From: [email protected]
Date: Thu, 13 Jan 2011 12:41:52 +0700
Assalamualaykum,
di daerah saya sering sekali diadakan acara diba'an atau marhabanan.
Mereka membaca sirah nabi dlm bhs arab. Ketika bacaan sampai pd
kata"marhaban ya nurul aini", para hadirin serta merta berdiri. Saya
pernah tanya pd seorang jamaah kenapa berdiri. Dia jg tdk tahu dan
ikut sj.
Mungkin ada diantara rekan2 ada yg pernah mengalami yg serupa diatas
dan mengetahui alasannya bs di share.
jazakumullah khairan
probo abu hamzzah
>>>>>>>>>>>>>
 
Dalam acara daibaa'an atau marhaban, mereka menyakini bahwa Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam hadir pada saat membaca shalawat, terutama ketika 
Mahallul Qiyâm (posisi berdiri), hal itu sangat nampak sekali di awal qiyâm 
(berdiri), lengkapnya silakan baca di almanhaj. Wallahu a'lam
 
http://almanhaj.or.id/content/2583/slash/0
Penulis kitab Barzanji mengajak para pembacanya agar mereka menyakini bahwa 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hadir pada saat membaca shalawat, 
terutama ketika Mahallul Qiyâm (posisi berdiri), hal itu sangat nampak sekali 
di awal qiyâm (berdiri) membaca:

مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا يَا مَرْحَبًا مَرْحَبًا ياَ جَدَّ الْحُسَيْنِ مَرْحَبًا

Selamat datang, selamat datang, selamat datang, selamat datang wahai kakek 
Husain selamat datang.

Bukankah ucapan selamat datang hanya bisa diberikan kepada orang yang hadir 
secara fisik?. Meskipun di tengah mereka terjadi perbedaan, apakah yang hadir 
jasad nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama ruhnya ataukah ruhnya 
saja. Muhammad Alawi al-Maliki (seorang pembela perayaan maulid-red) 
mengingkari dengan keras pendapat yang menyatakan bahwa yang hadir adalah 
jasadnya. Menurutnya, yang hadir hanyalah ruhnya. 

Padahal Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah berada di alam Barzah 
yang tinggi dan ruhnya dimuliakan Allah Azza wa Jalla di surga, sehingga tidak 
mungkin kembali ke dunia dan hadir di antara manusia.

Pada bait berikutnya semakin jelas nampak bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam diyakini hadir, meskipun sebagian mereka meyakini yang hadir adalah 
ruhnya.

يَا نَبِيْ سَلاَمٌ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلُ سَلاَمٌ عَلَيْكَ
يَا حَبِيْبُ سَلاَمٌ عَلَيْكَ صَلَوَاتُ اللهِ عَلَيْكَ

Wahai Nabi salam sejahtera atasmu, wahai Rasul salam sejahtera atasmu
Wahai kekasih salam sejahtera atasmu, semoga rahmat Allah tercurah atasmu.

Para pembela Barzanji seperti penulis “Fikih Tradisionalis” berkilah, bahwa 
tujuan membaca shalawat itu adalah untuk mengagungkan nabi Muhammad Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Menurutnya, salah satu cara mengagungkan seseorang adalah 
dengan berdiri, karena berdiri untuk menghormati sesuatu sebetulnya sudah 
menjadi tradisi kita. Bahkan tidak jarang hal itu dilakukan untuk menghormati 
benda mati. Misalnya, setiap kali upacara bendera dilaksanakan pada hari Senin, 
setiap tanggal 17 Agustus, maupun pada waktu yang lain, ketika bendera merah 
putih dinaikkan dan lagu Indonesia Raya dinyanyikan, seluruh peserta upacara 
diharuskan berdiri. Tujuannya tidak lain adalah untuk menghormati bendera merah 
putih dan mengenang jasa para pejuang bangsa. Jika dalam upacara bendera saja 
harus berdiri, tentu berdiri untuk menghormati Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam lebih layak dilakukan, sebagai ekspresi bentuk penghormatan kepada 
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam. Bukankah Nabi Muhammad Shallallahu 
'alaihi wa sallam adalah manusia teragung yang lebih layak dihormati dari pada 
orang lain?[9]
 
1). Keberadaan Kitab Barzanji Di Kalangan Kaum Muslimin.
http://almanhaj.or.id/content/2584/slash/0
Kitab ‘Iqdul jauhar fî maulid an nabiyyi al azhar’ atau yang terkenal dengan 
nama Maulid Barzanji, adalah sebuah kitab yang sangat populer di kalangan dunia 
Islam, demikian juga di negara kita Indonesia, terutama di kalangan para santri 
dan pondok-pondok pesantren. Maka, tidak mengherankan jika di setiap rumah 
mereka terdapat kitab Barzanji ini. Bahkan, sebagian di antara mereka sudah 
menghafalnya. Sudah menjadi ritual di antara mereka untuk membacanya setiap 
malam Senin karena meyakini adanya keutamaan dalam membacanya pada malam hari 
kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ada juga yang membacanya 
setiap malam Jum’at karena mengharap keberkahan malam hari tersebut. Ada juga 
yang membacanya setiap bulan sekali, dan ada juga pembacaan maulid barzanji ini 
pada hari menjelang kelahiran sang bayi atau pada hari dicukur rambutnya. Sudah 
kita ketahui bahwa mereka beramai-ramai membacanya dengan berjamaah kemudian 
berdiri ketika dibacakan detik-detik kelahiran beliau. Hal ini mereka lakukan 
pada perayaan maulid beliau pada tanggal 12 Rabi’ûl awwal. Mereka meyakini 
bahwa dengan membaca barzanji ini mereka telah mengenang dan memuliakan Nabi 
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, sehingga mereka akan memperoleh 
ketentraman, kedamaian dan keberkahan yang melimpah. Demikianlah cara mereka 
untuk mewujudkan cinta sejati mereka kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam. 


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke