From: [email protected]
Date: Tue, 29 Nov 2011 04:32:52 +0700  



Assalamualaikum 
Saya ingin bertanya, tentang hukumnya menanyakan mencari hari baik untuk
syukuran.
Apakah hal ini ada di dalam syari'at Islam ( contohnya mencari tgl untuk
khitan anak )
Apakah perlu untuk bertanya pada orang yang suka menghitung hari2 tertentu
baik atau tidaknya ..??
Karena saya beranggapan semua hari itu baik.
Apakah hal ini bertentangan dengan hukum Islam ..??
terima kasih
>>>>>>>>>
 
Percaya kepada hari sial atau tanggal keberuntungan termasuk kepada thiyarah.
Ahlus Sunnah tidak percaya kepada thiyarah atau tathayyur. Tathayyur atau 
thiyarah yaitu merasa bernasib sial karena sesuatu.

Tathayyur (merasa sial) tidak terbatas hanya pada terbangnya burung saja, 
tetapi pada nama-nama, bilangan, angka, orang-orang cacat dan sejenisnya. Semua 
itu diharamkan dalam syari’at Islam dan dimasukkan dalam kategori perbuatan 
syirik oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, karena orang yang 
bertathayyur menganggap hal-hal tersebut membawa untung dan celaka. Keyakinan 
seperti ini jelas menyalahi keyakinan terhadap taqdir (ketentuan) Allah Azza wa 
Jalla.

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (wafat th. 1421 H) rahimahullah 
: “Tathayyur adalah menganggap sial atas apa yang dilihat, didengar, atau yang 
diketahui. Seperti yang dilihat yaitu, melihat sesuatu yang menakutkan. Yang 
didengar seperti mendengar burung gagak, dan yang diketahui seperti mengetahui 
tanggal, angka atau bilangan. Tathayyur menafikan (meniadakan) tauhid dari dua 
segi:

Pertama, orang yang bertathayyur tidak memiliki rasa tawakkal kepada Allah Azza 
wa Jalla dan senantiasa bergantung kepada selain Allah.

Kedua, ia bergantung kepada sesuatu yang tidak ada hakekatnya dan merupakan 
sesuatu yang termasuk takhayyul dan keragu-raguan.” [4]

Ibnul Qayyim rahimahullah kembali menuturkan: “Orang yang bertathayyur itu 
tersiksa jiwanya, sempit dadanya, tidak pernah tenang, buruk akhlaknya, dan 
mudah terpengaruh oleh apa yang dilihat dan didengarnya. Mereka menjadi orang 
yang paling penakut, paling sempit hidupnya dan paling gelisah jiwanya. Banyak 
memelihara dan menjaga hal-hal yang tidak memberi manfaat dan mudharat 
kepadanya, tidak sedikit dari mereka yang kehilangan peluang dan kesempatan 
(untuk berbuat kebajikan-pent.).” 
 
Selengkapnya baca di 
HUKUM THIYARAH (TATHAYYUR, MENGANGGAP SIAL KARENA SESUATU 
http://almanhaj.or.id/content/2397/slash/0
Wallahu 'alam


                                          

Kirim email ke