Apa lagi yang kita takuti di dunia ini jika Allah menjaga kita karena kita
menjaga syariat-syariat Allah??....
Semoga ukhti tetap istiqomah pada jalan Allah.... insyaallah
JAGALAH ALLAH NISCAYA ALLAH AKAN MENJAGAMU
Oleh : Ust. Abdullah Taslim, MA
*يَا غُلاَمُ، إِنِّيْ أُعَلِّ**مُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ،
اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاْسألِ اللهَ، وَإِذَا
اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِلله
*
Rasulullah *Shalallahu ‘alaihi wassalam* berwasiat kepada Ibnu Abbas
Radhiallahu ‘anhu: "Wahai anak kecil, sungguh aku akan mengajarkan beberapa
kalimat (nasehat penting) kepadamu, (maka dengarkanlah baik-baik!): "Jagalah
(batasan-batasan syariat) Allah, maka Allah akan menjagamu, jagalah
(batasan-batasan syariat) Allah, maka kamu akan mendapati Allah di hadapanmu
(selalu bersamamu dan menolongmu), jika kamu (ingin) meminta (sesuatu), maka
mintalah (hanya) kepada Allah, dan jika kamu (ingin) memohon pertolongan,
maka mohon pertolonganlah (hanya) kepada Allah...” [Hadits Shahih, Tuhfatul
Ahwadzi no. 2516]
HADITS ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Radhiallahu ‘anhu, sepupu Nabi yang
berjuluk “al-Bahr” (lautan) karena keluasan ilmunya. Ibnu ‘Abbas Radhiallahu
‘anhu adalah putra paman Nabi yang bernama ‘Abbas bin Abdul Muththalib. Ibnu
‘Abbas Radhiallahu ‘anhu lahir 3 tahun sebelum Nabi hijrah. Beliau wafat di
Thaif pada tahun 68 H.
Kedudukan hadits ini sangatlah agung, sampai-sampai Imam Ibnul Jauzi
menggambarkan dengan ucapannya: “(Ketika) aku merenungkan dan menghayati
(makna) hadits ini, aku tercengang (terpesona) dan nyaris kehilangan akal,
duhai, alangkah ruginya (seorang yang) tidak mengetahui hadits ini dan
kurang memahami maknanya” [dinukil dari Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]
*KANDUNGAN HADITS*
*1*. Penjagaan dari Allah bagi seorang hamba yang menjaga batasan-batasan
syariat-Nya. Dalam hal ini berlaku ketentuan Allah yang disebut al-Jazaa-u
min Jinsil ‘Amal (balasan yang sesuai dengan jenis perbuatan), seperti yang
Allah sebutkan dalam firman-Nya:
* فَاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ *
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu" (QS
Al Baqarah:152), dan firman-Nya:
*يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا إِنْ تَنْصُرُ اللهَ يَنْصُرْكُمْ*
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah I, niscaya
Dia akan menolongmu” (QS Muhammad:7) [lihat Jami'ul 'Ulum wal Hikam: 465].
*2*. Makna "penjagaan hamba (terhadap batasan-batasan syariat Allah Ta’ala)"
adalah menjaga hak-hak Allah Ta’ala dengan menunaikannya, menjaga
batasan-batasan-Nya dengan tidak melanggarnya, dan menjaga perintah dan
larangan-Nya dengan melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi semua
larangan-Nya. Dan barang siapa yang melaksanakan hal-hal tersebut di atas,
maka dia termasuk orang-orang yang menjaga batasan-batasan (syariat) Allah
Ta’ala yang dipuji oleh Allah Ta’ala dalam Al Qur'an (dan hadits Rasulullah
*Shalallahu ‘alaihi wassalam*), Allah I berfirman:
*هَذَا مَاتُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ. مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ
بِالْغَيْبِ وَجَآءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ*
“Inilah yang dijanjikan kepadamu, [yaitu] pada setiap hamba yang selalu
kembali (kepada Allah I) lagi menjaga (semua peraturan-peraturan-Nya).
(Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak
kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat" (QS.
Qaaf:33). Dan "Al Hafiizh" dalam ayat ini ditafsirkan dengan orang yang
menjaga perintah-perintah Allah Ta’ala, dan orang yang menjaga dosa-dosanya
dengan (segera) bertaubat (kepada Allah) dari dosa-dosa tersebut [lihat
Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 462]
*BENTUK PENJAGAAN ALLAH*
*3*. Adapun makna "penjagaan Allah Ta’ala terhadap hamba (yang menjaga
batasan-batasan syariat-Nya)", maka hal ini meliputi dua macam penjagaan:
1. Penjagaan Allah Ta’ala terhadap hamba dalam urusan-urusan dunianya,
seperti penjagaan Allah Ta’ala terhadap (kesehatan) badannya, juga terhadap
istri, keturunan dan hartanya. Maka barangsiapa yang menjaga
(batasan-batasan syariat)-Nya di masa kecilnya dan dikala (fisiknya masih)
kuat, maka Allah Ta’ala akan menjaganya di masa tuanya dan dikala (fisiknya
telah) lemah, dan Allah Ta’ala akan menguatkan pendengaran, penglihatan,
kesehatan dan akalnya.
Salah seorang ulama salaf yang telah mencapai usia lebih dari seratus tahun,
akan tetapi kondisi fisik dan akalnya tetap kuat, maka suatu hari dia
melakukan suatu lompatan yang sangat kuat, sehingga orang-orang menegurnya,
maka dia pun berkata: "(Seluruh) anggota badanku ini sejak kecil (selalu)
aku jaga dari perbuatan maksiat, maka Allah Ta’ala pun menjaganya ketika aku
telah tua".
Bahkan karena kesalehan seorang hamba Allah Ta’ala akan menjaga keturunannya
sepeninggalnya, sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala:
*وَكَانَ أَبُوْهمُاَ صَالِحاً*
“...Sedang ayah mereka berdua adalah seorang yang saleh” (Al Kahfi:82). Ayat
ini berkisah tentang dua anak yatim yang dijaga (oleh Allah Ta’ala) karena
kesalehan ayah mereka berdua. Imam Sa'id bin Musayyib berkata kepada
putranya: "Sungguh aku akan memperbanyak shalat (sunnah)ku demi kamu, dengan
harapan (Allah akan) menjagamu (sepeninggalku nanti)", kemudian dia membaca
ayat tersebut di atas.
Imam 'Umar bin 'Abdil 'Aziz berkata: "Tidak ada seorang mukmin pun yang
meninggal dunia, kecuali Allah Ta’ala akan menjaga keturunan dan anak
cucunya".
Dan barangsiapa yang menjaga (batasan-batasan syariat) Allah Ta’ala, maka
Allah Ta’ala akan menjaganya dari semua gangguan, telah berkata salah
seorang ulama salaf: "Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Ta’ala, maka
(berarti) dia telah menjaga dirinya, dan barangsiapa yang berpaling dari
ketakwaan kepada Allah Ta’ala, maka (berarti) dia telah menyia-nyiakan
dirinya, dan Allah Ta’ala tidak butuh kepadanya".
2. Penjagaan Allah terhadap hamba dalam agama dan keimanannya, dan
penjagaan ini adalah penjagaan yang paling utama. Allah menjaga hamba ini
dalam kehidupannya dari fitnah-fitnah syubhat (kerancuan dalam memahami
agama/pengkaburan yang benar dan yang batil) yang menyesatkan dan
fitnah-fitnah syahwat (memperturutkan nafsu) yang diharamkan oleh Allah
Ta’ala, dan Allah Ta’ala akan selalu menjaga dan meneguhkan imannya sampai
di akhir hayatnya dan mewafatkannya dengan husnul khatimah (meninggal dunia
di atas keimanan), semoga Allah Ta’ala menganugrahkan kepada kita semua
penjagaan ini.
Ibnu 'Abbas ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala:
*وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ** *
“Dan ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah Ta’ala menghalangi (membatasi)
antara manusia dan hatinya” (Al Anfaal:24), beliau berkata: "Allah Ta’ala
menghalangi orang yang beriman dari perbuatan maksiat yang akan
menjerumuskannya ke dalam neraka".
Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Yusuf ‘alaihis salam:
*كَذَلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوْءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا
الْمُخْلِصِيْنَ*
“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian.
Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba kami yang terpilih" (QS
Yusuf:24) [lihat. Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 465-470].
*4*. Dan dipahami dari hadits ini, bahwa barangsiapa yang tidak menjaga
(batasan-batasan syariat) Allah Ta’ala, dengan tidak mengindahkan
perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya, maka Allah pun akan
menyia-nyiakannya dan menjadikannya lupa akan (kemaslahatan) dirinya
sendiri, Allah Ta’ala berfirman:
*نَسُوْا اللهَ فَنَسِيَهُمْ** *
“Mereka (orang-orang munafik) lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan
mereka" (QS At Taubah: 67), dalam ayat lain Allah berfirman:
*فَلَمَّا زَاغُوْا أَزَاغَ اللهُ قُلُوْبَهُمْ وَاللهُ لاَ يَهْــدِي
الْقَوْمَ الْفَاسِقِيْنَ** *
“Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allahpun memalingkan hati
mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik” (QS. Ash
Shaff:5).
Bahkan sampai-sampai Allah Ta’ala menimpakan padanya gangguan dan perlakuan
buruk melalui orang-orang yang dekat dengannya, dan yang seharusnya berbuat
baik padanya, yaitu keluarga dan kerabatnya. Berkata salah seorang ulama
salaf: "Sungguh (setelah) aku berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala, maka aku
mengenali (dampak buruk) perbuatan maksiat itu ada pada tingkah laku pelayan
dan hewan tungganganku" [lihat. ad-Durarus Saniyyah: 78).
*5*. Makna sabda Rasulullah *Shalallahu ‘alaihi wassalam*: "… Maka kamu akan
mendapati Allah di hadapanmu…" adalah: Allah Ta’ala akan selalu bersamamu
dalam semua keadaan, Dia akan selalu melindungimu, menolongmu dan menjagamu,
dan inilah (yang disebut dengan) "Al Ma'iyyah al Khaashshah" (kebersamaan
Allah dengan hambanya yang bersifat khusus) yang mengandung arti
pertolongan, dukungan, penjagaan dan perlindungan (dari Allah bagi hambanya)
[lihat. Bahjatun Nazhirin: 1/135], sebagaimana firman Allah:
*إنَّ اللهَ مَعَ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا وَالَّذِيْنَ هُمْ مُحْسِنُوْنَ*
”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang yang
berbuat kebaikan" (QS An Nahl:128), berkata Qotadah: "Barangsiapa yang
bertakwa kepada Allah, maka Allah akan selalu bersamanya, dan barangsiapa
yang Allah selalu bersamanya, maka bersamanya ada kelompok yang tidak
terkalahkan, penjaga yang tidak pernah tidur dan pemberi petunjuk yang tidak
pernah menyesatkan" [lihat Jami’ul ‘Ulum wal Hikam: 471]
*6*. Perintah Rasulullah *Shalallahu ‘alaihi wassalam* untuk mentauhidkan
(mengesakan) Allah dalam meminta (berdo'a) dan memohon pertolongan, dan
untuk tidak meminta sesuatu pun kepada makhluk, yang ini sesuai dengan
firman Allah:
*إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنَ*
“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon
pertolongan” (QS Al Faatihah:5), dan dalam hal ini ada dua tingkatan:
Pertama: tingkatan yang wajib, yaitu Tauhid, dengan meminta dan memohon
pertolongan kepada Allah semata-semata dan tidak kepada selain-Nya dalam
perkara-perkara yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh Allah I. Dan inilah
yang kita kenal dalam pelajaran Tauhid, bahwa memalingkan do'a dan isti'anah
(memohon pertolongan) kepada selain Allah I adalah perbuatan syirik.
Kedua: tingkatan yang mustahab (anjuran), yaitu jika seseorang mampu untuk
mengerjakan (sendiri) suatu pekerjaan, maka janganlah dia meminta
(pertolongan) kepada siapapun, dan Rasulullah *Shalallahu ‘alaihi
wassalam*telah mengambil perjanjian dari beberapa orang Sahabat agar
mereka tidak
meminta apapun kepada manusia, (sampai-sampai) perawi hadits ini berkata:
"Maka salah seorang dari mereka ketika cemetinya terjatuh (dari hewan
tunggangannya), dia tidak meminta orang lain untuk mengambilkan cemeti
tersebut untuknya” [HR. Muslim: 1043], dan dalam hal ini kemampuan
masing-masing orang untuk menunaikan tingkatan ini berbeda-beda (sesuai
dengan tingkat keimanan mereka) [lihat Syarh al-Arba’in, Shalih Alu Syaikh:
107]
Rasulullah *Shalallahu ‘alaihi wassalam*: "(artinya) Senantiasa seseorang
itu meminta (kepada makhluk) sampai dia bertemu Allah Ta’ala (pada hari
kiamat) dalam keadaan tidak ada sekerat daging pun pada wajahnya" [Bukhari:
3/338-Fathul Bari dan Muslim: 1040].
Hal ini disebabkan karena meminta kepada makhluk mengharuskan seseorang
untuk menunjukkan rasa butuh dan menghinakan (menundukkan) diri di hadapan
makhluk, padahal semua ini tidak pantas ditujukan kecuali kepada Allah
Ta’ala semata-mata.
Berkata Ibnu Taimiyyah: "Meminta kepada makhluk padanya ada tiga keburukan,
keburukan (karena) menunjukkan rasa butuh kepada selain Allah Ta’ala dan ini
termasuk satu jenis kesyirikan, keburukan (karena) menyakiti orang yang kita
meminta kepadanya dan ini termasuk satu jenis kezhaliman terhadap makhluk,
dan (keburukan karena) menundukkan diri kepada selain Allah Ta’ala dan ini
termasuk satu jenis kezhaliman terhadap diri sendiri" [lihat Kitabul Iman:
66]
2011/7/21 Chaca Arsyad <[email protected]>
> **
>
>
> Assalamualaikum,
>
> Mohon pendapat dari rekan milis semua:
>
> Saya dan teman saya baru 1 tahun menggunakan jilbab, kemaren sore kita
> berdua dipanggil oleh owner dan dia membicarakan masalah pakaian kami, dan
> kami sangat mengerti posisi dia sebagai atasan dan pemilik perusahaan
> apalagi dia bukanlah seorang muslimah, dia membicarakannya secara baik -
> baik dan meminta kami untuk menggunakan pakaian secara profesional.. boleh
> berjilbab, tapi rapi.. pakai blazer dan jilbab di masukkan kedalam baju, dan
> menggunakan celana, bukan rok.
>
> Harapannya setelah lebaran kami akan berubah, ada dua pilihan dalam
> pemikiran kita.. segera cari pekerjaan lain sebelum lebaran, atau kalaupun
> belum dapat ya sudah keluar saja.. dari pada di suruh berubah penampilan.
>
> Mohon pendapat dan saran agar hati kami lebih mantap
>
> Terimakasih,
> Candra
>
>
>
>