Barangkali ada yang tidak sempat browsing.
Berikut copast dari : www.almanhaj.or.id

Tanda-Tanda Ilmu Yang Bermanfaat

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas



Ilmu yang bermanfaat dapat diketahui dengan melihat kepada pemilik ilmu
tersebut. Di antara tanda-tandanya adalah:

[1]. Orang yang bermanfaat ilmunya tidak peduli terhadap keadaan dan  kedudukan
dirinya serta hati mereka membenci pujian dari manusia, tidak  menganggap
dirinya suci, dan tidak sombong terhadap orang lain dengan  ilmu yang
dimilikinya.

Imam al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullaah mengatakan,  “Orang yang
faqih hanyalah orang yang zuhud terhadap dunia, sangat  mengharapkan kehidupan
akhirat, mengetahui agamanya, dan rajin dalam  beribadah.” Dalam riwayat lain
beliau berkata, “Ia tidak iri terhadap  orang yang berada di atasnya, tidak
sombong terhadap orang yang berada  di bawahnya, dan tidak mengambil imbalan
dari ilmu yang telah Allah  Ta’ala ajarkan kepadanya.” [1]

[2]. Pemilik ilmu yang bermanfaat, apabila ilmunya bertambah, bertambah  pula
sikap tawadhu’, rasa takut, kehinaan, dan ketundukannya di hadapan  Allah
Ta’ala.

[3]. Ilmu yang bermanfaat mengajak pemiliknya lari dari dunia. Yang  paling
besar adalah kedudukan, ketenaran, dan pujian. Menjauhi hal itu  dan
bersungguh-sungguh dalam menjauhkannya, maka hal itu adalah tanda  ilmu yang
bermanfaat.

[4]. Pemilik ilmu ini tidak mengaku-ngaku memiliki ilmu dan tidak  berbangga
dengannya terhadap seorang pun. Ia tidak menisbatkan kebodohan  kepada seorang
pun, kecuali seseorang yang jelas-jelas menyalahi Sunnah  dan Ahlus Sunnah. Ia
marah kepadanya karena Allah Ta’ala semata, bukan  karena pribadinya, tidak pula
bermaksud meninggikan kedudukan dirinya  sendiri di atas seorang pun. [2]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah membagi  ilmu yang
bermanfaat ini -yang merupakan tiang dan asas dari hikmah-  menjadi tiga bagian.
Beliau rahimahullaah berkata, “Ilmu yang terpuji,  yang ditunjukkan oleh
Al-Kitab dan As-Sunnah adalah ilmu yang diwariskan  dari para Nabi, sebagaimana
disabdakan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi  wa sallam.

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, dan mereka tidak  mewariskan
dinar dan tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu.  Siapa yang
mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak.”  [3]

Ilmu Ini Ada Tiga Macam:

[1]. Ilmu tentang Allah, Nama-Nama, dan sifat-sifat-Nya serta hal-hal  yang
berkaitan dengannya. Contohnya adalah sebagaimana Allah menurunkan  surat
al-Ikhlaash, ayat Kursi, dan sebagainya.

[2]. Ilmu mengenai berita dari Allah tentang hal-hal yang telah terjadi  dan
akan terjadi di masa datang serta yang sedang terjadi. Contohnya  adalah Allah
menurunkan ayat-ayat tentang kisah, janji, ancaman, sifat  Surga, sifat Neraka,
dan sebagainya.

[3]. Ilmu mengenai perintah Allah yang berkaitan dengan hati dan
perbuatan-perbuatan anggota tubuh, seperti beriman kepada Allah, ilmu
pengetahuan tentang hati dan kondisinya, serta perkataan dan perbuatan  anggota
badan. Dan hal ini masuk di dalamnya ilmu tentang dasar-dasar  keimanan dan
tentang kaidah-kaidah Islam dan masuk di dalamnya ilmu yang  membahas tentang
perkataan dan perbuatan-perbuatan yang jelas, seperti  ilmu-ilmu fiqih yang
membahas tentang hukum amal perbuatan. Dan hal itu  merupakan bagian dari ilmu
agama. [4]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) rahimahullaah juga  berkata,
“Telah berkata Yahya bin ‘Ammar (wafat th. 422 H), ‘Ilmu itu  ada lima:


(1). Ilmu yang merupakan kehidupan bagi agama, yaitu ilmu tauhid
(2). Ilmu yang merupakan santapan agama, yaitu ilmu tentang mempelajari
makna-makna Al-Qur-an dan hadits
(3). Ilmu yang merupakan obat agama, yaitu ilmu fatwa. Apabila suatu  musibah
(malapetaka) datang kepada seorang hamba, ia membutuhkan orang  yang mampu
menyembuhkannya dari musibah itu, sebagaimana dikatakan oleh  Ibnu Mas’ud
radhiyallaahu ‘anhu
(4). Ilmu yang merupakan penyakit agama, yaitu ilmu kalam dan bid’ah, dan
(5). Ilmu yang merupakan kebinasaan bagi agama, yaitu ilmu sihir dan yang
sepertinya.’” [5]
[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut  Ilmu”,
Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa,  PO BOX 264 –
Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama  Rabi’uts Tsani 1428H/April
2007M]
___________
Foote Notes
[1]. Sunan ad-Darimi (I/89)
[2]. Disarikan dari kitab Fadhlu ‘Ilmi Salaf ‘alal Khalaf (hal. 55-57).
[3]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/252, 325), Abu Dawud  (no.
3641), at-Tirmidzi (no. 2682), Ibnu Majah (no. 223), dan Ibnu  Hibban (no.
80-Mawaarid), ini lafazh Ahmad, dari Shahabat Abu Darda'  radhiyallaahu ‘anhu.
[4]. Majmu’ Fataawaa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (XI/396,397 dengan  sedikit
perubahan). Lihat kitab Muqawwimaat ad-Daa’iyah an-Naajih, hal.  18, karya Dr.
Sa’id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani.
[5]. Majmuu’ Fataawaa, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (X/145-146) dan Siyar
A’laamin Nubalaa’ (XVII/482)



      

Kirim email ke