Pengaruh Lingkungan Terhadap Pendidikan Anak
Ustadz Abu Ahmad Zainal Abidin,Lc
http://almanhaj.or.id/content/2679/slash/0

PENGARUH KESHALIHAN ORANG TUA 
Keshalihan  kedua orang tua memberi pengaruh kepada anak-anaknya. Bukti 
pengaruh  
ini bisa dilihat dari kisah Nabi Khidhir yang menegakkan tembok dengan  suka 
rela tanpa meminta upah, sehingga Musaq menanyakan alasan mengapa  ia tidak mau 
mengambil upah. Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman memberitakan  perkataan Nabi 
Khidhir, yang artinya: 

Adapun  dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu,  
dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang  ayahnya 
adalah seorang yang shalih, maka Rabbmu menghendaki agar supaya  mereka sampai 
kepada kedewasaan dan mengeluarkan simpanannya itu sebagai  rahmat dari Rabbmu 
dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku  sendiri. Demikian itu 
adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak  dapat sabar terhadapnya.(Qs. 
al-Kahfi/18:82). 

Dalam menafsirkan firman Allah ‘Azza Wa Jalla “dan kedua orang tuanya adalah 
orang shalih,”  Ibnu Katsir berkata: “Ayat di atas menjadi dalil bahwa 
keshalihan  seseorang berpengaruh kepada anak cucunya di dunia dan akhirat, 
berkat  ketaatan dan syafaatnya kepada mereka, maka mereka terangkat derajatnya 
 
di surga agar kedua orang tuanya senang dan berbahagia sebagaimana yang  telah 
dijelaskan dalam Al-Qur`ân dan as-Sunnah”.1

Allah telah  memerintahkan kepada kedua orang tua yang khawatir terhadap masa 
depan  anak-anaknya agar selalu bertakwa, beramal shalih, beramar ma’ruf nahi  
mungkar dan berbagai macam amal ketaatan lainnya, sehingga dengan  
amalan-amalan 
itu Allah akan menjaga anak cucunya.
 
Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, yang artinya:
Dan  hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan  di 
belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap  
kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka mengucapkan  perkataan 
yang benar. (Qs. an-Nisâ‘/4:9). 

Dari  Said bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu, berkata: “Allah ‘Azza  
Wa Jalla mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya,  
meskipun 
amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orang  tuanya tenang dan 
bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah, (yang  artinya): 

‘Dan  orang-orang yang beriman dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka  
dalam 
keimanan. Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan kami  tiada 
mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia  terikat 
dengan 
apa yang dikerjakannya’.” (Qs. ath-Thûr/52:21).2
 
Ibnu  Syahin meriwayatkan, bahwasanya Haritsah bin Nu‘man Radhiallahu’anhu  
datang kepada Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam namun ia sedang  berbicara 
dengan seseorang hingga ia duduk tidak mengucapkan salam, maka  Jibril 
‘Alaihissalam berkata: “Ketahuilah bila orang ini mengucapkan salam, maka aku 
akan menjawabnya?” Nabi Shallallahu’alaihi Wa Sallam berkata kepada Jibril 
‘Alaihissalam: “Kamu kenal dengan orang ini?” Jibril ‘Alaihissalam menjawab: 
“Ya,  ia termasuk delapan puluh orang yang sabar pada waktu perang Hunain  yang 
telah dijamin rizki oleh Allah bersama anak-anak mereka nanti di  surga”.3

Syaikh Shiddiq Hasan Khân Rahimahullah berkata: “Sesungguhnya  Allah mengangkat 
derajat anak cucu seorang mukmin, meskipun amalan  mereka di bawahnya, agar 
orang tuanya tenang dan bahagia, dengan syarat  mereka dalam keadaan beriman 
dan 
telah berumur baligh bukan masih kecil.  Meskipun anak-anak yang belum baligh 
tetap dipertemukan dengan orang  tua mereka”.4
 
Cara  yang paling tepat untuk meluruskan anak-anak harus dimulai dengan  
melakukan perubahan sikap dan perilaku dari kedua orang tua. Begitu pula  
dengan 
merubah sikap dan perilaku kita kepada kedua orang tua kita,  yaitu dengan 
berbuat baik dan taat kepadanya, serta menjauhi sikap  durhaka kepadanya. Kita 
harus menanamkan komitmen dan berpegang teguh  terhadap syariat Allah pada diri 
kita dan anak-anak. 

Barang siapa yang  belum sayang kepada diri sendiri dengan berbuat baik kepada 
kedua orang  tua, maka hendaklah segera bersikap sayang kepada anak-anaknya, 
yaitu  dengan berbuat baik kepada orang tuanya agar nantinya anak cucunya  
berbuat baik kepadanya, sehingga mereka selamat dari dosa durhaka kepada  kedua 
orang tua dan murka Allah. Karena anak-anak saat ini adalah orang  tua di masa 
yang akan datang dan suatu ketika ia akan merasakan hal  yang sama ketika 
menginjak masa tua. 

MENCERMATI PENGARUH LINGKUNGAN 
Lingkungan  mempunyai pengaruh sangat besar dalam membentuk dan menentukan  
perubahan sikap dan perilaku seseorang, terutama pada generasi muda dan  
anak-anak. Bukankah kisah pembunuh 99 nyawa manusia yang akhirnya  lengkap 
membunuh 100 nyawa itu berawal dari pengaruh buruknya  lingkungan? Sehingga, 
nasihat salah seorang ulama supaya pembunuh  tersebut mampu bertaubat dengan 
tulus dan terlepas dari jeratan kelamnya  dosa, ialah agar ia meninggalkan 
lingkungan tempatnya bermukim dan  pindah ke suatu tempat yang dihuni 
orang-orang baik yang selalu  beribadah kepada Allah.5
 
Anak  merupakan anugerah, karunia dan nikmat Allah yang terbesar yang harus  
dipelihara, sehingga tidak terkontaminasi dengan lingkungan. Oleh karena  itu, 
sebagai orang tua, maka wajib untuk membimbing dan mendidik sesuai  dengan 
petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan menjauhkan anak-anak dari  pengaruh buruk 
lingkungan dan pergaulan. Wajib  mencarikan lingkungan yang bagus dan 
teman-teman yang istiqâmah.  Keluarga adalah lingkungan pertama dan mempunyai 
peranan penting dan  pengaruh yang besar dalam pendidikan anak. Karena  
keluarga 
merupakan tempat pertama kali bagi tumbuh kembangnya anak,  baik jasmani maupun 
rohani. Keluarga sangat berpengaruh dalam membentuk  aqidah, mental, spiritual 
dan kepribadian, serta pola pikir anak. 

Yang  kita tanamkan pada masa-masa tersebut akan terus membekas pada jiwa anak  
dan tidak mudah hilang atau berubah sesudahnya. Adapun bagi seorang  pendidik, 
ia harus menjauhkan anak didiknya dari hal-hal yang membawa  kepada kebinasaan 
dan ketergelinciran, serta mengangkat derajat mereka  dari derajat binatang 
menjadi derajat manusia yang mempunyai semangat  untuk mengemban amanat dan 
tugas agama. Sebagai pendidik, seseorang  harus menjadikan kepribadian Rasul 
Shallallahu’alaihi Wa Sallam sebagai  suri tauladan dalam seluruh aspek 
kehidupan dan dalam setiap proses  pendidikan. 

Mengajak  mereka untuk mengikuti jejak salafush-shalih serta memberi motivasi  
anak didik agar selalu bersanding dengan ulama dan orang-orang shalih.  Seorang 
pendidik juga harus memahami dampak buruk yang disebabkan oleh  keteledoran 
dalam mendidik anak. Dan ia harus mewaspadai faktor-faktor  yang bisa 
mempengaruhi proses pendidikan anak, yaitu lingkungan rumah,  sekolah, media 
cetak dan elektronik, teman bergaul, sahabat serta  pembantu. 

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENDIDIKAN ANAK 
A. Rumah.
Rumah  adalah tempat pendidikan pertama kali bagi seorang anak dan merupakan  
tempat yang paling berpengaruh terhadap pola hidup seorang anak. Anak  yang 
hidup di tengah keluarga yang harmonis, yang selalu melakukan  ketaatan kepada 
Allah ‘Azza Wa Jalla, sunah-sunnah Rasulullah  Shallallahu’alaihi Wa Sallam 
ditegakkan dan terjaga dari kemungkaran,  maka ia akan tumbuh menjadi anak yang 
taat dan pemberani. Oleh  karena itu, setiap orang tua muslim harus 
memperhatikan kondisi  rumahnya. Ciptakan suasana yang Islami, tegakkan sunnah, 
dan hindarkan  dari kemungkaran. Mohonlah pertolongan kepada Allah agar 
anak-anak kita  menjadi anak-anak yang bertauhid, berakhlak dan beramal sesuai 
dengan  sunnah Rasulullah serta mengikuti jejak para salafush-shalih. Nabi  
Shallallahu’alaihi Wa Sallam bersabda:

Janganlah  engkau jadikan rumahmu seperti kuburan; sesungguhnya setan akan lari 
 
dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat al-Baqarah.6
 
Dalam hadits ini, terdapat anjuran untuk memperbaiki rumah supaya tidak seperti 
kuburan  dan menjadi sarang setan, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya  
jauh dari Islam, bahkan kemungkaran setiap saat terjadi di rumahnya dan  
percekcokan orang tuanya mewarnai hidupnya, maka tidak disangsikan anak  akan 
tumbuh menjadi anak yang keras dan kasar.

B. Sekolah. 
Sekolah  merupakan lingkungan baru bagi anak. Tempat bertemunya ratusan anak  
dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda, baik status  sosial 
maupun agamanya. Di sekolah inilah anak akan terwarnai oleh  berbagai corak 
pendidikan, kepribadian dan kebiasaan, yang dibawa  masing-masing anak dari 
lingkungan dan kondisi rumah tangga yang berbeda-beda. 

Begitu  juga para pengajar berasal dari berbagai latar belakang pemikiran dan  
budaya serta kepribadian. Bagaimanakah keadaan mereka? Apakah memiliki  
komitmen 
terhadap aqidah yang lurus? Ataukah sebagai pengekor budaya dan  pemikiran 
Barat 
yang rusak? Ataukah para pengajar memiliki pemikiran  dan keyakinan yang 
dibangun berdasarkan nilai agama? Ataukah hanya  sekedar pengajar yang 
menebarkan racun pemikiran dan budaya busuk,  sehingga menghancurkan anak-anak 
kita? Seorang pengajar merupakan figur  dan tokoh yang menjadi panutan 
anak-anak 
dalam mengambil semua nilai dan  pemikiran tanpa memilah antara yang baik 
dengan 
yang buruk. Karena  anak-anak memandang, guru adalah sosok yang disanjung, 
didengar dan  ditiru. Sehingga pengaruh guru sangat besar terhadap kepribadian 
dan  pemikiran anak. 

Oleh sebab itu, seorang pengajar harus  membekali diri dengan ilmu dîn (agama) 
yang Shahîh sesuai dengan  pemahaman Salafush-Shalih dan akhlak yang mulia, 
serta rasa sayang  kepada anak didik. Dan tidak kalah penting, dalam membentuk 
kepribadian  anak di sekolah, adalah kurikulum pendidikan. Apakah kurikulum 
tersebut  berasal dari manhaj Islam, sehingga dapat mendukung untuk menegakkan  
ajaran Allah, sunnah Rasul dan ajaran Salafus-Shalih? Ataukah hanya  sekedar 
menegakkan nilai dan wawasan kebangsaan, semangat nasionalisme  dan kesukuan? 

C. Media Elektronik dan Cetak. 
Kedua  media ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan, tingkah laku dan  
kepribadian anak. Kalau orang tua tidak berhatihati dan waspada terhadap  kedua 
media ini. Tidak jarang anak-anak akan tumbuh sebagai mana yang  ia peroleh 
dari 
kedua media ini. 

1. Radio dan Televisi 
Dunia  telah terbuka lebar bagi kita, dan dunia pun sudah berada di hadapan  
kita, bahkan di depan mata kita melalui beragam channel TV.  Sarana-sarana 
informasi, baik melalui beragam radio dan televisi  memiliki pengaruh yang 
sangat berbahaya dalam merusak pendidikan anak. 

Dari  sisi lain, radio dan televisi sebagai sumber berita, wahana penebar  
wacana baru, menimba ilmu pengetahuan dan menanamkan pola pikir pada  anak. 
Namun kedua media itu juga menjadi sarana efektif dan senjata  pemusnah massal 
para musuh Is-lam untuk menghancurkan nilai-nilai dasar  Islam dan kepribadian 
islami pada generasi muda, karena para musuh  selalu membuat rencana dan 
strategi untuk menghancurkan para pemuda Islam, baik secara sembunyi maupun 
terang-terangan. 

Dalam  buku Protokolat, para pemuka Yahudi menyatakan, bila orang Yahudi hendak 
 
memiliki negara Yahudi Raya, maka mereka harus mampu merusak generasi  muda. 
Oleh karena itu, mereka sangat bersungguh-sungguh dalam menjerat  generasi 
muda, 
terutama anak-anak. Mereka berhasil menebarkan racun  kepada generasi muda dan 
anak-anak melalui tayangan film-film horor atau  mistik yang mengandung unsur 
kekufuran dan kesyirikan. Tujuannya, ialah  untuk menanamkan keyakinan dan 
pemikiran yang rusak pada para pemuda  dan anak-anak. Misalnya, seperti 
film-film yang berjudul atau bertema  Manusia Raksasa, Satria Baja Hitam, Xena, 
Spiderman. Atau seperti halnya  film-film Nusantara yang kental dengan 
nilai-nilai yang merusak moral  dan lain-lain. Atau film dunia hewan, seperti 
Ninja Hatori dan Pokemon.  Atau film peperangan antara makhluk luar angkasa 
dengan penduduk bumi,  atau manusia planet yang menampilkan orang-orang 
telanjang yang tidak  menutup aurat dan mengajak anak-anak untuk hidup penuh 
romantis atau  berduaan antara wanita dan laki-laki yang bukan mahram, atau  
melegalisasi perbuatan zina sehingga mereka melakukan zina dengan mudah,  
gampang dan bukan suatu aib, serta tidak perlu dihukum; bahkan dalam  pandangan 
mereka orang yang mampu merebut wanita dari tangan orang lain  dianggapnya 
sebagai pahlawan. Lebih parah lagi, film-film sejenis itu  banyak ditayangkan 
dan cukup banyak diminati oleh kalangan muda dan  orangdewasa. 

Acara  televisi seperti itu sangat berbahaya. Ia dapat menghancurkan  
kepribadian dan akhlak anak, serta merobohkan sendi-sendi aqidah yang  telah 
tertanam kokoh, sehingga para pemuda menjadi generasi yang labil  dan lemah, 
tidak memiliki kepribadian. 

Ada  seorang dokter yang kini aktif di salah satu yayasan. Di salah satu  
stasiun televisi, dia bercerita bahwa dirinya mulai mencoba merokok  sejak 
kelas 
4 SD, kemudian minum minuman keras, menghisap ganja, dan itu  terus berlangsung 
hingga saat kuliah di kedokteran dengan kadar semakin  besar. 

Yang  menarik disini, ternyata yang menjadi motivasi sang dokter ini melakukan  
hal itu, karena ia ingin meniru gaya yang ditampilkan di dalam film  koboi, 
bahwa seorang tokoh koboi kelihatan gagah berani dengan menenggak  minuman 
keras. Sang dokter juga mengatakan, selama melakukan hal itu  tidak ada yang 
memberi pengajaran atau pun mengingatkannya. Oleh karena  itu, orang tua harus 
berhati-hati dan waspada terhadap bahaya televisi. 

2. Internet. 
Dari  hari ke hari, semakin nampak jurang pemisah antara peradaban Barat dan  
fitrah manusia. Setiap orang yang menggunakan hati kecil dan  pendengarannya 
dengan baik, pasti ia akan menyaksikan, betapa budaya  Barat telah merobek dan 
mencabik-cabik nilai kemanusiaan, seperti dalam  hal internet. Media ini telah 
menyumbangkan dampak negatif, sebab bahaya  yang timbul dari internet lebih 
banyak daripada manfaatnya. Bahkan  media ini sudah mengenyampingkan nilai 
kemuliaan dan kesucian dalam  kamus kehidupan manusia. Misalnya, ada suatu 
situs 
khusus yang  menampilkan berbagai gambar porno, sehingga dapat menjerat setiap 
muda  mudi dengan berbagai macam perbuatan keji dan kotor. 

Akibat yang  ditimbulkan ialah kehancuran. Inilah perang pemikiran yang paling  
dahsyat dan berbahaya yang dicanangkan Yahudi untuk menghancurkan nilai  Islam 
dan generasi muslim. Banyak negara-negara Eropa dan Arab merasa  sangat 
terganggu dan mengalami berbagai kenyataan pahit akibat kehadiran  media 
internet ini. Wahai para pendidik, jagalah anak-anakmu dari  bahaya racun media 
tersebut! 

3. Telepon. 
Manfaat  telepon pada zaman sekarang ini tidak diragukan lagi, dan bahkan  
telepon telah mampu menjadikan waktu semakin efektif, informasi semakin  cepat 
dan berbagai macam usaha ataupun pekerjaan mampu diselesaikan  dalam waktu 
sangat singkat. Dalam beberapa detik saja, anda mampu  menjangkau seluruh 
belahan dunia. Namun sangat disayangkan, ternyata  kenikmatan tersebut berubah 
menjadi petaka dan bencana yang  menghancurkan sebagian rumah tangga umat 
Islam. 

Telepon,  jika tidak digunakan sesuai dengan manfaatnya, maka tidak jarang 
justru  akan menimbulkan bencana yang besar bagi keluarga muslim. Seringkali  
kejahatan menimpa keluarga muslim berawal dari telepon, baik berupa  penipuan, 
pembunuhan, 

maupun  perzinaan. Dan yang sering terjadi, baik pada remaja maupun orang  
dewasa, yaitu hubungan yang diharamkan bermula dari telepon. Karena  dengan 
telepon, kapan saja hubungan bisa terjalin dengan mudah; apalagi  sekarang, 
alat 
ini semakin canggih dan biayapun semakin murah. 

Adasebuah kisah nyata, seorang gadis belia menyerahkan kehormatannya  kepada 
seorang laki-laki yang haram untuknya karena telepon. Awalnya,  dari saling 
berbicara kemudian mengikat janji untuk bertemu, dan  akhirnya perbuatan keji 
terjadi. Akhirnya, siapakah yang nanggung  derita? Banyak juga terjadi, seorang 
ibu rumah tangga atau kepala rumah  tangga berselingkuh berawal dari telepon, 
wa 
iyyadzubillah.
 
Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh 
pesawat ini. Gunakan telepon dengan semestinya. Hindari penggunaan yang tidak 
penting, disamping menghemat biaya juga terhindar dari bahaya.Dan yang perlu 
diwaspadai, telepon dengan lawan jenis, baik seorang murid dengan gurunya, atau 
seorang thalabul ‘ilmi dengan  ustadz, apalagi di antara para remaja putra 
maupun putri; karena setan  tidak akan membiarkan kalian selamat dari 
jeratannya. Allahu musta’an. 

4. Majalah dan Cerpen Anak 
Majalah  dan buku-buku cerita sangat berperan penting dalam membentuk pola 
pikir  
dan ideologi anak. Sementara itu, majalah anak yang beredar di negeri  kita, 
baik majalah anakanak maupun majalah remaja, isinya sangat jauh  dari 
nilai-nilai Islam. Yang banyak ditonjolkan adalah syahwat dan hidup  konsumtif. 
Ironisnya, media ini banyak dijadikan sebagai rujukan oleh  anak-anak dan para 
remaja kita. Pengaruh majalah tersebut sangat besar  dalam mempengaruhi 
generasi 
muda, sehingga banyak kita temui gaya hidup  dan pola pikir mereka meniru 
dengan 
yang mereka dapatkan dari majalah  yang kebanyakan pijakannya diambil dari 
budaya orang-orangkafir. 

Padahal  Al-Qur‘an yang mulia, banyak memuat cerita-cerita, seperti kisah  
tentang sapi Bani Israil, kisah tentang Ashabul-Kahfi dan pemilik kebun  dalam 
surat al-Kahfi, kisah pertarungan antara kekuatan hak dengan  batil, dan 
kisah-kisah umat-umat zaman dahulu yang diberi sanksi Allah  akibat pelanggaran 
mereka terhadap perintah-Nya, serta seluruh  kisah-kisah para nabi dan rasul. 
Disamping itu, masih banyak kisah-kisah  yang benar dari as- Sunnah untuk 
menanamkan keteladanan para sahabat  dan umat sebelumnya. 

Oleh  sebab itu, majalah dan buku-buku cerita memiliki peran yang sangat  
urgen, 
memiliki pengaruh sangat signifikan dalam membentuk pola pikir  dan tingkah 
laku 
serta pendidikan anak. Anak-anak sangat gemar dan  tertarik dengan berbagai 
kisah, karena kisah mengandung daya tarik,  hiburan, lelucon, kepahlawanan, 
amanah, dan kesatriaan. 

5. Komik dan Novel. 
Komik  banyak digandrungi oleh anakanak kecil atau remaja, bahkan orang dewasa. 
 
Namun bacaan ini, sekarang banyak memuat gambar-gambar yang tidak  sesuai 
dengan 
perkembangan dan pertumbuhan anak. Begitu pula novel,  rata-rata berisi 
percintaan, dongeng palsu, cerita legendaris, penuh  dengan muatan syirik dan 
kekufuran, serta cerita romantika picisan.

D. Teman dan Sahabat. 
Teman  memiliki peran dan pengaruh besar dalam pendidikan, sebab teman mampu  
membentuk prinsip dan pemahaman yang tidak bisa dilakukan kedua orang  tua. 
Oleh 
sebab itu, Al-Qur‘ân dan as-Sunnah sangat menaruh perhatian  dalam 
masalahpersahabatan. 

Allah berfirman, yang artinya: 
Dan bersabarlah kamu bersama-sama orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan 
senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya.(Qs. al-Kahfi/18:28).

Allah  berfirman memberitakan penyesalan orang kafir pada hari Kiamat, yang  
artinya: 

kecelakaan besarlah bagiku, kiranya aku (dulu) tidak menjadikan  si fulan itu 
teman akrab(ku). Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku  dari Al-Qur‘an ketika 
Al-Qur‘an itu telah datang kepadaku. Dan adalah  setan itu tidak mau menolong 
manusia.(Qs. al-Furqân/25:28-29). 

Dari Abu Hurairah Radhiallahu’anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu’alaihi Wa 
Sallam 
bersabda: 

Seseorang tergantung agama temannya, maka hendaklah seorang di antara kalian 
melihat teman bergaulnya.7

Dari Abu Musa al-Asy’ari, ia bersabda:

Sesungguhnya,  perumpamaan teman baik dengan teman buruk, seperti penjual 
minyak 
wangi  dan pandai besi; adapun penjual minyak, maka kamu kemungkinan dia  
memberimu hadiah atau engkau membeli darinya atau mendapatkan aromanya;  dan 
adapun pandai besi, maka boleh jadi ia akan membakar pakaianmu atau  engkau 
menemukan bau anyir.8
 
Sahabat memberi pengaruh dan mewarnai perilaku temannya, seperti kata Imam 
Syafi’i dalam syairnya: 

Saya mencintai orang-orang shalih walaupun aku tidak seperti mereka. 
Semoga dengan mencintai mereka aku mendapatkan syafaat-Nya. 
Aku membenci seseorang karena kemaksiatannya, 
meskipun kami dalam hal perbelakan hampir sama.9
 
Wahai  para pendidik, pilihkan untuk anak-anakmu teman yang baik sebagaimana  
engkau memilihkan untuk mereka makanan dan pakaian yang terbaik. 

E. Jalanan. 
Jalanan  tempat bermain dan lalu lalang anakanak terdapat banyak manusia dengan 
 
berbagai macam perangai, pemikiran, latar belakang sosial dan  pendidikan. 
Dengan beragam latar belakang, mereka sangat membahayakan  proses pendidikan 
anak, karena anak belum memiliki filter untuk  menyaring mana yang baik dan 
mana 
yang buruk. 

Di  sela-sela bermain, anak akan mengambil dan meniru perangai serta tingkah  
laku temannya atau orang yang sedang lewat; sehingga terkadang mampu  merubah 
pemikiran lurus menjadi rusak, apalagi mereka mempunyai  kebiasaan rusak, 
misalnya perokok, pemabuk dan pecandu narkoba; maka  mereka lebih cepat 
menebarkan kerusakan di tengah pergaulan anak-anak  dan remaja. 

F. Pembantu dan Tetangga. 
Para  pembantu memiliki peran cukup signifikan dalam pendidikan anak, karena  
pembantu mempunyai waktu yang relatif lama tinggal bersama anak,  terutama pada 
usia balita. Sedangkan pada fase tersebut, anak sangat  sensitif dari berbagai 
macam pengaruh. Pada masa usia itu merupakan masa  awal pembentukan pemikiran 
dan aqidah, serta emosional. Begitu juga  tetangga, mereka bisa membawa 
pengaruh, karena anak-anak kita kadang  harus bermain ke rumahnya. 

Waspadalah,  wahai kaum muslimin! Jagalah anak-anak kalian dari semua pengaruh 
yang  bisa merusak pendidikkan anak-anak kalian. Bekali mereka dengan aqidah  
yang shahih dan akhlak mulia. Ajarkan kepada mereka sirah Nabi  
Shallallahu’alaihi Wa Sallam dan perjalanan hidup para ulama. Tanamkan  pula 
kesabaran dalam menunaikan segala kewajiban yang diperintahkan  Allah, dan 
kesabaran dalam meninggalkan apa yang dilarang Allah. Jangan  biarkan anak-anak 
kita terpengaruh oleh tingkah laku dan perangai  orang-orang yang rusak dan 
jahat; yang dengan sengaja membuat strategi  dan tipu daya untuk menghancurkan 
generasi umat Islam.

Footnotes / Catatan kaki 
1Tafsir Ibnu Katsir, 5/ 141.
2 Lihat Tafsir Jamiul-Bayan fi Tafsîril-Qur‘ân, ath-Thabari.
3 Riwayat Thabrani di dalam al-Kaba‘ir 3/227/(3225), dan disebutkan pula oleh 
Ibnu Hajar di dalam Ashabah, 1/312. Lihat pula Majma’uz-Zawaa‘id, 9/314.
4 Lihat Tafsîr Fathul-Bayân, Shiddiq Hasan Khân, 6/434.
5 Merujuk hadits riwayat al-Bukhari, no. 3470, Muslim no. 2766 (-red)
6 Shahîh, diriwayatkan Imam Muslim dalam Shahîh-nya dalam kitab Shalat 
Musafirin 
(1821).
7 Shahîh, diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), at-Tirmidzi dalam 
Sunan-nya (2379), dan beliau berkata: “Hadits ini hasan,” dan Imam Ahmad dalam 
Musnad-nya, 2/ 303, 334.
8 Shahîh, diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Shahîh-nya (2101) dan Imam Muslim 
dalam Shahîh-nya (6653).
9 Lihat Diwan Imam as-Syafi’i, hlm. 79.
 
sumber: bukhari.or.id


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke