Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yth. Sdr Abu Umar
Saya sudah membaca email anda baik-baik dan saya memberi komentar serta saran 
dan kenyataan yang ada sbb.
1. bagi para saudara 2 yang lain, hendaknya tidak membawa anak kita yang sakit 
kebeberapa dokter dalam waktu hanya
3 minggu.
2. Dalam memberikan keterangan tentang kasus hendaknya terus terang dan jelas : 
anak umur berapa,sebelum kedokter sudah diberi apa;
setelah batuk berapa hari lalu dibawa kedokter pertama/dokter dimana/apakah 
puskesmas/klinik pribadi/klinik 24 jam, apa
yang diberikannya serta apa yang dinasehatkannya;
 Kenapa dibawa kedokter lain, kenapa tidak kembali kedokter pertama
Yang dimaksud beberapa dokter itu berapa dokter;masing2 dokter memberikan obat 
apa.
3.Baik, hasil LED (laju endap darah) 112 berarti ada infeksi ditubuh yang sudah 
termasuk bukan akut.
Foto Rontgen Thorax menunujukan : Flek di paru-paru.
Komentar saya : semua dokter bila mendapat penderita dengan riwayat batuk 3 
minggu akan memeriksa LED dan Foto thorax, itu standard.
4. Tidak ada diagnosa : Flek paru;
Itu hanya gambaran bayangan di paru berdasarkan foto rontgen. terus terang saja 
bayangan flek pada paru yang spesifik berarti anak menderita
TBC Paru.
5. Untuk TBC paru baik pada anak maupun orang dewasa; diseluruh dunia 
dilaksanakan pengobatan spesifik untuk TBC Paru, artinya pengobatan
khusus dengan suatu campuran obat dan diberikan selama 6 minggu. Bahkan di 
PUSKESMAS disediakan gratis nama programnya : DOS.
Program ini dilancarkan oleh PBB.
6. Sebagai anggota milis tentu kita faham aturannya menurut Islam adalah : 
Bertanyalah kepada yang akhli.
Kasus ini merupakan kasus yang biasa saja bagi kami para akhli Kedokteran yang 
juga mendalami agama Islam secara ilmiah.
Juga kami sudah terbiasa mendapat orang tua seperti anda yang terkesan panik, 
mungkin sekolah umumnya cukup tetapi sama sekali tidak faham
tentang ilmu kesehatan sehingga sampai bertanya seperti ini, ada rasa tidak 
percaya kepada dokter, tetapi tetap ingin berobat kepada dokter.
Sikap anda seperti ini sebagai orang tua akan menimbulkan hal yang buruk pada 
anak anda.
Ketakutan kalau obatnya menimbulkan efek samping ya boleh2 saja tapi obat 
tersebut tidak ada hubungannya dengan ginjal.
Yang paling menggelikan adalah keinginan anda untuk konsult lagi kedokter lain 
untuk mendapat second opinion, lha sudah berapa dokter anda
datangi jadi sudah berapa opinions yang anda dapat, bukan second lagi.
7. Baik ada hal yang mungkin harus dijelaskan kepada anda tetapi ini risiko 
yang sudah diketahui diseluruh dunia :group obat untuk mengobati TBC Paru,
mempunyai kemungkinan efek samping terhadap pendengaran.
Namun TBC Paru pada anak/siapapun bila diobati dan makin meluas akan mengancam 
kehidupan anak/orang  tersebut.
8. Kesimpulan saya : tetaplah pada dokter terakhir, ikuti petunjuknya 
sebaik2nya. Silahkan bertanya kalau ada hal yang kurang jelas atau bila
komunikasinya kurang lancar dengan dokter yang merawat anak anda.
Oh, ya, dalam 6 bulan kedepan mungkin saja dokter anda tersebut akan melakukan 
lagi Foto Rontrgen thorax. Kalau saya dokternya saya akan berbuat
demikian, untuk melihat efek pengobatan yang positif serta memantau apakah 
orang tua patuh pada instruksi pengobatan.
Wassalam
prof DR Dr H Salamun Sastra
Menangani masalah TBC selama 20 tahun




To: [email protected]
From: [email protected]
Date: Fri, 25 Mar 2011 00:11:13 +0700
Subject: [assunnah] OOT : Tanya tentang Flex Paru pada Anak






Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Putra Ana, Umar Abdurrahman, sudah 3 minggu batuk tidak sembuh2. Kami sudah 
mencoba berobat ke beberapa dokter, beberapa kali inhalasi tetapi masih belum 
ada perkembangan. Terakhir dokter yang kami datangkan menyarankan kami untuk 
test LED dan Foto Thorax. Hasilnya, test LED angkanya 112 diatas angka normal 
yang hanya 10. Setelah melihat foto thorax dan nilai LED, sang dokter 
mendiagnosa putra kami terkena flek paru dan harus ditreatment obat selama 6 
bulan tanpa putus.

Kami hendak bertanya kepada anggota milis, apakah ada yang pernah mengalami 
kasus seperti anak kami ini dan langkah apa selanjutnya yang harus kami 
lakukan. Apakah kami menurut saja dengan treatment obat2an yg kami khawatirkan 
dapat merusak ginjalnya, atau kami perlu mendatangi dokter lain untuk 
mendapatkan second opinion tentang penyakit yang putra kami derita.

Jazakumullah khairan katsiiran atas bantuan rekan milis.

Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Abu Umar

Sent from my HTC



                                          

Kirim email ke