PENGAJARAN BAGI PARA WANITA
Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
http://almanhaj.or.id/content/1723/slash/0
عَنْ أَبِى بَكْرٍ بْنِ سُلَيْمَانَ القُرْسِى قَالَ: إِنَّ رَجُلاً مِنْ
الأَنْصَارِ خَرَجَتْ بِهِ نَمْلَةٌ، فَدُلَّ أَنَّ الشِّفَاءَ بِنْتِ عَبْدِ
اللَّهِ تَرْقِيْ مِنَ النَّمْلَةِن فَجَاءَهَا فَسَأَلَهَا أَنْْ تَرْقِيْهِ،
فَقَالَتْ : وَاللَّهِ مَارَقَيْتُ مُنْدُ أَسْلَمْتُ، فَذَهَبَ الأَنْصَارِى
إِلَى رَسُوْلِِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرَهُ
بِالَّذِى قَالَتْ الِشِّفَاءُ، فَدَعَا رَسُوْلِِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الشِّفَاءَ، فَقَالَ : اَعْرِضَى عَلَيَّ. فَعَرَ ضَتْهَا
فَقَالَ : اِرْقِيْهِ، وَعَلِّمِيْهَا حَفْصَةَ كَمَا عَلِّمْتِيْهَا الكِتَابَ،
وَفِى رِوَايَةِ : الك
"Dari Abu Bakar bin Sulaiman Al-Qursyi, dia berkata.'Sesungguhnya ada seorang
laki-laki dalam kalangan Anshar yang mempunyai bisul. Lalu ditunjukkan bahwa
Asy-Syifa' binti Abdullah dapat mengobati bisul dengan ruqyah. Maka laki-laki
Anshar itu mendatanginya lalu meminta agar dia mengobatinya lalu meminta agar
dia mengobatinya dengan ruqyah. Asy-Syifa' berkata kata.'Demi Allah, aku tidak
lagi mengobati dengan ruqyah sejak aku masuk Islam'. Lalu laki-laki Anshar itu
pergi menemui Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengabarkan kepada beliau
tentang apa yang dikatakan Asy-Syifa'. Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam memanggil Asy-Syifa, seraya berkata. 'Perlihatkanlah (ruqyah itu)
kepadaku !'. Maka dia pun memperlihatkannya. Lalu beliau berkata. 'Obatilah dia
dengan ruqyah, dan ajarkanlah ia kepada Hafshah sebagaimana engkau mengajarkan
Al-Kitab kepadanya'. Dalam suatu riwayat disebutkan :'Mengajari menulis". [1]
Wahai Ukhti Muslimah !
Wasiat Nabawi ini mencakup dua bagian.
1. Pembahasan tentang pengobatan dengan menggunakan ruqyah. Masalah ini sudah
kami kemukakan dalam salah satu dari wasiat-wasiat beliau terdahulu.
2. Pengajaran tentang pengobatan dan menulis bagi para wanita.
Wahai Ukhti Muslimah !
Islam adalah agama persamaan, yang mempersamakan antara laki-laki dan wanita
dalam masalah pahala dan siksa. Islam menganjurkan laki-laki dan wanita agar
memikirkan ciptaan Allah dan berusaha untuk mendapatkan keridhaan-Nya.
Berangkat dari penjelasan ini, maka Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
mewasiatkan Asy-Syifa' agar mengajarkan ruqyah kepada Ummul Mukminin, Hafshah,
setelah dia mengajarinya cara menulis.
Jadi, wanita juga harus belajar, mendatangai majlis-majlis ilmu dan bertanya
kepada orang-orang yang berilmu tentang segala hal yang hendak diketahuinya,
berupa urusan-urusan agamanya, jika sang suami tidak memiliki pengetahuan
tentang hal itu. Tetapi yang dimaksudkan disini bukan sekedar ilmu yang
diakhiri dengan memperoleh ijazah agar bisa mendapatkan perkerjaan. tetapi yang
dimaksudkan ilmu di sini adalah apa yang terkandung di dalam Kitab Allah dan
Sunnah Rasul-Nya.
Karena bagaimana mungkin engkau akan merasa puas jika engkau hanya menguasai
ilmu yang berkaitan dengan urusan dunia, tetapi engkau tidak tahu urusan
akhirat ? Atau bagaimana mungkin engkau berusaha untuk mendapatkan ilmu dunia,
sementara engkau juga melakukan hal-hal yang membuat Allah marah, seperti
ber-tabarruj, membuka aurat dan mementingkan hawa nafsu ?
Memang benar, para orang tua tidak bisa mencegah anak-anak putrinya untuk
mencari ilmu. Tetapi bagaimana mungkin seorang ayah membiarkan anak putrinya
pergi mencari ilmu, sedangkan dia tidak shalat, tidak pernah membaca Al-Qur'an
dan bahkan tidak tahu hukum-hukum yang mestinya diketahui oleh wanita secara
khusus dari urusan-urusan agamanya ? Islam telah mengajarkan kepada kita bahwa
mencari ilmu karena Allah, merupakan gambaran ketakutan, mencari ilmu adalah
ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menganalisisnya adalah jihad, mengajarkannya
kepada orang-orang yang tidak tahu adalah shadaqah, membiayai orang yang
mencari ilmu adalah qurbah, dan ilmu merupakan pendamping tatkala sendirian,
dalil atas agama, Allah mengangkat suatu kaum karenanya, menjadikannya sebagai
bukti dalam kebaikan dan dengan ilmu pula ibadah kepada Allah bisa menjadi
sempurna, yang halal dan yang haram pun bisa diketahui.
Begitulah agama kita mengangkat kedudukan ilmu dan orang yang berilmu,
menganjurkan laki-laki dan wanita untuk mencarinya. Tetapi bagaimana mungkin
engkau berusaha mati-matian mendalami ilmu yang bisa mendukung kesuksesanmu di
dunia, seperti ilmu arsitektur, kedokteran dan ilmu ilmu lain, namun engkau
melalaikan hal-hal yang memasukanmu ke sorga dan menjauhkanmu dari neraka .?
Dengan cara melakukan instropeksi, engkau bisa bertanya kepada diri sendiri :
Sejauh mana hukum-hukum dan ilmu agama yang engkau ketahui. Jika engkau
mendapatkan kebaikan disana, maka pujilah Allah, karena ini berasal dari
karunia dan taufiq-Nya kepadamu. Dan, jika engkau mendapatkan selain itu, maka
memohonlah ampun kepada Allah, kembalilah kepada-Nya dan carilah bekal dengan
ilmu agamamu. Karena hal yang paling baik ialah mendalami agamamu, dan
penderitaan adalah bagi orang-orang yang terpedaya oleh hal-hal yang tampak
gemerlap dari ilmu-ilmu dunia, namun dia tidak memperdulikan ilmu akhirat.
Firman Allah tentang hal ini.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ
"Dan, barangsiapa berpaling dari pengetahuanku, maka sesungguhnya baginya
kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpun-nya pada hari kiamat dalam
keadaan buta". [Thaha : 124]
Begitulah wasiat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang menganjurkan
para wanita agar berusaha mencari ilmu dan mendapatkannya.
[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim,
Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]
_______
Footnote
[1] Hadits shahih, ditakhrij Al-Hakim 4/56-57, menurutnya, ini adalah hadits
shahih menurut syarat Asy-Syaikhani. Yang serupa dengan ini juga ditakhrij dari
jalan lain oleh Abu Dawud, hadits nomor 3887, Ahmad 6/372