From: [email protected] Date: Sun, 15 Apr 2012 04:43:24 -0700 Afwan, ana ingin bertanya Apakah ada tuntunannya mandi besar setalah melahirkan..? Jazakallohukhoir atas ilmunya
Wassalamualaikum, taufan >>>>>>> Mandi besar setelah melahirkan (nifas). 4. Terputusnya haidh dan nifas Berdasarkan hadits ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Fathimah binti Abi Khubaisy: إِذَا أَقْبَلَتِ الْحَيْضَةُ فَدَعِـي الصَّلاَةَ، وَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْتَسِلِيْ وَصَلِّي. “Jika datang haidh, maka tinggalkanlah shalat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan shalatlah.” [8] Nifas dan haidh dihukumi sama secara ijma'. Tata Cara Yang Disunnahkan Ketika Mandi Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Dahulu, jika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam hendak mandi janabah (junub), beliau memulainya dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk shalat. Lalau beliau mengambil air dan memasukkan jari-jemarinya ke pangkal rambut. Hingga jika beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak tiga kali tuangan. Setelah itu beliau guyur seluruh badannya. Kemudian beliau basuh kedua kakinya." [10] Catatan: Tidak wajib bagi seorang wanita mengurai rambutnya ketika mandi janabah (junub). Namun wajib dilakukan ketika mandi sehabis haidh. Dari Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku adalah wanita berkepang dengan kepangan yang sulit diurai. Apakah aku harus mengurainya ketika mandi janabah? Beliau berkata: لاَ، إِنَّمَا يَكْفِيْكِ أَنْ تَحْثِيَ عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ ثُمَّ تَفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ فَتَطْهُرِيْنَ. “Tidak, cukuplah engkau tuangkan air ke atas kepalamu sebanyak tiga kali. Kemudian guyurkan air ke seluruh tubuhmu. Maka, sucilah engkau.” [11] Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma, bahwasanya Asma’ bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang mandi setelah selesai haidh. Beliau lalu bersabda, “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air dan bidaranya lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’, sebagaimana tata cara mandi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam -ed.) dengan sebaik-baiknya. Kemudian mengucurkannya ke atas kepala dan menguceknya kuat-kuat hingga ke pangkal kepalanya. Lantas mengguyur seluruh badannya dengan air. Setelah itu hendaklah ia mengambil secarik kapas yang diberi minyak misk, lalu bersuci dengannya." Asma' berkata, "Bagaimana cara dia bersuci dengannya?" Beliau berkata: "Subhaanallaah, bersucilah dengannya." 'Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata sambil seolah berbisik, "Ikutilah bekas-bekas darah itu dengannya." Dan aku (Asma’) bertanya lagi kepada beliau tentang mandi (junub) janabah. Beliau lalu bersabda: تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءً فَتَطَهَّرَ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ أَوْ تَبْلُغُ الطُّهُوْرَ ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتُدَلِّكُهُ حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا ثُمَّ تَفِيْضُ عَلَيْهَا الْمَاءَ. “Hendaklah salah seorang dari kalian mengambil air lalu bersuci (yaitu berwudhu menurut penafsiran sejumlah ulama’-ed.) dengan sebaik-baiknya atau menyempurnakannya. Kemudian menuangkan air ke atas kepala dan menguceknya sampai ke dasar kepala. Setelah itu mengguyurkan air ke seluruh badannya." [12] Dalam hadits ini terdapat perbedaan jelas antara mandinya wanita karena haidh dan karena (junub) janabah. Yaitu ditekankannya pada wanita yang haidh agar bersuci dan mengucek dengan kuat dan sungguh-sungguh. Sedangkan pada mandi janabah tidak ditekankan hal tersebut. Dan hadits Ummu Salamah adalah dalil bagi tidak wajibnya mengurai rambut saat mandi janabah. [13] Tujuan mengurai rambut adalah untuk meyakinkan sampainya air hingga ke dasar rambut. Hanya saja pada mandi (junub) janabah masih ditolerir. Karena seringnya dilakukan serta adanya kesulitan yang sangat ketika mengurainya. Lain halnya dengan mandi haidh yang hanya terjadi setiap sebulan sekali. Selengkapnya baca di http://almanhaj.or.id/content/679/slash/0 Baca juga SEKILAS MENGENAL NIFAS http://almanhaj.or.id/content/2741/slash/0 Wallahu a'lam
