From: [email protected] Date: Wed, 26 Jan 2011 22:02:09 +0800 Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Afwan, mohon dijelaskan tentang kesahihan hadist-hadist Ghadir Khum) Hadits Pengangkatan Imam Ali menjadi Mawla (Pemimpin) Jazakallah khoir, Ummu Maryam Wassalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Dibawah ini penjelasan ringkas mengenai hadist Ghadir Khum dan hadits Tsaqalain dari almanhaj. Wallahu a'lam Hadits Tsaqalain http://almanhaj.or.id/content/2939/slash/0 Ghadir Khum (sebuah mata air yang terletak di Khum, suatu tempat antara Mekkah dan Madinah - Lihat Syarh Nawawi). http://almanhaj.or.id/content/2938/slash/0 Melalui hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang wasiat beliau supaya menyintai Ahlu Bait, kaum Rafidhah memanfaatkannya untuk menjajakan agama mereka di tengah kaum Muslimin, sekaligus untuk memecah belah barisan kaum Muslimin. Di antara hadits-hadits itu ialah hadits yang terdapat dalam Shahih Muslim. Berisi wasiat yang beliau sampaikan di Ghadir Khum (sebuah mata air yang terletak di Khum, suatu tempat antara Mekkah dan Madinah - Lihat Syarh Nawawi). Dalam hadits itu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan bahwa beliau meninggalkan dua perkara besar bagi umatnya. Yang pertama Kitab Allah, sedangkan yang kedua adalah sabda beliau berikut ini : وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي Dan Ahli baitku. Aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku, aku ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku. [HR. Muslim Kitab Fadha’il ash-Shahabah, bab Min Fadha’il Ali Radhiyallahu 'anhu]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menerangkan tentang hadits di atas bahwa : “(yang dimaksud) bukan kekhususan bagi Ali Radhiyallahu 'anhu (dan keturunannya-pen), tetapi meliputi semua Ahli Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dan orang yang paling jauh dari (pelaksanaan terhadap) wasiat ini adalah kaum Rafidhah. Karena sesungguhnya mereka (kaum Rafidhah) memusuhi al-Abbas beserta keturunannya, bahkan memusuhi mayoritas Ahli Bait dan membantu orang-orang kafir untuk membinasakannya” [Lihat Majmu’ Fatawa (IV/419]. Zaid bin Arqam, seorang sahabat Nabi yang membawa riwayat hadits di atas, menerangkan bahwa Ahli Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam meliputi Keluarga Ali bin Abu Thalib, keluarga Aqil, keluarga Ja’far, dan keluarga Abbas. Isteri-isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk Ahli Bait beliau. Hanya saja isteri-isteri beliau tidak termasuk yang diharamkan menerima shadaqah (zakat), sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Nawawi. [2] Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan menjelaskan bahwa isteri-isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm termasuk Ahli Bait beliau, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala : إِنَّمَا يُرِيدُ اللهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait. [Al-Ahzab : 33] [3] Imam Ibnu Katsir, berkaitan dengan surat al-Ahzab ayat 33 di atas, mengatakan: “Ini merupakan nash (ketetapan berdasarkan nash) bahwa isteri-isteri Nabi n termasuk Ahli Bait beliau, sebab mereka merupakan pangkal bagi sebab turunnya ayat tersebut” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir] Dari pemaparan di atas, jelas bahwa kaum Rafidhah sebenarnya membenci kebanyakan Ahli Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Tidak ada bukti bahwa mereka menyintai Ahli Bait kecuali yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Itupun dilakukan secara berlebih-lebihan. Para Ahli Bait yang diperlakukan demikian sendiri tidak mengakui kecintaan mereka. SIAPAKAH KAUM RAFIDHAH? Secara garis besar Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah t menerangkan tentang siapa Rafidhah itu. Rafidhah ialah kaum yang membenci dan melaknat Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu anhuma (dua orang Khulafa’ur Rasyidin yang pertama dan kedua-pen). Oleh sebab itu, ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad bin Hanbal tentang siapakah orang Rafidhah?. Beliau menjawab: Yaitu yang mencaci maki Abu Bakar dan Umar. Karena caci-makian inilah mereka disebut Rafidhah. Sesungguhnya mereka telah menolak (rafadha) Zaid bin Ali (salah seorang keluarga Ali bin Abi Thalib-pen) ketika beliau menyatakan pujian dan kecintaannya kepada dua orang khalifah Abu Bakar dan Umar. Sedangkan kaum Rafidhah membenci keduanya. Maka barangsiapa yang membenci Abu Bakar dan Umar berarti ia seorang Rafidhah. Ada lagi yang mengatakan bahwa kaum Rafidhah disebut rafidhah karena mereka menolak (rafadha) Abu Bakar dan Umar. [4] Asal usul Rafidhah berasal dari kaum munafiqin dan orang-orang zindik (orang yang secara lahir seperti cinta kepada Islam, namun batinnya penuh kebencian terhadap Islam). Kelompok ini merupakan hasil rekayasa Ibnu Saba’ sang zindik. Mula-mula ia menampakkan sikap berlebih-lebihan (cinta secara over acting) terhadap Ali. Caranya, dengan menganggap Ali berhak menjadi Imam berdasarkan nash. Kemudian menganggap bahwa Ali adalah ma’shum (terjaga dari kesalahan-pen). Oleh sebab itu, ketika asas Rafidhah adalah kemunafikan, maka sebagian ulama Salaf mengatakan bahwa : “Menyintai Abu Bakar dan Umar merupakan keimanan, sedangkan membenci keduanya merupakan kemunafikan. Menyintai Bani Hasyim (di antaranya al-Abbas-pen) adalah keimanan, sedangkan membencinya berarti kemunafikan” [5] BAGAIMANA SIKAP AHLUS SUNNAH? Ternyata yang benar-benar menyintai dan memberikan pembelaan serta loyalitas kepada Ahlu Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hanyalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah sebagai salah seorang tokoh terkenal Ahlus Sunnah, mengatakan bahwa : “Ahlus Sunah menyintai dan memberikan pembelaan kepada Ahlu Bait Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta memelihara wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang keharusan menyintai Ahlul Bait yang disampaikan di Ghadir Khum”, kemudian beliau memaparkan dalil-dalilnya. [6] Imam Muslim dalam Kitab Shahihnya meriwayatkan hadits dari Zaid bin Arqam Radhiyallahu 'anhu ketika di tanya oleh Hushain bin Sabrah (seorang Tabi’i). Zaid bin Arqam mengatakan : قَامَ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمًا فِيْنَا خَطِيْبًا، بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا، بَيْنَ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَة فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ، وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ قَالَ :"أَمَّا بَعْدُ : أَلاَ أَيُّهَا النَّاسُ ! فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُوْلُ رَبِّي فَأُجِيْبَ، وَأَناَ تَاِركٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ : أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللهِ فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّوْرُ فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللهِ وَاسْتَمْسِكُوْا بِهِ". فَحَثَّ عَلَي كِتَابِ اللهِ وَرَغَّبَ فِيْهِ، ثُمَّ قَالَ : "وَأَهْلُ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي، أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي". فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ : وَمَنْ أهْلُ بَيْتِهِ ؟ يَا زَيْدُ ! أَلَيْسَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ؟ قَالَ : نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، وَلَكِنْ أَهْلُ يَبْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ. قَالَ : وَمَنْ هُمْ؟ قَالَ : هُمْ آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيْلٍ وَآلُ جَعْفَر وَآلُ عَبَّاسٍ. قاَلَ : كُلُّ هَؤُلاَءِ حُرِمَ الصَّدَقَةَ؟ قَالَ : نَعَمْ Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkhotbah di hadapan kami, di samping sebuah mata air di suatu tempat yang disebut Khum, (terletak) di antara Mekah dan Madinah. Maka beliau membaca hamdalah dan memuji Allah. Beliau memberikan nasihat dan memberikan peringatan. Kemudian beliau bersabda : “Amma ba’du : Ketahuilah wahai manusia! Saya hanyalah seorang manusia, siapa tahu utusan Rabbku segera datang memanggilku lalu akupun menyambutnya. Saya tinggalkan kepada kalian dua hal besar : Yang pertama : Kitab Allah. Di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Maka ambillah Kitab Allah itu dan pegangilah ia dengan kuat”. Maka beliau menekankan untuk berpegang pada Kitabullah dan mendorong untuk bersemangat berpegang padanya. Kemudian beliau berkata lagi : “Dan Ahli Baitku, saya ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku, saya ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku, saya ingatkan kalian kepada Allah tentang Ahli Baitku”. Kemudian Hushain (bin Sabrah) berkata kepada Zaid (bin Arqam) : “Siapakah Ahli Baitnya?, Wahai Zaid, bukankah isteri-isteri beliau termasuk Ahli Baitnya?” Zaid menjawab : “Isteri-isteri beliau memang termasuk Ahli Baitnya, namun Ahli baitnya (yang dimaksudkan-pen) ialah orang yang diharamkan shadaqah (zakat) bagi mereka sepeninggal Nabi”. Hushain bertanya : Siapakah mereka?. Zaid menjawab : Mereka ialah keluarga Ali, keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas. Hushain bertanya : Mereka semua diharamkan menerima shadaqah?. Zaid menjawab : Ya. [Shahih Muslim, Syarh Nawawi. Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha XV/174-175] Dalam lafal yang lain, Zaid bin Arqam ditanya : “Siapakah Ahli Baitnya? Apakah isteri-isteri beliau?” Zaid menjawab : Bukan. Demi Allah, seorang wanita bisa bersama-sama dengan (menjadi isteri bagi) seorang laki-laki hanya dalam sepotong waktu, kemudian si suami menceraikannya hingga wanita itu kembali kepada orang tua dan keluarganya. Ahli Bait (yang dimaksud di sini-pen) ialah asal-usulnya dan hubungan darahnya yang diharamkan bagi mereka shadaqah” [Shahih Muslim Syarh Nawawi, Tahqiq Khalil Ma’mun Syiha XV/176] Imam Nawawi menggabungkan dua riwayat di atas, bahwa isteri-isteri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk Ahli baitnya, hanya mereka tetap tidak diharamkan menerima shadaqah. [Syarh Nawawi XV/175)] ------------------------------------ Website anda http://www.almanhaj.or.id Berhenti berlangganan: [email protected] Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: [email protected] [email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
