From: [email protected]
Date: Thu, 15 Mar 2012 14:11:42 +0000



Assalamu'alaikum
Mohon pencerahannya yg sesuai Qur'an dan Sunnah Rasulullahisalallahu 'alaihi 
wassalam.
Ana اِ نْ شَآ ءَ اللّه dalam waktu dekat akan menerima harta warisan orang tua 
(keduanya sdh meninggal). Namun ada niat untuk mensedekahkan seluruh harta 
waris bagian ana utk amal jariyah (mesjid, pesantren, dll) dgn niat agar org 
tua bs mendapatkan pahala dari amal jariyah ini. Jg sbg bentuk bakti kpd orang 
tua.
Apakah niat ana ini sesuai dengan sunnah. Apakah pahala amal jariyah akan 
sampai kpd orang tua ana?
Mohon jawaban dgn dalil yg shahih sehingga hati ana menjadi tenang
Syukron
Wassalamu'alaikum
Abu Azzam
>>>>>>>>>>>>
 
1. Shadaqah Jariyah
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا 
مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو 
لَهُ 

Apabila manusia meninggal dunia, maka terputus amalnya kecuali tiga perkara: 
shadaqah jariyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang 
mendoakannya. [HR Muslim 3084].

Syaikh Ali Bassam berkata: Adapun yang dimaksud dengan shadaqah dalam hadits 
ini ialah wakaf. Hadits ini menunjukkan, bahwa amal orang yang mati telah 
terputus. Dia tidak akan mendapat pahala dari Allah setelah meninggal dunia, 
kecuali (dari) tiga perkara ini; karena tiga perkara ini termasuk usahanya. 
Para sahabat dan tabi’in mengizinkan orang berwakaf, bahkan menganjurkannya. 
[Lihat kitab Taisiril Allam, 2/132].
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/3035/slash/0
 
Perngertian shadaqah jariyyah menurut Madzhab Empat ialah: Suatu pemberian 
untuk mencari pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ada pula yang mengatakan: 
Memberikan shadaqah yang tidak wajib, dengan cara menguasakan barang dengan 
tanpa ganti (gratis). Ada pula yang mengatakan: Harta yang diberikan dengan 
mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ada pula yang mengatakan: 
Harta “wakaf”, sedangkan pengertian wakaf itu sendiri yaitu: Apa-apa yang 
ditahan di jalan Allah Subhanahu wa Ta'ala .
 
Di antara hadits-hadits yang menyebutkan shadaqah jariyyah, adalah hadits 
riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu 'anhu, 
dia berkata: Sesungguhnya aku telah mendangar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam bersabda: 

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ الهِّ بَنَى الهُب لَهُ بَيْتًا فِي 
الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang membangun masjid untuk mencari wajah Allah Subhanahu wa 
Ta'ala, niscaya Allah Subhanahu wa Ta'ala membangunkan untuknya sebuah rumah di 
dalam surga".

Di dalam riwayat Imam Tirmidzi dari Anas bin Malik: (Nabi Shallallahu 'alaihi 
wa sallam bersabda):

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا صَغِيرًا كَانَ أَوْ كَبِيرًا بَنَى الهُل لَهُ 
بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

"Barangsiapa yang membangun masjid, kecil maupun besar, niscaya Allah Subhanahu 
wa Ta'ala membangunkan untuknya sebuah rumah di dalam surga".
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2909/slash/0
 
2. Anak Shaleh Yang Mendoakan Orang Tuanya.
Anak itu termasuk usaha orang-tua, sehingga amalan-amalan sholeh yang diamalkan 
si anak, juga akan menjadikan orang-tua mendapatkan pahala amalan tersebut, 
tanpa mengurangi pahala anak tersebut sedikitpun.

Imam Turmudzi, Imam Nasai dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu 
'anha bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

ِنَّ أَطْيَبَ مَا أَكَلْتُمْ مِنْ كَسْبِكُمْ وَإِنَّ أَوْلاَدَكُمْ مِنْ 
كَسْبِكُمْ 

"Sesungguhnya sebaik-baik yang kamu makan adalah yang (kamu dapatkan) dari 
usaha kamu, dan sesungguhnya anak-anakmu itu termasuk usaha kamu".

Hadits (di atas) mengkhususkan anak shaleh dan sudah ma’lum kedekatan anak 
shaleh dari pada yang lainnya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, oleh karena 
itulah Nabi menyebutnya pada hadits itu. Di mana anak shaleh itu selalu 
berdzikir dan selalu menjaga hubungan baik kepada kepada Allah. Dan ia pun 
tidak lupa memanjatkan do’a untuk kedua orang tuanya setelah mereka tiada. 
Selain itu bahwa anak shaleh yang membiasakan diri di dalam mengerjakan 
amalan-amalan shaleh sewaktu kedua orang tuanya hidup, yang dia mempelajari 
amalan-amalan shaleh itu dari keduanya, maka kedua orang tuanya mendapatkan 
pahala dari amalan-amalan anaknya, tanpa mengurangi pahala si anak tersebut.
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2909/slash/0
 
Setiap orang yang menikah pasti ingin memiliki anak. Dengan menikah –dengan 
izin Allah- ia akan mendapatkan keturunan yang shalih, sehingga menjadi aset 
yang sangat berharga karena anak yang shalih akan senantiasa mendo’akan kedua 
orang tuanya, serta dapat menjadikan amal bani Adam terus mengalir meskipun 
jasadnya sudah berkalang tanah di dalam kubur.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا مَاتَ اْلإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ: صَدَقَةٌ 
جَارِيَةٌ وَعِلْمٌ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٌ صَالِحٌ يَدْعُوْ لَهُ.

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga hal: 
shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendo’akannya.”[7]
Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/2318/slash/0
Wallahu a'lam


                                          

Kirim email ke