BEBERAPA KEKELIRUAN KAUM MUSLIMIN SEPUTAR LAILATUL QADAR
Oleh
Syaikh Masyhur Hasan Alu Salman
http://almanhaj.or.id/content/2826/slash/0
Berikut ini, kami ketengahkan sebuah karya tulis perihal beberapa kesalahan
yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin berkaitan dengan Lailatul Qadar.
Makalah yang ditulis oleh Syaikh Masyhur bin Hasan, kami terjemahkan dari
Al-Ashalah, Edisi 3/15 Sya’ban 1413 H halaman 76-78. Semoga bermanfaat dan
sebagai peringatan bagi kami serta segenap kaum muslimin. (Redaksi).
Kesalahan-kesalahan dan pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh beberapa
kaum muslimin dalam masalah puasa dan shalat tarawih sangat banyak; baik dalam
masalah keyakinan, hukum atau perbuatan. Sebagian mengira, bahkan meyakini
beberapa masalah yang bukan dari Islam, sebagai rukun Islam. Mereka mengambil
sesuatu yang rendah (dalam urusan puasa dan lainnya), sebagai pengganti yang
lebih baik, karena mengikuti orang-orang Yahudi. Padahal Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam telah melarang menyerupai mereka. Bahkan beliau menekankan
serta menegaskan, agar (kaum Muslimin) menyelisihi mereka.
Diantara kesalahan ini, ada yang khusus berkaitan dengan lailatul qadar.
Kesalahan ini kami bagi menjadi dua bagian.
Pertama : Salah Dalam Berpandangan Dan Berkeyakinan.
Diantaranya:
1. Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa tanda
yang dapat diraih oleh sebagian orang. Lalu orang-orang ini merangkai
cerita-cerita khurafat dan khayal. Mereka mengaku melihat cahaya dari langit,
atau mereka dibukakan pintu langit dan lain sebagainya.
Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar, ketika beliau rahimahullah menyebutkan dalam
Fathul Bari 4/266, bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar
timbul kesungguh-sungguhan dalam mencarinya. Berbeda jika malam qadar tersebut
ditentukan, maka kesungguhansungguhan hanya sebatas pada malam tertentu itu.
Kemudian Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ath-Thabari rahimahullah, bahwa beliau
rahimahullah memilih pendapat (yang menyatakan, pent.), semua tanda itu
tidaklah harus terjadi. Dan diraihnya lailatul qadar itu tidak disyaratkan
harus dengan melihat atau mendengar sesuatu.
Ath Thabari lalu mengatakan,”Dalam hal dirahasiakannya lailatul qadar, terdapat
bukti kebohongan orang yang beranggapan, bahwa pada malam itu akan ada hal-hal
yang dapat terlihat mata, apa yang tidak dapat terlihat pada seluruh malam yang
lain. Jika pernyataan itu benar, tentu lailatul qadar itu akan tampak bagi
setiap orang yang menghidupkan malam-malam selama setahun, utamanya malam-malam
Ramadhan.”
2. Perkataan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat (sudah
tidak ada lagi, pent). Al Mutawalli, seorang tokoh madzhab Syafi’i dalam kitab
At Tatimmah telah menceritakan, bahwa pernyataan itu berasal dari kaum Rafidhah
(Syi’ah). Sementara Al Fakihani dalam Syarhul Umdah telah menceritakan,
bahwasanya berasal dari madzhab Hanafiyah.
Demikian ini merupakan gambaran rusak dan kesalahan buruk, yang dilandasi oleh
pemahaman keliru terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika
ada dua orang yang saling mengutuk pada lailatul qadar,
أِنَّّها رُفِعتْ
"Sesungguhnya lailatul qadar itu sudah terangkat"
Pendalilan (kesimpulan) ini terbantah dari dua segi.
a. Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan kata “terangkat”, yaitu
terangkat dari hatiku, sehingga aku lupa waktu pastinya; karena sibuk dengan
dua orang yang bertengkar ini.
Dikatakan juga (maksud kata terangkat, pent.), yaitu terangkat barakahnya pada
tahun itu. Dan maksudnya, bukanlah lailatul qadar itu diangkat sama sekali. Hal
itu ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan Imam Abdur Razaq rahimahullah
dalam Mushannaf-nya 4/252, dari Abdullah bin Yahnus, dia berkata,”Aku berkata
kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,‘Mereka menyangka, bahwa lailatul qadar
itu sudah diangkat’,” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, "Orang yang
mengatakan hal itu telah berbuat bohong."
b. Keumuman hadits yang mengandung dorongan untuk menghidupkan malam qadar dan
penjelasan tentang keutamaannya.
Seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dan lainnya,
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَة القَدرِ أِعيمَا نًا واحتسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّّّمَ
مِنْ ذَنْبهِ
"Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar karena iman dan karena
mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat".
Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah,bahwa lailatul qadar itu ada.
Dan lailalatul qadar itu terlihat. Dapat dibuktikan oleh siapapun yang
dikehendaki dari keturunan Adam, (pada) setiap tahun di bulan Ramadhan,
sebagaimana telah jelas melalui hadits-hadits ini, dan melalui beritaberita
dari orang shalih tentang lailatul qadar. Penglihatan orang-orang shalih
tersebut tentang lailatul qadar tidak bisa dihitung.”
Saya (Syaikh Masyhur) mengatakan: Ya, kemungkinan diketahuinya lailatul qadar
itu ada. Banyak tanda-tanda yang telah diberitahukan oleh Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam, bahwa lailatul qadar itu, adalah satu malam diantara
malam-malam Ramadhan. Dan mungkin, demikian ini maksud perkataan Aisyah
radhiyallahu a’nha pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan beliau
menshahihkannya,
قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّّهِ أَرَأَيْت أِنْ عَلِمْتُ أَيَّّ لَيْلةُ الْقَدْر مَا
أَقُو لُ فِيهَا
“Aku Katakan,”Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui (adanya) malam itu
(sebagai) lailatul qadar, apa yang kuucapkan pada malam itu?”
Dalam hadits ini -sebagaimana dikatakan Imam Syaukani rahimahullah dalam Nailul
Authar 3/303 terdapat bukti, kemungkinan lailatul qadar dapat diketahui dan
(juga bukti, pent.) tentang tetap adanya malam itu.”
Az Zurqani rahimahullah mengatakan dalam syarah Muwaththa’ 2/491, "Barangsiapa
yang menyangka, bahwa makna –yang terdapat pada hadits di atas, (yaitu)
lailatul qadar sudah diangkat- yakni sudah tidak ada lagi, maka dia keliru.
Kalau seandainya benar seperti itu, tentulah kaum muslimin tidak diperintahkan
untuk mencarinya. Hal ini dikuatkan oleh kelanjutan hadits,
عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ
"Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) [1] menjadi lebih
baik bagi kalian".
Karena dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan orang tertuntut
untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh. Hal ini berbeda jika
pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara jelas".
Kesimpulannya, lailatul qadar tetap ada sampai hari kiamat. Sekalipun penentuan
tepatnya kejadian tersebut dirahasiakan, dalam arti, tetap tidak dapat
menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan tentang waktunya.
Meskipun pendapat yang rajih (terkuat), bahwa lailatul qadar ada pada sepuluh
malam terakhir bulan Ramadhan dan dalil-dalil menguatkan, bahwasanya dia adalah
malam duapuluh tujuh, akan tetapi memastikannya dengan cara yang yakin
merupakan perkara sulit. Allahu a’lam.
Kedua : Kesalahan-Kesalahan Dalam Amal Perbuatan Dan Tingkah Laku.
Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada lailatul qadar itu banyak
sekali. Hampir tidak ada yang bisa selamat, kecuali yang dipelihara Allah.
Diantaranya,
1. Mencari dan menyelidiki keberadaannya dan tersibukkan dengan mengintai
tanda-tanda lailatul qadar, sehingga lalai beribadah ataupun berbuat taat pada
malam itu.
Betapa banyak orang-orang yang shalat, kita lihat diantara mereka lupa membaca
Al Qur’an, dzikr dan lupa mencari ilmu karena urusan ini. Engkau dapati salah
seorang diantara mereka –menjelang terbitnya matahari memperhatikan matahari
untuk mengetahui, apakah sinar matahari ini terik ataukah tidak? Mestinya,
orang-orang ini memperhatikan pesan yang terdapat pada sabda Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.
عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ
"Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) menjadi lebih baik
bagi kalian".
Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa malam itu tidak ditentukan. Para ahli
ilmu menarik kesimpulan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa
dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu lebih baik. Mereka mengatakan, “Hikmah
dalam hal itu, agar seorang hamba bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada
tiap-tiap malam dengan harapan agar bertepatan dengan lailatul qadar. Berbeda
jika lailatul qadar itu (telah) ditentukan. Maka, sungguh amal itu hanya akan
diperbanyak (pada) satu malam saja, sehingga ia luput dari beribadah pada malam
lainnya, atau berkurang. Bahkan sebagian ahli ilmu mengambil satu faidah dari
sabda Nabi Shallallalhu ‘alaihi wa sallam tersebut, bahwa sebaiknya orang yang
mengetahui lailatul qadar itu menyembunyikannya -berdasarkan dalil- bahwa Allah
Azza wa Jalla telah mentaqdirkan kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi was allam
untuk tidak memberitakan ketepatan waktunya. Sedangkan semua kebaikan ada pada
apa yang telah ditaqdirkan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka,
merupakan sunnah untuk mengikuti beliau dalam hal ini.
Dari uraian di atas, dapat diketahui kekeliruan orang-orang dalam giatnya
mereka shalat secara khusus, atau beribadah secara umum pada malam ke duapuluh
tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan, bahwa malam itu adalah
lailatul qadar, kemudian meninggalkan shalat dan tidak bersungguhsungguh
berbuat taat pada malam-malam lainnya.
Persangkaannya, bahwa mereka hanya akan mendapatkan ganjaran ibadah lebih dari
seribu bulan ketika menghidupkan malam ini (malam duapuluh tujuh, pent.) saja.
Kekeliruan ini membuat banyak orang melampaui batas dalam berbuat taat pada
malam ini. Anda bisa lihat, diantara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak
henti-hentinya shalat dengan memaksakan diri tanpa tidur. Bahkan mungkin ada
sebagian yang shalat, lalu memperlama shalatnya, sementara dia berjuang keras
melawan kantuknya. Dan sungguh, kami pernah melihat diantara mereka ada yang
tidur dalam sujud.
Dalam hal ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wasalam yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi
lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita
-berkat karunia dan nikmatNya Azza wa Jalla .
2. Diantara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk
mengatur acara, menyampaikan ceramah. Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid
dan nyanyian puji-pujian, sehingga lalai berbuatan taat. Anda bisa saksikan,
ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling ke masjid-masjid dengan
menyampaikan berita terkini, serta bagaimana upaya pemecahannya. Itu dilakukan
hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu keluar dari apa yang dimaksudkan
syari’at.
3. Diantara kekeliaruan mereka juga, yaitu mengkhususkan sebagian ibadah pada
malam itu seperti shalat khusus lailatul qadar.
Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat Tasbih secara berjama’ah tanpa
hujjah. Sebagian lagi -pada malam ini- melaksanakan shalat hifzhul Qur’an,
padahal tidak ada dasarnya.
Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan lailatul qadar
–yang dilakukan banyak kaum muslimin- sangat beragam dan banyak sekali. Kalau
kita kumpulkan dan kita selidiki, maka tentu pembicaraan ini menjadi panjang.
Apa yang kami sampaikan disini, baru sebagian kecil saja. (Insya Allah)
bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari al haq.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan
Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo
57183 Telp. 0271-7574821]
________
Footnote
[1]. Syarah shahih Muslim. Bab Fadlu Lailatul Qadar