Wa'alaykumsalam 

#Ucapan Selamat di Hari Raya#

http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3182-ucapan-selamat-di-hari-raya.html

Apa yang sebaiknya kita ucapkan di hari raya kita, Idul Fithri dan Idul Adha? 
Adakah lafzah tertentu yang diucapkan kala itu? 

Perlu diketahui bahwa telah terdapat berbagai riwayat dari beberapa sahabat 
radhiyallahu ‘anhum bahwa mereka biasa mengucapkan selamat di hari raya di 
antara mereka dengan ucapan 
“Taqobbalallahu minna wa minkum” 
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).

Dari Jubair bin Nufair, ia berkata bahwa jika para sahabat Rasulullah 
shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan hari ‘ied (Idul Fithri atau Idul 
Adha, pen), satu sama lain saling mengucapkan, “Taqobbalallahu minna wa minka 
(Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian).” Al Hafizh Ibnu Hajar 
mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.[1]

Imam Ahmad rahimahullah berkata,

“Tidak mengapa (artinya: boleh-boleh saja) satu sama lain di hari raya ‘ied 
mengucapkan: Taqobbalallahu minna wa minka.”

Salah seorang ulama, Harb mengatakan, “Imam Ahmad pernah ditanya mengenai apa 
yang mesti diucapkan di hari raya ‘ied (‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha), apakah 
dengan ucapan, ‘Taqobbalallahu minna wa minkum’?” Imam Ahmad menjawab, “Tidak 
mengapa mengucapkan seperti itu.” Kisah tadi diriwayatkan oleh penduduk Syam 
dari Abu Umamah.

Ada pula yang mengatakan, “Apakah Watsilah bin Al Asqo’ juga berpendapat 
demikian?” Imam Ahmad berkata, “Betul demikian.” Ada pula yang mengatakan, 
“Mengucapkan semacam tadi tidaklah dimakruhkan pada hari raya ‘ied.” Imam Ahmad 
mengatakan, “Iya betul sekali, tidak dimakruhkan.”

Ibnu ‘Aqil menceritakan beberapa hadits mengenai ucapan selamat di hari raya 
‘ied. Di antara hadits tersebut adalah dari Muhammad bin Ziyad, ia berkata, 
“Aku pernah bersama Abu Umamah Al Bahili dan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi 
wa sallam lainnya. Jika mereka kembali dari ‘ied (yakni shalat ‘ied, pen), satu 
sama lain di antara mereka mengucapkan, ‘Taqobbalallahu minna wa minka’.” Imam 
Ahmad mengatakan bahwa sanad riwayat Abu Umamah ini jayyid.

‘Ali bin Tsabit berkata, “Aku pernah menanyakan pada Malik bin Anas sejak 35 
tahun yang lalu.” Ia berkata, “Ucapan selamat semacam ini tidak dikenal di 
Madinah.”

Diriwayatkan dari Ahmad bahwasanya beliau berkata, “Aku tidak mendahului dalam 
mengucapkan selamat (hari raya) pada seorang pun. Namun jika ada yang 
mengucapkan selamat padaku, aku pun akan membalasnya.” Demikian berbagai 
nukilan riwayat sebagaimana kami kutip dari Al Mughni[2].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Adapun tentang ucapan selamat 
(tah-niah) ketika hari ‘ied seperti sebagian orang mengatakan pada yang lainnya 
ketika berjumpa setelah shalat ‘ied, “Taqobbalallahu minna wa minkum wa 
ahaalallahu ‘alaika” dan semacamnya, maka seperti ini telah diriwayatkan oleh 
beberapa sahabat Nabi. Mereka biasa mengucapkan semacam itu dan para imam juga 
memberikan keringanan dalam melakukan hal ini sebagaimana Imam Ahmad dan 
lainnya. Akan tetapi, Imam Ahmad mengatakan, “Aku tidak mau mendahului 
mengucapkan selamat hari raya pada seorang pun. Namun kalau ada yang 
mengucapkan selamat padaku, aku akan membalasnya”. Imam Ahmad melakukan semacam 
ini karena menjawab ucapan selamat adalah wajib, sedangkan memulai 
mengucapkannya bukanlah sesuatu yang dianjurkan. Dan sebenarnya bukan hanya 
beliau yang tidak suka melakukan semacam ini. Intinya, barangsiapa yang ingin  
mengucapkan selamat, maka ia memiliki qudwah (contoh). Dan barangsiapa yang 
meninggalkannya, ia pun memiliki qudwah (contoh).”[3]

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum 
mengucapkan selamat hari raya? Lalu adakah ucapan tertentu kala itu?”

Beliau rahimahullah menjawab, “Ucapan selamat ketika hari raya ‘ied dibolehkan. 
Tidak ada ucapan tertentu saat itu. Apa yang biasa diucapkan manusia dibolehkan 
selama di dalamnya tidak mengandung kesalahan (dosa).”[4]

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apa hukum jabat tangan, saling 
berpelukan dan saling mengucapkann selamat setelah shalat ‘ied?”

Syaikh rahimahullah menjawab, “Perbuatan itu semua dibolehkan. Karena 
orang-orang tidaklah menjadikannya sebagai ibadah dan bentuk pendekatan diri 
pada Allah. Ini hanyalah dilakukan dalam rangka ‘adat (kebiasaan), memuliakan 
dan penghormatan. Selama itu hanyalah adat (kebiasaan) yang tidak ada dalil 
yang melarangnya, maka itu asalnya boleh. Sebagaimana para ulama katakan, 
‘Hukum asal segala sesuatu adalah boleh. Sedangkan ibadah itu terlarang 
dilakukan kecuali jika sudah ada petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya’.”[5]

Dari penjelasan di atas, berarti ucapan selamat hari raya itu bebas, bisa 
dengan ucapan “Selamat Hari Raya”, “Taqobbalallahu minna wa minkum” dan 
lainnya. Ucapan “Taqobbalallahu minna wa minkum” pun tidak dikhususkan saat 
Idul Fithri, ketika Idul Adha dianjurkan ucapan semacam ini sebagaimana kita 
dapat melihat dalam penjelasan berbagai riwayat di atas.

Satu catatan pula yang mesti diperhatikan, tidak ada pengkhususan di Idul 
Fithri untuk saling maaf memaafkan. Semacam sering kita dengar tersebar ucapan 
“Mohon Maaf Lahir dan Batin” saat Idul Fitrhi. Seolah-olah saat Idul Fithri 
hanya khusus dengan ucapan semacam itu. Ini sungguh salah kaprah. Idul Fithri 
bukanlah waktu khusus untuk saling maaf memaafkan. Waktu untuk saling memohon 
maaf itu luas. Ketika berbuat salah, langsung meminta maaf, itulah yang tepat. 
Tidak mesti di saat Idul Fithri. Karena jika dikhususkan seperti ini harus 
butuh dalil dari Al Qur’an dan Al Hadits. Buktinya, tidak ada satu dalil yang 
menunjukkan seperti ini.

Satu ucapan lagi yang keliru saat Idul Fithri, yakni ucapan “Minal ‘Aidin wal 
Faizin”. Ucapan ini dari segi makna kurang bagus. Arti dari ucapan tersebut 
adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Ini suatu kalimat yang rancu. Kita 
mau kembali ke mana? Apa pada ketaatan atau maksiat? Jika mengandung dua makna 
seperti ini hendaknya ditinggalkan. Karena bisa jadi orang memahami yang 
dimaksud adalah kita kembali pada maksiat. Artinya, ibadah hanya di bulan 
Ramadhan saja, setelah itu sah-sah saja untuk maksiat, sah-sah saja untuk 
tinggalkan shalat dan ibadah wajib lainnya. Akibat ucapan keliru, berujung pada 
amalan yang keliru.

Satu hal lagi yang mesti dipahami, makna “Minal ‘Aidin wal Faizin” adalah 
sebagaimana yang kami sebutkan di atas. Dan bukan maknanya adalah “Mohon Maaf 
Lahir dan Batin”. Setiap kali ada yang ucapkan “Minal ‘Aidin wal Faizin” lantas 
diikuti dengan kalimat “Mohon Maaf Lahir dan Batin”. Dikira artinya adalah 
kalimat selanjutnya. Ini sungguh keliru. Ini pemahaman orang yang tidak paham 
bahasa Arab. Semestinya hal ini diluruskan. Makna kalimat “Minal ‘Aidin wal 
Faizin” adalah “Kita kembali dan meraih kemenangan”. Namun sebagaimana 
diterangkan di atas, dari sisi makna kalimat ini keliru. Sehingga sudah 
sepantasnya kita hindari. Ucapan yang lebih baik adalah sebagaimana telah 
dikemukakan di awal tulisan dan dicontohkan langsung oleh para sahabat, yakni 
“Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalku dan amal kalian)”.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Dan semoga bisa meluruskan kekeliruan yang 
selama ini ada.

Footnote:

[1] Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, 1379, 2/446. Syaikh Al 
Albani dalam Tamamul Minnah (354) mengatakan bahwa sanad riwayat ini shahih.

[2] Al Mughni, Ibnu Qudamah Al Maqdisi, Darul Fikr, cetakan pertama, 1405, 
2/250.

[3] Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, cetakan  ketiga, 1426, 24/253.

[4] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, Asy Syamilah, 16/129.

[5] Majmu’ Fatawa Rosail Ibni ‘Utsaimin, 16/128.

Allohu a'lam 

-ino ibnu permadi- @inohambaAlloh

===================
          www.yufid.com
Search engine (Google nya) 
untuk
Pencarian ilmu Islam berdasarkan 
Al-Qur'an dan as-Sunnah (Hadits) yang Shahih  
Dikirim melalui BlackBerry® dari 3 – Jaringan GSM-Mu

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sat, 5 Nov 2011 08:09:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [assunnah] Tanya: Ucapan Selamat Idul Adha

​السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Ikhwan fillah, teman saya ada yg mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Adha, 
Taqobbalallahuminnawaminkum".

Mohon penjelasannya, bgm hal ini terjadi dan bgm sy bs mensikapi sesuai Sunnah 
Rasulullah ?

جَزَاك اللهُ خَيْرًا 
وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pungky Heru Prabowo
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kirim email ke