anda yang berkeinginan kuat untuk berbekam (hijamah/ODT), dan baru pertama 
kali melakukannya terkadang ada beberapa hal mengganjal yang ingin ditanyakan, 
diantaranya adalah sebagai berikut :
 
PERSIAPAN
Tidak ada persiapan khusus jika anda ingin di Bekam, artinya kapan saja anda 
dibekam maka tidak menjadi masalah, Akan tetapi untuk dan mengurangi efek 
samping maka disarankan anda makan 3-4 jam sebelum di bekam, karena jika perut 
anda kosong (puasa) terkadang menyebabkan pusing/lemas.
Sebaliknya apabila anda dalam kondisi perut penuh makanan atau hanya berselang 
1 jam setelah makan kemudian anda dibekam maka beberapa pasien mengeluh mual 
atau muntah. Hindari berjima’ sebelum bekam, apalagi sesudahnya karena akan 
menguras banyak energi.
 
SOAL 1. Saya sedang hamil, bolehkah dibekam ?
Boleh, jika kondisi umumnya baik. Sebelum dibekam harus diperiksa dulu tekanan 
darah dan keadaan umum lainnya, jika normal maka tidak ada masalah. Yang perlu 
diperhatikan adalah menghindari pembekaman di daerah perut dan pinggang. Untuk 
Ibu menyusui, wanita haidh dan menstruasi  juga diperbolehkan berbekam asal 
kondisi umumnya cukup baik .
SOAL 2.  Orang tua saya sudah “sepuh” apa juga boleh dibekam? Bagaimana dengan 
anak kecil?
Orang yang sudah lanjut usia dan anak kecil (diatas 4 tahun) tidak mengapa 
dibekam asalkan dilakukan secara bertahap, dengan sedikit sayatan tipis, 
menggunakan jumlah kop yang sedikit serta dengan kekuatan pompa yang minimal.
 
SOAL 3.  Kondisi apa yang merupakan “pantangan” (kontraindikasi) bekam ?
Ada kontraindikasi yang bersifat absolut dan ada yang bersifat relatif.
Kontraindikasi absolut, adalah kondisi/kelainan penyakit tertentu yang dilarang 
untuk dilakukan bekam, diantaranya adalah : pasien yang berumur dibawah 4 
tahun, pasien yang sedang mengkonsumsi obat pengencer darah, pasien yang 
mengalami gangguan sistim pembekuan darah yang berat, koma (tidak sadar), 
dehidrasi berat, renjatan/syok, pasien yang baru menjalani transfusi darah, 
donor darah atau cuci darah (kurang dari 48 jam dari waktu bekam), penderita 
jantung yang menggunakan alat bantu pengatur detak jantung.
Kontraindikasi relatif, adalah kondisi/kelainan penyakit tertentu yang 
disarankan untuk tidak bekam terkecuali dilakukan oleh ahli bekam professional 
yang sudah berpengalaman, diantaranya adalah : pasien anemia, pasien kencing 
manis dengan kadar gula darah sewaktu lebih dari 300, pasien tumor/kanker, 
hipertensi dengan systole lebih dari 200mmHg, penderita gagal jantung (Decomp. 
Cordis) yang berat, pasien kesurupan (terkena sihir), penderita phobia berat 
terhadap peralatan medis dan wanita hamil,haidh, nifas atau menyusui.
 
WAKTU BEKAM
SOAL 4.  Apakah harus memilih hari tertentu dan tanggal tertentu (tanggal 17,19 
dan 21) agar lebih utama dilakukan bekam ?
Tidak, karena hadits mengenai keutamaan hari dan tanggal tertentu  untuk 
beerbekam adalah hadits dhoif (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan dalil. 
Begitu juga larangan membekam pada hari tertentu (Rabu, Jum’at, Sabtu) juga 
tidak memiliki dasar yang kuat.
 
SOAL 5.  Apakah ada perbedaan dibekam pada waktu pagi, siang, sore atau malam 
hari ?
Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok, kapan saja bisa dilakukan bekam. 
Hanya saja jika dilakukan pada saat sinar matahari terik (tengah hari) lebih 
memudahkan untuk mengeluarkan darah.
EFEK SAMPING
Perlu kita ketahui dulu sebalumnya bahwa setiap tindakan medis apapun 
bentuknyatetap memiliki risiko dan efek samping. Akan tetapi hal tersebut 
tidaklah menjadikan kita “urung” untuk melaksanakan “Sunnah hijamah (Bekam)”  
yang mulia ini, asalkan dilakukan sesuai standar dan dilakukan oleh ahli yang 
professional maka tindakan tersebut sangatlah aman.
Tidaklah mungkin Allah Ta’ala dan Rosul-Nya menuntunkan amalan hijamah ini 
jikalau berisiko tinggi bagi ummatnya, justeru yang sudah terbukti adalah 
manfaat dan faedah yang luar biasa.
SOAL 6.  Apakah dibekam itu terasa “SAKIT” ?
Tidak, karena sebelumnya dilakukan dulu penyedotan dengan kop bekam (disebut 
Bekam Kering) yang berfungsi untuk menarik “darah kotor” ke bawah permukaan 
kulit sehingga kulit akan terasa menjadi tebal dan “baal” sehingga ketika 
dilakukan sayatan tipis maka sudah tidak terasa sakit lagi, hanya seperti 
digigit semut.
Bekam kering tadi juga sekaligus berfungsi mengeluarkan kelebihan “unsur angin” 
dari tubuh dan menimbulkan efek “massage” untuk melenturkan otot-otot yang 
mengalami kekakuan.
 
SOAL 7.  Setelah dibekam, saya malah mengeluh badan terasa sakit (pegal-pegal) 
apakah ada yang salah ?
Hanya sedikit pasien yang mengeluhkan hal tersebut. Hal ini terjadi 
sebagai rekasi sistim imun tubuh untuk berusaha mengembalikan fungsi-fungsi 
tubuh agar menjadi normal kembali karena “sumber darah kotornya”  sudah 
dikeluarkan. Dalam 3-4 hari keluhan tersebut umumnya sudah hilang dan tubuh 
menjadi bugar.
Beberapa pasien mengatakan “mengantuk” dan ada juga yang “merasa lapar” setelah 
bekam, hal tersebut wajar dan justeru lebih baik.
 
SOAL 8.  Saya mengikuti bekam masal, setelah itu badan saya “meriang” apakah 
saya mengalami infeksi?
Saya tidak menyarankan untuk mengikuti Bekam Masal karena penggunaan alat bekam 
berulang kali tanpa proses sterilisasi yang sesuai standar bisa menjadi sumber 
penularan penyakit tertentu. Keluhan “meriang” bisa merupakan tanda infeksi 
apabila luka bekas sayatan Bekam mengalami pembengkakan (oedem), berwarna 
merah, keluar cairan seperti nanah (pus), dan jika dipegang terasa hangat.
Apabila “meriang” tersebut tanpa disertai tanda-tanda tadi maka hal tersebut 
memang kadang terjadi dan normal adanya dan dalam 3-4 hari keluhan tersebut 
umumnya sudah hilang dan tubuh menjadi lebih ringan dan nyaman.Begitu juga 
dengan keluhan perih pada bekas sayatan akan hilang sendirinya hingga sekitar 
12 jam.
 
SOAL 9.  Keluar cairan seperti “lepuhan cacar” setelah bekam apakah berbahaya ?
Gelembung cairan tersebut merupakan transudat yang umumnya terjadi akibat 
proses penyedotan yang terlalu lama (lebih dari 15 menit). Dalam Ilmu 
kedokteran China dikatakan bahwa adanya blister (lepuhan/lecat) pada bekas 
bekam menggambarkan kondisi gangguan gas yang parah pada tubuh. Adanya darah 
tipis pada blister merupakan reaksi gas panas toksin.
Gelembung tersebut tidaklah berbahaya dan cukup mengeluarkannya dengan 
menggunakan ujung pisau bedah steril kemudian diolesi dengan 
minyak habbatussauda (jinten hitam). Jangan sekali-kali menusuknya dengan jarum 
atau peniti dan sejenisnya karena dapat menimbulkan infeksi.
 
SOAL 10.  Bekas bekam di kulit meninggalkan lebam berwarna merah muda, ungu 
hitam, dan ada juga yang tidak berubah sama sekali, kenapa hal tersebut bisa 
terjadi?
Umumnya bekas bekam akan hilang dalam waktu 3 hari sampai 1 minggu setelah 
bekam tergantung bentuk dan warna yang ditinggalkan. Reaksi pigmen pada kulit 
bekas bekam adalah sebagai berikut :

Ungu kegelapan atau hitam, pada umumnya hal ini mengindikasikan kondisi 
defisiensi (kekurangan) pasokan/suplai darah dan channel/saluran (pembuluh) 
darah yang tidak lancar yang disertai dengan keberadaan darah statis (darah 
beku).
Ungu disertai plaque (bercak-bercak), pada umumnya hal ini menandakan 
terjadinya gangguan/ kelainan gumpalan darah yang berwarna keunguan dan adanya 
darah statis (darah beku).
Bintik-bintik ungu yang tersebar dengan tingkatan warna yang berbeda(ada yang 
tua dan ada yang ungu muda). Hal ini menandakan kelainan “Qi” dan darah statis.
Merah cerah, biasanya hal ini menunjukkan terjadinya defisiensi “Yin”, 
defisiensi “Qi” dan darah atau rasa panas yang dahsyat yang diinduksi oleh 
defisiensi “Yin”.
Merah gelap, hal ini mengindikasikan kondisi lemak di dalam darah yang tinggi 
disertai dengan adanya panas patogen.
Agak pucat/putih dan tidak hangat ketika disentuh, hal ini mengindikasikan 
terjadinya defisiensi cold (dingin) dan adanya gas patogen.
Garis-garis pecah/ruam pada permukaan bekas bekam dan rasa sedikit gatal, hal 
ini mengindikasikan kondisi adanya wind (lembab) patogen dan gangguan gas 
patogen.
Munculnya uap air pada dinding bagian dalam gelas bekam, menandakan kondisi 
adanya gas-gas patogen pada daerah tersebut.
SETELAH BEKAM
SOAL 11.  Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah Bekam ?
Istirahatlah secukupnya setelah berbekam, lebih baik lagi tidur. Minumlah air 
putih, madu, sari kurma atau teh manis untuk mempercepat pemulihan. JIia ingin 
makan, usahakan kurang lebih satu jam sesudahnya dan menghindari makan asam, 
pedas, mie dan minuman bersoda/berkarbonase. Hindari untuk melakukan jima’ 
setelah bekam.
SOAL 12.  Apa boleh mandi setelah Bekam ?
Boleh bahkan dianjurkan mandi setelah 2 jam melakukan bekam. Sebaiknya 
menggunakan air hangat untuk mempercepat proses pemulihan. Hindari untuk 
menggosok bekas sayatan bekam dengan sabun secara berlebihan karena selain 
terasa perih juga akan memperlambat proses penyembuhan luka.
SOAL 13.  Apa ada perawatan khusus rutin (dengan antiseptic, rivanol, dll) yang 
dilakukan setiap hari untuk luka bekas sayatan bekam?
Perawatan tersebut diatas dilakukan jika memang diperlukan. Alhamdulillah jika 
Bekam (Hijamah) dilakukan dengan benar maka hal tersebut belum diperlukan 
karena lukanya sangat tipis dan cepat sembuh dengan sendirinya. (dr.abuhana)
Semoga Bermanfaat,
Baarokallaahu fiikum..


--- On Tue, 12/28/10, Arie Wibowo <[email protected]> wrote:


From: Arie Wibowo <[email protected]>
Subject: Re: [assunnah] OOT: Pingsan dan muntah ketika bekam
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 28, 2010, 5:16 PM


 



Ndak apa-apa mas. Saya pernah mengalaminya, ketika tekanan darah saya tinggi. 
Saya minta agar dibekam supaya cepat normal kembali. Ketika sudah 7 titik saya 
dibekam..saya merasa kunang-kunang dan mual. Pada waktu itu saya katakan kepada 
pembekam tentang hal ini dan dia dengan cepat langsung membuka semua titik 
bekam dengan cepat dan saya disuruh minum teh manis. Alhamdulillah saya tidak 
pingsan dan pulih kembali.

Jadi Kalo disimpulkan kita harus hati2 cari pembekam yang mengetahui titik 
bekam dan berpengalaman jangan asal. Kemudian pastikan kita mengetahui kondisi 
tubuh kita. Bisa jadi kondisi kita sedang tidak fit. Karena sifat bekam adalah 
mengambil darah dan mengurangi tekanan darah.
Semoga bermanfaat

Arie Wibowo K, S.Si, M.Ak
Subdit Program
Direktorat Pembinaan SMK
Kementerian Pendidikan Nasional RI

From: Aminun Nahari <[email protected]>
To: [email protected]
Date: Tuesday, December 28, 2010, 12:05 AM

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Hari ini saya mencoba terapi bekam untuk pertama kali. Sebenarnya
tidak ada keluhan apapun. Therapist bekan dipanggil untuk membekam
ansk saya yang sakit batuk tidak sembuh-sembuh.
Karena tertarik, saya ikut-ikutan terapi bekam. Ketika di bekam di 3
titik, saya merasa mual, mata berkunang-kunang, kemudian pingsan.

Ketika siuman dari pingsan, saya muntah-muntah, tapi tidak terlalu
banyak. Saat ini umur saya 35 tahun.
Mungkin ada rekan-rekan yang bisa menjelaskan mengapa terjadi seperti
ini ? Padahal anak saya yang masih SD, tidak ada reaksi apapun.
Terima kasih.
Wassalamu'alaikum Warahmatulah








      

Kirim email ke