TANDA-TANDA KECIL KIAMAT
Oleh
Dr. Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil
http://almanhaj.or.id/content/3182/slash/0

17. MERAJALELANYA AL-MA'AZIF [1] (ALAT-ALAT MUSIK) DAN MENGHALALKANNYA
Diriwayatkan dari Sahl bin Sa’d Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

يَكُونُ فِـي آخِرِ الزَّمَانِ خَسْفٌ وَقَذْفٌ وَمَسْخٌ قِيْلَ: وَمَتَى ذَلِكَ 
يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا ظَهَرَتِ الْمَعَازِفُ وَالْقَيْنَاتُ.

“Di akhir zaman nanti akan ada (peristiwa) di mana orang-orang ditenggelamkan 
(ke dalam bumi), dilempari batu dan dirubah rupanya.” Beliau ditanya, “Kapankah 
hal itu terjadi wahai Rasulullah!” Beliau menjawab, “Ketika alat-alat musik dan 
para penyanyi telah merajalela.” [2]

Tanda-tanda Kiamat ini telah banyak bermunculan pada zaman-zaman sebelumnya, 
dan sekarang lebih banyak lagi. Alat-alat musik telah muncul di zaman ini dan 
menyebar dengan penyebaran yang sangat luas serta banyak para biduan dan 
biduanita. Merekalah yang diisyaratkan dalam hadits ini dengan ungkapan 
“الْقَيْنَـاتُ (para penyanyi).”

Lebih dahsyat lagi adalah penghalalan alat-alat musik yang dilakukan oleh 
sebagian manusia. Telah datang ancaman bagi orang yang melakukan hal itu dengan 
dirubah rupanya, dilempari batu dan ditenggelamkan ke dalam bumi, sebagaimana 
dijelaskan dalam hadits terdahulu. Telah tetap dalam Shahiih al-Bukhari 
rahimahullah, beliau berkata, Hisyam bin ‘Ammar berkata, Shadaqah bin Khalid 
meriwayatkan kepada kami (kemudian beliau membawakan sanad yang sampai kepada 
Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu, bahwasanya beliau mendengar Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda):

لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ 
وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ، وَلَيَنْزِلَنَّ أَقْوَامٌ إِلَى جَنْبِ عَلَمٍ 
يَرُوحُ عَلَيْهِمْ بِسَارِحَةٍ لَهُمْ، يَأْتِيهِمْ يَعْنِي -الْفَقِيرَ- 
لِحَاجَةٍ فَيَقُولُونَ: ارْجِعْ إِلَيْنَا غَدًا، فَيُبَيِّتُهُمُ اللهُ وَيَضَعُ 
الْعَلَمَ وَيَمْسَخُ آخَرِيْـنَ قِرَدَةً وَخَنَازِيرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.

“Akan datang pada umatku beberapa kaum yang menghalalkan zina sutra, khamr 
(minuman keras) dan alat musik, dan sungguh akan menetap beberapa kaum di sisi 
gunung, di mana (para pengembala) akan datang kepada mereka dengan membawa 
gembalaannya, datang kepada mereka -yakni si fakir- untuk sebuah keperluan, 
lalu mereka berkata, ‘Kembalilah kepada kami esok hari.’ Kemudian Allah 
menghancurkan mereka pada malam hari, menghancurkan gunung dan merubah sebagian 
mereka menjadi kera dan babi sampai hari Kiamat.” [3]

Ibnu Hazm rahimahullah [4] menyangka bahwa hadits ini Munqathi, tidak 
bersambung (sanadnya) antara al-Bukhari dan Shadaqah bin Khalid [5]. Al-Allamah 
Ibnul Qayyim membantahnya dan beliau menjelaskan bahwa yang diungkapkan oleh 
Ibnu Hazm tidak benar dari enam sisi:[6]

a. Sesungguhnya al-Bukhari telah bertemu dengan Hisyam bin ‘Ammar, dan 
mendengarkan (riwayat) dari beliau. Jika beliau meriwayatkan secara ‘An’anah, 
maka hal itu dianggap bersambung berdasarkan kesepakatan, karena sezaman dan 
mendengar langsung, lalu jika ia berkata, “Hisyam berkata”, maka sama sekali 
tidak ada bedanya dengan ungkapan “Diriwayatkan dari Hisyam.”

b. Sesungguhnya orang-orang tsiqah telah meriwayatkan dari Hisyam secara 
maushul (bersambung). Al-Isma’ili berkata da-lam Shahiihnya, “Al-Hasan 
mengabarkan kepadaku, Hisyam bin ‘Ammar meriwayatkan kepadaku,” dengan sanad 
dan matannya.

c. Sesungguhnya hadits ini telah diriwayatkan dengan jalan yang shahih selain 
hadits Hisyam. Al-Isma’ili dan ‘Utsman Abi Syaibah meriwayatkan dengan dua 
sanad lain yang sampai kepada Abu Malik al-Asy’ari Radhiyallahu anhu.

d. Imam al-Bukhari, jika (dikatakan) beliau tidak pernah bertemu dengan Hisyam 
atau tidak pernah mendengar darinya, maka yang beliau lakukan memasukkan hadits 
ini dalam Shahiihnya dan meyakininya, menunjukkan bahwa hadits ini benar-benar 
dari Hisyam. Adapun beliau tidak menyebutkan pelantara antara dirinya dengan 
Hisyam bisa karena me-reka sudah dikenal atau banyaknya periwayatan dari mereka 
maka ri-wayat ini sudah sangat dikenal dari Hisyam.

e. Sesungguhnya jika al-Bukhari berkata dalam ash-Shahiihnya, “Fulan berkata,” 
maka maknanya adalah hadits tersebut shahih menurutnya.

f. Sesungguhnya al-Bukhari mengungkapkan hadits ini sebagai hujjah. Dimasukkan 
dalam Shahiihnya sebagai landasan pokok dan bukan sebagai penguat.

Maka kesimpulannya hadits ini tidak diragukan keshahihannya.

Ibnu Shalah rahimahullah [7] berkata, “Tidak perlu melihat pendapat Ibnu Hazm 
azh-Zhahiri al-Hafizh dalam penolakannya terhadap apa yang diriwayatkan oleh 
al-Bukhari tentang hadits Abu ‘Amir atau Abu Malik.” Lalu beliau menyebutkan 
haditsnya.

Kemudian beliau berkata, “Dan hadits ini shahih, ketersambungan sanadnya 
dikenal dengan syarat periwayatan ash-Shahiih. Al-Bukhari rahimahullah 
terkadang melakukan hal itu karena hadits tersebut dikenal dari segi ketsiqahan 
orang yang dita’liqnya. Beliau terkadang melakukan hal itu karena hadits 
tersebut juga diutarakan pada pembahasan lain di kitabnya dengan menyebutkan 
sanadnya yang bersambung. Beliau pun terkadang melakukan hal itu karena sebab 
lain yang intinya hadits tersebut tidak mengandung cacat terputusnya sanad, 
wallaahu a’lam.[8]

Kami memperpanjang pembahasan hadits ini karena sebagian orang bergantung 
kepada pendapat Ibnu Hazm, dan berhujjah dengannya untuk membolehkan alat 
musik. Sementara telah jelas bahwa hadits-hadits yang melarangnya adalah 
shahih, bahkan umat diancam dengan siksaan ketika alat-alat musik bermunculan 
dan kemaksiatan dilakukan.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf 
al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari 
Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Al-Ma’aazif adalah alat-alat yang melalaikan seperti kecapi, rebab, 
gendang, dan setiap alat per-mainan yang dibunyikan. 
Lihat an-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (III/230
[2]. HR. Ibnu Majah dalam Sunannya sebagian dari awalnya (II/1350) tahqiq 
Muhammad Fu-ad ‘Abdul Baqi.
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab al-Asyrubah, bab Ma Jaa-a fiiman Yastahillul 
Khamra wa Yusammihi bighairi Ismihi (X/51, al-Fat-h).
[4]. Beliau adalah al-‘Allamah al-Hafizh Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin Sa’id 
bin Hazm al-Andalusi al-Qurthubi, salah seorang imam madzhab az-Zhahiri. Beliau 
adalah orang yang banyak mentakwil dalam masalah ushul, ayat-ayat sifat dan 
hadits-haditsnya. Beliau banyak mengarang kitab tentang madzhab-madzhab ulama, 
aliran-aliran dalam agama, fiqih, ushul fiqh, biografi para ulama, dan sejarah. 
Wafat pada tahun 456 H rahimahullah. 
Lihat biografinya dalam al-Bidaayah wan Nihaayah (XII/91-92), karya Ibnu 
Katsir, dan Syadzaraatudz Dzahab fi Akhbaari man Dzahab (III/229-300).
[5]. Lihat kitab al-Muhallaa, karya Ibnu Hazm (IX/59) tahqiq Ahmad Syakir, 
terbitan al-Maktabah at-Tijaari lith Thiba’ah wan Nasyr, Beirut.
[6]. Lihat Tahdziibus Sunan (V/270-272).
[7]. Dia adalah al-Imam al-Muhaddits al-Hafizh Abu ‘Amr ‘Utsman bin 
‘Abdirrah-man asy-Syahruzuri, yang tekenal dengan sebutan Ibnu Shalah, ia 
adalah ahli ibadah, ahli zuhud, orang yang sangat wara’ berjalan di atas jalan 
Salafush Shalih, beliau memiliki banyak karya tulis dalam masalah hadits dan 
fiqih, melaksanakan tugas mengajar di Darul Hadits Damaskus, dan wafat pada 
tahun 634 H rahimahullah.
Lihat al-Bidaayah wan Nihaayah (XIII/168), Syadzaraatudz Dzahab (V/221-222).
[8]. Muqaddimah Ibni Shalah fi ‘Uluumil Hadiits (hal. 32), cet. Darul Kutub 
al-‘Ilmiyyah, th. 1398 H, dan lihat Fat-hul Baari (X/52).


18. BANYAKNYA PEMINUM KHAMR (MINUMAN KERAS) DAN MENGANGGAPNYA HALAL
Telah merebak di umat ini peminum-peminum khamr, dan menamakannya dengan selain 
namanya, lebih jelek lagi adalah sebagian manusia ada yang menghalalkannya. Ini 
adalah salah satu di antara tanda-tanda Kiamat. Imam Muslim rahimahukllah 
meriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Aku 
mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ... (وَذَكَرَ مِنْهَا) وَيُشْرَبُ الْخَمْرُ...

‘Di antara tanda-tanda Kiamat adalah… (lalu beliau menyebutkan di antaranya:) 
Dan diminumnya khamr....’” [1]

Telah berlalu penyebutan beberapa hadits tentangnya pada pembahasan tentang 
alat-alat musik. Di dalamnya dijelaskan bahwa akan ada pada umat ini orang yang 
menghalalkan meminum khamr.

Di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad juga Ibnu Majah dari 
‘Ubadah bin ash-Shamit Radhiyallahu anhu, beliau berkata, “Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لَيَسْتَحِلَّنَّ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي الْخَمْرَ بِاسْمٍ يُسَمُّونَهَا 
إِيَّاهُ.

‘Sungguh, akan ada sekelompok dari umatku yang menghalalkan khamr, (mereka 
menamakannya) dengan nama yang mereka tetapkan untuknya.’”[2]

Khamr telah diberi nama dengan nama yang bermacam-macam, bahkan ada yang 
menamakannya dengan minuman penyegar jiwa dan yang serupa dengannya.

Juga hadits-hadits lain yang menjelaskan bahwa meminum khamr akan menyebar luas 
pada umat ini, dan sungguh, di antara mereka ada yang meng-halalkannya dan 
merubah dengan nama yang bermacam-macam.
Ibnul ‘Arabi rahimahullah menafsirkan ungkapan “menganggapnya halal” dengan dua 
penafsiran:

Pertama : Meyakini bahwa meminum khamr halal hukumnya.

Kedua : Maknanya adalah terbiasa meminumnya sebagaimana mereka biasa meminum 
yang halal.

Beliau (Ibnu Shalah) menuturkan bahwa beliau mendengar dan melihat orang yang 
melakukan hal itu.[3] Hal tersebut lebih banyak lagi di zaman kita saat ini. 
Dan sungguh sebagian orang telah terfitnah dengan meminumnya.

Dan yang lebih dahsyat lagi adalah menjual dan meminumnya secara 
terang-terangan, di sebagian negeri Islam, juga penyebaran narkoba dengan 
sangat pesat yang belum ada bandingan pada zaman sebelumnya. Semua ini harus 
diwaspadai (diperingatkan) karena menimbulkan bahaya dan kerusakan yang besar. 
Hanya milik Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya.

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf 
al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari 
Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Shahiih Muslim, kitab al-‘Ilmi, bab Raf’ul ‘Ilmi wa Qabdhahu wa Zhuhuurul 
Jahli wal Fitan fi Aakhiriz Zamaan (XVI/221, Syarh an-Nawawi).
[2]. Musnad Ahmad (V/318, dengan catatan pinggir Kanzul ‘Ummal), dan Sunan Ibni 
Majah (II/1123).
Ibnu Hajar berkata dalam al-Fat-h (X/51), “Sanadnya jayyid.”
Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani, lihat Shahiih al-Jaami’ish 
Shaghiir (V/13-14, no. 4945).
[3]. Lihat Fat-hul Baari (X/15).


19. BERLOMBA-LOMBA MENGHIASI MASJID DAN BERBANGGA-BANGGA DENGANNYA.
Imam Ahmad rahimahullah meriwayatkan dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya 
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ.

“Tidak akan tiba Kiamat hingga manusia saling berbangga-bangga dengan 
masjidnya.” [1]

Dalam riwayat an-Nasa-i juga Ibnu Majah dari beliau (Anas) Radhiyallahu anhu, 
bahwasanya Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ.

“Di antara tanda-tanda Kiamat adalah manusia saling berbangga-bangga dengan 
masjid.” [2]

Al-Bukhari berkata, Anas berkata, ‘Berbangga-bangga dengannya kemudian tidak 
memakmurkannya (mengisinya dengan berbagai macam ibadah-ed.) kecuali sedikit 
saja, maka makna dari berbangga-bangga dengannya adalah hanya memperhatikan 
hiasannya saja. Ibnu ‘Abbas c berkata, ‘Sungguh kalian akan menghiasinya 
sebagaimana dilakukan oleh kaum Yahudi dan Nasrani (menghias tempat ibadah 
mereka).’” [3]

‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu pernah melarang menghiasi masjid 
karena hal itu bisa menghilangkan konsentrasi (kekhusu’an) bagi orang yang 
sedang melakukan shalat. Beliau berkata ketika memerintahkan untuk 
memperbaharui pembangunan Masjid Nabawi: 

أَكِنَّ النَّاسَ مِنَ الْمَطَرِ، وَإِيَّاكَ أَنْ تُحَمِّرَ أَوْ تُصَفِّرَ 
فَتَفْتِنَ النَّاسَ.

“Tutupilah orang-orang dari air hujan, dan janganlah kalian menghiasinya dengan 
warna merah atau warna kuning, sehingga orang-orang terganggu dengannya.” [4]

Semoga Allah memberikan kasih sayang-Nya kepada ‘Umar; karena terbukti 
orang-orang tidak memegang wasiatnya, mereka bukan saja memberikan warna merah 
dan warna kuning, akan tetapi mereka menghiasinya sebagaimana mereka menghiasai 
pakaian. Para raja juga khalifah berbangga-bangga membangun masjid dan 
menghiasinya hingga mereka melakukan sesuatu yang sangat mencengangkan. 
Masjid-masjid itu tetap tegak sampai saat ini, sebagaimana terdapat di Syam, 
Mesir, negeri-negeri Maghrib (Maroko), Andalusia dan yang lainnya, dan hingga 
saat ini kaum muslimin senantiasa berbangga-bangga dalam menghiasi masjid.

Tidak diragukan lagi bahwa menghiasi masjid merupakan ciri sikap boros. 
Sedangkan meramaikannya hanyalah dengan melakukan ketaatan dan dzikir kepada 
Allah di dalamnya. Cukuplah bagi manusia membuat sesuatu yang dapat 
melindunginya dari panas, dingin, dan hujan.

Telah datang ancaman dengan kehancuran ketika masjid dihiasi dan al-Qur-an 
diperindah (dengan berbagai corak). Al-Hakim dan at-Tirmidzi meriwayatkan dari 
Abud Darda Radhiyallahu anhu, dia berkata:

إِذَا زَوَّقْتُمْ مَسَاجِدَكُمْ، وَحَلَّيْتُمْ مَصَاحِفَكُمْ، فَالدِّمَارُ 
عَلَيْكُمْ.

“Jika kalian menghiasi masjid-masjid dan mushhaf kalian, maka kehancuranlah 
yang akan menimpa kalian.” [5]

Al-Munawi rahimahullah [6] berkata, “Menghiasi masjid dan mushhaf adalah 
sesuatu yang dilarang, karena hal itu bisa menyibukkan hati, dan menghilangkan 
kekhusyu’an dari bertadabbur dan hadirnya hati dengan mengingat Allah Ta’ala. 
Madzhab asy-Syafi’i berpendapat bahwa menghiasi masjid -walaupun Ka’bah- dengan 
emas atau perak diharamkan secara mutlak, adapun dengan selain keduanya 
hukumnya adalah makruh.” [7]

[Disalin dari kitab Asyraathus Saa'ah, Penulis Yusuf bin Abdillah bin Yusuf 
al-Wabil, Daar Ibnil Jauzi, Cetakan Kelima 1415H-1995M, Edisi Indonesia Hari 
Kiamat Sudah Dekat, Penerjemah Beni Sarbeni, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Musnad Ahmad (III/134, dengan catatan pinggir Muntakhab Kanz).
Syaikh al-Albani berkata, “Shahih.” Lihat Shahiihul Jaami (VI/174, no. 7294).
[2]. Sunan an-Nasa-i (II/32, Syarh as-Suyuthi).
Syaikh al-Albani berkata, “Shahih,” lihat Shahiihul Jaami’ (V/213, no. 5771).
Dan Shahiih Ibni Khuzaimah (II/281, no. 1322-1323) tahqiq Dr. Muhammad 
Mushthafa al-A’zhami, beliau berkata, “Isnadnya shahih.”
[3]. Shahiih al-Bukhari, kitab ash-Shalaah, bab Bun-yaanul Masjid (I/539, 
al-Fat-h). 
[4]. Lihat Shahiih al-Bukhari (I/539, al-Fath).
[5]. Shahiih al-Jaami’ish Shagiir (I/220, no. 599), dan Syaikh al-Albani 
berkata, “Sanadnya hasan.”
Diungkapkan dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah (III/337, no. 1351). 
Hadits tersebut di-riwayatkan oleh al-Hakim dan at-Tirmidzi dalam al-Akyaas wal 
Mughtarriin (hal. 78, Manuskrip azh-Zhahiriyah) dari Abud Darda secara marfu’.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dengan perubahan susunan yang awal 
ada di akhir dan yang akhir ada di awal dalam az-Zuhd (hal. 275, no. 797) 
tahqiq Habiburrahman al-A’zhami.
Al-Albani menyebutkan sanad Ibnul Mubarak dalam as-Silsilah, dan beliau 
berkata, “Perawi sanad ini tsiqah, perawi Muslim. Akan tetapi saya tidak 
mengetahui apakah Bakar bin Sawadah (riwayat dari Abud Darda) mendengar dari 
Abud Darda atau tidak?”
Al-Baghawi menuturkannya dalam Syarhus Sunnah (II/350) dan menisbatkannya 
kepada Abud Darda.
As-Suyuthi menyambungkannya dalam al-Jaami’ush Shaghiir (hal. 27) kepada 
al-Hakim dari Abud Darda, dan memberikan lambang dengan ضَعِيْفُ (lemah), 
demikian pula al-Munawi melemahkannya dalam Faidhul Qadiir (I/367, no. 658).
[6]. Beliau adalah Zainuddin Muhammad bin ‘Abdurrauf bin Tajul ‘Arifin bin ‘Ali 
bin Zainal ‘Abidin 
al-Haddadi al-Manawi. Beliau memiliki delapan puluh karya tulis, sebagian besar 
dalam masalah hadits, biografi dan sejarah, wafat di Kairo tahun 1031 H t.
Lihat al-A’laam (VI/204).
[7]. Faidhul Qadiir (I/367).                                      

Kirim email ke