MENEPIS SYUBHAT (KERANCUAN) TERHADAP SALAFIYAH
Oleh
Syaikh Doktor Abu Anas Muhammad bin Musa An-Nashr
http://almanhaj.or.id/content/2932/slash/0
Di tengah gelombang kebid’ahan dan kesyirikan yang menerpa umat sekarang ini.
Di saat kebingungan dan ketimpangan semakin membelit kaum mudanya. Ahlul ahwa’
(para pengikut hawa-nafsu) tidak henti-hentinya melontarkan kerancuan dan
keraguan. Bahkan tidak jarang melemparkan tuduhan serta fitnah yang tidak
berdasar ke tengah-tengah umat terhadap kemulian dakwah Salafiyah yang penuh
barakah ini dan para dainya. Semua itu ibarat riak-riak kecil, bila tidak
segera ditepis akan menjadi gelombang ganas yang membahayakan lagi
mengkhawatirkan. Salah seorang murid senior Muhadits abad ini (Imam al-Albani
rahimahullah), yaitu Syaikh Muhammad bin Musa Nashr telah mengumpulkan beberapa
syubhat yang dilontarkan oleh musuh da’wah Salafiyah, kemudian beliau iringi
dengan bantahannya. Pada kesempatan ini kami sampaikan sebagian dari
bantahannya tersebut dan kami pilih yang sekiranya mendesak untuk diketahui.
Syubhat Pertama:
Salafiyah adalah sebuah penasaban yang bid’ah!
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr.
Sebagian musuh dakwah Salafiyah menganggap bahwa menisbatkan diri kepada Salaf
merupakan pengelompokan bid’ah. Hal itu sebagaimana menamakan diri dengan:
Ikhwanul Muslimin, Hizbut Thahrir, dan Jamaah Tabligh. Mereka tidak tahu, bahwa
Salafiyah adalah sebuah penasaban terhadap generasi terbaik. Yaitu generasi
sahabat dan tabi’in, yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dengan kebaikan. Juga merupakan penyandaran terhadap umat
yang ma’sum (terjaga dari kesalahan), yang tidak akan bersepakat di dalam
kesesatan, umat yang telah diridhai oleh Allah. Dia berfirman:
رَّضِىَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْاعَنْهُُ
Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. [al-Bayyinah: 8]
Sungguh jauh berbeda, antara orang yang menisbatkan diri kepada individu yang
tidak ma’sum , bersikap loyal, dan fanatik terhadap seluruh perkataan dan
pendapatnya, dengan orang yang menisbatkan diri kepada umat yang selamat dari
penyimpangan dan kesesatan di saat munculnya banyak perselisihan.
وسََتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً كُلُّهَا فِي
النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً قِيْلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ :هُمُ
الَّذِيْنَ عَلَي مِثْلِ مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي ِ
Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya di dalam neraka kecuali
satu. Siapa dia wahai Rasulullah? Jawab Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam : “Mereka adalah orang-orang yang semisal dengan apa yang aku dan
sahabatku berada di atasnya. [2]
Itulah Salafiyah yang mengambil Islam secara murni, bersih dari segala bid’ah.
Islam yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, para sahabatnya dan
umat terbaik sesudah mereka.
Bagaimana kalian membolehkan “jamaah-jamaah” Islam menisbatkan diri terhadap
individu-individu yang tidak ma’sum, lalu pada waktu yang sama kalian melarang
orang-orang menasabkan kepada umat yang ma’sum dari segala kesesatan.
Menasabkan diri kepada Salafush Shalih, dari kalangan sahabat, tabi’in, dan
para imam (ulama) rabbani yang jauh dari hizbiyah- hizbiyah (fanatik terhadap
kelompok-kelompok) pemecah belah umat?
Guru kami, al-Albani telah berkata, membantah hizbiyah : “Kami terang-terangan
memerangi hizbiyah- hizbiyah tersebut, karena hal tersebut sebagaimana firman
Allah:
كُلُّ حِزْبٍ بِمَالَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka
(masing-masing). [al-Mu’minun: 53]
Padahal tidak ada hizbiyah sama sekali dalam Islam. Berdasarkan nash al-Qur’an,
hizb hanya ada satu, (yakni hizbullah).
أَلآَإِنَّ حِزْبَ اللهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Ketahuilah sesungguhnya hizb Allahlah yang beruntung. [Mujadalah: 22]
Hizbullah adalah jamaah Rasulullah n dan hendaknya seseorang itu berada di atas
manhaj para sahabat, hal ini membutuhkan ilmu terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah.
[3].
Beliau (Al-Albani) pernah juga ditanya:
“Apakah Salafiyah itu dakwah hizbiyah, golongan, madzhab ataukah kelompok baru
dalam Islam?”
Beliau menjawab:
“Kalimat “Salaf” itu terkenal di dalam bahasa Arab dan syar’i. Telah shahih
dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika akan wafat beliau berkata
kepada Fatimah, putrinya:
فَاتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِيْ وَ نِعْمَ السَّلَفِ أَنَا لَكِ
Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah. Aku adalah sebaik-baik salaf bagimu.
Banyak sekali para ulama’ yang mengunakan istilah “Salaf”. Satu contoh, ketika
mereka menggunakannya untuk menghancurkan bid’ah:
وَكُلُّ خَيْرٍ فِيْ اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ وَكُل شَرٍّ فِيْ ابْتِدَاعِ مَنْ
خَلَفَ
Setiap kebaikan adalah di dalam mengikuti salaf, dan setiap kejelekan adalah di
dalam bid’ahnya khalaf.
Tetapi ada sebagian orang yang mengaku berilmu mengingkari penisbatan terhadap
Salaf, dengan anggapan hal itu tidak ada sandarannya. Dia mengatakan: “Seorang
muslim tidak boleh mengatakan: “Saya Salafi”. Sepertinya dia mengatakan:
“Seorang muslim tidak boleh mengatakan saya adalah pengikut manhaj Salaf
as-shalih dalam aqidah, ibadah, perilaku dan lainnya.”
Tidak diragukan lagi, pengingkaran ini membawa konsekwensi dia berlepas diri
dari Islam yang shahih. Islamnya para Salaf as-Shalih, yang dipimpin oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagaimana telah diisyaratkan oleh
hadits mutawatir dalam “Shahihain” dan lainnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ
يَلُوْنَهُمْ
Sebaik baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian
generasi setelahnya.
Seorang muslim tidak boleh berlepas diri dari penisbatan kepada Salafush
shalih. Orang yang mengingkari penisbatan yang mulia ini, bukankah dia juga
menisbatkan diri kepada madzhab-madzhab yang ada, baik dalam aqidah, maupun
fiqih? Bisa jadi dia seorang Asy’ariy [4] atau Maturidy [5] Bisa jadi pula
seorang Hanafi [6], Syafi’i [7], Maliki [8] atau Hambali [9], yang tergolong
Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal orang yang menisbatkan kepada madzhab Asy’ariy
atau salah satu dari 4 madzhab (fiqih) yang ada, dia telah menisbatkan diri
kepada individu yang tidak ma’sum, walaupoun ada juga paraulama yang benar.
Tetapi apakah dia mengingkari penisbatan kepada individu-individu yang tidak
ma’sum ini? [10]
Dan inilah perkataan ahlul ilmi tentang bolehnya menisbatkan diri kepada
Salafush as-Shalih:
Ibnu Manzhur berkata: “Termasuk arti Salaf adalah: pendahulumu, yaitu
bapak-bapakmu dan kerabatmu yang punya umur dan keutamaan lebih di atasmu. Oleh
karena itu generasi pertama dari kalangan tabi’in dinamakan “Salafush Shalih.”
[11]
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berkata kepada putrinya,
Zainab, ketika akan meninggal:
إِلْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُوْنَ
Susullah Salaf kita yang shahih, yaitu Utsman bin Mazh’un. [12]
Al-Ghazali berkata: “Yang saya maksud dengan Salaf adalah madzhab sahabat dan
tabi’in. [13].
Syaikhul Islam berkata: “Tiada aib bagi orang yang menampakkan madzhab salaf
dan menisbatkan kepadanya, bahkan penisbatan tersebut wajib diterima menurut
kesepakatan (ulama’), karena madzhab salaf adalah madzhab yang haq.” [14]
Al-Baijuri berkata: “Yang dimaksud dengan istilah Salaf adalah orang yang
terdahulu dari para nabi, tabi’in dan tabiut tabi’in.” [15]
Syubhat Kedua.
Salafiyun Iebih mementingkan perkara-perkara furu’ (cabang, remeh) ketimbang
perkara Ashl (pokok).
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr :
Ini merupakan kedustaan serta bualan mereka. Sesungguhnya da’wah Salafiyah
–alhamdulillah- mengimani Islam seluruhnya, tanpa pilih-pilih, berdasarkan
firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَآفَّةً
Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian ke dalam Islam secara
kaffah.[Al- Baqarah : 207]
Dan juga dengan firman Allah yang lain, yang mencela orang yang
mengambil/mengamalkan agama hanya menurut selera hawa nafsu.
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ
Apakab kalian mengimani sebagian dari kitab, dan mengkufuri sebagiannya?
[Al-Baqarah : 85]
Kewajiban terpenting dalam da’wah Salafiyah adalah tauhid, menghambakan makhluk
kepada Rabbnya, mentarbiyah (membina) umat di atas manhaj Rasul, dan memberikan
perhatian terhadap sunnah-sunnah yang sudah mulai ditinggalkan lalu
menghidupkannya kembali. Semua itu merupakan bagian dari program dan manhaj
da’wah Salafiyah. Tetapi sebagian orang-orang yang menyelisihi da’wah Salafiyah
ini ada yang mengaggap sunnah-sunnah Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam,
seperti: siwak, memanjangkan jenggot, meninggikan kain di atas mata kaki,
sutrah dan lainnya, sebagai perkara “qusyur” (remeh/kulit).
كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِن يَقُولُونَ إِلاَّ كَذِبًا
Sangat buruk kalimat yang keluar dari mulut-mulut mereka, tidaklah yang mereka
ucapkan melainkan kedustaan. [al-Kahfi: 5]
Orang-orang yang bingung itu tidak tahu, bahwa Islam itu semuanya lubab (inti),
sehingga persepsi dan pikiran mereka yang busuk. menganggapnya sebagai “qusyur”.
Padahal semua yang dibawa oleh wahyu (Al-Kitab dan As-Sunnah) adalah haq dan
lubab (inti), orang yang memperolok-olok sesuatu darinya maka dia kafir.
Sedangkan orang yang menyebut sesuatu yang dibawa oleh Rasulullah dengan
“qusyur” (kulit, hal remeh) yang dapat dibuang, maka dia berada di pinggir
jurang yang dalam.
Syubhat ke tiga.
Dakwah Salafiyah tidak memberikan perhatian terhadap masalah-masalah politik,
bahkan meninggalkannya sama sekali.
Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr.menjawab:
Ini juga merupakan kedustaan yang nyata. Karena menurut Salafiyin, perkara
politik termasuk dalam urusan dien. Tetapi politik yang mana?
Apakah politik koran-koran, majalah-majalah, dan kantor-kantor berita milik
Yahudi dan Nashari? Ataukah politik Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan para sahabatnya?
Apakah politik demokrasi, yang mereka dengungkan dengan semboyan orang-orang
kafir: “Dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat?”
Ataukah politik pemeluk Islam yang berprinsip: “Hukum Allah, untuk Allah,
berpijak pada Kitabullah dan Sunnah Rasulnya, melalui musyawarah yang
dibenarkan oleh Islam?”
Dan apakah politik yang kebenaran diukur dengan banyaknya jari yang terangkat
(voting) di Majelis Perwakilan Rakyat, meskipun terkadang voting tersebut
menambah kuatnya kemungkaran atau kesyirikan?
Ataukah politik sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah Azza wa Jalla. Dia
berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلاَّ للهِ أَمَرَ أَلاَّتَعْبُدُوا إِلآًّإِيَّاهُ
Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak
menyembah selain Dia. [Yusuf: 15]
Salafiyin tidak ingin meraih al-haq dengan cara yang batil. Karena menurut
mereka, sebuah tujuan tidaklah menghalalkan segala cara. Mereka tidak akan
berjuang di atas “punggung-punggung babi”, tidak akan minta pertolongan kepada
kaum musyrikin, dan selamanya tidak akan berkumpul dengan orang-orang munafiq.
Mereka menolak jumlah banyak yang bersifat seperti buih, yang tidak menyandang
sifat syar’i sedikitpun.
Syubhat keempat.
Salafiyun bersikap mudahanah terhadap penguasa, tidak bicara al-haq secara
terang-terangan di hadapan mereka.
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr:
Di mana Salafiyun yang menempati jabatan-jabatan tinggi, berupa jabatan
Menteri, Hakim atau Mufti di negara-negara Islam? Mencari jabatan sepert itu
adalah monopoli ahli bid’ah selama puluhan tahun. Andaikata Salafiyun mau cari
muka dan menjual ilmu, niscaya mereka akan meraih apa yang telah diraih selain
mereka. Tetapi Salafiyun memandang itu semua sebagai kemunafikan. Bahkan mereka
tidak memandang bolehnya memasuki Majlis Perwakilan Rakyat, agar tidak menjadi
jembatan untuk Undang-Undang buatan manusia dan hukum-hukum Thaghut, dan tidak
bergelimang dalam kebatilan.
Kalau ada oknum yang menasabkan diri kepada Salafiyah, lalu dia memuji-muji
penguasa dengan dusta, mencari muka dengan cara berbasa-basi dan bersikap
nifaq, maka hanyalah mewakili dirinya sendiri. Dakwah Salaf serta Salafiyun
berlepas diri dari apa yang dia lakukan. Kewajiban Salafiyun terhadap orang
seperti itu adalah memberikan nasehat dan mengingatkan, kemudian memboikot dan
memberikan peringatan (jika dia enggan, pen).
Salafiyun adalah orang-orang yang membicarakan al-haq secara terang-terangan
penuh, dengan hikmah dan nasehat yang baik. Tanpa mengobarkan pengkafiran,
menyatakan orang lain durhaka, dan pemberontakan terhadap penguasa.
Dakwah Salaf mengajak untuk memberikan nasehat terhadap penguasa, serta zuhud
terhadap apa-apa yang ada pada mereka, yang berupa harta, jabatan, dan
kehormatan. Juga mengajak untuk tidak mengobarkan (emosi) terhadap mereka,
tidak rakus terhadap singgasana mereka, tidak memberontak melawan mereka.
Kecuali jika nampak kekufuran yang nyata pada mereka, dengan terpenuhinya
syarat-syarat serta tidak adanya penghalang-penghalang kekafiran. Tetapi hal
itu ditetapkan oleh ulama, bukan oleh orang-orang hina yang mengikuti setiap
orang yang memanggil.
Syubhat kelima
Salafiyin suka berlebih-lebihan….!
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr:
Adapun kalau yang dimaksud berlebih-lebihan adalah bersungguh-sungguh di dalam
al-haq, melaksanakan kawajiban-kewajiban, dan menghidupkan sunnah-sunnah yang
sudah mulai ditinggalkan, maka ini adalah haq, bukan aib bagi seorang muslim.
Sedangkan yang merupakan aib adalah kalau seseorang meremehkan perkara-perkara
agama, membolehkan hal-hal yang diharamkan, serta mengerjakan hal-hal yang
melanggar syari’at.
Maka apakah memelihara jenggot yang merupakan Sunnah merupakan sikap
berlebihan? Apakah memendekkan kain di atas mata kaki sampai pertengahan betis
yang merupakan Sunnah merupakan sikap berlebihan? Apakah mengharamkan
jabat-tangan dengan wanita bukan mahram, mengharamkan lagu-lagu dan musik,
termasuk berlebih-lebihan? Padahal ulama’ dahulu dan sekarang telah berfatwa
dengan hal-hal di atas!
Itu semua hanyalah tuduhan yang dibuat-buat agar manusia menjauhi para da’i
Al-Kitab dan As-Sunnah pengikut Salaful Ummah.
Salafiyah tidaklah menyia-nyiakan syari’at ini sedikitpun, tidak meremehkan
Sunnah, apapun bentuknya. Sebagaimana hal itu dilakukan oleh harikiyin dan
hizbiyin yang menuduh Salafiyin suka mencari-cari masalah ganjil yang mereka
namai dengan “qusyur” (perkara kulit) untuk meremehkannya.
Keberuntunganlah bagi orang-orang yang asing, yang telah diberitakan oleh Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam, dengan sabdanya:
أَنَّهُمُ الَّذِيْنَ يُصْلِحُوْنَ مَاأَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ سُنَّتِهِ
Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki sunnah-sunnah Rasulullah n yang
telah dirusak oleh manusia.[16]
Syubhat keenam.
Salafiyin tidak menaruh perhatian terhadap masalah jihad.
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr:
Jihad merupakan puncak syari’at. Ayat-ayat dan hadits-hadits yang
menganjurkannya banyak sekali dan sudah terkenal. Tetapi jihad mempunyai
kaedah-kaedah, syarat-syarat, dan adab-adab. Salafiyun tidak akan berangkat
jihad di bawah bendera jahiliyah, karena jihad tidaklah disyari’atkan kecuali
untuk menegakkan syari’at Allah. Dia berfirman:
حَتَّى لاَتَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ للهِ
Sehingga tidak terjadi fitnah, dan agama seluruhnya untuk Allah. [al-Anfaal: 39]
Untuk berjihad harus ada imam, harus ada bendera Islam. Dan harus ada pembinaan
rabbaniyah seputar jihad. Harus ada bekal dan kesiapan. Menurut Salafiyin,
jihad haruslah berdasarkan ilmu, keyakinan dan sasaran yang jelas. Jika bendera
telah tegak dan tujuan (sasaran) juga jelas, maka Salafiyin tidak akan
ketinggalan. Bumi Palestina, Chehcnya, Afghon, Balkan, Kasmir menjadi saksi
bagi mereka di sisi Allah Azza wa Jalla. Mereka mendorong peperangan (jihad)
dengan pemahaman seperti ini.
Syubhat ketujuh.
Dakwah Salafiyah memecah belah umat dan membikin fitnah.
Jawaban Syaikh Abu Anas Muhammad bin Musa Nashr:
Kenapa dakwah Salaf dituduh demikian? Karena dakwah ini memisahkan keburukan
dari kebajikan, padahal itu merupakan tujuan Allah dan Rasul-Nya.
لِيَمِيزَ اللهُ الْخَبِيثَ مِنَ الطَّيِّبِ
Agar Allah memisahkan antara kejelekan dengan kebaikan. [al-Anfaal: 37]
Allah juga berfirman:
وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ
Katakanlah: “Kebenaran itu dari Rabb kalian, barangsiapa yang ingin, berimanlah
dan siapa yang ingin , kufurlah. [al-Kahfi: 29]
Ketika seorang da’i Salafi memerangi bid’ah dan ahli bid’ah, langsung dituduh
dengan tuduhan-tuduhan yang keji tersebut. Karena memang di antara prinsip
Ahlul Bid’ah adalah mengumpulkan orang dengan membabi buta dengan dalih menjaga
persatuan kaum muslimin. Mereka tidak peduli bentuk dan jenisnya, tetapi yang
penting kwantitas, bagaimana itu bisa terwujud. Karena itu kamu lihat mereka
berbasa-basi di hadapan ahlul bid’ah dan ahli kesesatan. Tetapi mereka tidak
mau berdamai dengan Salafiyin. Bahkan mereka memusuhi, mencela, membenci, dan
membesar-besarkan kesalahan Salafiyin.
Kami akan senantiasa ingat ucapan salah satu pembesar Ikhwanul Musimin di kota
Zarqo’ yang membela Khumaini dan revolusinya serta membantah Salafiyin yang
memperingatkan dari firqah Syiah, condong kepadanya. Dia berkata: “Muslim Syiah
yang menegakkan syari’at Allah, lebih utama daripada Sunni Salafi yang tidak
menegakkan syari’at, mereka itu perusak.”
Lalu dia memberikan tuduhan-tuduhan bahwa Salafi membuat fitnah dan memecah
belah umat. Maka saya katakan: “Perhatikanlah mereka telah terjatuh ke dalam
fitnah, tidaklah mereka mengetahui bahwa Syiah adalah Yahudinya umat ini.
Syi’ah adalah firqah yang paling buruk. Karena berbagai perkara yang ada pada
mereka, seperti: bid’ah, kesesatan, merubah kitab Allah, mencela sahabat
Rasulullah n , dan menuduh Aisyah ummul mukminin berzina, padahal Allah telah
mensucikannya dari atas langit ke tujuh, Maha tinggi Allah dengan ketinggiannya
yang Agung dari apa yang diucapkan orang-orang dhalim.
Demikian beberapa syubhat diantara banyak syubhat yang dilontarkan oleh
sebagian orang kepada dakwah salafiyah dan bantahannya. Mudahan-mudahan Allah
memudahkan bagi kita untuk mengenal yang hak sebagai sebuah kebenaran dan
semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk melaksanakan nya.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04/Tahun VI/1423H/2002M Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]
________
Footnote
[1]. Dirangkum oleh Adam al-Atsariy dari kitab “Min Ma’alim Manhaj Nabawi” oleh
Syaikh Doktor Abu Anas Muhammad bin Musa An-Nashr
[2]. HR. Abu Dawud no. 4596, Tirmidzi no. 2640, Ibnu Majah no. 3991, Ahmad 2/332
[3]. Lihat Manhaj Salafi Inda al-Albanny hal 13-19 dan Limadza Ikhtartu Manhaj
Salaf hal 34
[4]. Orang yang mengaku mengikuti aqidah Abul Hasan Al-Asy’ariy-Red
[5]. Orang yang mengaku mengikuti aqidah Al-Maturidiy-Red
[6]. Orang yang mengaku mengikuti fiqih Abu Hanifah-Red
[7]. Orang yang mengaku mengikuti fiqih imam Muhammad bin Idris Asy-Sya’ifi-Red
[8]. Orang yang mengaku mengikuti fiqih imam Malik bin Anas-Red
[9]. Orang yang mengaku mengikuti imam Ahmad bin Hambal-Red
[11]. Lihat Lisanul Arab 9/159
[12]. HR. Ahmad no. (1/335); Ibnu Sa’ad (1/398-399) didhaifkan oleh al-Albani
dalam Silsilah Dha’ifah no. 1715
[13]. Lihat Iljamul ‘Awam, hal: 62
[14]. Lihat Majmu Fatawa 4/149
[15]. Lihat “Jauhat at-Tauhid” hal. 111
[16]. HR. tirmidzi (5/10), Ahmad (4/73), Thabrani di Mu’jamul Kabir 17/16