MENSYUKURI NIKMAT ISLAM YANG ALLAH SUBHANAHU WA TA'ALA KARUNIAKAN KEPADA KITA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3193/slash/0

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن 
يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ 
فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا 
يُؤْمِنُونَ

“Barangsiapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), Dia akan 
membukakan dadanya untuk (menerima) Islam. Dan barangsiapa dikehendaki-Nya 
menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia (sedang) 
mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang 
tidak beriman.” [Al-An’aam: 125]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

مَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ 
فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ 
مُّبِينٍ

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) 
agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang 
hatinya membatu)? Maka celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk 
mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]

Orang yang tidak mendapat hidayah akan senantiasa berada dalam kegelapan dan 
kerugian. Bagaimana jika seandainya seseorang tidak diberi hidayah oleh Allah 
Azza wa Jalla? Maka pasti ia menderita dalam kekafirannya, hidupnya sengsara 
dan tidak tenteram, serta di akhirat akan disiksa dengan siksaan yang abadi 
[1]. Allah Azza wa Jalla menunjuki hamba-Nya dari kegelapan menuju cahaya yang 
terang benderang melalui Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam. Untuk itu, 
kewajiban kita adalah mengikuti, meneladani dan mentaati Rasulullah Shallallahu 
'alaihi wa sallam dalam segala perilaku kehidupan kita, jika kita menginginkan 
hidup di bawah cahaya Islam. Allah Azza wa Jalla menyatakan bahwa Dia Azza wa 
Jalla telah memberikan karunia yang besar dengan diutusnya Nabi dan Rasul-Nya, 
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ 
أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ 
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika 
(Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan 
mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, mensucikan (jiwa) 
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur-an) dan Hikmah (As-Sunnah), 
meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” [Ali 
‘Imran: 164]

Setiap muslim niscaya meyakini bahwasanya karunia Allah Azza wa Jalla yang 
terbesar di dunia ini adalah agama Islam. Seorang muslim akan senantiasa 
bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah memberinya petunjuk ke 
dalam Islam dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 
Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang Dia 
berikan kepada hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي 
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا 

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan 
nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu.”[Al-Maa-idah: 3]

A. Kewajiban Kita Atas Karunia yang Kita Terima
Sesungguhnya wajib bagi kita bersyukur kepada Allah Azza wa Jalla dengan cara 
melaksanakan kewajiban terhadap-Nya. Setiap muslim wajib bersyukur atas nikmat 
Islam yang telah diberikan Allah Azza wa Jalla kepadanya. Jika seseorang yang 
tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu 
yang sangat berharga baginya, maka ia adalah orang yang tidak tahu berterima 
kasih. Demikian juga jika manusia tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah 
Azza wa Jalla, maka dia adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, 
dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” [Al-Baqarah: 152]

Kewajiban apakah yang harus kita laksanakan kepada Allah Azza wa Jalla yang 
telah memberikan karunia-Nya kepada kita? Jawabannya, karena Allah Azza wa 
Jalla telah memberikan karunia-Nya kepada kita dengan petunjuk ke dalam Islam, 
maka bukti terima kasih kita yang paling baik adalah dengan beribadah hanya 
kepada Allah Azza wa Jalla secara ikhlas, mentauhidkan Allah Subhanahu wa 
Ta'ala, menjauhkan segala bentuk kesyirikan, ittiba’ (mengikuti) Nabi Muhammad 
Shallallahu 'alaihi wa sallam serta taat kepada Allah Azza wa Jalla dan 
Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang dengan hal itu kita menjadi 
muslim yang benar. Oleh karena itu, agar menjadi seorang muslim yang benar, 
kita harus menuntut ilmu syar’i. Kita harus belajar agama Islam karena Islam 
adalah ilmu dan amal shalih. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diutus 
oleh Allah Azza wa Jalla dengan membawa keduanya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى 
الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur-an) dan agama 
yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik 
tidak menyukai.” [At-Taubah: 33]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى 
الدِّينِ كُلِّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, 
agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.” 
[Al-Fat-h: 28]

Juga lihat Ash-Shaaff ayat 9.

Yang dimaksud dengan اَلْهُدَى (petunjuk) adalah ilmu yang bermanfaat, dan 
دِيْنُ الْحَقِّ (agama yang benar) adalah amal shalih. Allah Azza wa Jalla 
mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjelaskan 
kebenaran dari kebathilan, menjelaskan Nama-Nama Allah, Sifat-Sifat-Nya, 
perbuatan-perbuatan-Nya, hukum-hukum dan berita yang datang dari-Nya, serta 
memerintahkan semua yang bermanfaat bagi hati, ruh dan jasad. Beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengikhlaskan ibadah 
semata-mata karena Allah Azza wa Jalla, mencintai-Nya, berakhlak dengan akhlak 
yang mulia, beramal shalih dan beradab dengan adab yang bermanfaat. Beliau 
Shallallahu 'alaihi wa sallam melarang perbuatan syirik, amal dan akhlak buruk 
yang membahayakan hati dan badan juga dunia dan akhirat.[2]

Cara untuk mendapat hidayah dan mensyukuri nikmat Allah Subhanahu wa Ta'ala 
adalah dengan menuntut ilmu syar’i. Menuntut ilmu merupakan jalan yang lurus 
(ash-Shirathal Mustaqim) untuk memahami antara yang haq dan yang bathil, antara 
yang ma’ruf dan yang mungkar, antara yang bermanfaat dan yang mudharat 
(membahayakan), dan menuntut ilmu akan membawa kepada kebahagiaan dunia dan 
akhirat.

Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan ke-Islamannya tanpa 
memahami dan mengamalkannya. Pernyataannya itu haruslah dibuktikan dengan 
melaksanakan konsekuensi dari Islam.

Untuk itu, menuntut ilmu merupakan jalan menuju kebahagiaan yang abadi.
Seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu syar’i. 

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ.

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” [3]

Menuntut ilmu adalah jalan menuju Surga.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

...مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ 
طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

“...Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka 
Allah akan memudahkan dirinya dengannya jalan menuju Surga.” [4]

B. Pentingnya Ilmu Syar’i
Kita dan anak-anak kita akan tetap dan senantiasa ditambahkan ilmu, hidayah dan 
istiqamah di atas ketaatan jika kita beserta keluarga menuntut ilmu syar’i. Hal 
ini tidak boleh diabaikan dan tidak boleh dianggap remeh. Kita harus selalu 
bersikap penuh perhatian, serius serta sungguh-sungguh dalam menuntut ilmu 
syar’i. Kita akan tetap berada di atas ash-Shiraathal Mustaqiim jika kita 
selalu belajar ilmu syar’i dan beramal shalih. Jika kita tidak memperhatikan 
dua hal penting ini, tidak mustahil iman dan Islam kita akan terancam bahaya. 
Sebab, iman kita akan terus berkurang dikarenakan ketidaktahuan kita tentang 
Islam dan iman, kufur, syirik, dan dengan sebab banyaknya dosa dan maksiyat 
yang kita lakukan! Bukankah iman kita jauh lebih berharga daripada hidup ini?

Dari sekian banyak waktu yang kita habiskan untuk bekerja, berusaha, bisnis, 
berdagang, kuliah dan lainnya, apakah tidak bisa kita sisihkan sepersepuluhnya 
untuk hal-hal yang dapat melindungi iman kita?

Saya tidaklah mengatakan bahwa setiap muslim harus menjadi ulama, membaca 
kitab-kitab tebal dan menghabiskan waktu belasan atau puluhan tahun untuk usaha 
tersebut. Namun, minimal setiap muslim harus dapat menyediakan waktunya satu 
jam saja setiap hari untuk mempelajari ilmu pengetahuan tentang agama Islam. 
Itulah waktu yang paling sedikit yang harus disediakan oleh setiap muslim, baik 
remaja, pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia. Setiap muslim harus 
memahami esensi ajaran Al-Qur-an dan As-Sunnah yang shahih menurut pemahaman 
para Salafush Shalih. Oleh karena itu, ia harus tahu tentang agama Islam dengan 
dalil dari Al-Qur-an dan As-Sunnah sehingga ia dapat mengamalkan Islam ini 
dengan benar. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan 
agama Islam. Jika iman kita lebih berharga dari segalanya, maka tidak sulit 
bagi kita untuk menyediakan waktu 1 jam (enam puluh menit) untuk belajar 
tentang Islam setiap hari dari waktu 24 jam (seribu empat ratus empat puluh 
menit).

Ilmu syar’i mempunyai keutamaan yang sangat besar dibandingkan dengan harta 
yang kita miliki.

C. Kemuliaan Ilmu Atas Harta [5]
Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah (wafat th. 751 H) v menjelaskan perbedaan antara 
ilmu dengan harta, di antaranya sebagai berikut:

1. Ilmu adalah warisan para Nabi, sedang harta adalah warisan para raja dan 
orang kaya.

2. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang pemilik harta menjaga hartanya.

3. Ilmu adalah penguasa atas harta, sedang harta tidak berkuasa atas ilmu.

4. Harta bisa habis dengan sebab dibelanjakan, sedangkan ilmu justru bertambah 
dengan diajarkan.

5. Pemilik harta jika telah meninggal dunia, ia berpisah dengan hartanya, 
sedangkan ilmu mengiringinya masuk ke dalam kubur bersama para pemiliknya.

6. Harta bisa didapatkan oleh siapa saja, baik orang beriman, kafir, orang 
shalih dan orang jahat, sedangkan ilmu yang bermanfaat hanya didapatkan oleh 
orang yang beriman saja.

7. Sesungguhnya jiwa menjadi lebih mulia dan bersih dengan mendapatkan ilmu, 
itulah kesempurnaan diri dan kemuliaannya. Sedangkan harta tidak membersihkan 
dirinya, tidak pula menambahkan sifat kesempurnaan dirinya, malah jiwanya 
menjadi berkurang dan kikir dengan mengumpulkan harta dan menginginkannya. Jadi 
keinginannya kepada ilmu adalah inti kesempurnaan-nya dan keinginannya kepada 
harta adalah ketidak-sempurnaan dirinya.

8. Sesungguhnya mencintai ilmu dan mencarinya adalah akar seluruh ketaatan, 
sedangkan mencintai harta dan dunia adalah akar berbagai kesalahan.

9. Sesungguhnya orang berilmu mengajak manusia kepada Allah Azza wa Jalla 
dengan ilmunya dan akhlaknya, sedangkan orang kaya mengajak manusia ke Neraka 
dengan harta dan sikapnya.

10. Sesungguhnya yang dihasilkan dengan kekayaan harta adalah kelezatan 
binatang. Jika pemiliknya mencari kelezatan dengan mengumpulkannya, itulah 
kelezatan ilusi. Jika pemiliknya mengumpulkan dengan mengguna-kannya untuk 
memenuhi kebutuhan syahwatnya, itulah kelezatan binatang. Sedangkan kelezatan 
ilmu, ia adalah kelezatan akal plus ruhani yang mirip dengan kelezatan para 
Malaikat dan kegembiraan mereka. Di antara kedua kelezatan tersebut (kelezatan 
harta dan ilmu) terdapat perbedaan yang sangat mencolok. 
Seorang muslim harus mengetahui tentang pengertian Islam, karena itu ia harus 
belajar tentang Islam, definisi, dan inti dari ajarannya yang mulia.

[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang 
Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 
264 Bogor 16001, Cetakan ke 3]
_______
Footnote
[1]. Lihat surat Ali ‘Imran ayat 91 dan al-Maa-idah ayat 36-37.
[2]. Lihat kitab Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiril Kalaamil Mannaan 
(hal. 295-296) oleh Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di (wafat th. 1376 H), 
cet. Muassasah ar-Risalah, th. 1417 H.
[3]. HR. Ibnu Majah (no. 224) dari Shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, 
lihat Shahiih al-Jamii’ish Shaghiir (no. 3913). Diriwayatkan pula dari beberapa 
Shahabat seperti ‘Ali, Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, Ibnu Mas’ud, Abu Sa’id 
al-Khudri, Husain bin ‘Ali Radhiyallahu anhum oleh imam-imam ahli hadits 
lainnya dengan sanad yang shahih. Lihat kitab Takhriij Musykilatul Faqr (no. 
86) oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, cet. IV/ Al-Maktab al-Islami, 
th. 1414 H.
[4]. HR. Muslim (no. 2699) dan selainnya, dari Shahabat Abu Hurairah 
Radhiyallahu anhu
[5]. Lihat al-‘Ilmu; Fadhluhu wa Syaraafuhu min Durari Kalami Syaikhul Islam 
Ibnul Qayyim, hal. 160-173, tahqiq wa ta’liq: Syaikh ‘Ali Hasan ‘Ali ‘Abdul 
Hamid al-Halabi al-Atsari, cet. I, Majmu’ah at-Tuhaf an-Nafa-is ad-Dauliyah, 
th. 1416 H.                                         

Kirim email ke