Wa'alaikumussalam warahmatullah

Jawabannya saya salin dari
http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2010/02/menggendong-anak-yang-memakai-diapers.html

Menggendong Anak Yang Memakai Diapers Ketika
Shalat<http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/2010/02/menggendong-anak-yang-memakai-diapers.html>

*Tanya:* Assalamu'alaikum. Ustadz,apa hukum menggendong bayi yang memakai
diapers saat shalat? Mohon penjelasan beserta dalilnya, jazakumullahu
khairan. (Ummu Fathimah)


Jawab:
Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Alhamdulillahi rabbil 'aalamiin, washshalaatu wassalaamu 'alaa rasulillaah
khairil anbiyaa'I wal mursaliin wa 'alaa 'aalihii wa shahbihii ajma'iin.
Amma ba'du:
Apabila diapers tersebut suci maka tidak ada masalah menggendong bayi
tersebut ketika shalat. Namun apabila di dalamnya ada najis, maka para
ulama telah berbeda pendapat dalam masalah orang shalat membawa najis yang
tertutup tidak di tempat asalnya (perut), misalnya orang shalat membawa
botol yang berisi najis. Sebagian ulama berpendapat shalatnya sah karena
najisnya tidak keluar, adapun yang lain mengatakan tidak sah karena dia
membawa najis yang tidak dimaafkan di luar tempat asalnya (yaitu
perut).(Lihat Al-Bahr Ar-Raa'iq 1/240, Al-Majmu' 3/157, Al-Mughny 2/467-468)
Yang serupa dengan permasalahan ini adalah orang shalat menggendong anak
yang memakai diapers yang berisi najis. Diantara yang mengatakan sah adalah
Syeikh Abdul Muhsin Al-'Abbaad hafizhahullah, dengan syarat najis tersebut
tidak nampak dan tidak merembes keluar, beliau berkata:
فإذا كان الولد أو الجارية التي يحملها الشخص في الصلاة عليها حفاظة، وفيها
شيء من النجاسة، فإن كانت النجاسة ظاهرة، ويمكن أن تؤثر، فلا يجوز له أن
يحملها، وأما إذا كان هناك نجاسة ولكنها ليست ظاهرة ولا تصل إليه فليس هناك
بأس. والطواف بالأطفال من جنسه، فإذا دعت الحاجة إلى حمل الأطفال فالأصل هو
طهارة ثيابهم وأبدانهم، إلا إذا وجدت النجاسة وظهرت، وغالباً أن النجاسات إذا
وجدت في الحفائظ من الداخل فإنها تتشربها؛ لأن فيها مانعاً يمنعها من أن تظهر،
فما دام أن النجاسة لم تظهر وأمنت ناحية تنجيسها لما حولها فلا بأس
"Apabila anak atau anak wanita yang digendong tersebut memakai diapers yang
di dalamnya ada najis yang nampak dan mungkin mempengaruhi maka tidak boleh
menggendongnya, adapun apabila najis tersebut tidak nampak dan tidak sampai
kepadanya maka tidak mengapa. Dan hukum thawaf dengan menggendong anak sama
dengan masalah ini. Bila diperlukan menggendong anak maka pada asalnya
pakaian dan badan mereka suci kecuali jika ditemukan najis dan nampak. Dan
kebanyakan najis-najis yang terdapat di dalam diapers diserap oleh diapers
tersebut, karena di dalamnya ada yang mencegah najis tersebut nampak, oleh
karena itu selama najis tersebut tidak nampak dan tidak menajisi apa yang
ada di sekitarnya maka tidak mengapa" (Syarh Sunan Abi Dawud, ketika beliau
mensyarh hadist Abu Qatadah Al-Anshary radhiyallahu 'anhu yang berisi bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menggendong Umamah bintu Abu
Al-'Ash ketika shalat)
Namun yang lebih kuat –wallahu a'lam- adalah pendapat yang mengatakan tidak
sah shalatnya apabila tahu di dalamnya ada najis, karena termasuk syarat
sahnya shalat adalah bersihnya orang yang shalat dari najis baik najis di
badan, pakaian, maupun tempat shalat. Apabila dia mengetahui di dalamnya
ada najis, atau mengetahui tapi lupa melepasnya maka tidak mengapa.
Sedangkan apabila dia mengetahui akan tetapi tetap menggendongnya maka
shalatnya tidak sah.
Dalilnya adalah hadist Abu Sa'id Al-Khudry radhiyallahu 'anhu:
عن أبي سعيد الخدري قال : بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بأصحابه
إذ خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوا نعالهم فلما قضى رسول
الله صلى الله عليه و سلم صلاته قال " ما حملكم على إلقائكم نعالكم " ؟ قالوا
رأيناك ألقيت نعليك فألقينا نعالنا فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم " إن
جبريل صلى الله عليه و سلم أتاني فأخبرني أن فيهما قذرا " أو قال أذى وقال "
إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر فإن رأى في نعليه قذرا أو أذى فليمسحه وليصل
فيهما "
*"Dari Abu Sa'id Al-Khudry berkata: Saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam sedang mengimami para sahabat dalam shalat tiba-tiba beliau melepas
kedua sandalnya, kemudian langsung meletakkannya di sebelah kiri beliau.
Ketika para sahabat melihat yang demikian maka mereka melempar
sandal-sandal mereka. Setelah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
selesai shalat beliau bertanya: Apa yang membuat kalian melempar
sandal-sandal kalian? Mereka menjawab: Kami melihatmu melempar sandal, maka
kamipun melempar sandal. Beliau berkata: Sesungguhnya Jibril mendatangiku
dan mengabarkan bahwa di dalam kedua sandalku ada kotoran (najis), apabila
salah seorang dari kalian mendatangi masjid maka hendaklah melihat
sandalnya, apabila melihat kotoran (najis) maka hendaklah mengusapnya dan
shalat dengan kedua sandal tersebut" (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Syeikh
Al-Albany)*
Dalam hadist ini Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melepas sandal
yang yang ada najisnya setelah diberitahu oleh Jibril, ini menunjukkan
tidak sahnya shalat setelah mengetahui ada najis di sandalnya, dan beliau
tidak mengulangi shalatnya, ini menunjukkan sahnya shalat orang yang
membawa najis tetapi tidak mengetahuinya. Dan ini adalah pendapat jumhur
ulama. (Lihat Al-Majmu' 3/163)
Berkata Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu:
فإن صلى وبدنه نجس أي قد أصابته نجاسة لم يغسلها أو ثوبه نجس ، أو بقعته نجسة
فصلاته غير صحيحة عند جمهور العلماء ، لكن لو لم يعلم بهذه النجاسة ، أو علم
بها ثم نسي أن يغسلها حتى تمت صلاته ، فإن صلاته صحيحة ولا يلزمه أن يعيد
"Apabila shalat dengan badan yang najis yaitu sudah terkena najis dan tidak
mencucinya atau bajunya najis atau tempat dia shalat najis maka shalatnya
tidak sah menurut jumhur ulama, akan tetapi apabila tidak mengetahui
keberadaan najis ini atau mengetahuinya tapi lupa mencucinya sampai selesai
shalat maka shalatnya shahih dan dia tidak wajib mengulangi shalatnya"
(Majmu' Fataawaa wa Rasaa'il Syeikh Al'Utsaimin 12/471 )

Dan pendapat ini yang dikuatkan oleh Syeikh Sulaiman Ar-Ruhaily sebagaimana
ketika saya ajukan pertanyaan penanya di atas kepada beliau malam Kamis, 19
Shafar 1431, di Kuliah Dakwah wa Ushuuluddin , Al-Jami'ah Al-Islamiyyah.
Wallahu a'lam.

Pada 27 Februari 2012 13:00, habibillah <[email protected]> menulis:

> **
>
>
> Assalamu'aikum,
> sebagaimana yang saya tahu, salah satu syarat sahnya sholat adalah
> shalat di tempat yang suci. Nah permasalahannya bagaimana kalo lagi
> shalat, tiba seorang balita yang menggunakan diapers mendekat dan
> bermain-main di tempat kita sujud, kadang2 juga bergelayutan,
> sedangkan kalo kita perhatikan balita tersebut mungkin sudah pipis
> tapi terserap diapers yang sedang ia pakai?
>
> --
> habibillah
>  
>

Kirim email ke