Sedikit tambahan tentang "Hukum mengutamakan Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam":
Al-Imam Ibnu Abil 'Izz menjelaskan dalam"Syarh al-'Aqidah at-Thohawiyah"ketika membahas perkataan al-Imam at-Thohawy : "wa sayyidul mursaliin" : Bahwa hadits yg telah disebutkan di bawah dan hadits lain yg semisal dengannya yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih Bukhari dan Muslim: لَا تُخَيِّرُونِي عَلَى مُوسَى "Janganlah kalian mengutamakan aku atas Musa" mengandung larangan mngutamakan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam secara khusus (dari salah seorang Nabi atau seluruhnya). Adapunmengutamakan Nabi Muhammad shallallaahu 'alaihi wasallam secara umum maka ini disyari'atkan, sebagaimana sabda Rasulullaah shallallaahu 'alaihi wasallam dalam hadits yg diriwayatkan oleh Abu Hurairah dalam Shahih Muslim: « أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ ». “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” "anak adam" pada hadits di atas adalah lafaz umum, berbeda dengan lafaz "Musa" dan"di antara para Nabi" pada hadits sebelumnya yg mengandung pengkhususan. Demikian, semoga dapat dipahami, wallaahu a'lam.. ________________________________ Dari: Arief Nuryanto <[email protected]> Kepada: [email protected] Dikirim: Selasa, 25 Oktober 2011 12:34 Judul: Re: [assunnah] Apa Benar Kitab "al-Manahi al-Lafdziyyah" Karya dari Syeikh Utsaimin? Wa'alaikumussalam warahmatullah wabarokaatuh Berikut saya kutip jawaban Ustadz Abu Hudzaifah, di blog beliau http://basweidan.wordpress.com/soal-jawab/ : Sep 24, 2011 @ 08:39:36 ------------------------------ Maksud syaikh Utsaimin rahimahullah adalah beliau sampai saat itu belum mengetahui adanya dalil yg mengatakan bahwa Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah makhluk paling afdhol SECARA MUTLAK DALAM SEMUA HAL. perhatikan: ‘DALAM SEMUA HAL’. Ini tidak berarti bahwa beliau bukan manusia paling afdhol, dan beliau juga tidak menafikan kalau Nabi adalah manusia paling afdhol secara mutlak dalam semua hal, mungkin saja beliau memang seperti itu, hanya saja syaikh belum mengetahui dalilnya. Pendapat Syaikh tadi cukup berdasar, karena dalam Shahihain disebutkan (berikut adalah lafazhnya Imam Bukhari): صحيح البخاري- طوق النجاة (6/ 59) عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ لُطِمَ وَجْهُهُ وَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِكَ مِنْ الْأَنْصَارِ لَطَمَ فِي وَجْهِي قَالَ ادْعُوهُ فَدَعَوْهُ قَالَ لِمَ لَطَمْتَ وَجْهَهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي مَرَرْتُ بِالْيَهُودِ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ وَالَّذِي اصْطَفَى مُوسَى عَلَى الْبَشَرِ فَقُلْتُ وَعَلَى مُحَمَّدٍ وَأَخَذَتْنِي غَضْبَةٌ فَلَطَمْتُهُ قَالَ لَا تُخَيِّرُونِي مِنْ بَيْنِ الْأَنْبِيَاءِ فَإِنَّ النَّاسَ يَصْعَقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُفِيقُ فَإِذَا أَنَا بِمُوسَى آخِذٌ بِقَائِمَةٍ مِنْ قَوَائِمِ الْعَرْشِ فَلَا أَدْرِي أَفَاقَ قَبْلِي أَمْ جُزِيَ بِصَعْقَةِ الطُّورِ Dari Abu Sa’id al Khudri radhiyallaahu ‘anhu, katanya: Ada seorang Yahudi datang kepada Nabi karena mendapat tamparan di wajahnya. Ia berkata: “Hai Muhammad, salah seorang Anshar sahabatmu telah menampar wajahku”. Kata Nabi: “Panggil orang itu”. Nabi lantas bertanya: “Mengapa kau tampar wajahnya?”. Jawabnya: “Ya Rasulallah, aku tadi lewat di depan orang-orang Yahudi, maka kudengar ia mengatakan: “Demi yang memilih Musa di atas sekalian manusia”. Maka sahutku: “Juga di atas Muhammad?!” Aku pun naik pitam sehingga kutampar dia. Kata Nabi: “Jangan kalian unggulkan aku di antara para Nabi… Pada hari kiamat nanti, manusia semuanya akan pingsan/mati, dan akulah yang pertama kali siuman/dihidupkan. Namun kudapati Musa tengah memegang salah satu tiang Arsy. Aku tidak tahu apakah dia telah siuman/dihidupkan sebelumku, atau ini sebagai balasan karena dia pernah pingsan di bukit Thur?” Nah, bukankah ini menunjukkan bahwa dalam kasus ini, nabiyullah Musa ‘alaihissalaam lebih dulu bangkit dari nabi, dan ini suatu kelebihan yg oleh Nabi sendiri diakui… Demikian pula gelar Musa sebagai Kaliimullah, orang yg diajak bicara oleh Allah secara langsung tanpa perantara Jibril di dunia… ini juga suatu kelebihan yg tidak dialami oleh Rasulullah. Ini menunjukkan adanya kelebihan tertentu yg dimiliki oleh Nabi-Nabi selain Rasulullah, yg tidak ada pada Rasulullah… Jadi, beliau adalah Nabi yg paling afdhal, namun bukan SECARA MUTLAK DALAM SETIAP HAL, wallahu a’lam. ------------------------- Pada 25 Oktober 2011 11:12, Dany Ramdani <[email protected]> menulis: > >Assalaamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, > >Ana ada beberapa pertanyaan sehubungan dengan adanya tulisan di sebuah blog. >Yang pertama, apakah benar ada kitab "al-Manahi al-Lafdziyyah" Karya dari >Syeikh Shalih Utsaimin Rahimahullah? >Disebutkan di blog tersebut bahwa pada kitab tersebut di atas di halaman 161, >penulis menyatakan bahwa: > >وَلاَ أَعْلَمُ إِلىَ سَاعَتيِ هَذِهِ اَنَّهُ جَاءَ أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَفْضَلُ اْلخَلْقِ مُطْلَقاً فيِ كُلِّ شَئٍْ > >“Dan saya tidak mengetahui sampai detik ini bahwa Muhammad adalah makhluk Allah yang lebih utama dari segala makhluk apa pun secara mutlak.” > >Yang kedua, kalo kitab itu memang benar karya Syaikh Shalih Utsaimin >Rahimahullah apakah ada kata-kata yg dipotong atau diselewengkan maknanya atau >bagaimana? Karena ana mencoba mencari terjemahan dari kitab tersebut diatas >belum menemukannya sampai saat ini. >Ana mohon penjelasan dari antum semua yg lebih faqih dalam memahami kitab2 >para ulama. >Terimakasih atas penjelasannya. > >Jazakallahu Khair, >Abu Naufal. > > > > > > __._,_.
