MENELUSURI AKAR PEMIKIRAN KAUM LIBERAL
Oleh
Ustadz Abu Ihsan Al-Maidani
http://almanhaj.or.id/content/3127/slash/0


وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ
مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ
اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُم بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا
لَكَ مِنَ اللَّهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan ridha kepada kamu sehingga
kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah
itulah petunjuk (yang sebenarnya)”. Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka
Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.
[al-Baqarah/2:120]

Di dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan bahwa
orang-orang Yahudi dan Nasrani tiada henti-hentinya merancang makar
dan konspirasi untuk memadamkan cahaya Islam. Disadari atau tidak,
pada hari ini kaum muslimin telah dijadikan target utama mereka. Dan
ayat di atas, sebenarnya menggugah kaum muslimin agar menyadari bahwa
musuh-musuh selalu mengintai dari segala arah untuk memadamkan cahaya
Islam.

Di dalam Al-Qur‘an, jauh sebelumnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah
memperingatkan umat Islam bahwa orang-orang kafir selalu berusaha
mengeluarkan dan memurtadkan kaum muslimin dari Diinul-Islam. Itulah
inti persoalannya!

Simaklah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا فَرِيقًا مِّنَ الَّذِينَ
أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari
orang-orang yang diberi Ahli Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan
kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. [Ali ‘Imran/3:100].

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا
يَرُدُّوكُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ فَتَنقَلِبُوا خَاسِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mentaati orang-orang yang
kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu kebelakang (kepada
kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. [ Ali
‘Imran/3:149].

Akhir-akhir ini banyak bermunculan pemikiran-pemikiran sesat dan
nyeleneh yang dimunculkan oleh orang-orang kafir dari kalangan Yahudi,
Nasrani dan sebagian kaum zindiq yang mengaku muslim.
Pemikiran-pemikiran seperti ini bukanlah hal yang baru. Sebab sejak
zaman dahulu, ide tersebut juga telah mencuat ke permukaan.

Slogan-slogan sesatpun bermunculan, mulai dari slogan toleransi
beragama, pluralisme, [1] persaudaraan agama-agama, reaktualisasi
hukum Islam, pengakuan sebagai nabi baru, pengakuan mendapat wahyu,
hermeneutika,[2] liberalisasi tafsir, paham relativisme, paham
inklusivisme,[3] pengakuan sebagai imam mahdi, pembaharuan syariat
Islam, dan masih banyak lagi slogan-slogan lainnya. Sekularisasi dan
liberalisasi agama ini dibungkus dengan atribut Islam dan diklaim
sebagai bagian dari Islam. Selain itu muncul pula sebagian oknum yang
berusaha menyatukan agama-agama. Mereka menyimpulkan bahwa semua agama
itu pada hakikatnya sama, dan hanya penampilannya saja yang
berbeda-beda. Menurut mereka, bangunan agama itu nampak sama atau
serupa, atau dapat diabstrasikan menjadi sesuatu yang sama. Yang
sangat disayangkan, sebagian kaum muslimin yang awam terpengaruh
dengan propaganda sesat seperti ini.

Apalagi, di kalangan umat Islam, mulai muncul gejala umum yang
mengkhawatirkan, yakni mudahnya mengambil dan meniru metodologi
pemahaman Al-Qur‘an dan as-Sunnah yang berasal dari pemikiran dan
peradaban asing. Gerakan “impor pemikiran” semakin gencar dilakukan,
terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic Studies. Ironisnya,
sedikit sekali yang memiliki ketelitian dan kritis terhadap
gagasan-gagasan impor yang sebenarnya bertolak belakang dengan
pokok-pokok dasar Islam dan berpotensi menggerogoti sendi-sendi akidah
seorang Muslim.

Sebagai contoh, munculnya paham pluralisme (penyatuan agama) di
tengah-tengah umat Islam yang diusung oleh oknum-oknum yang mengaku
Islam. Sebenarnya, paham ini sudah ada pada masa Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, namun gerakannya dapat diredam hingga berakhirnya
periode generasi terbaik.

Kemudian setelah itu, gerakan ini muncul kembali dengan membuat slogan
baru untuk menipu orang-orang awam. Slogan mereka, bahwa agama-agama
seperti Yahudi, Nashrani, dan Islam, ibaratnya seperti keberadaan
empat madzhab fiqih di tengah-tengah kaum muslimin, semua agama pada
hakikatnya menuju Allah. Slogan ini ternyata disambut baik oleh
kelompok Wihdatul Wujud, al-Ittihadiyyah, al-Hululiyyah, dan yang
menisbatkan diri mereka kepada Islam dari kalangan kaum mulhid, zindiq
dan orangorang tasawwuf di Mesir, Syam, Persia dan di negara-negara
lainnya.

Demikian pula, slogan ini disambut baik oleh kaum Syi’ah Rafidhah dan
sekte-sekte lainnya. Hingga sebagian dari mereka ada yang membolehkan
berpindah-pindah agama secara bebas seperti halnya berpindah-pindah
madzhab. Bahkan ada pula di antara mereka yang cenderung lebih
mengunggulkan agama Yahudi dan Nasrani daripada Islam. Hal ini banyak
ditemukan pada sebagian orang yang banyak terpengaruh dengan ilmu
filsafat.

Pada pertengahan pertama abad empat belas hijriyah, mulailah seruan
penyatuan agama itu dikumandangkan, setelah sekian lama mengakar dalam
dada para penganjurnya yang menampakkan keislaman namun menyembunyikan
kekufuran dan kesesatan. Lahirlah sebuah organisasi yang disebut
dengan Freemasonry, yakni sebuah organisasi Yahudi yang mengusung
slogan Liberty, Egality, dan Fraternity (kebebasan, persamaan dan
persaudaraan), dan mempropagandakan persaudaraan universal tanpa
memandang etnis, bangsa, dan agama. Organisasi itu muncul dengan
slogan penyatuan tiga agama besar (Yahudi, Nasrani, dan Islam),
menghilangkan fanatisme agama. Menurut mereka, semuanya adalah mukmin.
Tercatat sebagai orang yang ikut terlibat menyebarkan slogan ini
adalah Jamaluddin bin Shafdar al-Afghani pada tahun 1314 H di Turki,
dan juga diikuti oleh muridnya yang sangat gigih menyuarakannya yaitu
Muhammad ‘Abduh bin Hasan at-Turkimani pada tahun 1323 H di
Iskandariyah (Mesir). [4]

Paham ini terus berkembang hingga sekarang. Sejumlah orang secara
terang-terangan menyerukannya, baik lewat lisan maupun tulisan. Mereka
tidak malu-malu lagi menyuarakannya. Misalnya Nurcholish Madjid, ia
menganggap banyak agama yang benar, tidak hanya Islam. (Teologi
Inklusif Cak Nur karya Sukidi, Kompas, 2001). Saat memberi kata
pengantar buku Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hlm. 6
(Penerbit Buku Kompas, 2001), Nurcholish mengucapkan kalimat yang
seolah-olah benar namun sebenarnya batil, “Kendatipun cara, metode
atau jalan keberagamaan menuju Tuhan berbeda-beda, namun Tuhan yang
hendak kita tuju adalah Tuhan yang sama, Allah Yang Maha Esa”.

Untuk itu, iapun mengusung teori relativisme. Ia mengatakan, “Rasa
toleransi agama hanya akan tumbuh di atas dasar paham kenisbian
(relativisme) bentuk-bentuk formal agama ini dan pengakuan bersama
akan kemutlakan suatu nilai yang universal, yang mengarah kepada
setiap manusia, yang kiranya merupakan inti setiap agama”.

Demikian juga Muhammad Ali, dosen IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
yang membuat tulisan di harian Republika (14 Maret 2002) berjudul
Hermeneutika dan Pluralisme Agama. Ia mengajak orang agar tidak
memahami ayat Allah dalam surat Ali Imran ayat 19 dan 85 dalam bingkai
teologi eksklusif, yakni keyakinan bahwa jalan kebenaran dan jalan
keselamatan bagi manusia hanyalah dapat dilalui melalui jalan Islam.
Tapi ayat ini harus dipahami dengan teologi pluralis dan teologi
inklusif.

Makanya, mereka berusaha menakwil ayatayat yang isinya mencela
orang-orang Yahudi dan Nashrani. Seperti yang dikemukakan oleh
Quraisy-Syihab tentang tafsir firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

(Orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak akan ridha kepadamu sampai
engkau mau mengikuti agama mereka. –Qs. al-Baqarah/2 ayat 120).

Quraisy Shihab menafsirkan, bahwa ayat di atas ditujukan secara khusus
kepada orang-orang Yahudi dan umat Nasrani tertentu yang hidup pada
zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan kepada umat
Nasrani dan Yahudi secara keseluruhan. Sementara diijinkannya
memerangi orang kafir bukan diperuntukkan terhadap umat Nasrani dan
yang semacamnya yang termasuk Ahli Kitab. [5]

Contoh lain, yaitu maraknya kajian fiqh yang mereka sebut Fiqh Lintas
Agama. Isinya ternyata menyerang syariat Islam dan seruan
reaktualisasi hukum Islam. Mereka sebenarnya hanyalah membeo perkataan
kaum orientalis Barat yang menyifati hukum dan syariat Islam sebagai
hukum barbar. Menurut mereka, penerapan syariat Islam akan
mendiskreditkan penganut agama lain. Mereka juga beranggapan bahwa
hukum Islam merugikan kaum wanita, bertentangan dengan HAM, tidak
manusiawi; seperti hukum rajam, potong tangan, cambuk dan
dibolehkannya perbudakan.[6]

Pemikiran ini, mereka arahkan sebagai penolakan kepada hadits-hadits
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang katanya tidak sesuai
dengan semangat pluralisme inklusivisme. Mereka juga mencacimaki Abu
Hurairah Radhiyallahu ‘anhu yang banyak meriwayatkan hadits-hadits
tersebut.

Contoh lainnya, yaitu tentang hermeneutika. Beberapa institusi
pendidikan Islam sudah mengajarkan hermeneutika sebagai alternatif
bagi metode penafsiran Al-Qur‘an yang selama ini telah dikenal oleh
umat Islam pada umumnya. Bahkan, sekarang sudah muncul tokoh-tokoh
organisasi Islam yang begitu bersemangat menyebarkan dan mengajarkan
hermeneutika, dengan menyerukan agar metode tafsir “klasik” Al-Qur‘an
tidak digunakan lagi!

Hermeneutika, ialah metode tafsir Bible, yang kemudian dikembangkan
oleh para filosof dan pemikir Kristen di Barat menjadi metode
interpretasi teks secara umum. Oleh sebagian cendekiawan Muslim,
kemudian metode ini diadopsi dan dikembangkan, untuk dijadikan sebagai
alternatif dari metode pemahaman Al-Qur‘an yang dikenal sebagai “ilmu
tafsir”.

Jika metode atau cara pemahaman Al-Qur‘an sudah mengikuti metode kaum
Yahudi-Nasrani dalam memahami Bible, maka patut dipertanyakan,
bagaimanakah masa depan kaum muslimin di Indonesia? Pertanyaan ini
perlu disampaikan kepada kita, termasuk kepada para “cendikiawan
Muslim” itu. Kanker ganas ini sedang bekerja sangat cepat menggerogoti
organorgan vital kaum muslimin. Apalagi, di kalangan umat Islam, mulai
muncul gejala umum yang mengkhawatirkan, yakni mudahnya mengambil dan
meniru metodologi pemahaman Al-Qur‘an dan as-Sunnah yang berasal dari
pemikiran dan peradaban asing. Gerakan “impor pemikiran” semakin
gencar dilakukan, terutama oleh kalangan yang menggeluti Islamic
Studies (studi Islam). Sayangnya, sedikit sekali yang memiliki sikap
“teliti sebelum membeli” gagasan-gagasan impor yang sebenarnya
bertolak belakang dan berpotensi menggerogoti sendi-sendi aqidah kaum
muslimin.

Hermeneutika merupakan salah satu produk asing yang belum lama ini
dipasarkan dalam sebuah seminar nasional “Hermeneutika Al-Qur`an:
Pergulatan tentang Penafsiran Kitab Suci” di sebuah perguruan Tinggi.
Konon, tujuannya antara lain mencari dan merumuskan sebuah
“hermeneutika Al-Qur`an” yang relevan untuk konteks umat Islam di era
globalisasi umumnya, dan di Indonesia khususnya.

Karena sudah terlanjur gandrung kepada segala yang baru dan Barat
(everything new and Western), sejumlah cendekiawan yang nota bene
muslim itu menganggap hermeneutika bebas-nilai alias netral. Bagi
mereka, hermeneutika dapat memperkaya dan dijadikan alternatif
pengganti metode tafsir tradisional yang dituduh “ahistoris”
(mengabaikan konteks sejarah) dan “uncritical” (tidak kritis).
Kalangan ini tidak menyadari bahwa hermeneutika sesungguhnya sarat
dengan asumsi-asumsi dan implikasi teologis, filosofis, epistemologis
dan metodologis yang timbul dalam konteks keberagamaan dan pengalaman
sejarah Yahudi dan Kristen. [7]

Di antara pendapat nyeleneh kaum liberalis ini, ialah membolehkan
mengucapkan salam kepada non muslim, membolehkan mengucapkan selamat
Natal dan selamat hari raya agama lain, membolehkan menghadiri
perayaan hari-hari besar agama lain, membolehkan doa bersama antar
pemeluk agama yang berbeda, membolehkan wanita muslimah menikah dengan
laki-laki kafir, membolehkan orang kafir mewarisi harta seorang
muslim, dan masih banyak lagi yang lainnya.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun XII/1429H/2008M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Pluralisme, ialah pemahaman yang memandang semua agama sama; meskipun 
dengan jalan yang berbeda namun menuju satu tujuan: Yang Absolut, Yang 
terakhir, Yang Riil. Lihat Fiqih Lintas Agama, Paramadina, Juni 2004, hlm. 65.
[2]. Secara etimologi, istilah �hermeneutics� berasal dari bahasa Yunani (ta 
hermeneutika), (bentuk jamak dari to hermeneutikon), yang berarti hal-hal yang 
berkenaan dengan pemahaman dan penerjemahan suatu pesan. Kedua kata itu 
merupakan derivat dari kata hermes. Yang dalam mitologi Yunani dikatakan 
sebagai dewa yang diutus oleh Zeus (Tuhan) untuk menyampaikan pesan dan berita 
kepada manusia di bumi. Dalam karya logika Aristoteles, kata hermeneias, 
berarti ungkapan atau pernyataan (statement), tidak lebih dari itu.
[3]. Inklusivisme, ialah pemahaman yang mengakui bahwa dalam agama-agama lain 
terdapat juga suatu tingkat kebenaran. Lihat Fiqih Lintas Agama, Paramadina, 
Juni 2004, hlm. 65.
[4]. Shahwatur-Rajulil Maridh, Jamaluddin al-Afghani fil-Mizan, hlm. 340. 
Dinukil dari al-Ibthal li Nazhariyatil- Khalath baina Dinil-Islam
wa Ghairihi minal-Adyan, hlm. 6.
[5]. Pluralitas Agama Kerukunan dalam Keragaman, hlm. 26.
[6]. Islam Liberal Paradigma Baru Wacana dan Aksi Islam Indonesia, Zuly Qodir, 
Pustaka Pelajar, 2003, hlm. 187-192
[7]. Adian Husaini, Majalah Gatra, edisi 3 April 2004. 


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke