DZIKIR KUNCI KEBAIKAN
Oleh
Ustadz Abu Asma Kholid Syamhudi
http://almanhaj.or.id/content/3030/slash/0

Tidak diragukan lagi, setiap orang ingin mendapat kebaikan dan dijauhkan
dari kemudharatan. Namun tidak semua orang menyadari dan mau
bersungguh-sungguh dalam mencapai keinginannya itu. Padahal Allah Subhanahu
wa Ta'ala telah menjelaskan kunci-kunci kebaikan tersebut dalam wahyunya
secara gamblang dan tegas. Kunci kebaikan itu adalah dzikir kepada Allah
(dzikrullah).

URGENSI DAN KEDUDUKAN DZIKIR
Dzikir dan do’a adalah sebaik-baik amalan yang dapat mendekatkan diri
seorang muslim kepada Rabb-nya. Ia merupakan kunci semua kebaikan yang
diinginkan seorang hamba di dunia dan akhirat. Kapan saja Alah Subhanahu wa
Ta'ala memberikan kunci ini kepada seorang hamba, maka Allah Subhanahu wa
Ta'ala menginginkan ia membukanya. Dan jika Allah menyesatkannya, maka pintu
kebaikan terasa jauh darinya, sehingga hatinya gundah gulana, bingung,
pikiran kalut, depresi, lemah semangat dan keinginannya. Apabila ia menjaga
dzikir dan do’a serta terus berlindung kepada Allah, maka hatinya akan
tenang, sebagaimana firman Allah :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ
اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram. [Ar Ra’du:28].

Dan ia akan mendapat keutamaan serta faidah yang sangat banyak di dunia dan
akhirat.[1]

Allah berfirman menjelaskan arti penting dan kedudukan dzikir dalam banyak
ayatnya, diantaranya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ
وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ
وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ
وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا
وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan
yang mu'min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta'atannya,
laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar,
laki-laki dan perempuan yang khusyu', laki-laki dan perempuan yang
bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan
yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut
(nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar. [Al Ahzaab:35].

Dan firmanNya:

يَآأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah,
dzikir yang sebanyak-banyaknya. [Al Ahzaab:41].

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَآءَكُمْ
أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي
الدُّنْيَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِنْ خَلاَقٍ

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan
menyebut) Allah, sebagimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan)
nenek-moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di
antara manusia ada orang yang mendo'a: "Ya, Rabb kami. Berilah kami kebaikan
di dunia," dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. [Al
Baqarah:200].

Demikian juga dalam banyak hadits, Rasulullah telah menjelaskan secara
gamblang arti penting dan kedudukan dzikir bagi diri seorang muslim,
diantaranya:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا
يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

Dari Abu Musa , ia berkata: Telah bersabda Nabi n ,”Permisalan orang yang
berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir, (ialah) seperti orang yang
hidup dan mati.” [2]

Dan hadits Beliau yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ
جُمْدَانُ فَقَالَ سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا
وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ
كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

Dari Abu Hurairah, Beliau berkata,”Al mufarridun telah mendahului,” mereka
bertanya,”Siapakah al mufarridun, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Laki-laki
dan perempuan yang banyak berdzikir.” [3]

Oleh karena itu dzikir-dzikir yang telah diajarkan Rasulullah (adzkaar
nabawiyah) memiliki kedudukan dan arti penting yang tinggi bagi seorang
muslim; sehingga banyak ditulis kitab dan karya tulis yang beraneka ragam
tentang permasalahan ini. Namun seorang muslim diperintahkan untuk berdzikir
kepada Allah dengan dzikir yang telah disyari’atkannya; karena dzikir
merupakan bagian dari ibadah. Dan ibadah hanyalah dibangun di atas dasar
tauqifiyah (berdasar kepada dalil wahyu) dan ittiba’ (mencontoh Rasulullah)’
tidak menuruti hawa nafsu dan kehendak hati semata.

Untuk itu Ibnu Taimiyah berkata,”Tidak diragukan lagi, adzkaar
(dzikir-dzikir) dan do’a-do’a merupakan ibadah yang utama. Sedangkan ibadah
dibangun di atas dasar tauqifiyah dan ittiba’; tidak menurut hawa nafsu dan
kebid’ahan. Sehingga do’a-do’a dan adzkar nabawiyah merupakan dzikir dan do’a
yang paling harus dicari oleh pencarinya. Pelakunya berada di jalan yang
aman dan selamat. Sedangkan faidah dan hasil yang diperoleh tidak dapat
diungkap dengan kata-kata, dan lisan tidak dapat mencakupnya. Adzkaar yang
lainnya ada kalanya diharamkan atau makruh, atau terkadang berisi kesyirikan
yang banyak tidak diketahui oleh orang bodoh. Permasalahan ini cukup panjang
penjabarannya.

Seseorang tidak diperbolehkan membuat sebuah dzikir atau do’a yang tidak
dicontohkan Rasulullah, dan menjadikannnya sebagai ibadah ritual yang
dilakukan oleh manusia secara rutin, seperti rutinitas shalat lima waktu.
Ini jelas kebid’ahan dalam agama yang dilarang Allah. Berbeda dengan do’a
yang dilakukan seseorang, kadang-kadang tidak rutin dengan tidak
menjadikannya sunnah untuk manusia; maka, jika ini tidak diketahui
mengandung makna yang haram, tidak boleh dipastikan keharamannya. Akan
tetapi, terkadang ada keharaman padanya, sedangkan manusia tidak
merasakannya. Ini sebagaimana seorang berdo’a ketika genting, dengan do’a-do’a
yang ia ingat pada waktu itu. Ini dan yang semisalnya hampir sama. Adapun
mengambil wirid-wirid (ma’tsurat, Pent.) yang tidak disyari’atkan dan
membuat-buat dzikir yang tidak syar’i, maka ini terlarang. Demikian do’a-do’a
dan dzikir syar’i, berisi permintaan yang agung lagi benar. Tidak
meninggalkannya dan beralih kepada dzikir-dzikir bid’ah yang dibuat-buat,
kecuali orang bodoh atau lemah atau melampaui batas.”[4]

KEUTAMAAN DAN FAIDAH DZIKIR
Keutamaan dan faidah dzikir sangatlah banyak, hingga Imam Ibnul Qayyim
menyatakan dalam kitabnya Al Wabil Ash Shayyib [5], bahwa dzikir memiliki
lebih dari seratus faidah, dan menyebutkan tujuh puluh tiga faidah di dalam
kitab tersebut. Diantara keutamaan dan faidah dzikir ialah:

Pertama : Dzikir dapat mengusir syetan dan melindungi orang yang berdzikir
darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.

وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ
خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ
حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ
نَفْسَهُ مِنْ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ

Dan Aku (Yahya bin Zakaria) memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir
kepada Allah. Permisalannya itu, seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh,
lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya.
Demikianlah seorang hamba, tidak dapat melindungi dirinya dari syetan,
kecuali dengan dzikir kepada Allah.[6]

Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini: “Seandainya dzikir
hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba
untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah, dan senantiasa gerak
berdzikir; karena ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya, kecuali
dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu
kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah, maka musuh
langsung menerkam dan memangsanya. Dan jika berdzikir kepada Allah, maka
musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti al
wash’ (sejenis burung kecil) dan seperti lalat”.[7]

Manusia, ketika lalai dari dzikir, maka syetan langsung menempel dan
menggodanya serta menjadikannya sebagai teman yang selalu menyertainya,
sebagaimana firman Allah.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ
قَرِينٌ

Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al Qur'an),
Kami adakan baginya syetan (yang menyesatkan), maka syetan itulah yang
menjadi teman yang selalu menyertainya. [Az Zukhruf:36].

Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari syetan, kecuali dengan
dzikir kepada Allah.

Kedua : Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan depresi, dan
dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup. Hal ini
dijelaskan Allah dalam firmanNya.

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ
اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram. [Ar Ra’du:28].

Ketiga : Dzikir dapat menghidupkan hati. Bahkan, dzikir itu sendiri pada
hakikatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan
dzikir, maka seakan-akan kehilangan kehidupannya; sehingga tidaklah hidup
sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah.

Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,”Dzikir bagi hati,
seperti air bagi ikan. Lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?”[8]

Keempat : Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah;
karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar, dan kebaikan adalah untuk
menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya, hal ini dapat menyelamatkan
orang yang berdzikir dari adzab Allah, sebagaimana sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam.

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ
ذِكْرِ اللَّهِ

Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan
dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.[9]

Kelima : Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang tidak
dihasilkan oleh selainnya, padahal sangat mudah mengamalkannya; karena
gerakan lisan lebih mudah daripada gerakan anggota tubuh lainnya. Diantara
pahala dzikir yang disebutkan Rasulullah adalah:

مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ
مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ
حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ
الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ
مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ

Barangsiapa mengucapkan (dzikir):

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ
الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepuluh budak;
ditulis seratus kebaikan untuknya, dan dihapus seratus dosanya. Juga menjadi
pelindungnya dari syetan pada hari itu sampai sore, dan tidak ada satupun
yang lebih utama dari amalannya, kecuali seorang yang beramal dengan amalan
yang lebih banyak dari hal itu. [10]

Ibnul Qayim berkata,”Dzikir adalah ibadah yang paling mudah, namun paling
agung dan utama; karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang
paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia sehari
semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat
menyusahkannya, bahkan tidak mampu.” [11]

Keenam : Dzikir adalah tanaman syurga [12]. Ini berlandaskan sabda
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadits Abdillah bin Mas’ud
yang berbunyi.

لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ
أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ
التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا
سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ
أَكْبَرُ

Aku berjumpa dengan Ibrahim pada malam isra’ dan mi’raj, lalu ia
berkata,”Wahai,
Muhammad. Sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa
syurga memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Syurga
itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi wa
la ilaha illallah wallahu Akbar.” [13]

Hal ini juga dikuatkan dengan riwayat lain dari hadits Abu Ayub Al Anshari
yang ada dalam Musnad Ahmad bin Hambal, 5/418.

Ketujuh : Dzikir menjadi cahaya penerang bagi di dunia, di kubur dan di
akhirat. Meneranginya di shirat, sehingga tidaklah hati dan kubur memiliki
cahaya, kecuali seperti cahaya dzikrullah, berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: Dan apakah orang yang sudah mati kemudian
dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan
cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa
dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya. [Al An’am:122].

Begitulah perbandingan antara seorang mukmin dengan lainnya. Seorang mukmin
memiliki cahaya dengan sebab keimanan, kecintaan, pengenalan dan dzikir
kepada Allah, sedangkan yang lain adalah orang yang lalai dari Allah, tidak
mau berdzikir dan tidak mencintaiNya.[14]

Kedelapan : Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah dan para
malaikatNya, sebagaimana firman Allah, yang artinya: Hai orang-orang yang
beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang
sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepadaNya pada waktu pagi dan petang.
Dia-lah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikatNya (memohonkan ampunan
untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang
terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. [Al
Ahzaab:41-43].

Kesembilan : Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan;
karena orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada Allah, sebagiamana
firman Allah Subhanahu wa Ta'ala, yang artinya: Sesungguhnya orang-orang
munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan
apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali. [An Nisa’:142].

Syaikh Abdurrazaq bin Abdulmuhsin Al Abad berkata, ”Bisa jadi karena hal
tersebut, Allah menutup surat Munafiqin dengan firmanNya, yang artinya: Hai,
orang-orang yang beriman. Janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan
kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian, maka mereka
itulah orang-orang yang rugi. (Al Munafiquun:9). Karena terdapat padanya
peringatan dari fitnah kaum munafiqin yang lalai dari dzikrullah, lalu
terjerumus dalam kemunafikan. Wal ‘iyadzubillah.

Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Khawarij: “Apakah mereka munafik ataukah
bukan?” Beliau menjawab,”Orang munafik tidak berdzikir kepada Allah, kecuali
sedikit.” Ini merupakan isyarat, bahwa kemunafikan hanyalah sedikit
berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal ini, maka banyak berdzikir merupakan
penyelamat dari nifaq. [15]

Kesepuluh : Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan paling
tinggi derajatnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ
وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ
وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا
أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ
تَعَالَى

Inginkah kalian aku beritahu amalan kalian yang terbaik dan tersuci serta
tertinggi pada derajat kalian? Ia lebih baik dari berinfak emas dan perak,
dan lebih baik dari kalian menjumpai musuh lalu kalian memenggal kepalanya
dan mereka memenggal kepala kalian?” Mereka menjawab”Ya,” lalu Rasulullah
menjawab,”Dzikrullah.” [16]

Demikian beberapa keutamaan dan faidah yang dapat diutarakan dalam makalah
singkat ini.

ADAB DALAM BERDZIKIR
Berdzikir memiliki adab-adab yang perlu diperhatikan dan diamalkan,
diantaranya:
Pertama : Ikhlas dalam berdzikir dan mengharap ridha Allah.

Kedua : Berdzikir dengan dzikir dan wirid yang telah dicontohkan Rasulullah;
karena dzikir adalah ibadah. Telah lalu penjelasan Ibnu Taimiyah tentang hal
tersebut.

Ketiga : Memahami makna dan maksudnya serta khusyu’ dalam melakukannya.
Ibnul Qayim berkata,”Dzikir yang paling utama dan manfaat, ialah yang sesuai
antara lisan dengan hati dan merupakan dzikir yang telah dicontohkan
Rasulullah. Serta orang yang berdzikir memahami makna dan tujuan
kandungannya.” [17]

Keempat : Memperhatikan tujuh adab yang telah dijelaskan Allah dalam
firmanNya.

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِفْيَةً وَدُونَ الْجَهْرِمِنَ
الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَاْلأَصَالِ وَلاَتَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Dan sebutlah (nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan
janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. [Al A’raf:205].

Ayat yang mulia ini menunjukkan tujuh adab penting dalam berdzikir, yaitu:
- Dzikir dilakukan dalam hati, karena hal itu lebih dekat kepada ikhlas.
- Dilakukan dengan merendahkan diri, agar terwujud sikap penyembahan yang
sempurna kepada Allah.
- Dilakukan dengan rasa takut dari siksaan Allah akibat lalai dalam beramal
dan tidak diterimanya dzikir tersebut. Oleh karena itu, Allah mensifati kaum
mukminin dengan firmanNya:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَآءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى
رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati
yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali
kepada Rabb mereka. [Al Mu’minun:60].

- Dilakukan tanpa mengeraskan suara, karena hal itu lebih dekat kepada
tafakkur yang baik.
- Dilakukan dengan lisan dan hati.
- Dilakukan pada waktu pagi dan petang. Memang dua waktu ini memiliki
keistimewaan, sehingga Allah menyebutnya dalam ayat ini. Ditambah lagi
dengan keistimewaan lainnya, yaitu sebagaimana disampaikan Rasulullah dalam
sabdanya:

يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ
وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَصَلَاةِ الْعَصْرِ ثُمَّ يَعْرُجُ
الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ
كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي فَيَقُولُونَ تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ
وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ

Bergantian pada kalian malaikat pada waktu malam dan malaikat pada waktu
siang. Mereka berjumpa di waktu shalat Fajr dan Ashr, kemudian naiklah
malaikat yang mendatangi kalian, dan Rabb mereka menanyakan mereka, dan
Allah lebih tahu dengan mereka: “Bagaimana keadaan hambaKu ketika kamu
tinggalkan?” Mereka menjawab,”Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat,
dan kami datangi mereka dalam keadaan shalat.” [18]

- Larangan lalai dari dzikrullah. [19]

Dengan ini jelaslah keutamaan dzikir sebagai kunci kebaikan dan adabnya.
Mudah-mudahan yang sedikit ini dapat bermanfaat.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 1/Tahun VIII/1425H/2004M Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke