TATA CARA SHALAT
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
http://almanhaj.or.id/content/705/slash/0

D. Sunnah-Sunnah Shalat
Sunnah-sunnah shalat terbagi dua; sunnah ucapan dan sunnah perbuatan.

1. Sunnah-Sunnah Ucapan:
a. Membaca do’a istiftah
Do’a istiftah yang paling baik adalah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah 
Radhiyallahu anhu. Dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bertakbir dalam shalat, beliau diam sejenak sebelum membaca (al-Faatihah). Aku 
berkata, "Wahai Rasulullah, ayah ibuku menjadi penebusmu. Saya melihat Anda 
terdiam antara takbir dan membaca (al-Faatihah). Apakah yang Anda baca? Beliau 
berkata, "Aku membaca:

"اَللّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِيْ وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ 
الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اَللَّهُمَّ نَقِّنِيْ مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى 
الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اَللّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ 
بِالثَّلْجِ وَالْمَاءِ الْبَرَدِ."

"Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan dosaku sebagaimana Kau jauhkan antara 
timur dan barat. Ya Allah, sucikanlah aku dari dosa-dosaku sebagaimana kain 
putih tersuci dari noda. Ya Allah, basuhlah aku dari dari dosa-dosaku dengan 
salju, air, dan es (embun)." [1]

b. Membaca isti'adzah
Allah Ta’ala berfirman:

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Apabila kamu membaca al-Qur-an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada 
Allah dari syaitan yang terkutuk.” [An-Nahl: 98]

Dari Abu Sa'id al-Khudri Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam: "Jika hendak shalat, beliau membaca do’a istiftah lalu membaca: 

"أَعُوْذُ بِـاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ 
هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفَثِهِ."

"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat dari syaitan 
yang terkutuk, dari bisikan, tiupan, dan godaannya." [2]

c. Mengucapkan amin
Dari Wa-il bin Hujr Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca: “وَلاَ الضَّالّيِنْ” beliau mengucap 
“آمِيْن” sambil mengeraskan suaranya."[3]

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda:

إِذَا أَمَّنَ اْلإِمَامُ فَأَمِّنُوْا، فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِيْنُهُ 
تَأْمِيْنَ الْمَلاَئِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

"Jika imam mengucap amin, maka ucapkanlah amin. Sesungguhnya orang yang ucapan 
aminnya bertepatan dengan ucapan amin para Malaikat akan diampuni dosa-dosanya 
yang telah lalu." [4]

d. Membaca (surat) setelah al-Faatihah
Dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Pada dua raka'at pertama 
shalat Zhuhur, Nabi Shallallahu 'alaihim membaca al-Faatihah dan dua surat. 
Beliau memanjangkan raka'at pertama dan memendekkan raka'at kedua. Terkadang 
beliau memperdengarkan (bacaan) ayatnya. Pada dua raka'at pertama shalat 'Ashar 
beliau juga membaca al-Faatihah dan dua surat. Beliau memanjangkan raka'at 
pertama shalat Shubuh dan memendekkan raka'at kedua." [5]

Juga dari Abu Qatadah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Pada dua raka'at pertama 
shalat Zhuhur dan 'Ashar Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca al-Faatihah 
dan surat. Beliau terkadang memperdengarkan (bacaan) ayatnya. Pada dua raka'at 
terakhir beliau membaca al-Faatihah." [6]

Disunnahkan membaca (surat) pada dua raka'at terakhir, jika dilakukan secara 
temporer (kadang-kadang)

Berdasarkan hadits Abu Sa'id: "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca 
(surat) pada dua raka'at shalat Zhuhur. Pada dua raka’at pertama sekitar tiga 
puluh ayat. Dan pada dua raka'at terakhir sekitar lima belas ayat. Atau dia 
berkata, "Separuhnya." Dan pada shalat 'Ashar pada dua raka'at pertama setiap 
raka'atnya membaca sekitar lima belas ayat. Sedang pada dua raka'at terakhir 
sekitar setengahnya." [7]

Disunnahkan mengeraskan bacaan dalam shalat Shubuh dan dua raka'at pertama pada 
shalat maghrib dan 'isya'. Serta memelankannya pada shalat Dzuhur dan 'Ashar, 
juga pada raka'at ketiga dari shalat Maghrib dan dua raka'at terakhir pada 
shalat 'Isya'."

e. Membaca tasbih saat ruku' dan sujud
Dari Hudzaifah Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Aku shalat bersama Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam ruku'nya beliau membaca: 

"سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ."

"Mahasuci Rabb-ku Yang Mahaagung."

Dan dalam sujudnya beliau membaca:

"سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى."

“Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi.” [8]

Dari 'Utbah bin 'Amir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ruku', beliau membaca:

"سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ."

‘Mahasuci Rabb-ku Yang Mahaagung dan dengan memuji-Nya,’ tiga kali'.

Dan jika sujud membaca:

"سُبْحَانَ رَبِّيَ اْلأَعْلَى وَبِحَمْدِهِ."

‘Mahasuci Rabb-ku Yang Mahatinggi dan dengan memuji-Nya,’ tiga kali." [9]

f. Menambah do’a bangkit dari ruku'

"رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ."

Dengan salah satu tambahan berikut ini:

"مِلْءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلْءَ اْلأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا، وَمِلْءَ مَا شِئْتَ 
مِنْ شَيْءٍ بَعْدُ."

Jika suka, dibolehkan cukup sampai pada tambahan ini. Namun jika mau dibolehkan 
menyempurnakannya dengan ucapan:

"أَهْلَ الثَّنَاءِ وَالْمَجْدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الْعَبْدُ، وُكُلُّنَا لَكَ 
عَبْدٌ، لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ وَلاَ 
يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ."

"Yang Maha berhak atas sanjungan dan kemuliaan. Serta Yang paling berhak atas 
ucapan seorang hamba. Dan kami semua adalah hamba-Mu. Tidak ada yang 
menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang mampu memberi apa yang 
Engkau tahan. Sehingga tidak bermanfaatlah bagi pemilik kekayaan. Karena 
dari-Mu-lah kekayaan itu." [10]

"رَبَّنَـا وَلَكَ الْحَمْدُ، حَمْدًا كَثِيْرًا طَيِّبًا مُبَارِكًا فِيْهِ 
(مُبَارَكًا عَلَيِهِ)، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى."

"Ya Rabb kami, bagi-Mu-lah segenap pujian yang baik dan penuh berkah. 
Sebagaimana yang disukai Rabb kami dan di-ridhai-Nya." [11]

g. Membaca do’a di antara dua sujud
Dari Hudzaifah, dia berkata, "Pada saat berada di antara dua sujud Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan:

"رَبِّ اغْفِرْ لِيْ، رَبِّ اغْفِرْ لِيْ."

"Ya Rabb-ku, ampunilah aku. Ya Rabb-ku, ampunilah aku." [12]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Pada saat berada di antara 
dua sujud Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucap:

"اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ وَارْحَمْنِيْ وَاجْبُرْنِيْ وَاهْدِنِيْ وَارْزُقْنِيْ."

"Ya Allah, ampunilah aku, sayangilah aku, cukupilah kekuranganku, tunjukilah 
aku dan karuniakanlah rizki kepadaku." [13]

h. Mengucapkan shalawat atas Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam setelah 
tasyahhud awal. Berdasarkan perbuatan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Dahulu kami menyiapkan siwak 
dan air wudhu' untuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian Allah 
membangunkan beliau pada malam hari menurut kehendak-Nya. Beliau kemudian 
bersiwak dan wudhu' lalu shalat sembilan raka'at tanpa duduk kecuali pada 
raka'at ke delapan. Kemudian beliau berdo’a kepada Rabb-nya dan bershalawat 
atas Nabi-Nya. Setelah itu bangkit tanpa salam lalu (melanjutkan) shalat 
(raka’at) kesembilan lantas duduk. Kemudian memuji Rabb-nya, dan bershalawat 
atas Nabi-Nya, berdo’a, lalu salam... [14]

i. Membaca do’a baik setelah tasyahhud awal maupun kedua
Adapun pada tasyahhud awal, maka dalilnya adalah:
Dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa sesungguhnya Muhammad 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"إِذَا قَعَدْتُمْ فِيْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَقُوْلُوا: اَلتَّحِيَّاتُ للهِ، 
وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَـاتُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ 
وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، اَلسَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلى عِبَادِ اللهِ 
الصَّالِحِيْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْـهَدُ أَنَّ 
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. ثُمَّ لِيَتَّخِيْرَ أَحَدُكُمْ مِنَ 
الدُّعَاءِ أَعْجَبُهُ إِلَيْهِ، فَلْيَدْعُ رَبَّهُ عزوجل."

"Jika kalian duduk pada setiap dua raka'at, maka ucapkanlah: ‘Segala 
penghormatan hanya bagi Allah. Begitupula seluruh pengagungan dan kebaikan. 
Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas engkau, wahai Nabi. Begitupula kasih 
sayang Allah dan berkah-Nya. Mudah-mudahan kesejahteraan tercurahkan atas kita 
semua dan para hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tidak ada ilah yang layak 
diibadahi selain Allah. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan 
Rasul-Nya.’ Setelah itu, hendaklah salah seorang di antara kalian memilih do’a 
yang paling ia sukai lalu hendaklah ia berdo’a kepada Rabb-nya Azza wa Jalla." 
[15]

Sedangkan pada tasyahhud yang kedua, maka dalilnya adalah:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia mengatakan bahwa Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا فَرَغَ أَحَدُكُمْ مِنَ التَّشَهُّدِ اْلآخِرِ فَلْيَتَعَوَّذْ بِاللهِ مِنْ 
أَرْبَعٍ: مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ، وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ 
الْمَحْيَـا وَالْمَمَاتِ، وَمِنْ شَرِّ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ.

"Jika salah seorang di antara kalian selesai dari tasyahhud akhir, maka 
hendaklah ia berlindung dari empat perkara: dari siksa Jahannam, siksa kubur, 
fitnah kehidupan dan fitnah kematian, serta kejahatan al-Masih ad-Dajjal." [16]

j. Mengucapkan salam yang kedua
Karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm dulu mengucapkan dua kali salam. 
Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Ibnu Mas'ud Radhiyallahu anhuma : "Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucap salam ke kanan dan ke kiri:

"اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ."

“Semoga kesejahteraan terlimpahkan atas kamu sekalian, begitu pula rahmat Allah 
dan berkah-Nya.” 

Dan:

"اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ."

“Semoga kesejahteraan dan rahmat Allah tercurahkan kepada kamu sekalian.”

Hingga tampaklah putih pipinya." [17]

Terkadang beliau mengucapkan salam sekali saja, sebagaimana diriwayatkan dari 
'Aisyah Radhiyallahu anhuma: "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengucap salam 
dalam shalat dengan sekali salam dari depan wajahnya dengan sedikit miring ke 
sisi kanan." [18]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis 
Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih 
Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu 
Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/227 no. 744)], 
Shahiih Muslim (I/419 no. 598), Sunan Ibni Majah (I/264 no. 805), dan Sunan Abi 
Dawud (‘Aunul Ma’buud) (II/485 no. 766).
[2]. Shahiih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 342)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(II/ 476 no. 760), dan Sunan at-Tirmidzi (I/153 no. 242).
[3]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 82)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/ 205 no. 920), dan Sunan at-Tirmidzi (I/157 no. 248).
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/307 no. 410)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/262 no. 780), Sunan an-Nasa-i (II/144), Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (III/211 no. 924), Sunan at-Tirmidzi (I/158 no. 250), dan 
Sunan Ibni Majah (I/277 no. 851).
[5]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 932)] dan Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/243 no. 759).
[6]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 286)] dan Shahiih Muslim (I/333 
no. 421 (155)). 
[7]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 287)] dan Shahiih Muslim (I/334 
no. 452 (157)).
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan an-Nasa-i (no. 1001)], Sunan an-Nasa-i (II/190), 
Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/123 no. 857), Sunan at-Tirmidzi (I/164 
no. 261).
[9]. Shahih: [Shifatush Shalaah (hal. 127)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/121 no. 856), al-Baihaqi (II/86).
[10]. Idem.
[11]. Shahih: [Shifatush Shalaah hal. 119].
[12]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 731)] dan Sunan Ibni Majah (I/289 
no. 897).
[13]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 732)], Sunan at-Tirmidzi (I/175 
no. 283), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (III/87 no. 835), dan Sunan Ibni 
Majah (I/290 no. 898).
Catatan: pada riwayat Abu Dawud terdapat lafazh: “وَعَافِنِي (maafkanlah aku” 
sebagai ganti dari lafazh: “وَاجْبُرْنِي (cukupilah keluargaku)” dan dalam 
riwayat Ibnu Majah terdapat lafazh: “وَارْفَعْنِي (angkatlah derajatku)” 
sebagai ganti dari: “وَاهْدِنِي (tunjukilah aku).” Disunnahkan menggabungkan 
keduanya dan menambah: “وَعَافِنِي وَارْفَعْنِي”.
[14]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 390)] dan Shahiih Muslim (I/512 
no. 746).
[15]. Telah disebutkan takhrijnya.
[16]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih Muslim (no. 306)], Shahiih Sunan Ibni Majah 
(no. 741), Shahiih Muslim (I/412 no. 588), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) 
(III/273 no. 968), dan Sunan Ibni Majah (I/294 no. 909).
[17]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 878)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (III/288 no. 983), Sunan an-Nasa-i (III/62), Sunan Ibni Majah (I/296 
no. 914), dan Sunan at-Tirmidzi (I/181 no. 294), tanpa kalimat terakhir.
[18]. Shahih: [Shahiih Sunan at-Tirmidzi (no. 242)] dan Sunan at-Tirmidzi 
(I/182 no. 295).                                        

Kirim email ke