SHALAT ORANG YANG MELAKUKAN SAFAR
Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi
http://almanhaj.or.id/content/1141/slash/0

A. Orang yang Sedang Safar Wajib Mengqashar Shalat Zhuhur, 'Ashar, dan 'Isya'
Allah berfirman:

وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَن تَقْصُرُوا 
مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا ۚ إِنَّ 
الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُّبِينًا

“Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidaklah mengapa kamu mengqashar 
shalat(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya 
orang-orang kafir itu musuh yang nyata bagimu.” [An-Nisaa': 101]

Dari Ya'la bin Umayyah, dia menanyakan ayat ini pada 'Umar bin al-Khaththab 
Radhiyallahu anhu. Dia berkata:

إِنْ خِفْتُمْ أَن يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا

“... jika kamu takut diserang orang-orang kafir...” [An-Nisaa: 101]
.
Padahal orang-orang sudah dalam keadaan aman. 'Umar berkata, "Dulu, aku juga 
bingung dengan masalah ini sebagaimana kamu. Lalu aku menanyakannya pada 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Lantas beliau bersabda:

صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللهُ بِهَا عَلَيْكُمْ، فَاقْبَلُوْا صَدَقَتَهُ.

"Itu adalah shadaqah dari Allah untuk kalian. Maka, terimalah shadaqah-Nya." [1]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Melalui lisan Nabi kalian, 
Allah mewajibkan shalat empat raka’at dalam keadaan mukim, dua raka’at ketika 
safar, dan satu raka’at ketika dalam keadaan takut." [2]

Dari 'Umar Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Shalat dalam safar dua raka’at, 
shalat Jum’at dua raka’at, shalat Idul Fithri dan Idul Adh-ha dua raka’at. 
Sempurna, tidak diqashar. Berdasarkan ucapan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa 
sallam." [3]

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Pertama kali, shalat diwajibkan 
dua raka’at. Kemudian hal ini ditetapkan bagi shalat dalam keadaan safar. 
Sedangkan pada saat mukim dikerjakan secara lengkap (4 raka’at)." [4]

Dari Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Aku pernah menemani 
perjalanan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau tidak pernah 
shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. Pernah juga aku 
menyertai perjalanan Abu Bakar, dan dia juga tidak pernah shalat lebih dari dua 
raka’at hingga Allah mewafatkannya. Aku pun pernah bepergian bersama 'Umar, dan 
dia juga tidak pernah shalat lebih dari dua raka’at hingga Allah mewafatkannya. 
Aku juga pernah safar bersama 'Utsman, dia tidak pernah shalat lebih dari dua 
raka’at hingga Allah mewafatkannya. Allah berfirman:

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sesungguhnya, pada Rasulullah benar-benar terdapat teladan yang baik bagi 
kalian...” [Al-Ahzaab: 21] [5]

B. Batasan Jarak Shalat Qashar
Para ulama memiliki banyak pendapat yang berbeda dalam menentukan batasan jarak 
diperbolehkannya mengqashar shalat. Sampai-sampai Ibnu al-Mundzir dan yang 
lainnya menyebutkan lebih dari dua puluh pendapat dalam masalah ini. Yang rajih 
(kuat) adalah, "Pada dasarnya, tidak ada batasan jarak yang pasti. Kecuali yang 
disebut safar dalam bahasa Arab, yaitu bahasa yang digunakan Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam saat berkomunikasi dengan mereka (orang-orang Arab). Jika 
memang safar mempunyai batasan selain dari apa yang baru saja kami kemukakan, 
tentu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan lupa menjelaskannya. Para 
Sahabat pun tidak akan lalai menanyakan hal tersebut pada beliau Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Mereka juga tidak akan bersepakat untuk mengabaikan 
penukilan riwayat yang menjelaskan batasan tersebut kepada kita." [6]

C. Tempat Diperbolehkannya Mengqashar Shalat
Mayoritas ulama berpendapat bahwa, disyari'atkan mengqashar shalat ketika telah 
meninggalkan tempat mukim dan keluar dari daerah tempat tinggal. Ini adalah 
syarat. Dan tidaklah disempurnakan shalat (4 raka’at) sampai memasuki rumah 
pertama (di dalam tempat tinggalnya). Ibnul Mundzir berkata, "Aku tidak 
mengetahui bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam melakukan qashar dalam 
beberapa safarnya kecuali beliau telah keluar dari Madinah. Anas Radhiyallahu 
anhu berkata, "Aku shalat Dzuhur empat raka’at bersama Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam di Madinah. Sedangkan di Dzul Hulaifah dua raka’at." [7]

Jika seorang musafir tinggal di suatu daerah untuk menunaikan suatu 
kepentingan, namun tidak berniat mukim, maka dia melakukan qashar hingga 
meninggalkan daerah tersebut.

Dari Jabir Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
tinggal di Tabuk selama dua puluh hari sambil tetap mengqashar shalat."[8]

Ibnul Qayyim berkata, "Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah 
mengatakan pada umat, ‘Janganlah seseorang mengqashar shalat jika tinggal lebih 
lama dari itu.’ Hanya kebetulan saja lama tinggal beliau bertepatan dengan masa 
tersebut."[9]

Jika seseorang berniat mukim, maka dia shalat secara lengkap setelah sembilan 
belas hari. Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhu, "Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam tinggal selama sembilan belas hari sambil 
melakukan qashar. Jika kami melakukan safar selama sembilan belas hari, maka 
kami melakukan qashar. Dan jika lebih dari itu, maka kami menyempurnakan 
shalat." [10]

D. Menjama' Dua Shalat
Sebab-sebabnya:

1. Safar
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, "Jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi 
wa sallam bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau akhirkan Zhuhur hingga 
waktu 'Ashar. Beliau turun dari kendaraannya lalu menjama' keduanya. Dan jika 
matahari sudah tergelincir sebelum melakukan perjalanan, maka beliau shalat 
Zhuhur lalu naik kendaraan." [11]

Dari Mu'adz Radhiyallahu anhu: "Saat terjadinya perang Tabuk, jika Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa salalm bepergian sebelum matahari tergelincir, beliau 
akhirkan Zhuhur sampai waktu 'Ashar. Kemudian beliau menjama' kedua shalat 
tersebut. Jika bepergian sesudah matahari tergelincir, beliau menjama' shalat 
Zhuhur dengan 'Ashar lalu berangkat. Bila bepergian sebelum Maghrib, beliau 
akhirkan Maghrib hingga menjama'nya dengan 'Isya. Bila bepergian setelah 
Maghrib, beliau mengawalkan waktu 'Isya dan menjama'nya dengan Maghrib." [12]

Masih dari Mu’adz: "Para Sahabat pernah bepergian bersama Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika perang Tabuk. Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar, dan shalat Maghrib 
dengan 'Isya'." Dia berkata lagi: "Pada suatu hari beliau mengakhirkan shalat. 
Beliau keluar lalu shalat Zhuhur dan 'Ashar dengan dijama'. Setelah itu beliau 
masuk. Tak lama kemudian beliau keluar lagi lalu shalat Maghrib dan 'Isya 
dengan dijama'."[13]

2. Hujan
Dari Nafi' Radhiyallahu anhu, "Jika 'Abdullah Ibnu 'Umar Radhiyallahu anhuma 
mengumpulkan para amir (gubernur) antara Maghrib dan 'Isya' ketika hujan, maka 
dia menjama' shalat bersama mereka."

Dari Hisyam bin 'Urwah: "Ayahnya -'Urwah-, Sa'id bin al-Musayyib, dan Abu Bakar 
bin 'Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam bin al-Mughirah al-Makhzumi pernah 
menjama' shalat Maghrib dengan 'Isya' pada suatu malam ketika hujan turun. 
Mereka menjama' kedua shalat tersebut tanpa ada yang mengingkari." [14]

Dari Musa bin 'Uqbah, "Ketika turun hujan, ‘Umar bin 'Abdul 'Aziz pernah 
menjama' shalat Maghrib dengan 'Isya' di akhir waktu. Sedangkan Sa'id bin 
al-Musayyib, 'Urwah bin az-Zubair, Abu Bakar bin 'Abdurrahman, beserta para 
ulama zaman itu bermakmum di belakangnya. Namun, mereka tidak mengingkari 
perbuatan tersebut." [15]

Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam pernah menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar, dan shalat 
Maghrib dengan 'Isya', tidak dalam keadaan takut maupun safar."[16]

Dia juga berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menjama' 
shalat Zhuhur dengan 'Ashar dan shalat Maghrib dengan 'Isya di Madinah, tidak 
dalam keadaan takut maupun hujan." [17]

Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma memberikan indikasi bahwa menjama' shalat 
ketika hujan sudah diketahui pada masa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Jika 
tidak demikian, maka tidak ada gunanya menyebutkan kalimat "tanpa hujan" 
sebagai alasan dibolehkannya menjama' shalat." [18]

3. Kebutuhan Mendesak
Dari Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata, "Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam pernah menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar di Madinah, tidak 
dalam keadaan takut maupun dalam perjalanan." Abu az-Zubair berkata, Lalu aku 
bertanya pada Sa'id, ‘Kenapa beliau melakukannya?’ Dia menjawab, ‘Aku pernah 
bertanya hal yang sama kepada Ibnu 'Abbas. Lalu dia berkata, ‘Beliau tidak 
ingin memberatkan salah seorang pun dari umatnya.’" [19]

Masih dari Ibnu ‘Abbas, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah 
menjama' shalat Zhuhur dengan 'Ashar, dan shalat Maghrib dengan 'Isya di 
Madinah, tidak dalam keadaan takut maupun hujan." Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 
anhuma ditanya, "Apa maksud di balik perbuatan beliau itu?" Dia menjawab, 
"Beliau tidak ingin memberatkan umatnya."

Imam an-Nawawi berkata dalam Syarh Muslim (V/219), "Sejumlah imam berpendapat 
tentang bolehnya menjama' shalat dalam keadaan mukim bagi orang yang tidak 
menjadikannya kebiasaan. Ini adalah pendapat Ibnu Sirin dan Asyhab, pengikut 
Imam Malik. Al-Khaththabi meriwayatkan pendapat ini dari al-Qaffal dan 
asy-Syasyi al-Kabiir, pengikut imam asy-Syafi'i, dari Abu Ishaq al-Marwazi, 
dari mayoritas kalangan ahli hadits. Ibnul Mundzir juga memilih pendapat ini. 
Pendapat ini diperkuat oleh zhahir perkataan Ibnu 'Abbas Radhiyallahu anhuma : 
"Beliau tidak ingin memberatkan umatnya." Dia tidak menyebutkan alasan sakit 
atau yang lainnya. Wallaahu a’lam."

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis 
Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih 
Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu 
Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 3762)], Shahiih Muslim (I/478 
no. 686), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/64 no. 1187), Sunan an-Nasa-i 
(III/116), Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1065), dan Sunan at-Tirmidzi (IV/309 no. 
5025).
[2]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 876)], Shahiih Muslim (I/479 no. 
687), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/124 no. 1234), Sunan an-Nasa-i 
(III/118), dan Sunan Ibni Majah (I/339 no. 1068), tanpa kalimat terakhir.
[3]. Shahih: [Shahiih Sunan Ibni Majah (no. 871)], Sunan an-Nasa-i (III/183), 
dan Sunan Ibni Majah (I/338 no. 1063).
[4]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 1090)], 
Shahiih Muslim (I/478 no. 685), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/63 no. 
1186), dan Sunan an-Nasa-i (I/225).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih Muslim (I/479 no. 689)], Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/90 no. 1211), Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/577 
no. 1102), dan Sunan an-Nasa-i (III/123).
[6]. Al-Muhalla (V/21).
[7]. Fiqhus Sunnah (I/240, 241)]. Ucapan Anas Radhiyallahu anhu diriwayatkan 
dalam Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/569 no. 1089), Shahiih Muslim 
(I/480 no. 690), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/69 no. 1190), Sunan 
at-Tirmidzi (II/29 no. 544), dan Sunan an-Nasa-i (I/235). Yang dimaksud dengan 
ucapan-nya: "Di Dzul Hulaifah dua raka'at," adalah shalat 'Ashar. Sebagaimana 
di-jelaskan oleh riwayat-riwayat lain, selain riwayat Shahiih al-Bukhari.
[8]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1094)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/102 no. 1223).
[9]. Fiqhus Sunnah (I/241).
[10]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (no. 575)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) 
(II/561 no. 1080), Sunan at-Tirmidzi (II/31 no. 547), Sunan Ibni Majah (I/341 
no. 1075), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/97 no. 1218), hanya saja dia 
mengatakan: "Tujuh belas."
[11]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/583 no. 1112)], 
Shahiih Muslim (I/489 no. 704), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/58 no. 
1206), dan Sunan an-Nasa-i (I/284).
[12]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1067)], Ahmad (Fat-hur Rabbaani) 
(V/120 no. 1236), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/75 no. 1196), dan Sunan 
at-Tirmidzi (II/33 no. 551).
[13]. Shahih: [Shahih Sunan Abi Dawud (no. 1065)], Sunan Abi Dawud (‘Aunul 
Ma’buud) (IV/72 no. 1194), Sunan an-Nasa-i (I/284), Muslim dan Ibnu Majah hanya 
meriwayatkan bagian pertama saja di Shahiih Muslim (I/490 no. 706), dan Sunan 
Ibni Majah (I/340 no. 1070).
[14]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/40)], Muwaththa' al-Imam Malik (hal. 102 
no. 328).
[15]. Shahih: [Irwaa’ul Ghaliil (III/40)] dan al-Baihaqi (III/168, 169).
[16]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1068)].
[17]. Shahih: [Shahiihul Jaami’ush Shaghiir (no. 1070)], Shahiih Muslim (I/489 
no. 705), Sunan an-Nasa-i (I/290), dan Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/ 77 
no. 1198), dengan tambahan kalimat terakhir.
[18]. Ucapan al-Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil (III/40).
[19]. Telah ditakhrij sebelumnya.                                         

Kirim email ke