MEWASPADAI DOSA-DOSA KECIL

Oleh
Majdi As-Sayyid Ibrahim
http://almanhaj.or.id/content/244/slash/0

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، قَالَتْ : قَالَ رَسُوْ لُ اللَّهِ صَلَّى 
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ : يَاعَائِشَةُ إِيَّاكَ وَمُحَقَّرَاتِ الأعْمَالِ 
(وَفِى رِوَايَةِ : الذُنُوْبِ) فَإِنَّ لَهَا مِنَ اللَّهِ طَالِبًا

“Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, dia berkata, ‘Rasulullah Shallallahu ‘alaihi 
wa sallam berkata, ‘Wahai Aisyah, hindarilah olehmu amal-amal yang remeh (dan 
dalam satu lafazh disebutkan dosa-dosa). Karena ada yang akan menuntut dari 
Allah terhadap amal-amal itu” [1]

Wahai Ukhti Muslimah !
Ini merupakan wasiat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ummul 
Mukminin, Aisyah. Ini merupakan wasiat yang amat berharga dan berbobot, yaitu 
berupa peringatan tentang hal yang seringkali dilalaikan banyak orang, yaitu 
dosa-dosa kecil. Setelah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Anas 
berkata, “Sungguh kamu sekalian sudah mengetahui berbagai amal yang menurut 
pandangan itu lebih lembut dari sehelai rambut. Apabila kami menyebutnya pada 
masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ‘al-mubiqat (perbuatan 
durhaka)”. Artinya adalah hal-hal yang merusak menurut Al-Bukhary.

Perhatikanlah wahai ukhi mukminah ! Kalau yang dikatakan Anas seperti itu pada 
masa sahabat dan tabi’in, lalu bagaimana andaikata Anas melihat kondisi 
orang-orang pada masa sekarang? Tentu seorang mukmin akan merasa menyesal dan 
sedih menyaksikan para pemeluk Islam yang meremehkan hak-hak Allah, dan tidak 
ada yang dia katakan kecuali ucapan : Alangkah menyesalnya wahai hamba Allah.

Perhatikan Ummu Darda’ yang berkata, “Pada suatu hari Abu Darda masuk (rumah) 
sambil marah-marah. Maka Ummu Darda bertanya, Ada apa engkau ini?”

Abu Darda menjawab, “Demi Allah, aku tidak melihat sedikit pun dari urusan 
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallm di antara mereka, melainkan mereka shalat 
semuanya” [2]

Lalu apa yang bakal diucapkan Abu Darda andaikata dia melihat kehidupan 
orang-orang pada masa sekarang?

Wanita mukminah yang lurus dalam keimanannya tidak akan memandang kedurhakaan 
yang terjadi didepannya, lalu dia berkata tanpa menaruh perhatian, “itu hanya 
dosa kecil dan remeh”. Tetapi dia harus takut terhadap siksa Allah, menangis 
karena takut terhadap penderitaan api neraka dan merasa rugi andaikata dia 
terhalang untuk masuk surga.

Dulu, ada seorang zahid, Bilal bin Sa’d yang berkata, “Janganlah engkau melihat 
kepada kecilnya kesalahan. Tetapi lihatlah siapa yang engkau durhakai” [3]

Wanita mukminah yang lurus selalu merasa khawatir terhadap dirinya dan takut 
kepada siksa Allah. Maka dari itu dia selalu berada dalam ketaatan kepada Allah 
dan melaksanakan kebaikan.

Abu Ja’afr As-Sa’ih rahimahullah juga berkata, “Ada khabar yang sampai kepada 
kami, bahwa seorang wanita ahli ibadah yang selalu aktif melaksanakan 
shalat-shalat sunat, berkata kepada suaminya, “Celakalah engkau, bangunlah! 
Sampai kapan engkau tidur saja? Sampai kapan engkau selalu dalam keadaan lalai? 
Aku akan bersumpah demi engkau, janganlah mencari penghidupan kecuali dengan 
cara halal. Aku akan bersumpah demi engkau, janganlah masuk neraka hanya karena 
diriku. Cobalah berbuat baik kepada ibumu, sambunglah tali persaudaraan, 
janganlah memutus mereka sehingga Allah akan memutus dirimu”[4]

Begitulah yang dilakukan seorang wanita muslimah yang bertakwa dan merupakan 
ahli ibadah. Dia menolong suaminya kepada kepentingan urusan dunia dan akhirat.

Sedangkan pada zaman sekarang, kita melihat wanita-wanita muslimah tidak 
memerhatikan dosa-dosa kecil, kecuali orang yang dirahmati Allah. Bahkan 
akhirnya mereka berani mengerjakan dosa besar secara terang-terangan pada siang 
hari, tidak takut kemarahan Yang Mahapenguasa. Tadinya mereka meremehkan dosa. 
Dia tidak sadar bahwa bila seseorang sudah meremehkan suatu dosa, maka Alllah 
akan memperbesar dosa itu. Sehingga tidak cukup sampai di situ saja, sampai 
akhirnya dia terpuruk dalam dosa besar. Padahal awal mulanya berangkat dari 
dosa kecil. Sungguh benar perkataan seorang penyair.

“Segala kejadian berawal dari pandangan
kobaran api berasal dari keburukan yang kecil

Berapa banyak pandangan yang merusak sang pelaku
bagaikan rusaknya anak panah tanpa busur dan tali”

Maka wanita muslimah harus menjauhi dosa-dosa kecil, apalagi dosa-dosa besar. 
Selagi mereka mau meninggalkan dosa besar, taubat dar dosa-dosa kecil, 
beristighfar, menyesalinya dan mengakui bahwa meskipun kedurhakaan itu kecil, 
toh itu merupakan hak Allah, Pencipta langit dan bumi, yang memiliki keutamaan 
dalam segala sesuatu. Dengan adanya penyesalan dan pengakuan ini, maka 
sesungguhnya Allah itu Maha luas maghfirah dan rahmatNya, Dia pasti akan 
mengampuni. FirmanNya.

إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ 
سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang kamu 
mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu (dosa-dosamu yang 
kecil) dan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga)” [An-Nisa : 31]

Allah juga berfirman.

وَالَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ وَإِذَا مَا 
غَضِبُوا هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan, (bagi) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan-perbuatan keji, 
dan apabila mereka marah mereka memberi ma’af” [Asy-Syura : 37]

الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ ۚ 
إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain 
dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Mahaluas ampunanNya” 
[An-Najm : 32]

Akhirnya sebelum meninggalkan wasiat yang sangat berharga ini, boleh jadi 
engkau bertanya-tanya seraya berkata, “Bukankah dosa-dosa kecil itu diampuni 
sebagaimana diampuninya kedurhakaan yang lain?

Kami tidak bisa mengatakan kecuali bahwa Allah itu sangat besar maghfirahNya, 
Mahaluas rahmatNya, mengampuni siapapun yang dikehendakiNya. Tetapi hendaklah 
engkau ketahui, andaikata dosa-dosa kecil itu berkumpul pada diri seseorang, 
tentu ia akan membinasakannya dan memasukkannya ke neraka. Kita berlindung 
kepada Allah dari hal itu.

Para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengira seperti yang 
engkau kira. Lalu beliau hendak menjelaskan kepada mereka bahayanya masalah ini 
dan besarnya urusan ini. Maka beliau berkata seperti yang diriwayatkan Sahl bin 
Sa’d Radhiyallahu ‘anhu, bahwa beliau berkata :

“Jauhilah olehmu sekalin dosa-dosa kecil. Karena perumpamaan dosa-dosa kecil 
itu laksana sekumpulan orang yang singgah di tengah lembah. Yang ini datang 
sambil membawa dahan, dan yang ini datang sambil membawa dahan, yang ini datang 
membawa dahan, lalu mereka memasak rotinya. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu 
perbuatan durhaka" [5]

[Disalin dari kitab Al-Khamsuna Wasyiyyah Min Washaya Ar-Rasul Shallallahu 
'Alaihi Wa Sallam Lin Nisa, Edisi Indonesia Lima Puluh Wasiat Rasulullah 
Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam Bagi Wanita, Pengarang Majdi As-Sayyid Ibrahim, 
Penerjemah Kathur Suhardi, Terbitan Pustaka Al-Kautsar]
________
Footenote
[1]. Isnadnya Shahih, ditakhrij Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimy, Ibnu Hibban dan 
Al-Qaha’y dalam Musnadusy-Syihab.
Perkataan muhaqqarat, artinya hal-hal yang remeh. Muhaqqarat al-a’mal artinya 
perbuatan yang dilakukan seseorang dan dia tidak terlalu mempedulikannnya. 
Menurut Ibnu Bathal, apabila dosa-dosa yang kecil itu semakin banyak, maka ia 
menjadi dosa besar apabila dikerjakan terus menerus.
[2]. Ditakhrij Al-Bukhary 8/128
[3]. Az-Zuhd, Ahmad hal. 460. Hilyatulk\ Auliya’, Abu Nu’aim 5/223
[4]. Disebutkan Ibnul Jauzy dalam Shifatush Shafwah 4/437
[5] Isnadnya Shahih, ditakhrij Ahmad, Ath-Thabrany dalam Al-Kabir dan 
Ash-Shagir 2/49                                     

Kirim email ke