SYARAT-SYARAT SAHNYA SHALAT
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
http://almanhaj.or.id/content/936/slash/0

Agar shalat menjadi sah, disyaratkan hal-hal berikut:
A. Mengetahui Masuknya Waktu
Berdasarkan firman Allah:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

“... Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas 
orang-orang yang beriman.” [An-Nissa': 103].

Tidak sah shalat yang dikerjakan sebelum masuknya waktu ataupun setelah 
keluarnya waktu kecuali ada halangan.

B. Suci dari Hadats Besar dan Kecil
Berdasarkan firman Allah:

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا 
وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ 
وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا 

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka 
basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan 
(basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka 
mandilah...” [Al-Maa-idah: 6].

Dan hadits Ibnu 'Umar, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَقْبَلُ اللهُ صَلاَةً بِغَيْرِ طَهُوْرٍ.

"Allah tidak menerima shalat (yang dikerjakan) tanpa bersuci." [1]

C. Kesucian Baju, Badan, dan Tempat yang Digunakan Untuk Shalat
Dalil bagi disyaratkannya kesucian baju adalah firman Allah:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

“Dan Pakaianmu bersihkanlah.” [Al-Muddatstsir: 4].

Dan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ، فَلْيُقَلِّبْ نَعْلَيْهِ، وَلِيَنْظُرْ 
فِيْهِمَا فَإِنْ رَأَى خَبَثًا، فَلْيَمْسَحْهُ بِاْلأَرْضِ ثُمَّ لِيُصَلِّ 
فِيْهِمَا.

"Jika salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka hendaklah ia 
membalik sandal dan melihatnya. Jika ia melihat najis, maka hendaklah ia 
menggosokkannya dengan tanah. Kemudian hendaklah ia shalat dengannya."[2]

Adapun dalil bagi disyaratkannya kesucian badan adalah sabda Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam kepada 'Ali. Dia menanyai beliau tentang madzi dan berkata:

تَوَضَّأْ وَاغْسِلْ ذَكَرَكَ.

"Wudhu' dan basuhlah kemaluanmu." [3]

Beliau berkata pada wanita yang istihadhah:

اِغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَ وَصَلِّيْ.

"Basuhlah darah itu darimu dan shalatlah." [4]

Adapun dalil bagi sucinya tempat adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam kepada para Sahabatnya di saat seorang Badui kencing di dalam masjid:

أَرِيْقُوْا عَلى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ.

“Siramlah air kencingnya dengan air satu ember.” [5]

Catatan:
Barangsiapa telah shalat dan dia tidak tahu kalau dia terkena najis, maka 
shalatnya sah dan tidak wajib mengulang. Jika dia mengetahuinya ketika shalat, 
maka jika memungkinkan untuk menghilangkannya -seperti di sandal, atau pakaian 
yang lebih dari untuk menutup aurat- maka dia harus melepaskannya dan 
menyempurnakan shalatnya. Jika tidak memungkinkan untuk itu, maka dia tetap 
melanjutkan shalatnya dan tidak wajib mengulang.

Berdasarkan hadits Abu Sa'id: “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat 
lalu melepaskan kedua sandalnya. Maka orang-orang pun turut melepas 
sandal-sandal mereka. Ketika selesai, beliau membalikkan badan dan berkata, 
'Kenapa kalian melepas sandal kalian?' Mereka menjawab, 'Kami melihat Anda 
melepasnya, maka kami pun melepasnya.' Beliau berkata, 'Sesungguhnya Jibril 
datang kepadaku dan mengatakan bahwa pada kedua sandalku terdapat najis. Jika 
salah seorang di antara kalian mendatangi masjid, maka hendaklah membalik 
sandalnya dan melihatnya. Jika dia melihat najis, hendaklah ia gosokkan ke 
tanah. Kemudian hendaklah ia shalat dengannya.'”[6]

D. Menutup Aurat
Berdasarkan firman Allah:

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid...” 
[Al-A'raaf: 31].

Yaitu, tutupilah aurat kalian. Karena mereka dulu thawaf di Baitullah dengan 
telanjang.

Juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:

لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.

“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah haidh (baligh) kecuali dengan 
mengenakan penutup kepala (jilbab).” [7]

Aurat laki-laki antara pusar dan lutut. Sebagaimana dalam hadits ‘Amr bin 
Syu'aib Radhiyallahu anhum, dari ayahnya, dari kakeknya, secara marfu’:

مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ عَوْرَةٌ.

“Antara pusar dan lutut adalah aurat.” [8]

Dari Jarhad al-Aslami, ia berkata, “Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lewat 
ketika aku mengenakan kain yang tersingkap hingga pahaku terlihat. Beliau 
bersabda:

غَطِّ فَخِذَكَ فَإِنَّ الْفَخِذَ عَوْرَةٌ.

"Tutuplah pahamu. Karena sesungguhnya paha adalah aurat." [9]

Sedangkan bagi wanita, maka seluruh tubuhnya adalah aurat kecuali wajah dan 
kedua telapak tangannya dalam shalat.

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ.

“Wanita adalah aurat.” [10]

Juga sabda beliau:

لاَ يَقْبَلُ الله صَلاَةَ حَائِضٍ إِلاَّ بِحِمَارٍ.

“Allah tidak menerima shalat wanita yang sudah pernah haidh (baligh) kecuali 
dengan mengenakan kain penutup." [11]

E. Menghadap ke Kiblat
Berdasarkan firman Allah Ta’ala: 

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا 
وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ

“... maka palingkanlah wajahmu ke Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu 
(sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya...” [Al-Baqarah: 150].

Juga sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap orang yang buruk dalam 
shalatnya:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَأَسْبِعِ الْوُضُوْءَ ثُمَّ اسْتَقْبِلِ 
الْقِبْلَةَ.

“Jika engkau hendak shalat, maka berwudhu'lah dengan sempurna. Kemudian 
menghadaplah ke Kiblat...” [12]

Boleh (shalat) dengan tidak menghadap ke Kiblat ketika dalam keadaan takut yang 
sangat dan ketika shalat sunnat di atas kendaraan sewaktu dalam perjalanan.

Allah berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ فَرِجَالًا أَوْ رُكْبَانًا

“Jika kamu dalam keadaan takut (bahaya), maka shalatlah sambil berjalan atau 
berkendaraan...” [Al-Baqarah: 239].

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma berkata, “Menghadap ke Kiblat atau tidak 
menghadap ke sana.”

Nafi' berkata, “Menurutku, tidaklah Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma menyebutkan 
hal itu melainkan dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.” [13]

Dari Ibnu ‘Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dulu Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam shalat di atas kendaraannya menghadap ke arah mana saja dan shalat 
Witir di atasnya. Namun, beliau tidak shalat wajib di atasnya.” [14]

Catatan:
Barangsiapa berusaha mencari arah Kiblat lalu ia shalat menghadap ke arah yang 
disangka olehnya sebagai arah Kiblat, namun ternyata salah, maka dia tidak 
wajib mengulang.

Dari 'Amir bin Rabi’ah Radhiyallahu anhu, ia berkata, “Kami pernah bersama 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan di suatu malam 
yang gelap dan kami tidak mengetahui arah Kiblat. Lalu tiap-tiap orang dari 
kami shalat menurut arahnya masing-masing. Ketika tiba waktu pagi, kami 
ceritakan hal itu pada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lalu turunlah 
ayat:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ

“... maka ke manapun kamu menghadap di situlah wajah Allah...” [Al-Baqarah: 
115].”[15]

F. Niat
Hendaklah orang yang ingin shalat meniatkan dan menentukan shalat yang hendak 
ia kerjakan dengan hatinya, misalnya seperti (meniatkan) shalat Zhuhur, ‘Ashar, 
atau shalat sunnahnya [16]. Tidak disyari’atkan mengucapkannya karena Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah mengucapkannya. Jika Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri untuk shalat, beliau mengucapan, “Allaahu 
Akbar,” dan tidak mengucapkan apa pun sebelumnya. Sebelumnya beliau tidak 
melafazhkan niat sama sekali, dan tidak pula mengucapkan, “Aku shalat untuk 
Allah, shalat ini, menghadap Kiblat, empat raka’at, sebagai imam atau makmum.” 
Tidak juga mengucapkan, “Tunai atau qadha'...” 

Ini semua adalah bid'ah. Tidak seorang pun meriwayatkannya dengan sanad shahih 
atau dha'if, musnad atau pun mursal. Tidak satu lafazh pun. Tidak dari salah 
seorang Sahabat beliau, dan tidak pula dianggap baik oleh Tabi’in, ataupun Imam 
yang empat. [17]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis 
Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih 
Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu 
Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Telah disebutkan takhrijnya.
[2]. Telah disebutkan takhrijnya.
[3]. Telah disebutkan takhrijnya.
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/42, dan 428 no. 
331)], Shahiih Muslim (I/261 no. 333), Sunan at-Tirmidzi (I/82 no. 125), Sunan 
Ibni Majah (I/203 no. 621), Sunan an-Nasa-i (I/184).
[5]. Telah disebutkan takhrijnya.
[6]. Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/353 no. 636).
[7]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan Sunan Ibni 
Majah (I/215 no. 655).
[8]. Hasan: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 271)], diriwayatkan oleh ad-Daraquthni, 
Ahmad, dan Abu Dawud.
[9]. Shahih lighairihi: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 269)], Sunan at-Tirmidzi (IV/197 
no. 2948), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (XI/52 no. 3995), lihat perkataan 
Ibnul Qayyim t tentang masalah ini dalam Tahdziibus Sunan (XVII/6).
[10]. Shahih: [Shahiih al-Jaami’ush Shaghiir (no. 6690)] dan Sunan at-Tirmidzi 
(II/ 319 no. 1183).
[11]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 534)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (II/345 no. 627), Sunan at-Tirmidzi (I/234 no. 375) dan Sunan Ibni 
Majah (I/ 215 no. 655).
[12]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (XI/36 no. 6251)], 
Shahiih Muslim (I/298 no. 397).
[13]. Shahih: [Muwaththa’ al-Imam Malik (126/442)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (VIII/199 no. 4535).
[14]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/487 no. 700 (69))], Shahiih 
al-Bukhari (Fat-hul Baari) (I/575 no. 1098), secara mu’allaq.
[15]. Hasan: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 835)], Sunan at-Tirmidzi (I/216 no. 
343), Sunan Ibni Majah (I/326 no. 1020), dengan lafazh serupa, begitu pula pada 
al-Baihaqi (II/11).
[16]. Talkhiish Shifat ash-Shalaah, karya Syaikh al-Albani, hal. 12.
[17]. Zaadul Ma'aad (I/51).                                       

Kirim email ke