Bacaan do’a qunut yang biasa dipakai sebagian kaum Muslimin yang berbunyi:

اَللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنِي 
فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ 
فَإِنَّكَ تَقْضِيْ وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ وَإِنَّهُ لاَ يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ 
(وَلاَ يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ) تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ.

“Artinya : Ya Allah berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau 
beri petunjuk, berilah aku perlindungan (dari penyakit dan apa yang tidak 
disukai) sebagaimana orang yang pernah Engkau lindungi, sayangilah aku 
sebagaimana orang yang telah Engkau sayangi. Berikanlah berkah terhadap apa-apa 
yang telah Engkau berikan kepadaku, jauhkanlah aku dari kejelekan apa yang 
Engkau telah takdirkan, sesungguhnya Engkau yang menjatuhkan hukum, dan tidak 
ada orang yang memberikan hukuman kepada-Mu. Sesungguhnya orang yang Engkau 
bela tidak akan terhina, dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. 
Mahasuci Engkau, wahai Rabb kami Yang Mahatinggi.

Sebenarnya lafazh do’a ini adalah lafazh do’a untuk qunut witir, sebagaimana 
yang telah diriwayatkan dari al-Hasan bin ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma. 

HR. Abu Dawud (no. 1425), at-Tirmidzi (no. 464), Ibnu Majah (no. 1178), 
an-Nasa-i (III/248), Ahmad (I/199, 200) dan al-Baihaqi (II/209, 497-498)

Sedang do’a yang ada di dalam kurung menurut ri-wayat al-Baihaqi. Hadits ini 
diriwayatkan dari Shahabat Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma: “Rasulullah 
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang aku 
baca dalam shalat witir…” 

Lihat Shahiih at-Tirmidzi (I/144), Shahih Ibni Majah (I/194), Irwaa-ul Ghalil, 
oleh Syaikh al-Albani (II/172) dan Shahiih Kitaab al-Adzkaar (I/176-177, no. 
155/125). Hadits shahih. Lihat kepada kitab saya yang berjudul: “Do’a dan Wirid 
Mengobati Guna-guna dan Sihir Menu-rut al-Qur’an dan as-Sunnah” hal. 193-194, 
cet. IV

Do’a qunut Witir dilakukan sebelum ruku’ pada raka’at terakhir dari shalat 
Witir, dengan dasar hadits Ubay bin Ka’ab: “Bahwa Rasulullah Shallallahu 
‘alaihi wa sallam melakukan qunut dalam shalat witir sebelum ruku’.[4]

Hukum qunut Witir ini adalah sunnah, disyari’atkan melakukan qunut Witir 
sepanjang tahun sebelum ruku’, sebagaimana hadits Hasan bin ‘Ali Radhiyallahu 
‘anhuma, dan riwayat ini shahih dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin 
Umar radhiyallahu ‘anhum, bahkan diriwayatkan dari Jumhur Shahabat, sebagaimana 
yang diri-wayatkan dari Ibrahim, dari ‘Alqamah: “Sesungguhnya Ibnu Mas’ud dan 
para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam (melakukan) qunut dalam shalat 
witir sebelum ruku’.” [5]

Dari Ibrahim an Nakha’i, ia berkata: ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu 
tidak pernah qunut Shubuh sepanjang tahun dan ia qunut Witir setiap malam 
se-belum ruku’. [6]

Abu Bakar Ibnu Abi Syaibah berkata: “Ini adalah atsar yang kami pegang.”
Ishaq bin Rahawaih memilih qunut (Witir) dilaksana-kan sepanjang tahun. [7]

QUNUT PADA PERTENGAHAN RAMADHAN SAMPAI AKHIR RAMADHAN
Disyari’atkan juga qunut pada pertengahan Ramadhan sampai akhir Ramadhan, 
berdasarkan riwayat Sahabat dan Tabi’in.

Dari ‘Amr bin Hasan, bahwasanya ‘Umar radhiyallahu anhu menyuruh Ubay 
radiyallahu ‘anhu mengimami shalat (Tarawih) pada bulan Ramadhan, dan beliau 
menyuruh Ubay radhiyallahu ‘anhu untuk melakukan qunut pada pertengahan 
Ramadhan yang dimulai pada malam 16 Ramadhan.[8]

Ma’mar berkata: “Sesungguhnya aku melaksanakan qunut Witir sepanjang tahun, 
kecuali pada awal Ramadhan sampai dengan pertengahan (aku tidak qunut), 
demikian juga dilakukan oleh al-Hasan al-Bashri, ia menyebutkan dari Qatadah 
dan lain-lain.[9]

Demikian juga dari Ibnu Sirin.[10]

Syaikh al-Albani berkata: “Boleh juga do’a qunut sesudah ruku’ dan ditambah 
dengan (do’a) melaknat orang-orang kafir, lalu shalawat kepada Nabi Shallallahu 
‘alaihi wa sallam dan mendo’akan kebaikan untuk kaum Musli-min pada pertengahan 
bulan Ramadhan, karena terdapat dalil dari para Shahabat radhiyallahu ‘anhum di 
zaman ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Terdapat keterangan di akhir hadits tentang 
Tarawihnya para Shahabat radhiyallahu ‘anhum, Abdurrahman bin ‘Abdul Qari 
berkata: ‘Mereka (para Shahabat) melaknat orang-orang kafir pada (shalat Witir) 
mulai pertengahan Ramadhan

اللَّهُمَّ قَاتِلِ الْكَفَرَةَ الَّذِيْنَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِكَ 
وَيُكَذِّبُوْنَ رُسُلَكَ وَلاَ يُؤْمِنُوْنَ بِوَعْدِكَ، وَخَالِفْ بَيْنَ 
كَلِمَتِهِمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمْ الرُّعْبَ، وَأَلْقِ عَلَيْهِمْ رِجْزَكَ 
وَعَذَابَكَ إِلَهَ الْحَقِّ.

“Artinya : Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mencegah manusia dari 
jalan-Mu, yang mendustakan Rasul-Rasul-Mu dan tidak beriman kepada janji-Mu. 
(Ya Allah) perselisihkanlah, hancurkanlah persatuan mereka, timpakanlah rasa 
takut dalam hati mereka, timpakanlah kehinaan dan siksa-Mu atas mereka. (Ya 
Allah) Ilah Yang Haq.”

Kemudian membaca shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendo’akan 
kebaikan bagi kaum Musli-min, kemudian memohon ampun bagi kaum Mukminin.

Setelah itu membaca: 

اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى 
وَنَحْفِدُ وَنَرْجُوْ رَحْمَتَكَ رَبَّنَا وَنَخَافُ عَذَابَكَ الْجِدَّ إِنَّ 
عَذَابَكَ لِمَنْ عَادَيْتَ مُلْحِقٌ.

"Artinya : Ya Allah, hanya kepada-Mu kami beribadah, untuk-Mu kami melakukan 
shalat dan sujud, kepadamu kami berusaha dan bersegera, kami mengharapkan 
rahmat-Mu, kami takut siksaan-Mu. Sesungguhnya siksaan-Mu akan menimpa 
orang-orang yang memusuhi-Mu.”

Kemudian takbir, lalu melakukan sujud.[11]
Atau setelah membaca:

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ...

Kemudian membaca:

اللَّهُمَّ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَلَكَ نُصَلِّيْ وَنَسْجُدُ وَإِلَيْكَ نَسْعَى 
وَنَحْفِدُ نَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَنَخْشَى عَذَابَكَ إِنَّ عَذَابَكَ 
بِالْكَافِرِيْنَ مُلْحِقٌ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْتَعِيْنُكَ، وَنَسْتَغْفِرُكَ، 
وَنُثْنِيْ عَلَيْكَ الْخَيْرَ، وَلاَ نَكْفُرُكَ، وَنُؤْمِنُ بِكَ، وَنَخْضَعُ 
لَكَ، وَنَخْلَعُ مَنْ يَكْفُرُكَ.

"Artinya : “Ya Allah, kepada-Mu kami beribadah, untuk-Mu kami melakukan shalat 
dan sujud, kepada-Mu kami berusaha dan bersegera (melakukan ibadah). Kami 
mengharapkan rahmat-Mu, kami takut kepada siksaan-Mu. Sesungguh-nya siksaan-Mu 
akan menimpa pada orang-orang kafir. Ya Allah, kami minta pertolongan dan 
memohon ampun kepada-Mu, kami memuji kebaikan-Mu, kami tidak ingkar kepada-Mu, 
kami beriman kepada–Mu, kami tunduk kepada-Mu dan meninggalkan orang-orang yang 
kufur kepada-Mu.” [12]

Do’a di akhir shalat witir [13]

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَأَعُوذُ بِمُعَافَاتِكَ 
مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ 
كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ.

"Artinya : Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridhaan-Mu dari 
kemarahan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari ancaman-Mu. Aku tidak mampu 
menghitung pujian dan sanjungan kepada-Mu, Engkau adalah sebagai-mana yang 
Engkau sanjungkan pada Diri-Mu sendiri [14]

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ، سُبْحَانَ 
الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ.

"Artinya : Mahasuci Allah Raja Yang Mahasuci, Mahasuci Allah Raja Yang 
Mahasuci, Mahasuci Allah Raja Yang Mahasuci. (Nabi Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam mengangkat suara dan memanjangkannya pada ucapan yang ketiga.)" [15]

http://almanhaj.or.id/content/1499/slash/0
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ridwan Uze <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 14 Oct 2011 04:04:17 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [assunnah] Tanya : tata cara qunut witir sebelum ruku

Assalamu'alaikum ustadz pembina yang saya hormati
Bagaimana tata cara do'a qunut yang dilakukan sebelum ruku..apakah dibaca 
antara setelah membaca surat pendek dan sebelum takbir menuju ruku?
Lantas kalo sholat witirnya 3 roka'at,yang afdhol dibaca di roka'at ke-2 atau 
ke-3? Syukron atas jawabanya

Kirim email ke