PERJALANAN MENUJU AKHIRAT
Oleh
Ustadz Abdullah bin Taslim Al-Buthoni
http://almanhaj.or.id/content/3133/slash/0

Hari akhirat adalah hari setelah kematian yang wajib diyakini
kebenarannya oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla
dan kebenaran agama-Nya. Hari itulah hari pembalasan semua amal
perbuatan manusia, hari perhitungan yang sempurna dan hari
ditampakkannya semua perbuatan yang tersembunyi sewaktu di dunia. Juga
pada hari itu orang-orang yang melampaui batas akan berkata penuh
penyesalan:

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي

“Duhai, alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih)
untuk hidupku ini.”[al-Fajr/89:24]

Maka hendaknya setiap Muslim yang mementingkan keselamatan dirinya
benar-benar memberikan perhatian besar dalam mempersiapkan diri dan
mengumpulkan bekal untuk menghadapi hari yang kekal abadi ini. Karena
pada hakikatnya, hari inilah masa depan bagi manusia yang
sesungguhnya. Kedatangan hari tersebut sangat cepat seiring dengan
cepat berlalunya usia manusia. Allah Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ
مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ
بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan” [al-Hasyr/59:18]

Dalam menafsirkan ayat di atas Imam Qatâdah rahimahullah [1] berkata:
“Senantiasa Rabbmu (Allah Azza wa Jalla) mendekatkan hari Kiamat,
sampai-sampai Dia menjadikannya seperti besok”[2].

Semoga Allah Azza wa Jalla meridhai Sahabat yang mulia Umar bin
Khaththab Radhiyallahu ‘anhu yang telah mengingatkan hal ini dalam
ucapannya yang terkenal: “Hisablah (introspeksilah) dirimu saat ini,
sebelum kamu dihisab (diperiksa/dihitung amal perbuatanmu pada hari
kiamat). Timbanglah dirimu saat ini, sebelum amal perbuatanmu
ditimbang (pada hari Kiamat), karena sesungguhnya akan mudah bagimu
menghadapi hari kiamat jika kamu mengintrospeksi dirimu saat ini; dan
hiasilah dirimu dengan amal shaleh untuk menghadapi hari yang besar
ketika manusia dihadapkan kepada Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa
Jalla berfirman :

يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُونَ لَا تَخْفَىٰ مِنكُمْ خَافِيَةٌ

“Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Allah), tiada sesuatupun dari
keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya)” [al-Hâqqah/69:18] [3]

Senada dengan ucapan di atas, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu
berkata: “Sesungguhnya dunia telah pergi meninggalkan kita, sedangkan
akhirat telah datang menghampiri kita, dan masing-masing dari keduanya
(dunia dan akhirat) memiliki pengagum, maka jadilah kamu orang yang
mengagumi/mencintai akhirat dan janganlah kamu menjadi orang yang
mengagumi dunia, karena sesungguhnya saat ini waktunya beramal dan
tidak ada perhitungan, adapun besok di akhirat adalah saat perhitungan
dan tidak ada waktu lagi untuk beramal”[4].

“JADILAH KAMU DI DUNIA SEPERTI ORANG ASING…”
Dunia adalah tempat persinggahan sementara dan sebagai ladang akhirat
tempat kita mengumpulkan bekal untuk menempuh perjalanan menuju negeri
yang kekal abadi itu. Barangsiapa yang mengumpulkan bekal yang cukup,
maka dengan izin Allah Azza wa Jalla dia akan sampai ke tujuan dengan
selamat, dan barang siapa yang bekalnya kurang maka dikhawatirkan dia
tidak akan sampai ke tujuan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sikap yang benar
dalam kehidupan di dunia dengan sabdanya: “Jadilah kamu di dunia
seperti orang asing atau orang yang sedang melakukan perjalanan” [5]

Hadits ini sebagai nasehat bagi orang beriman, bagaimana seharusnya
dia menempatkan dirinya dalam kehidupan di dunia. Karena orang asing
(perantau) atau orang yang sedang melakukan perjalanan adalah orang
yang hanya tinggal sementara; tidak terikat hatinya pada tempat
persinggahannya, serta terus merindukan kembali ke kampung halamannya.
Demikianlah keadaan seorang Mukmin di dunia yang hatinya, selalu
terikat dan rindu kembali ke kampung halaman yang sebenarnya, yaitu
surga tempat tinggal pertama kedua orang tua kita, Adam Alaihissallam
dan istrinya Hawa, sebelum mereka berdua diturunkan ke dunia.

Dalam sebuah nasehat tertulis yang disampaikan oleh Imam Hasan
al-Bashri rahimahullah kepada Imam Umar bin Abdul Aziz rahimahullah,
beliau berkata: “…Sesungguhnya dunia adalah negeri perantauan dan
bukan tempat tinggal yang sebenarnya, dan hanyalah Adam Alaihissallam
diturunkan ke dunia untuk menerima hukuman akibat perbuatan dosanya…”
[6].

Dalam mengungkapkan makna hal ini Ibnul Qayyim rahimahullah berkata
dalam syairnya:
Marilah (kita menuju) surga ‘Adn (tempat menetap)
karena sesungguhnya itulah
Tempat tinggal kita yang pertama, yang di
dalamnya terdapat kemah (yang indah)
Akan tetapi kita (sekarang dalam) tawanan musuh
(setan), maka apakah kamu melihat
Kita akan (bisa) kembali ke kampung halaman
kita dengan selamat? [7]

Sikap hidup ini menjadikan seorang Mukmin tidak panjang angan-angan
dan terlalu muluk dalam menjalani kehidupan dunia, karena “barangsiapa
yang hidup di dunia seperti orang asing, maka dia tidak punya
keinginan kecuali mempersiapkan bekal yang bermanfaat baginya ketika
kembali ke akhirat. Dia tidak berambisi dan berlomba bersama
orang-orang yang mengejar kemewahan dunia, karena keadaannya seperti
perantau, yaitu tidak merasa risau dengan kemiskinan dan rendahnya
kedudukannya.” [8].

Inilah yang diisyaratkan ‘Abdullâh bin Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Jika
kamu berada di waktu sore maka janganlah menunggu datangnya waktu
pagi; dan jika kamu erada di waktu pagi maka janganlah menunggu
datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa
sakitmu, dan masa hidupmu sebelum kematian menjemputmu” [9].

Bahkan inilah makna zuhud di dunia yang sesungguhnya, sebagaimana
ucapan Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah : “Maknanya adalah tidak
panjang angan-angan, yaitu seseorang yang ketika berada di waktu pagi
dia berkata: “Aku khawatir tidak akan bisa mencapai waktu sore lagi””
[10].

“BERBEKALLAH, DAN SUNGGUH SEBAIK-BAIK BEKAL ADALAH TAKWA”
Sebaik-baik bekal untuk perjalanan ke akhirat adalah takwa, yang
berarti “menjadikan pelindung antara diri seorang hamba dengan siksaan
dan kemurkaan Allah Azza wa Jalla yang dikhawatirkan akan menimpanya,
yaitu (dengan) melakukan ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat
kepada-Nya” [11].

Maka sesuai dengan keadaan seorang hamba di dunia dalam melakukan
ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla dan meninggalkan perbuatan
maksiat, begitu pula keadaannya di akhirat kelak. Semakin banyak dia
berbuat baik di dunia akan semakin banyak pula kebaikan yang akan di
raihnya di akhirat nanti, yang berarti semakin besar pula peluangnya
meraih keselamatan menuju surga.

Inilah di antara makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam sabdanya: “Setiap orang akan dibangkitkan
(pada hari Kiamat) sesuai dengan keadaannya sewaktu dia meninggal
dunia” [12]. Artinya dia akan mendapatkan balasan pada hari
kebangkitan kelak sesuai dengan amal baik atau buruk yang dilakukannya
sewaktu di dunia [13].

Landasan utama takwa adalah dua kalimat syahadat: Lâ ilâha illallâh
dan Muhammadur Rasulullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Oleh karena
itu, sebaik-baik bekal yang perlu dipersiapkan untuk selamat dalam
perjalanan besar ini adalah memurnikan tauhid (mengesakan Allah Azza
wa Jalla dalam beribadah dan menjauhi perbuatan syirik) yang merupakan
inti makna syahadat Lâ ilâha illallâh dan menyempurnakan al ittibâ’
(mengikuti sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan
menjauhi perbuatan bid’ah) yang merupakan inti makna syahadat
Muhammadur Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Azza wa Jalla akan memudahkan bagi manusia dalam menghadapi
peristiwa besar yang akan dialami mereka pada hari kiamat, sesuai
dengan pemahaman dan pengamalan mereka terhadap dua landasan utama
Islam ini sewaktu di dunia.

Ujian keimanan dalam kubur merupakan peristiwa besar pertama yang akan
dialami manusia setelah kematiannya. Mereka akan ditanya oleh dua
malaikat yaitu Munkar dan Nakir [14] dengan tiga pertanyaan: “Siapa
Tuhanmu?, apa agamamu? Dan siapa nabimu?” [15]. Allah Azza wa Jalla
hanya menjanjikan kemudahan dan keteguhan iman ketika menghadapi ujian
besar ini bagi orang-orang yang memahami dan mengamalkan dua landasan
Islam ini dengan benar, sehingga mereka akan menjawab: “Tuhanku adalah
Allah Azza wa Jalla, agamaku adalah Islam dan Nabiku adalah Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . “ [16]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي
الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ
الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang
teguh’ dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan
orang-orang yang dzalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki”
[Ibrâhim/14:27]

Makna ‘ucapan yang teguh’ dalam ayat ini ditafsirkan sendiri oleh
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits shahîh riwayat
al-Bara’ bin ‘âzib Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda: “Seorang Muslim ketika ditanya di dalam
kubur (oleh Malaikat Munkar dan Nakir) maka dia akan bersaksi bahwa
tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah (Lâ Ilâha Illallâh) dan
bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah
(Muhammadur Rasulullah), itulah makna firman-Nya: “Allah meneguhkan
(iman) orang-orang yang beriman dengan ‘ucapan yang teguh’ dalam
kehidupan di dunia dan di akhirat” [17]

Termasuk peristiwa besar pada hari Kiamat adalah mendatangi telaga
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang penuh kemuliaan, warna
airnya lebih putih daripada susu, rasanya lebih manis daripada madu,
dan baunya lebih harum daripada minyak wangi misk (kesturi),
barangsiapa yang meminum darinya sekali saja maka dia tidak akan
kehausan selamanya [18]. Dalam hadits yang shahîh [19] juga disebutkan
bahwa ada orangorang yang dihalangi dan diusir dari telaga Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini. Hal itu karena sewaktu di dunia
mereka berpaling dari petunjuk dan Sunnah Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam dan terjerumus dalam masalah bid’ah.

Imam Ibnu Abdil Barr rahimahullah [20] berkata: “Semua orang yang
melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah Azza wa Jalla
dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam. Yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang
(ahlul bid’ah) yang menyelisihi pemahaman jama’ah kaum Muslimin,
seperti orang-orang Khawârij, Syî’ah, Râfidhah dan para pengikut hawa
nafsu. Demikian pula orangorang yang berbuat zhalim yang melampaui
batas dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan
dosa-dosa besar secara terang-terangan. Mereka semua dikhawatirkan
termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir
dari telaga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam) [21].

Termasuk peristiwa besar pada hari Kiamat adalah melintasi ash-Shirâth
(jembatan) yang dibentangkan di atas permukaan neraka Jahannam, di
antara surge dan neraka. Dalam hadits yang shahîh [22] disebutkan
bahwa keadaan orang yang melintasi jembatan tersebut bermacam-macam;
sesuai dengan amal perbuatan mereka sewaktu di dunia. “Ada yang
melintasinya secepat kedipan mata, ada yang secepat kilat, ada yang
secepat angin, ada yang secepat kuda pacuan yang kencang, ada yang
secepat menunggang onta, ada yang berlari, ada yang berjalan, ada yang
merangkak, dan ada yang disambar dengan pengait besi kemudian
dilemparkan ke dalam neraka Jahannam” [23] – na’ûdzu billâhi min dâlik
– .

Syaikh Muhammad bin Shâlih Al-’Utsaimîn rahimahullah ketika
menjelaskan perbedaan keadaan orang-orang yang melintasi jembatan
tersebut, mengatakan : “Ini semua bukan atas pilihan masing-masing
orang, karena kalau dengan pilihan sendiri tentu semua orang ingin
melintasinya dengan cepat. Akan tetapi keadaan manusia sewaktu
melintasinya sesuai dengan cepat atau lambatnya mereka dalam menerima
dan mengamalkan syariat Islam di dunia ini. Barangsiapa yang bersegera
dalam menerima petunjuk dan sunnah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam, maka dia akan cepat melintasinya. Sebaliknya barangsiapa
yang lambat dalam hal ini, maka dia akan lambat melintasinya; sebagai
balasan yang setimpal, dan balasan itu sesuai dengan jenis
perbuatannya” [24].

“BALASAN AKHIR YANG BAIK (SURGA) BAGI ORANG-ORANG YANG BERTAKWA”
Akhirnya, perjalanan manusia akan sampai pada ujungnya; surga yang
penuh kenikmatan, atau neraka yang penuh dengan siksaan yang pedih. Di
sinilah Allah Azza wa Jalla akan memberikan balasan yang sempurna bagi
manusia sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia. Allah Azza wa
Jalla berfirman:

فَأَمَّا مَن طَغَىٰ وَآثَرَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا فَإِنَّ الْجَحِيمَ
هِيَ الْمَأْوَىٰ وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ
عَنِ الْهَوَىٰ فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

“Adapun orang-orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan
kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).
Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabb-nya dan menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat
tinggalnya” [an Nâzi’ât/79:37-41]

Maka balasan akhir yang baik hanya Allah Azza wa Jalla peruntukkan
bagi orang-orang yang bertakwa dan membekali dirinya dengan ketaatan
kepada-Nya, serta menjauhi perbuatan yang menyimpang dari agama-Nya.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

تِلْكَ الدَّارُ الْآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لَا يُرِيدُونَ
عُلُوًّا فِي الْأَرْضِ وَلَا فَسَادًا ۚ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin
menyombongkan diri dan berbuat kerusakan (maksiat) di (muka) bumi, dan
kesudahan (yang baik) itu (surga) adalah bagi orang-orang yang
bertakwa” [al-Qashash/28:83]

Syaikh Abdurrahmân as-Sa’di rahimahullah berkata: “…Jika mereka tidak
mempunyai keinginan untuk menyombongkan diri atau berbuat maksiat di
muka bumi, maka berarti keinginan mereka hanya tertuju kepada Allah
Azza wa Jalla. Tujuan mereka hanya mempersiapkan bekal untuk akhirat,
dan keadaan mereka sewaktu di dunia selalu merendahkan diri kepada
hamba-hamba Allah; serta selalu berpegang kepada kebenaran dan
mengerjakan amal shaleh. Mereka itulah orang-orang bertakwa yang akan
mendapatkan balasan akhir yang baik (surga dari Allahk).” [25]

PENUTUP
Setelah merenungi tahapan-tahapan perjalanan besar ini, marilah
bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mempersiapkan bekal yang
cukup agar selamat dalam perjalanan tersebut? Kalau jawabannya: belum,
maka jangan berputus asa, masih ada waktu untuk berbenah diri dan
memperbaiki segala kekurangan kita – dengan izin Allah Azza wa Jalla –
Caranya, bersegeralah untuk kembali dan bertaubat kepada Allah k ,
serta memperbanyak amal shaleh pada sisa umur kita yang masih ada. Dan
semua itu akan mudah bagi orang yang diberi Allah k taufik dan
kemudahan baginya.

Imam Fudhail bin ‘Iyâdh rahimahullah [26] pernah menasehati seseorang
lelaki, beliau berkata: “Berapa tahun usiamu “? Lelaki itu menjawab:
“Enam puluh tahun.” Fudhail rahimahullah berkata: “Berarti sudah enam
puluh tahun kamu menempuh perjalanan menuju Allah Azza wa Jalla ; dan
mungkin saja kamu hampir sampai”. Lelaki itu menjawab: “Sesungguhnya
kita ini milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya.” Maka
Fudhail rahimahullah berkata: “Apakah kamu paham arti ucapanmu? Kamu
berkata bahwa aku milik Allah Azza wa Jalla dan akan kembali
kepada-Nya; barangsiapa yang menyadari bahwa dia adalah hamba milik
Allah Azza wa Jalla dan akan kembali kepada-Nya, maka hendaknya dia
mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya pada hari kiamat.
Barangsiapa yang mengetahui bahwa dia akan berdiri di hadapan-Nya,
maka hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dimintai
pertanggung-jawaban atas semua perbuatannya di dunia. Barangsiapa yang
mengetahui akan dimintai pertanggungjawaban (atas perbuatannya), maka
hendaknya dia mempersiapkan jawabannya”. Maka lelaki itu bertanya:
“Lantas bagaimana caranya untuk menyelamatkan diri ketika itu?”
Fudhail rahimahullah menjawab: “Caranya mudah”. Lelaki itu bertanya
lagi: “Apa itu?” Fudhail rahimahullah berkata: “Perbaikilah dirimu
pada sisa umurmu, maka Allah Azza wa Jalla akan mengampuni dosamu di
masa lalu, karena jika kamu tetap berbuat buruk pada sisa umurmu, maka
kamu akan disiksa (pada hari Kiamat) karena dosamu di masa lalu dan
pada sisa umurmu” [27].

Akhirnya, kami menutup tulisan ini dengan doa dari Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam [28] untuk kebaikan agama, dunia dan
akhirat kita:

Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penentu (kebaikan) semua
urusanku, dan perbaikilah (urusan) duniaku yang merupakan tempat
hidupku, serta perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku
(selamanya), jadikanlah (masa) hidupku sebagai penambah kebaikan
bagiku, dan (jadikanlah) kematianku sebagai penghalang bagiku dari
semua keburukan.

Kota Nabi Shallallahu a’alaihi wa Sallam, 20 Shafar 1430 H
Abdullâh bin Taslîm Al-Buthoni

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XIII/1430H/2009M.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondanrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax
0271-858197]
_______
Footnote
[1]. Qat�dah bin Di��mah As-Sad�si Al-Bashri (wafat setelah tahun 110 H), 
adalah imam besar dari kalangan T�bi�in yang sangat terpercaya dan kuat dalam 
meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam (lihat kitab 
�Taqr�but tahdz�b�, hal. 409).
[2]. Dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya �Igh�tsatul lahf�n� 
(hal. 152-Maw�ridul am�n).
[3]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab beliau �Az Zuhd� (hal. 120), 
dengan sanad yang hasan.
[4]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam �Az Zuhd� (hal. 130) dan dinukil oleh 
Imam Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab beliau �J�mi�ul �ul�mi wal hikam� (hal. 
461).
[5]. HR al Bukh�ri (no. 6053).
[6]. Dinukil oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya �Igh�tsatul Lahf�n� 
(hal. 84 - Maw�ridul am�n).
[7]. Mift�hu D�ris Sa��dah (1/9-10), juga dinukil oleh Ibnu Rajab dalam kitab 
beliau �J�mi�ul �Ul�mi Wal Hikam� (hal. 462).
[8]. Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab �J�mi�ul �Ul�mi Wal Hikam� (hal. 461), 
dengan sedikit penyesuaian.
[9]. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukh�ri dalam kitab �Shah�hul Bukh�ri� (no. 
6053).
[10]. Dinukil oleh oleh Ibnu Rajab dalam kitab �J�mi�ul �Ul�mi Wal Hikam� (hal. 
465).
[11]. Ucapan Imam Ibnu Rajab dalam kitab � J�mi�ul �Ul�mi Wal Hikam � (hal. 
196).
[12]. HR Muslim (no. 2878).
[13]. Lihat penjelasan al-Mun�wi dalam kitab beliau �Faidhul qad�r� (6/457).
[14]. Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat at-Tirmidzi (no. 1083) 
dan dinyatakan shah�h oleh Syaikh al-Alb�ni dalam �Ash- Shah�hah� (no. 1391).
(15)Hadits shahih riwayat Ahmad (4/287-288), Abu D�wud (no. 4753) dan al-H�kim 
(1/37-39), dinyatakan shah�h oleh al-H�kim dan disepakati oleh adz-Dzahabi.
[16]. Ibid.
[17]. HR al-Bukh�ri (no. 4422), hadits yang semakna juga diriwayatkan oleh Imam 
Muslim (no. 2871).
[18]. Semua ini disebutkan dalam hadits yang shah�h riwayat imam al-Bukh�ri 
(no. 6208) dan Muslim (no. 2292).
[19]. Riwayat Imam al-Bukh�ri (no. 6211) dan Muslim (no. 2304) dari Anas bin 
M�lik rahimahullah.
[20]. Y�suf bin Abdull�h bin Muhammad bin Abdul Barr An-Namari Al-Andalusi 
(wafat 463 H), adalah Syaikhul Islam dan Imam besar Ahlus Sunnah dari wilayah 
Magrib. Biografi beliau dalam kitab �Tadzkiratul huff�zh� (3/1128).
[21]. Kitab �Syarh Az-Zarq�ni �Ala Muwaththa-Il Im�mi M�lik� (1/65).
[22]. Riwayat imam al-Bukh�ri (no. 7001) dan Muslim (no. 183) dari Abu Sa��d 
al-Khudri Radhiyallahu 'anhu.
[23]. Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitab beliau �Al-Aq�dah Al 
W�sithiyyah� (hal. 20).
[24]. Kitab �Syarhul Aq�datil W�sithiyyah� (2/162).
[25]. Tais�rul kar�mir Rahm�n f� tafs�ri kal�mil Mann�n (hal. 453).
[26]. Fudhail bin �Iy�dh bin Mas��d At-Tam�mi (wafat 187 H), adalah seorang 
Imam besar dari dari kalangan atba�ut t�bi��n yang sangat terpercaya dalam 
meriwayatkan hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan seorang ahli 
ibadah (lihat kitab �Taqr�but Tahdz�b�, hal. 403).
[27]. Dinukil oleh Imam Ibnu Rajab dalam kitab �J�mi�ul �Ul�mi Wal Hikam� (hal. 
464).
[28]. Dalam HR Muslim (no. 2720) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu . 


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke