Bismillahi,

http://almanhaj.or.id/content/1934/slash/0

SHALAT ISYRAQ

Oleh
Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul

Shalat Isyraq adalah permulaan shalat Dhuha, di mana waktu shalat Dhuha itu
dimulai dari terbitnya matahari.

Penetapan penamaan shalat ini pada waktu shalat Dhuha sebagai shalat Isyraq
diperoleh dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhu.

Dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, bahwa Ibnu Abbas tidak shalat Dhuha.
Dia bercerita, lalu aku membawanya menemui Ummu Hani' dan kukatakan :
"Beritahukan kepadanya apa yang telah engkau beritahukan kepdaku". Lalu Ummu
Hani berkata : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah masuk ke
rumahku untuk menemuiku pada hari pembebasan kota Mekkah, lalu beliau minta
dibawakan air, lalu beliau menuangkan ke dalam mangkuk besar, lalu minta
dibawakan selembar kain, kemudian beliau memasangnya sebagai tabir antara
diriku dan beliau. Selanjutnya, beliau mandi dan setelah itu beliau
menyiramkan ke sudut rumah. Baru kemudian beliau mengerjakan shalat delapan
rakaat, yang saat itu adalah waktu Dhuha, berdiri, ruku, sujud, dan duduknya
adalah sama, yang saling berdekatan sebagian dengan sebagian yang lainnya".
Kemudian Ibnu Abbas keluar seraya berkata : "Aku pernah membaca di antara
dua papan, aku tidak pernah mengenal shalat Dhuha kecuali sekarang.

"Artinya : Untuk bertasbih bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi"
[Shaad : 18]

Dan aku pernah bertanya : "Mana shalat Isyraq ?" Dan setelah itu dia berkata
: "Itulah shalat Isyraq" [Diriwayatkan oleh Ath-Thabari di dalam Tafsirnya
dan Al-Hakim [1]

Mengenai keutamaan shalat Dhuha di awal waktunya yang ia adalah shalat
Isyraq, telah diriwayatkan beberapa hadits berikut ini.

Dari Abu Umamah, dia bercerita, Rasulullah Shallalllahu 'alaihi wa sallam
bersabda.

"Artinya : Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh di masjid dengan
berjama'ah, lalu dia tetap diam di sana sampai dia mengerjakan shalat Dhuha,
maka baginya seperti pahala orang yang menunaikan ibadah haji atau umrah,
(yang sempurna haji dan umrhanya)" [Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani]

Dan di dalam sebuah riwayat disebutkan.

"Artinya : Barangsiapa mengerjakan shalat Shubuh berjama'ah, lalu dia duduk
sambil berdzikir kepada Allah sampai matahari terbit ." [Diriwayatkan oleh
Ath-Thabrani] [2]

[Disalin dari kitab Bughyatul Mutathawwi Fii Shalaatit Tathawwu, Edisi
Indonesia Meneladani Shalat-Shalat Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam, Penulis Muhammad bin Umar bin Salim Bazmul, Penerbit Pustaka Imam
Asy-Syafi'i]
_________
Foote Note
[1]. Atsar hasan lighairihi. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir di dalam Tafsirnya
XXIII/138 -al-Fikr dari dua jalan.

Pertama :
Dari Mus'ar bin Abdul Karim, dari Musa bin Abi Katsir, dari Ibnu Abbas ..
yang senada dengannya. Di dalam sanadnya ini terdapat inqitha : Musa bin Abi
Katsir tidak pernah mendengar dari Ibnu Abbas. Lihat kitab At-Taqriib hal.
553, dimana dia menempatkannya di tingkatan ke enam, dan mereka itu adalah
orang-orang yang tidak ditetapkan pertemuan mereka dengan salah seorang
sahabat, sebagaimana yang ditegaskan di dalam mukadimah.

Kedua.
Dari Sa'id bin Abi Arubah, dari Abul Mutawakkil, dari Ayyub bin Shafwan,
dari Abdullah bin Al-Harits bin Naufal bahwa Ibnu Abbas . dan seterusnya.

Di dalam sanadnya terdapat Sa'id, seorang muadllis lagi telah mengalami
pencampuran (ikhtilath). Abul Mutawakkil adalah Al-Mutawakkil. Biografinya
ada di dalam Al-Jarh wat Ta'diil (VIII/372, di mana padanya tidak disebutkan
jarh dan ta'dil. Dan biografinya ada di dalam kitab, Ta'jiilul Manfa'ah hal.
391, dan telah ditetapkan tentang kemuliaannya. Dan ketetapan tersebut
dinukil dari Abu Hatim. Tetapi tidak demikian di dalam kitabnya. Bisa jadi
terjadi kekeliruan pandangan ada biografi berikut di dalam kitabnya, Al-Jarh
wat Ta'diil. Wallahu a'lam.

Ayyub memiliki biografi di dalam kitab, Al-Jarh wa Ta'diil II/250, dan tidak
disebutkan jarh dan ta'dil pada dirinya.

Juga diriwayatkan oleh Al-Hakim di dalam kitab Al-Mustadrak (tha/53),
melalui jalan Sa'id bin Abi Arubah,dari Ayyub bin Shafwan, dari Abdullah bin
Al-Harits bahwa Ibnu Abbas . dan seterusnya.

Dapat saya katakan, di dalam sanadnya terdapat Sa'id dan Ayyub, dan tidak
disebutkan nama Al-Mutawakkil. Dan ini merupakan bentuk takhlith (percampur
adukan) yang dilakukan oleh Sa'id.

Dengan kedua sanad di atas, atsar ini naik ke tingkat hasan lighairihi.
Ketetapan tersebut semakin kuat oleh beberapa syahd berikut ini.

[a]. Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq di dalam kitab Al-Mushannaf III/79, dari
Ma'mar, dari Atha Al-Khurasani, dia bercerita, Ibnu Abbas pernah berkata :
"Di dalam diriku masih terus dihinggapi sedikit keraguan sehingga aku
membaca.

"Artinya : Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih
bersamanya (Dawud) di waktu petang dan pagi" [Shaad : 18]

Dapat saya katakan, ini adalah sanda hasan kepada Atha, hanya saja riwayat
Atha dari para sahabat itu bersifat mursal munqathi [Tahdziibut Tahdziib
VII/212]

[b]. Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani di dalam kitab Al-Mu'jamul Kabiir
XXIV/406. Juga di dalam kitab Al-Ausath VI/63-64-Majma'ul Bahrain melalui
jalan Abu Bakar Al-Hadzali dari Atha bin Abi Rabah, dari Ibnu Abbas dia
bercerita : "Aku pernah diperintahkan melalui ayat ini, tetapi aku tidak
mengerti apa itu Al-Asyiyyi wal Al-Isyraaq, sehingga Ummu Hani binti Abi
Thalib memberitahuku bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah
masuk menemuinya, lalu minta dibawakan air di dalam mengkuk besar,
seakan-akan aku melihat bekas adonan di dalamnya, lalu beliau berwudhu',
untuk selanjutnya beliau berdiri dan mengerjakan shalat Dhuha. Kemudian
beliau berkata : "Wahai Ummu Hani, ini adalah shalat Isyraq"

Dapat saya katakana, Abu baker Al-Hadzali adalah seorang yang haditsnya
matruk, sebagaimana yang disebutkan di dalam kitab At-Taqriib, hal. 625. Dan
perafa'annya adalah munkar. Dan yang benar adalah mauquf.

[c]. Dan disana terdapat beberapa syahid lainnya yang disebutkan oleh
As-Suyuthi di dalam kitab, Ad-Durrul Mantsuur, VII/150-151. Dan lihat juga,
Al-Mushannaf, Ibnu Abi Syaibah II/407-408

[2]. Hadits hasan. Yang takhrijnya akan diberikan pada pembahasan
selanjutnya tentang shalat Dhuha



From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf
Of ari jatmiko Jatmiko
Sent: 01 Agustus 2011 10:02
To: [email protected]
Subject: [assunnah] Dua Rakaat Stelah Matahari Terbit

Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuhu
Afwan mau nanya pada ikhwan-ikhwan sekalian, kemungkinan ada yang tahu
mengenai Anjuran sholat 2 rakaat dalam riwayat tentang amalan di bulan
romadhon yaitu anjuran setelah shubuh untuk berdiam diri di masjid sampai
matahari nampak kemudian sholat 2 rakaat.
Apakah sholat tersebut termasuk kategori Dhuha atau bukan? mohon
penjelasannya.

syukkron
Harits - Srby

_____

Tidak ditemukan virus dalam pesan ini.
Diperiksa oleh AVG - www.avg.com
Versi: 10.0.1390 / Basis Data Virus: 1518/3801 - Tanggal Rilis: 31/07/2011


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke