ETIKA BERCAKAP-CAKAP
Oleh Ust Abu Bakr Manusia tidak akan pernah lepas dari berkomunikasi, satu dengan yang lainnya. Terkadang untuk suatu keperluan dan terkadang juga sekedar basa basi. Tapi kadangkala adab dalam bercakap-cakap ini diabaikan, sehingga tidak sedikit membuat kesal dan tersinggung lawan bicaranya. Karena itu, inilah beberapa etika yang perlu diperhatikan agar percakapan kita menjadi berfaedah dan penuh dengan hikmah: 1. Berbicara santun, tidak nyerocos sendiri Tak jarang ada seorang yang banyak bicara mengenai segala hal tanpa ada manfaatnya, seolah-olah dialah yang paling tahu dan ahli dalam segala bidang. Ia menganggap diamnya orang di depannya menandakan ia kagum dengan pembicaraanya, sehingga ia pun memperpanjangnya. Dari Abu Tsa'labah al-Khusyani, Rasulullah SalAllahu wa Allahi wassalam bersabda; "Sesunguhnya orang yang paling aku cintai dan paling dekat denganku di akherat adalah yang terbaik akhlaknya di antara kalian dan yang paling jauh dariku di akherat adalah yang paling jelek akhlaknya; yang banyak bicara, yang sombong lagi suka mengejek orang." (HR Ahmad 4/193-194, Ibnu Hibban:482, dihasankan oleh Syaikh Albani dalam as-Shahihah:791) Berkata Syaikh Abdurrahman as-Sa'di Rahimahullah, "sesungguhnya adab syar'I dan kesopanan menurut kebiasaan orang adalah dengan memberi kesempatan yang lain berbicara, karena mereka semua mendapat bagian untuk itu. Kecuali bagi anak-anak kecil (pemula) dengan orang-orang tua, hendaknya mereka memelihara adab dengan tidak berbicara, kecuali sebagai bentuk jawaban untuk yang lainnya." Ar-Riyadhah, an-Nadhirah:549 2. Tidak bicara mengangkat diri sendiri hanya skedar untuk suatu kebanggaan Termasuk dalam hal ini adalah membicarakan perihal kecerdasaan anaknya, kekayaan suaminya atau tentang kegesitan isterinya mengatur rumah tangga. Pada asalnya memuji diri sendiri adalah terlarang, sebagaimana dalam firman Allah dalam surat an-Najm ayat 32. An-Nawawi berkata, " Ketahuilah, bahwa menyebut kebaikan diri sendiri ada dua macam ada yang tercela dan ada yang terpuji. Yang tercela yaitu ia menceritakan untuk kebanggaan, menampakan kelebihan dan tampil beda dengan yang lain atau yang semisal itu. Yang terpuji yaitu jika hal itu diceritakan untuk suatu kemaslahatan agama seperti amar ma'ruf nahi munkar, mengajari, menasehati, mendidik, memberikan wejangan, mengingatkan, mendamaikan antara dua orang, menghindarkan diri dari bahaya dan yang semisal itu. Dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan tersebut ia meniatkan agar pendapatnya akan mudah diterima dan dapat dijadikan teladan." (Al-Adskar: 246-247) 3. Hati-hati ketika berbicara agar tidak menyinggung perasaan orang yang diajak berbicara Berkata Amr bin al-Ash radhiallahuanhum, "Ketergelinciran kaki adalah tulang yang bisa diluruskan sedangkan ketergelinciran lisan tidak meninggalkan (orang yang hidup kecuali akan dibinasakan) dan tidak membiarkan (orang mati kecuali pasti akan dihidupkan kembali)." Bahjatul Majalis 1/97 4. Tidak terlalu banyak bertanya yang tidak perlu, atau terlalu cepatmenjawab pertanyaan. Termasuk aib bagi seseorang jika ia terlalu cepat menjawab suatu pertanyaan sebelum yang bertanya menyelesaikan persoalannya, atau menjawab pertanyaan yang ditujukankepada orang lain, bukan kepada dirinya. Umar bin Abdul Aziz berkata, "Ada dua perangai yang tidak akan menjauhkan kamu dari kebodohannya yaitu, terlalu cepat berpaling dan menjawab. Uyunul Akhbar 2/39 5. Tidak melayani pembicara orang-orang rendahan dan pandir. Berkata Ibnu Abbas Radhiallahuanhum, " Janganlah engkau bertengkar dengan orang penyantun dan orang pandir, karena orang pantun akan membencimu dan orang pandir akan menyakitimu." (Al Uzlah, oleh al-Khathabu:134-135 lihat juga dalam surat al-A'raf ayat 199 6. Bicara sesuai dengan situasi dan kondisi majelis. Tidak layak jika seseorang bergurau dikala tema pembicaraan sangat serius atau berusaha membuat orang tertawa dikala situasi sedang sedih. Berkata Syaikh as-Sa'di, < Termasuk adab yang baik adalah berbicara dengan setiap orang dengan keadaan dan kedudukannya. Berbicara dengan ulama dengan belajar, mengambil manfaat dan menghormatinya. Dengan para penguasa dan pemimpin adalah berbicara lembut serta sopan yang sesuai dengan kedudukan mereka. Dengan saudara atau sahabat adalah dengan perkataan yang baik, bertukar pikiran tentang agama dan dunia serta bermuka ria yang dapat menghilangkan kekakuan dan menghiasi majelis. Tidak mengapa bercanda asalkan dengan jujur. Dengan para murid adalah dengan memberikan manfaat. Dengan keluarga dan kerabat adalah mengajari mereka kemaslahatan agama dan dunia, pendirikan rumah tangga dan menganjurkan mereka melakukan amalan yang bermanfaat buat mereka dengan dibarengi wajah ceria dan gurau, karena merekalah yang paling berhak dengan kebaikanmu. Dan kebaikan terbesar adalah mempergauli mereka dengan baik. Dengan para faqir miskin, berbicara yang tawadhu, merendahkan diri dan menjauhi mengangkat diri serta bicara sombng terhadapnya. > Ar-Riyadh an Nadhirah 458-459 7. Ketahui jika lawan bicara bosan Ibnu Mas'ud Radhiallahuanhum berkata, "Ajaklah bicara orang selama ia menghadapkan diri kepadamu dan pendengarannya dan memperhatikanmu dengan pandangannya. Jika engkau melihat ia bosan maka berhentilah bicara." Zahrul Adab 1/195 8. Menghargai pembicaraan seseorang meskipun ia lebih tahu tentang hal itu. Mu'az bin Sa'd al-Awar berkata, " Saya pernah duduk disamping Atha' bin Abi Rabah. Lalu ada orang menyampaiakan suatu hadits, lantas ada yang meremehkan haditsnya. Atha' pun marah secara berkata, "Perangai apa ini?! Sungguh saya mendengar hadits dari orang lain sedangkan saya lebih mengetahui tentang hadits tersebut, tetapi saya perlihatkan kepada orang itu seolah-olah saya tidak tahu apa-apa." Rauhatul Uqola:72 9. Tidak meninggalkan teman duduknya hingga menyelesaikan pembicaraan Abu Mijlaz berkata, "Jika ada seorang duduk dengan maksud menyampaikan sesuatu kepadamu, maka janganlah engkau beranjak sampai engkau meminta izinnya." Al-Muntaqa min Makarimil Akhlaq:153 10. Jangan terlalu cepat memvonis Takkala saudaranya berbicara tentang sesuatu, ia lantas mengucapkan "Bukan begitu!", "Itu Bohong!" dan semisalnya. Abdullah bin Amr bin al-Ash Radhiallahuanhum berkata, " Ada tiga orang dari Quraisy yang paling baik akhlaknya, paling putih wajahnya dan paling pemalu. Jika kalian ceritai mereka, mereka tidak akan mendustakan kalian. Jika kalian menceritakan sesuatu yang benar atau keliru, maka mereka tidak lantas mendustakannya; merekalah Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah." (Uyunul Akhbar 3/23 11. Berusaha bercakap-cakap dengan anak-anak kecil Dimaksud untuk melatihnya berbicara, menambah pengalaman dan pengetahuan mereka, menguatkan akal mereka dan menambah keberanian serta percaya diri mereka 12. Tidak mengeraskan suara takkala berada di dalam majelis (QS Luqman Ayat 19) 13. Hindari banyak membicarakan wanita Ahnaf bin Qais berwasiat : " Jauhkanlah majelis kita dari membicarakan wanita dan makanan. Saya tidak suka orang yang gemar menyifati kemaluan dan perutnya." (Siyar A'lam an Nubala 4/94. Walhamdulillah. Sebuah tulisan Ust Abu Bkr yang dikuti dari al-Mawaddah VOl 48 Rabi'ul awal 1433 H Januari-Februari 2012 Bilal Al-Alamah Ibnul Qayyim berkata, "Tidaklah suatu pekerjaan meskipun kecil melainkan dibentangkan kepadanya dua catatan. Mengapa dan bagaimana ? Yakni, mengapa kamu melakukan dan bagaimana kamu melakukan ?"
