RAMADHAN, BULAN BERDO'A

Oleh
Ustadz Rijal Yuliar
http://almanhaj.or.id/content/3149/slash/0

Allah Subhanahu wa Ta’ala befirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ
الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي
لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-Ku bertanya kepada-Mu (wahai Muhammad) tentang Aku,
maka (sampaikanlah) sesungguhnya Aku dekat, Aku menjawab permohonan
doa yang dipanjatkan kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi
perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu mendapatkan
petunjuk” [al-Baqarah/2:186]

SEBAB TURUNNYA AYAT
Para Ulama berbeda pendapat tentang kronologis sebab diturunkannya ayat ini.

A. Sebagian menyatakan bahwa ayat ini turun tatkala Sahabat bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apakah Rabb kita dekat, sehingga kita
melirihkan suara saat berdoa, ataukah Dia Subhanahu wa Ta’ala jauh
sehingga kita mengangkat suara dalam berdoa?”, maka Allah Subhanahu wa
Ta’ala menurunkan ayat ini.[1]

B. Adapun sebagian lain seperti ‘Atha’ bin Abi Rabâh menyatakan bahwa
ayat ini diturunkan sebagai jawaban bagi suatu kaum yang bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang waktu-waktu
dianjurkannya berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yakni ketika
turun ayat (Ghâfir/40:60) “Dan Rabb kalian berfirman “Berdoalah kalian
kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya untuk kalian”. Mereka
bertanya: “Waktu apa (kami melakukannya)?[2] maka kemudian turunlah
ayat di atas.[3]

PENJELASAN AYAT
A. Allah Subhanahu Wa Ta’ala Maha dekat dengan para hamba-Nya.
Demikianlah Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan kepada seluruh
umatnya bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha dekat. Kedekatan yang
sesuai kemuliaan dan keperkasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sesuai
dengan keagungan dan kesempurnaan Dzat-Nya Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُم فَإِنَّكُم
لاَتَدْعُونَ أَصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إِنَّهُ مَعَكُم إِنَّهُ سَمِيعٌ
قَرِيبٌ

Wahai sekalian manusia, kasihanilah diri kalian, kalian tidak berdoa
kepada Dzat yang tuli atau tidak ada, sesungguhnya kalian berdoa
kepada Dzat yang Maha mendengar, lagi Maha dekat”.[4]

Wajib atas setiap Muslim untuk beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala
Maha dekat lagi Maha mengabulkan doa. Allah Subhanahu wa Ta’ala dekat
kepada hamba yang berdoa, mendengarnya dan mengabulkannya kapanpun
Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki. Kedekatan itu adalah kedekatan
ilmu dan pengawasan-Nya, sesuai dengan kesempurnaan sifat bagi Allah
Subhanahu wa Ta’ala tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.[5]

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata “Sifat “kedekatan”
Allah Subhanahu wa Ta’ala ada dua macam; kedekatan dengan ilmu-Nya
(mengetahui) seluruh makhluk-Nya, dan kedekatan kepada hamba yang
beribadah serta berdoa sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan
doa dan memberikan pertolongan maupun taufik-Nya. Barangsiapa berdoa
kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hati yang konsentrasi dan doa
yang disyariatkan, serta tidak terhalangi dengan penghalang apapun
bagi terkabulnya doa tersebut; seperti memakan yang haram atau
selainnya, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berjanji untuk
mengabulkannya. Terlebih jika ia mengupayakan segala sebab
dikabulkannya doa (tersebut) yaitu dengan menjawab panggilan Allah
Subhanahu wa Ta’ala melalui ketaatan terhadap segala perintah-Nya dan
patuh menjauhi segala larangan-Nya baik dalam perkataan maupun
perbuatan disertai keimanan (tentunya) akan menyebabkan terkabulnya
doa”.[6]

B. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa hamba-Nya.
Dalam ayat di atas Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kepada
Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai keagungan, kemurahan
dan kedekatan-Nya kepada para hamba-Nya. Sebagaimana juga dalam ayat
lain “dan Rabb kalian berkata: “Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku
mengabulkannya untuk kalian…”.[7] Mujâhid dan Ibnul Mubârak
menjelaskan [8] makna “فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي ” yakni “hendaklah mereka
melaksanakan ketaatan kepada-Ku (Allah Subhanahu wa Ta’ala)”. Adapun
“وَلْيُؤْمِنُوا بِي ” maknanya “dan (hendaklah) mereka beriman
kepada-Ku” yakni hendaknya mereka beriman jika mereka menaati Allah
Subhanahu wa Ta’ala, sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala akan
melimpahkan pahala dan kemuliaan kepada mereka disebabkan ketaatan
itu. Sebagian lain mengatakan:

“فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي ” maknanya adalah “berdoalah kepada-Ku”
“وَلْيُؤْمِنُوا بِي ” maknanya “dan hendaknya mereka percaya bahwa Aku
mengabulkan doa mereka”.[9]

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan “Dengan kedua sebab ini, doa
akan dikabulkan, yakni dengan kesempurnaan nilai ketaatan terhadap
uluhiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan dengan kekuatan iman terhadap
rububiyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa menaati Allah
Subhanahahu wa ta’ala dalam semua perintah dan larangan-Nya, maka
tercapailah maksudnya dalam berdoa dan dikabulkan doanya, Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman [10] “Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala
mengabulkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih serta
menambah bagi mereka dari karunia-Nya”.[11]

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengakhiri ayat ini dengan
firman-Nya: “لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ” yakni “Semoga mereka
mendapatkan petunjuk yang lurus”. Jika mereka mentaatiku dan beriman
kepada-Ku mereka akan mendapatkan kebaikan di kehidupan dunia dan
akhirat mereka”.[12] serta petunjuk untuk senantiasa beriman dan
beramal shalih sehingga keburukan akan lenyap dari mereka .”[13]

C. Mengapa doa tidak dikabulkan?
Jika seseorang berkata : “Tidak jarang kita mendapatkan seseorang yang
berdoa namun tidak dikabulkan. Bukankah Allah Subhanahu wa Ta’ala
telah menjanjikan dalam firman-Nya “Aku akan mengabulkan seseorang
yang “menyeru” (berdoa) kepada-Ku.”” Sesungguhnya ungkapan tersebut
dapat diarahkan dengan dua penjelasan; yang pertama: “menyeru” di sini
berarti mengamalkan semua perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
anjurananjuran-Nya Subhanahu wa Ta’ala, sehingga maknanya adalah
“Sesungguhnya Aku dekat dengan hamba yang senantiasa menjalankan
perintah dan anjuran-Ku, Aku akan membalasnya dengan pahala”.
Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
“sesungguhnya doa adalah ibadah.” kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam membaca:

وَقَالَ رَبُكُم اذعُوبِي أَسْتَجِبْ لَكُم إِنَّ الَّذِيْنَ
يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

Sesungguhnya Rabb kalian memerintahkan: “Berdoalah kepada-Ku niscaya
akan Aku kabulkan doamu, sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan
diri untuk beribadah kepada-Ku akan masuk neraka jahannam dalam
keadaan hina.” [14]

Dan yang kedua: maknanya adalah “Aku mengabulkan seseorang yang berdoa
kepada-Ku jika Aku menghendaki”.[15]

Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa‘di rahimahullah berkata “menyeru (berdoa)
terbagi menjadi dua macam; doa ibadah dan doa permohonan”.[16] Para
Ulama menjelaskan bahwa doa permohonan mencakup makna doa ibadah, dan
doa ibadah memuat konsekuensi doa permohonan. Yakni barangsiapa
memohon sesuatu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia sedang
beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Adapun maksud doa ibadah
memuat konsekuensi doa permohonan, misalnya barangsiapa shalat, maka
itu mengandung permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar
shalatnya diterima dan diberikan pahala. Sehingga dengan demikian doa
permohonan mencakup (makna) doa ibadah dan doa ibadah memuat
konsekuensi doa permohonan.[17]

D. Beberapa etika dalam berdoa.
Mengingat pentingnya hal ini, para Ulama menjelaskan tentang syarat
serta etika dalam berdoa agar dikabulkan, sebagaimana tuntunan dalam
al-Qur‘ân dan Hadits.

Al-Baghawi rahimahullah berkata: “Ada etika dan syaratsyarat dalam
berdoa yang merupakan sebab dikabulkannya doa. Barangsiapa
memenuhinya, maka dia akan mendapatkan apa yang diminta dan
barangsiapa melalaikannya, dialah orang yang melampaui batas dalam
berdoa; sehingga doanya tidak berhak dikabulkan”.[18] Ibnul Qayyim
rahimahullah berkata “Kedua ayat berikut mencakup adab-adab berdoa
dengan kedua jenisnya (doa ibadah dan doa permohonan); yaitu firman
Allah Subhanahu wa Ta’ala :

ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ
الْمُعْتَدِينَ وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ
الْمُحْسِنِينَ

Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah)
memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan
diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah
amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
[al-A‘raf/7:55-56][19]

Dan Ibnu Katsîr rahimahullah membawakan sejumlah hadits-hadits yang
berkaitan dengan adab-adab tersebut dalam menafsirkan ayat di awal
pembahasan ini. Di antara yang beliau isyaratkan yaitu: [20]

1. Mengangkat kedua tangan sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari
Salmân al-Fârisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ إِنَّ اللّهَ حَيِيٌ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ
إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha pemalu lagi Maha pemurah
terhadap seorang hamba yang mengangkat kedua tangannya (berdoa),
kemudian kedua tangannya kembali dengan kosong dan kehampaan (tidak
dikabulkan).[21]

2. Mengawali doa dengan pujian terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala,
kemudian Salawat dan salam kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, selanjutnya bertawasul kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
tawasul yang disyariatkan, seperti dengan bertauhid kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, dengan asma dan sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala,
dengan amal shalih dan selainnya.[22] Semua itu hendaknya dilakukan
dengan suara lirih dan tidak berlebihan sebagaimana hadits Abu Musa
al-Asy‘ari Radhiyallahu ‘anhu di muka.

3. Berprasangka baik terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Diriwayatkan
dalam sebuah hadits qudsi dari Anas Radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَقُولُ اللَّه عَزَّوَجَلَّ : يَقُولُ أَنَّا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِيْ
وَأَنَا مَعَهُ إِذَا دَعَانِيْ

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Aku (akan) sebagaimana hamba-Ku
menyangka tentang-Ku, dan Aku akan bersamanya jika ia berdoa
kepada-Ku”[23]

Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Yakni Aku (Allah Subhanahu wa
Ta’ala) Maha mampu melakukan apa yang disangkakan oleh hamba-Ku bahwa
Aku mampu melakukannya.” Beliau juga membawakan perkataan al-Qurthûbi
rahimahullah bahwa maknanya adalah “Menyangka dikabulkannya doa,
diterimanya taubat, diberikan ampun melalui istighfâr, serta menyangka
dibalas dengan pahala atas ibadah yang dilakukan sesuai
syarat-syaratnya sebagai keyakinan akan kebenaran janji Allah
Subhanahu wa Ta’ala.24

4. Menjauhi sikap tergesa-gesa mengharapkan terkabulnya doa; karena
ketergesa-gesaan itu akan berakhir dengan sikap putus asa sehingga ia
tidak lagi berdoa. Na‘ûdzubillâh.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ يُسْتَجَابُ لأَِحَدِكُم مَالَم يَعْجَلْ يَقُولُ
دَعَوْتُ فَلَم يُتَجَبْ لِي

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah bersabda “Akan
dikabulkan (doa) seseorang di antara kalian selama ia tidak
tergesa-gesa, yakni ia berkata ‘aku telah berdoa namun belum
dikabulkan bagiku’ “.[25]

Dalam lafadz lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ لاَيَزَالُ يُستَجَابُ لِلعَبْدِ مَالَمْيَدْع ُبِإِثْم أَوْ
قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَالَمْ يَسْتَعْجِل قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا
الاِستِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ
يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ

Senantiasa akan dikabulkan (doa) seorang hamba selama tidak meminta
dosa atau memutuskan tali kekeluargaan, selama ia tidak tergesa-gesa.
Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Wahai
Rasulullah , apa yang dimaksud tergesa-gesa?” Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: “Dia berkata ‘aku telah berdoa, aku telah
berdoa namun aku tidak pernah mendapatkan doaku dikabulkan’, kemudian
ia berputus asa dan meninggalkan berdoa.[26]

5. Membersihkan jiwa raga dari berbagai kenistaan dan dosa merupakan
satu hal yang mungkin terlalaikan. Hati yang kotor dengan berbagai
maksiat atau raga yang tidak bersih dari keharaman akan menghalangi
terkabulnya doa

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيًّهَاالنَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ
إِلاَّ طَيِّبًا وَإنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِيْنَِ بِمَا أَمَرَ
بِهِ الْمُرْسَلِيْنَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّيسُلُ كُلُوا مِنْ
الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
وَقَالَ يَاأَيُّهَاالذِنيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا
رَزَقْنَا كُمْ ثُمَّ دَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ
أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَارَبِّ يَارَبِّ
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمََِشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ
وَغُذِيَ بِالْحَرَامٌ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : “Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu
wa Ta’ala baik dan tidak menerima melainkan yang baik, sesungguhnya
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kaum Mukminin dengan apa yang
telah diperintahkannya kepada para rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala
berfirman: “Wahai para rasul makanlah kalian dari yang baik dan
beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kalian
kerjakan.” Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman: “Wahai
orang-orang yang beriman makanlah rizki yang baik dari apa yang
diberikan kepada kalian…”, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam menyebutkan seorang musafir yang berjalan jauh sehingga kumal
rambutnya, lusuh dan berdebu, dia mengangkat kedua tangannya ke arah
langit seraya berdoa menyeru: “Wahai Rabbku, wahai Rabbku…”, namun
makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan diberi dari
yang haram, bagaimana mungkin akan dikabulkan doanya?”.[27]

6. Yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha mengabulkan doa selama
tidak ada sesuatu pun yang menghalanginya. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr
Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:

ادْعُوا اللَّهَ وَاَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِاْللإِجَاَبَةِ
وَاعْلَمُواأَنَّ اللَّهَ لاَيَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ
لاَهٍ

Berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kalian yakin (akan)
dikabulkan, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa (seorang hamba)
yang hatinya alpa serta lalai”. [28]

Dalam hadits lain dari Abu Sa‘id Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu bahwa
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: [29]

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيْهَا إثْمٌ
وَلاَقَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّأَعْطَاهُاللَّهُ بِهَاإِحْدَى ثَلاَثٍ
إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّ خِرَهَا لَهُ
فِي الآخِرَةِ وَإِمَّا اَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا
قَالُوا إِذًا نُكثِرُ قَالَ اللَّهُ أَكْثَرُ

Tidaklah seorang Muslim berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan
sebuah doa yang tidak ada dosa atau pemutusan ikatan kekeluargaan di
dalamnya, melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberinya satu di
antara tiga perkara; 1) boleh jadi Allah Subhanahu wa Ta’ala segera
mengabulkan doa tersebut, 2) atau menyimpan sebagai tabungan baginya
di akhirat, 3) atau menyelamatkannya dari kejelekan yang setara dengan
doa yang dipanjatkannya.” Para sahabat berkata : “Jika demikian, kami
akan memperbanyak (doa).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab: “Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih banyak.[30]”

Ibnu Katsîr rahimahullah berkata : “Yang dimaksud adalah bahwa Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan doa seseorang, dan Allah
Subhanahu wa Ta’ala tidak disibukkan dengan sesuatu apapun. Dia
Subhanahu wa Ta’ala Maha mendengar doa. Dalam hal ini terdapat anjuran
(memperbanyak) berdoa karena tidak satu pun yang luput dari-Nya
Subhanahu wa Ta’ala .”[31] Terlebih lagi pada saat kita tengah
mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui ibadah puasa
di bulan Ramadhan. Hendaknya kita mengambil kesempatan yang istimewa
ini dengan memperbanyak doa bagi kebaikan kita di dunia dan akhirat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَ ثٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَ تُهُمْ : الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ،
وَاْلإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ

Ada tiga orang yang tidak tertolak doanya; seorang yang berpuasa
sehingga berbuka, seorang pemimpin yang adil, seorang yang
terdzalimi.[32]

Sehingga setelah ayat-ayat tentang shiyâm (berpuasa) dan kemuliaan
bulan Ramadhan, Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan ayat utama
pembahasan ini (al-Baqarah/2:186) sebagai petunjuk bahwa seorang
Mukmin hendaknya selalu mendekatkan dirinya kepada Allah Azza wa Jalla
dengan segala bentuk ibadah termasuk dengan berdoa. Ibnu Katsîr
rahimahullah berkata: “Disisipkannya ayat ini di tengah-tengah
penjelasan hukum-hukum shiyâm merupakan petunjuk sekaligus motivator
untuk (banyak) berdoa pada saat menyelesaikan bilangan puasa, bahkan
pada setiap moment berbuka puasa sebagaimana hadits di atas. Marilah
kita semua memperbanyak doa; sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala murka
terhadap yang orang yang tidak berdoa kepada-Nya sebagaimana
firman-Nya:

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ الَّذِينَ
يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ

dan Rabmu berkata: “Berdoalah kepada-Ku,sesungguhnya orang-orang yang
menyombongkan diri dari berdoa kepada-Ku akan masuk neraka Jahannam
dalam keadaan hina dina.”[33]

Demikian pula dijelaskan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah
Radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “ مَنْ لَم يَدْعُ اللَّه يَغْضَبْ عَلَيْه” yang artinya:
“Barangsiapa yang tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka
Allah Subhanahu wa Ta’ala marah terhadapnya”.[34] Ibnul Mubârak
Radhiyallahu ‘anhu berkata :

الرّحْمَنُ إِذَا سُئِلُ أَعْطَى، وَالرَّحِيْمُإِذَا لَمْ يُسْأَلْ يغْضَبُ

Ar-Rahmân (Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia diminta akan memberi,
dan Ar-Rahîm (Allah Subhanahu wa Ta’ala) jika Dia tidak diminta akan
marah.[35]

Ya Allah Subhanahu wa Ta’ala, aku berlindung kepada Engkau dari ilmu
yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyu‘, dari jiwa yan
tidak puas, serta dari doa yang tidak dikabulkan”.[36]

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 06-07/Tahun XIII/1430/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]
_______
Footnote
[1]. J�mi� ul Bay�n f� Ta�w�lil-Qur��n 2/164-165
[2]. Dalam sebuah riwayat Qat�dah berkata: �ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala 
menurunkan surah. Gh�fir : 60 beberapa orang berkata �Bagaimanakah
kami berdoa wahai Nabi Allah (Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam)?� J�mi` 
ul-Bay�n f� Ta`w�lil-Qur`�n 2/166
[3]. J�mi�ul-Bay�n f� Ta�w�lil-Qur��n 2/165, Tafsir Al-Qur��nil-�azh�m 1/285
[4]. HR al-Bukh�ri 2992/4202/6384/6610/7386, Abu D�wud 1526 dari Abu Musa 
Al-Asy�ari Radhiyallahu 'anhu
[5]. Syarah al-�Aq�dah Al-W�sithiyyah, karya Syaikh Muhammad Khalil Harras hlm: 
230
[6]. Tais�rul-Kar�mir-Rahm�n, hal: 93
[7]. Qs Gh�fir : 60, terdapat pula ayat-ayat serupa seperti Qs al-Anf�l : 9, 
Y�suf : 34, al-Anbiy�� : 76, asy-Sy�ra : 26, H�d : 61,
Saba� : 50, dll
[8]. J�mi�ul-Bay�n f� Ta�w�lil-Qur��n 2/166; dengan sedikit penyesuaian susunan 
konteks dalam bahasa Indonesia
[9]. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Raja� al-Khurasani. Lihat J�mi�ul-Bay�n 
f� Ta�w�lil-Qur��n 2/166
[10]. Qs Asy-Sy�ra/42:26
[11]. Iqtidh�ush-Shir�thal-Mustaq�m 2/789; pasal hukum tawassul kepada Allah l 
dengan amal shalih
[12]. Tafsir al-Kab�r 3/93
[13]. Tais�rul-Kar�mir-Rahm�n, hal: 93
[14].Shah�h Sunan Tirmidzi 2590, Shah�h Sunan Ibnu M�jah 3086 dari an-Nu�m�n 
bin Basy�r Radhiyallahu 'anhu
[15]. J�mi�ul-Bay�n f� Ta�w�lil-Qur��n 2/167
[16]. Tais�rul-Kar�mir-Rahm�n, hal: 93
[17]. At-Tamh�d Li Syarhi Kitab at-Tauhid bab istigh�tsah dengan selain Allah 
Subhanahu wa Ta'ala hal : 180
[18]. Ma��limut-Tanz�l 1/156
[19]. Bad�i�ul Faw�id 3/2
[20]. Untuk maklumat lebih luas tentang etika dalam berdoa lihat juga kitab 
�Tashh�hud-du`a� karya Syaikh Bakr Abu Zaid
[21] Shah�h Sunan at-Tirmidzi 2819, Shah�h Sunan Ibnu M�jah 3117
[22]. Lihat klasifikasi tawasul dalam kitab �At-Tauhid� karya Syaikh Sh�lih 
al-Fauz�n, hal: 68-71
[23]. HR. al-Bukh�ri 7405, Muslim 6805. Ahmad 13192 dengan sanad shah�h
[24]. Fathul Bari; bab firman Allah wayuhadzdzirukummull�hu nafsahu 13/397
[25]HR. al-Bukh�ri 6340, Muslim 6934, Abu D�wud 1484, Ibnu M�jah 3853, Ahmad 
10312
[26]. HR. Muslim 6936
[27]. HR. Muslim 2346, at-Tirmidzi 2989.
[28]. Shah�h Sunan Tirmidzi 2766, al-Mustadrak 1817 keduanya dari hadits Abu 
Hurairah z, lihat Silsilah Shah�hah no: 594
[29]. Bukh�ri dalam Al-Ad�bul-Mufrad no: 547, Shah�h Sunan at-Tirmidzi 2728, 
Ahmad: 11133, al-H�kim dalam al-Mustadrak: 1816
[30]. Ath-Thibi berkata �yakni Allah Subhanahu wa Ta'ala lebih banyak (lagi) 
mengabulkan...�. Lihat Tuhfatul Ahwadzi 10/25
[31]. Tafsir al-Qur��nul-�Azh�m 1/286
[32]. HR. Ibnu Hibb�n 5/298 no: 3419. Lihat Silsilah Shah�hah 4/406 no: 1797
[33]. Qs.Gh�fir/40:60
[34]. Shah�h Sunan Ibnu M�jah 3085. Dihasankan oleh Syaikh al-Alb�ni dalam 
Silsilah Shah�hah no: 2654
[35]. Taisirul-�Az�z al-Ham�d hal: 15
[36]. HR. Muslim 6906 

------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke