SHALAT GERHANA

Oleh
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi al-Khalafi

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/1618/slash/0

Jika terjadi gerhana bulan atau matahari disunnahkan mengumandangkan:

اَلصَّلاَةُ جَامِعَةٌ.

"Mari shalat berjama'ah."

Dari 'Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia mengatakan, “Ketika terjadi 
gerhana matahari di zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, maka 
diserukanlah:

إِنَّ الصَّلاَةَ جَامِعَةٌ 

“Sesungguhnya shalat dilakukan secara berjama’ah.” [1]

Jika orang-orang telah berkumpul di masjid, maka imam shalat dua raka’at 
bersama mereka sebagaimana disebutkan dalam hadits di bawah ini:

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Lalu beliau 
pergi ke masjid dan orang-orang pun berbaris di belakang beliau, kemudian 
beliau bertakbir. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membaca dengan 
bacaan yang panjang. Lantas bertakbir dan melakukan ruku' dengan panjang. 
Kemudian beliau mengucap: " سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ." Lalu bangkit dan 
tidak melakukan sujud. Setelah itu beliau membaca bacaan yang panjang, namun 
tidak sepanjang bacaan pertama. Kemudian bertakbir lalu melakukan ruku' dengan 
ruku’ yang panjang namun tidak sepanjang ruku' pertama. Setelah itu beliau 
mengucap: “سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ Kemudian 
beliau sujud. 

Pada raka’at kedua, beliau melakukan seperti pada raka’at pertama. Hingga 
beliau juga melakukan empat ruku' dalam empat sujud dan matahari pun telah 
tampak kembali sebelum beliau selesai." [2]

Khutbah Setelah Shalat
Jika imam selesai salam, disunnahkan baginya berkhutbah di hadapan orang-orang. 
Menasihati mereka, mengingatkan, dan mendorong mereka untuk berbuat amal shalih.

Dari 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
shalat pada hari di mana terjadi gerhana matahari... kemudian dia menyebutkan 
tata cara shalat tersebut. Lalu melanjutkan, "Kemudian beliau salam, sedangkan 
matahari telah tampak kembali. Beliau lantas berkhutbah di hadapan orang-orang. 
Beliau mengatakan bahwa gerhana matahari dan bulan adalah dua tanda di antara 
tanda-tanda kekuasaan Allah. Tidaklah gerhana itu terjadi karena mati atau 
lahirnya seseorang. Jika kalian melihatnya, maka bergegaslah untuk shalat." [3]

Dari Asma' Radhiyallahu anhuma, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam menyuruh membebaskan budak pada saat terjadi gerhana matahari."[4]

Dari Abu Musa, dia berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari. Tiba-tiba Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri dengan terkejut. Beliau khawatir jika 
hari itu terjadi Kiamat. Beliau mendatangi masjid kemudian mengerjakan shalat 
dengan berdiri, ruku', dan sujud yang terpanjang yang pernah aku lihat. Beliau 
lantas berkhutbah, “Ini adalah salah satu tanda kekuasaan Allah yang 
ditunjukkan oleh-Nya. Bukan lantaran mati atau lahirnya seseorang. Namun, 
dengan peristiwa itu Allah ingin menakuti para hamba-Nya. Jika kalian melihat 
hal itu terjadi, maka bersegeralah untuk mengingat Allah, berdo’a, dan 
beristighfar kepada-Nya." [5]

Pengertian secara lahiriyah dari sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam : 
“Maka bersegeralah... dan seterusnya,” menunjukkan wajibnya perbuatan tersebut. 
Jadi, hukum shalat gerhana adalah fardhu kifayah. Sebagaimana dikatakan Abu 
‘Awanah dalam kitab Shahiihnya (II/398), "Penjelasan tentang wajibnya shalat 
gerhana" Kemudian di menyebutkan beberapa hadits shahih tentang masalah 
tersebut. Hal itu juga tampak dilakukan oleh Ibnu Khuzaimah dalam kitab 
Shahiihnya. Dia berkata (II/38), "Bab perintah shalat ketika terjadi gerhana 
matahari dan bulan..." Lalu dia menyebutkan sejumlah hadits berkenaan dengan 
masalah tersebut.

Al-Hafizh berkata dalam Fat-hul Baari (II/527), “Pendapat Jumhur menyatakan 
bahwa ia adalah sunnah mu-akkadah. Abu ‘Awanah menyatakannya dalam kitab 
Shahiihnya sebagai perbuatan yang wajib. Dan saya tidak menjumpai pendapat 
seperti itu pada ulama selainnya. Hanya saja, apa yang diriwayatkan dari Malik 
bahwa beliau memperlakukannya sebagaimana shalat Jum’at. Dan az-Zain bin 
al-Munir menukil dari Abu Hanifah bahwa dia mewajibkannya. Begitupula beberapa 
pengarang kitab madzhab Hanafiyyah. Mereka menyatakannya sebagai hal yang 
wajib." [6]

SHALAT ISTISQA
Jika hujan tidak turun, dan suatu daerah tertimpa kekeringan, maka disunnahkan 
keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa' (memohon hujan). Kemudian 
seorang imam melakukan shalat dua raka’at bersama masyarakat. Setelah itu dia 
memperbanyak do’a dan istighfar sambil merubah letak syal (selendang)nya dan 
menjadikan bagian kanannya di atas bagian kirinya.

Dari 'Abbad bin Tamim z, dari pamannya, 'Abdullah Zaid, dia berkata, “Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar menuju tanah lapang untuk shalat Istisqa'. 
Beliau menghadap ke kiblat lalu shalat dua raka’at dan membalik syalnya. Sufyan 
berkata, ‘Aku diberitahu al-Mas’udi dari Abu Bakr, dia berkata, ‘Beliau 
menjadikan bagian kanan dari syal tersebut di atas bagian kiri.’”[7]

Dan darinya, dia berkata, “Aku melihat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
ketika keluar untuk shalat Istisqa'. Dia berkata, ‘Beliau lalu menghadapkan 
punggungnya ke arah para penduduk dan menghadap ke kiblat sambil berdo’a. 
Kemudian beliau merubah letak syalnya lantas shalat dua raka’at bersama kami. 
Beliau mengeraskan bacaannya pada kedua raka’at tersebut." [8]

[Disalin dari kitab Al-Wajiiz fii Fiqhis Sunnah wal Kitaabil Aziiz, Penulis 
Syaikh Abdul Azhim bin Badawai al-Khalafi, Edisi Indonesia Panduan Fiqih 
Lengkap, Penerjemah Team Tashfiyah LIPIA - Jakarta, Penerbit Pustaka Ibnu 
Katsir, Cetakan Pertama Ramadhan 1428 - September 2007M]
_______
Footnote
[1]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 1045), 
Shahiih Muslim (II/627 no. 910), Sunan an-Nasa-i (III/136).
[2]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/533 no. 1046)], 
Shahiih Muslim (II/619 no. 901 (3)), Sunan Abi Dawud (‘Aunul Ma’buud) (IV/46 
no. 1168), Sunan an-Nasa-i (III/130).
[3]. Ibid.
[4]. Shahih: [Mukhtashar Shahiih al-Bukhari (no. 118)], Shahiih al-Bukhari 
(Fat-hul Baari) (II/543 no. 1045).
[5]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/545 no. 1059)], 
Shahiih Muslim (II/628 no. 912), Sunan an-Nasa-i (III/153).
[6]. Tamaamul Minnah (hal. 261), dengan sedikit pengubahan.
[7]. Muttafaq 'alaihi: [Shahiih al-Bukhari (Fat-hul Baari) (II/515 no. 1027)], 
ini adalah lafazh darinya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 (2)), Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/24 no. 1149), Sunan at-Tirmidzi (I/34 no. 553), Sunan 
an-Nasa-i (II/155) dengan lafazh hampir serupa. 
[8]. Shahih: [Shahiih Sunan Abi Dawud (no. 1029)], Shahiih al-Bukhari (Fat-hul 
Baari) (II/514 no. 1025), ini adalah lafazhnya, Shahiih Muslim (II/611 no. 894 
(4)), dalam riwayatnya tidak terdapat kata: "mengeraskan." Sunan Abi Dawud 
(‘Aunul Ma’buud) (IV/26 no. 1150).




________________________________
 From: Faida N Mumtazah <[email protected]>
To: assunnah <[email protected]>
Sent: Friday, December 9, 2011 8:02 AM
Subject: [assunnah] Tata cara sholat gerhana bulan ?

Sehubungan dengan akan adanya gerhana bulan total... mohon share tata
cara sholat gerhana bulan...

Terimakasih,
FM

Gerhana bulan total, umat diimbau gelar shalat husuf
REPUBLIKA, JAKARTA

– Gerhana bulan total (GBT)
akan terjadi Sabtu 10 Desember. Peneliti Obsevarium Boscha, Moedji Raharta, 
menjelaskan GBT dapat disaksikan di seluruh wilayah di Tanah Air, diawali 
dengan gerhana bulan Penumbra yang berlangsung pukul 18.34 WIB. Namun, pada 
momen awal gerhana itu, tidak mudah membedakan dengan bulan purnama.

Mata manusia, lanjutnya, mulai mudah mengenal gerhana pada momen gerhana Umbra. 
Di sini bagian bulan di kawasan Umbra Bumi akan terlihat hitam karena sorot 
cahaya matahri ke bulan 100 persen
diblok oleh planet Bumi.

Karenanya, ia menyarankan agar shalat gerhana bulan dilangsungkan setelah habis 
isya atau mulai awal gerhana Umbra Waktu pelaksanannya sekitar pukul 19:46 WIB. 
Meksipun secara astronomi pada 18:34 WIB gerhana telah mulai. “Jadi (shalat) 
ketika Umbra lebih leluasa,” katanya, Kamis (8/12).


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links



    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke