HINDARILAH HAL-HAL YANG DIHARAMKAN !
Oleh
Syeikh Abdul ‘Adhim bin Badawi
2. http://almanhaj.or.id/content/3047/slash/0
1. http://almanhaj.or.id/content/3046/slash/0

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ الهِ مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي
هَؤُلاَءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ
بِهِنَّ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ الهِn فَأَخَذَ
بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ
وَارْضَ بِمَا قَسَمَ الهُت لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى
جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ
مُسْلِمًا وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ
الْقَلْبَ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu berkata: “Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: “Siapakah yang mau mengambil kata-kata ini dari
saya, untuk diamalkan atau untuk diajarkan ?” Abu Hurairah Radhiyallahu
'anhu menjawab: “Saya, wahai Rasulullah ! Beliau lalu memegang tanganku lalu
mulai menghitung lima hal, seraya bersabda: “Hindarilah hal-hal yang
diharamkan, kamu akan menjadi orang yang paling bagus ibadahnya; ridlalah
terhadap apa yang Allah bagikan untukmu, kamu akan menjadi orang terkaya;
berbuat baiklah kepada tetanggamu, kamu akan menjadi orang mukmin; cintailah
untuk orang lain apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, kamu akan
menjadi muslim; dan janganlah engkau banyak tertawa, karena banyak tertawa
akan mematikan hati.

Ungkapan-ungkapan ini termasuk inti-inti ucapan, Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam telah memberi motivasi untuk mengambilnya lalu diamalkan
dan diajarkan untuk aspek penyempurnaan diri dan orang lain. Sebagaimana
firman Allah:

وَالْعَصْرِ . إِنَّ الإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

“Demi masa. Sesungguhnya semua manusia berada dalam kerugian, kecuali
orang-orang yang beriman dan beramal shalih”

Dengan iman dan amal shalih mereka menyempurnakan diri sendiri, dan:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Saling nasehat menasehati dengan kebenaran dan dengan kesabaran”

Dengan menasehati kebenaran dan dan kesabaran mereka menyempurnakan orang
lain.

• Perkataan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu : “أَنَا “ maksudnya saya yang
mengambil kata-kata ini dari Anda. Disini terdapat tanda semangat beliau
Radhiyallahu 'anhu terhadap kebaikan.
• Perkataannya: “فَأَخَذَ بِيَدِي “ maksudnya untuk menghitung kata-kata ini
atau karena Rasul (biasanya) memegang tangan orang yang diberi pelajaran.
• Perkataannya “فَعَدَّ خَمْسًا “ (lalu beliau menghitung lima) maksudnya
lima hitungan atau jari sebagaimana yang telah dimaklumi yaitu satu demi
satu.

Ketiga : Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا

Berbuat baiklah kepada tetanggamu, kamu akan menjadi orang mukmin.

Allah telah memerintahkan untuk berbuat baik kepada tetangga, Dia berfirman:

وَاعْبُدُوا اللهَ وَلاَتُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى
وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ
وَمَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.
Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak
yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu [An-Nisaa :36]

Dan banyak juga hadits yang membicarakan masalah itu, di antaranya:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ
سَيُوَرِّثُهُ

Jibril terus saja berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai saya
mengira bahwa seorang tetangga akan mendapatkan harta warisan dari
tetangganya. [13]

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُحْسِنْ إِلَى
جَارِهِ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia
berbuat baik kepada tetangganya. [14]

خَيْرُ اْلأَصْحَابِ عِنْدَ الهِu خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ
عِنْدَ الهَِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ

Sebaik-baik teman disisi Allah adalah yang paling baik kepada temannya, dan
sebaik-baik tetangga disisi Allah adalah yang paling baik kepada
tetangganya. [15]

Jika anda tidak bisa berbuat baik kepada tetangga anda maka janganlah anda
menyakitinya. Jika ia menyakitimu maka bersabarlah sampai Allah memberikan
jalan keluar bagi anda.

Al-Hasan mengatakan: "Tentangga yang baik bukanlah yang hanya tidak
menyakiti. Akan tetapi tetangga yang baik itu adalah yang sabar menanggung
gangguan (dari tetangga yang lain)".

Menyakiti tetangga hukumnya haram, karena menyakiti siapa saja tanpa
kebenaran (alasan) adalah haram, akan tetapi menyakiti tetangga lebih haram
lagi.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari bahwasanya nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam ditanya:

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ
نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ
خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ قَالَ ثُمَّ أَيُّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ
حَلِيلَةَ جَارِكَ

Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab: “Engkau
membuat sekutu untuk Allah, padahal Dia telah menciptakanmu”. Beliau ditanya
lagi: “Kemudian apa lagi?” Beliau menjawab: “Engkau membunuh anakmu karena
engkau takut dia makan bersamamu” Beliau ditanya lagi: “Kemudian apa lagi?”
Beliau menjawab: “Engkau berzina dengan istri tetanggamu. [16]

Dari Miqdam bin al-Aswad, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
kepada para shahabatnya:

مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا قَالُوا حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهُوَ
حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ قَالَ فَقَالَ رَسُولُ الهِت صَلَّى الهُْ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لأَصْحَابِهِ لأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ
أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ قَالَ فَقَالَ مَا
تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ قَالُوا حَرَّمَهَا الهُِ وَرَسُولُهُ فَهِيَ
حَرَامٌ قَالَ لأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ أَيْسَرُ
عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ

Apa yang kalian katakan pada masalah zina?” Mereka menjawab: “Haram, zina
telah diharamkan oleh Allah dan rasulNya, haka hal itu haram sampai hari
kiamat” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya, seseorang berzina dengan sepuluh
perempuan, masih lebih ringan (dosanya)daripada ia berzina (sekali) dengan
istri tetangga” Kemudian beliau menanyai mereka tentang mencuri, mereka
menjawab: “Haram, mencuri telah diharamkan oleh Allah dan rasulNya, maka hal
itu haram sampai hari kiamat.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya, seseorang
mencuri di sepuluh rumah, masih lebih ringan atasnya daripada ia mencuri
sekali dirumah tetangga. [17]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

وَالهِb لاَ يُؤْمِنُ وَالهِ لاَ يُؤْمِنُ وَالهِ) لاَ يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ
يَا رَسُولَ الهِل قَالَ الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ

Demi Allah, dia tidak beriman ! Demi Allah, dia tidak beriman ! Demi Allah,
dia tidak beriman !” Rasul ditanya: “Siapa yang Rasulullah ?” Beliau
menjawab: “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya. [18]

Dan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu juga, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak akan masuk syurga orang yang membuat tetangganya merasa tidak aman
dari gangguannya. [19]

Dan Rasulullah menganjurkan kepada tetangga untuk saling memberi hadiah,
saling mengunjungi, dan beliau melarang dari mencela pemberian tetangga.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا

Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling
mencintai. [20]

Dan darinya juga, nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَا نِسَاءَ الْمُسْلِمَاتِ لاَ تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ
فِرْسِنَ شَاةٍ

Wahai kaum mukminat, janganlah seorang tetangga meremehkan untuk
(memberikan) kepada tetangganya walaupun (berupa) kuku kaki kambing”
[HR.Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Dzar Radhiyallahu 'anhu berkata: “Rasul Shallallahu 'alaihi wa
sallam telah bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ
جِيرَانَكَ

Wahai Abu Dzar jika engkau masak sayur maka perbanyaklah airnya (kuahnya)
dan berilah sebagian kepada tetanggamu. [21]

Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha :

يَا رَسُولَ الهِ إِنَّ لِي جَارَيْنِ فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي قَالَ إِلَى
أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بَابًا

Saya mengatakan: “Wahai rasulullah, saya mempunyai dua tetangga, kemanakah
saya memberikan hadiah?”, beliau menjawab: “Kepada yang paling dekat
pintunya darimu. [22]

Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Dan berbuat baiklah kepada
tetanggamu,kamu akan menjadi orang yang beriman” maksudnya orang yang
sempurna keimanannya, sebab iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang
sebagaiman keyakinan Ahlu Sunnah wal jama’ah para pengikut Salaf Sholeh.

Keempat: Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا

Cintailah untuk orang lain apa yang kamu cintai untuk dirimu sendiri, kamu
akan menjadi muslim

Maksudnya akan menjadi muslim yang sempurna keislamannya. Ini memberikan
pengertian bahwa keislaman itu berkurang nilainya sebanding dengan kurangnya
rasa cinta ini.

Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan point ini untuk masuk
sorga. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ
فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ
وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ

Barangsiapa yang ingin diselamatkan dari neraka dan masuk sorga, maka
hendaklah dia mati dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan
hendaklah ia memperlakukkan orang lain sebagaimana dia ingin dirinya
diperlakukkan oleh orang lain. [23]

Orang hanya akan bisa mencapai derajat ini dengan kebersihan hatinya dari
rasa iri dan dengki, karena iri dan dengki ini mengakibatkan seseorang tidak
suka diatasi atau tidak suka disamai kebaikannya, dia ingin dirinya istimewa
di tengah-tengah orang banyak dengan kelebihan yang ia miliki. Sedangkan
keimanan berbeda dengan hal itu, ia (menuntut) supaya orang-orang mukmin
yang lain ikut merasakan kebaikan yang diberikan oleh Allah kepadanya tanpa
mengurangi sedikitpun dari kebaikan tersebut.

Ringkasnya, sudah menjadi keharusan bagi seorang mukmin itu untuk mencintai
bagi mukmin yang lain apa yang ia cintai buat dirinya, dan membenci untuk
orang lain apa yang ia benci untuk dirinya. Jika ia melihat ada kesalahan
pada dien temannya, maka ia berusaha untuk memperbaikinya. Jika ia melihat
keutamaan atau kelebihan pada orang lain yang melebihinya, maka dia berharap
bisa seperti orang lain tadi, jika kelebihan itu berkaitan dengan agama maka
keinginan seperti itu adalah bagus. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ الهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ
عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَآخَرُ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي
بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Tidak ada(boleh) dengki kecuali pada dua hal: seseorang yang diberikan harta
oleh Allah lalu ia belanjakan pada jalan kebenaran, dan seseorang yang Allah
berikan hikmah lalu ia memberi keputusan dengannya dan mengajarkannya. [24]

Tetapi jika kelebihan itu dalam masalah keduniaan, maka tidak ada baiknya
iri pada hal itu. Allah berfirman:

وَلاَ تَتَمَنَّوْا مَافَضَّلَ اللهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ

Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. [An-Nisaa :32]

Dan Allah berfirman tentang Qarun :

فَخَرَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ
الدُّنْيَا يَالَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَآأُوتِىَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ
عَظِيمٍ

Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah
orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia:"Moga-moga kiranya kita
mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; sesungguhnya ia
benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar. [Al-Qashash :79]

Ketika Allah menenggelamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi,orang-orang
yang kemarin menginginkan posisi Qarun itu mengatakan:

وَيْكَأَنَّ اللهَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ
لَوْلآ أَن مَّنَّ اللهُ عَلَينَا لَخَسَفَ بِنَا وَيْكَأَنَّهُ لاَيُفْلِحُ
الْكَافِرُونَ

Aduhai benarlah, Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang ia kehendaki dari
hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan
karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai
benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).
[Al-Qashash:82]

Kelima: Sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.

وَلاَ تُكْثِرِ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Janganlah engkau banyak tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa akan
mematikan hati.

Dalam hadits ini terdapat larangan nyata dari banyak tertawa dan penjelasan
sebab larangan tersebut, yaitu banyak tertawa itu menjadikan hati tenggelam
dalam kegelapan, menjadikanya seperti mayit yang tidak bisa memberi manfaat
untuk dirinya dengan suatu yang bermanfaat, dan tidak bisa menghindarkan
dirinya dari suatu yang buruk. Sedangkan kehidupan dan cahaya hati itu
merupakan sumber segala kebaikan, dan kematian dan kegelapannya merupakan
sumber segala keburukan. Dengan kehidupan hati terjadilah kekuatannya,
pendengarannya, penglihatannya, dan persepsinya terhadap informasi dan
hakekat sesuai dengan yang sebenarnya.

Dalam hadits ini terdapat idzin untuk sedikit tertawa, terutama untuk suatu
keperluan. Inilah petunjuk para nabi dan hamba-hamba Allah yang shalihin.
Allah berfirman tentang Sulaiman ketika dia mendengar pembicaran semut:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا

Maka beliau tersenyum tertawa karena ucapannya (sang semut). [An-Naml : 19]

Dari Sa’ad bin Abi Waqash, dia berkata: “Ada seorang lelaki musyrik yang
memanas-manasi kaum muslimin maka Rasul bersabda kepada Sa’ad: “Panahilah
 ia”. Sa’ad berkata: “Lalu saya cabutkan anak panah yang tidak bermata, saya
kenakan tubuhnya sehingga ia jatuh dan auratnya terbuka. Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam tertawa sampai saya bisa melihat gigi gerahamnya
Shallallahu 'alaihi wa salalm. [25]

Kegembiraan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut disebabkan oleh
terkenanya lelaki tadi, bukan karena terbuka auratnya. Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mungkin tertawa karena terbukanya aurat.

Dari Abdullah bin Mas’ud: Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda:

إِنِّي لأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ
الْجَنَّةِ دُخُولاً رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ الهًُ
اذْهَبْ فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا
مَلأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اذْهَبْ
فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلأَى
فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلأَى فَيَقُولُ اذْهَبْ
فَادْخُلِ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا
أَوْ إِنَّ لَكَ مِثْلَ عَشَرَةِ أَمْثَالِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ تَسْخَرُ
مِنِّي أَوْ تَضْحَكُ مِنِّي وَأَنْتَ الْمَلِكُ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ
الهِ n ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ وَكَانَ يَقُولُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ
الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً

Sesungguhnya aku mengetahui penduduk neraka yang paling akhir keluar
darinya, dan penduduk syurga yang paling akhir masuk. Ada seorang lelaki
yang dikeluarkan dari neraka dengan merangkak, lalu Allah katakan padanya:
“Pergilah, masuklah syurga!” Orang itu mendatangi syurga dan nampak olehnya
bahwa syurga itu telah penuh, lalu dia kembali dan berkata: “Ya Rabbi, aku
dapatkan syurga telah penuh” Allah katakan padanya: “Pergilah, masuklah
syurga!” orang itu mendatangi syurga dan nampak olehnya bahwa syurga itu
telah penuh, lalu dia kembali dan berkata: “Ya Rabbi, aku dapatkan syurga
telah penuh” Allah katakan padanya: “Pergilah, masuklah syurga! Sesungguhnya
milikmu dunia tambah dengan sepuluh kali lipat” lelaki tadi berkata: “Engkau
mengejekku atau menertawakanku, sedangkan Engkau adalah Raja”. Perawi
berkata: “Sungguh aku melihat Rasulullah tertawa sampai gigi geraham beliau
kelihatan”, lalu beliau bersabda: “Itulah penduduk Syurga yang paling rendah
kedudukannya. [26]

Akan tetapi tertawa seperti ini bukanlah kebiasaan Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam, kebanyakan tertawa beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam
adalah tersenyum.

Dari Sammak bin Harb: “Saya bertanya kepada Jabir bin Samurah: “Pernahkah
anda biasa duduk bersama dengan Rasulullah?” dia menjawab: “Ya, sering.
Beliau biasa tidak bangkit dari tempat beliau melaksanakan sholat shubuh
sampai matahari terbit, apabila matahari telah terbit, beliau bangkit. Para
sahabat biasa berbincang-bincang, terkadang mereka menyinggung perkara
jahiliyyah, lalu mereka tertawa dan beliau tersenyum. [27]

Umar pernah ditanya: “Apakah para shahabat itu pernah tertawa?” Beliau
menjawab: “Ya, padahal keimanan di dalam hati mereka –demi Allah– lebih
kokoh dibandingkan dengan gunung-gunung yang tinggi.”

Di antara kemurahan Islam adalah menjadikan senyum dan muka berseri-seri
ketika bertemu dengan saudaranya sesama mukmin sebagai shadaqah. Abu Dzar
berkata: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda kepadaku:

لاَ تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ
بِوَجْهٍ طَلْقٍ

Janganlah sekali-kali engkau meremehkan perbuatan yang baik, meskipun
(hanya) engkau menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri. [28]

Islam adalah agama kenyataan, tidak melayang tinggi dalam khayalan dan
perumpamaan-perumpamaan yang kosong. Islam bersama manusia di atas bumi yang
nyata. Islam tidak menganggap manusia seperti para malaikat yang memiliki
dua sayap, tiga atau empat. Akan tetapi Islam menganggap manusia sebagai
manusia yang (membutuhkan)makan, dan berjalan di pasar (untuk membeli
kebutuhannya). Karenanya Islam tidak mewajibkan mereka supaya semua ucapan
mereka adalah dzikir, tidak mewajibkan supaya semua diamnya adalah berfikir,
dan tidak mewajibkan mereka agar menghabiskan semua waktu kosong mereka di
masjid.

Islam mengakui ekstensi, fitrah, dan naluri-naluri mereka. Allah telah
menciptakan manusia dalam keadaan bisa bergembira dan bahagia, bisa bermain,
sebagaimana Allah telah menciptakan mereka dalam keadaan bisa makan dan
minum. Maka tidak ada salahnya seorang muslim bergembira dan bercanda dengan
apa yang ia sukai atau menghibur diri dan teman-temannya dengan permainan
yang dibolehkan. Hanya saja hendaklah hal itu tidak dijadikan sebagai
kebiasaan dalam setiap waktu, yang menghabiskan waktu pagi dan sorenya
sehingga lalai dari kewajiban dan bisa membuat ia tidak serius.

Ada syair yang mengatakan: “Berikanlah ucapan-ucapan itu senda gurau
seukuran garam yang dicampurkan di sayur” (Artinya berguraulah seperlunya
janganlah berlebihan)

Inilah nasehat-nasehat Rasulullah kepada Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu.
Meskipun nasehat-nasehat ini ditujukan kepada Abu Hurairah namun itu bukan
berarti bahwa itu khusus untuk beliau saja. Kitapun yang hidup masa sekarang
ini, jika kita mampu melaksanakan pesan-pesan Rasul Shallallahu 'alaihi wa
sallam tersebut maka semua janji Rasul itu pasti akan kita dapati.

Wallahu a’lam bisshawab

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun V/1422H/2001M Diterbitkan
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km. 8 Selokaton
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 08121533647, 08157579296]


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke