Kelima:
TAUHID ULUHIYYAH[1]

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3264/slash/0


Tauhid Uluhiyyah dikatakan juga Tauhiidul ‘Ibaadah yang berarti
mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui segala pekerjaan hamba,
yang dengan cara itu mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala, apabila hal itu disyari’atkan oleh-Nya, seperti
berdo’a, khauf (takut), raja’ (harap), mahabbah (cinta), dzabh
(penyembelihan), bernadzar, isti’anah (meminta pertolongan),
istighatsah (minta pertolongan di saat sulit), isti’adzah (meminta
perlindungan), dan segala apa yang disyari’atkan dan diperintahkan
Allah Azza wa Jalla dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu
apapun. Semua ibadah ini dan lainnya harus dilakukan hanya kepada
Allah semata dan ikhlas karena-Nya, dan ibadah tersebut tidak boleh
dipalingkan kepada selain Allah.

Sungguh, Allah tidak akan ridha jika dipersekutukan dengan sesuatu
apapun. Apabila ibadah tersebut dipalingkan kepada selain Allah, maka
pelakunya jatuh kepada syirkun akbar (syirik yang besar) dan tidak
diampuni dosanya. [Lihat QS. An-Nisaa: 48, 116][2]

Al-ilaah artinya al-ma'luuh, yaitu sesuatu yang disembah dengan penuh
kecintaan serta pengagungan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَإِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَٰنُ الرَّحِيمُ

“Dan Rabb-mu adalah Allah Yang Maha Esa, tidak ada sesembahan yang
diibadahi dengan benar melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha
Penyayang.” [Al-Baqarah: 163]

Syaikh al-‘Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah
(wafat th. 1376 H) berkata: “Bahwasanya Allah itu tunggal Dzat-Nya,
Nama-Nama, Sifat-Sifat, dan perbuatan-Nya. Tidak ada sekutu bagi-Nya,
baik dalam Dzat-Nya, Nama-Nama, maupun Sifat-Sifat-Nya. Tidak ada yang
sama dengan-Nya, tidak ada yang sebanding, tidak ada yang setara, dan
tidak ada sekutu bagi-Nya. Tidak ada yang mencipta dan mengatur alam
semesta ini kecuali hanya Allah. Apabila demikian, maka Dia adalah
satu-satunya yang berhak untuk diibadahi. Dia (Allah) tidak boleh
disekutu-kan dengan seorang pun dari makhluk-Nya.[3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ
وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ
الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi
dengan benar selain Dia, Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan demikian). Tidak ada
sesembahan yang berhak diibadahi dengan benar selain-Nya, Yang Maha
Perkasa lagi Mahabijak-sana.” [Ali ‘Imran: 18]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai Lata, ‘Uzza dan Manat
yang disebut sebagai tuhan oleh kaum Musyrikin:

إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا
أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ

“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu
mengada-adakannya, Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk
(menyembah)nya...” [An-Najm: 23]

Setiap sesuatu yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah
bathil, dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ
دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah,
Dia-lah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain
dari Allah, itulah yang bathil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang
Mahatinggi lagi Mahabesar.” [Al-Hajj: 62]

Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang Nabi Yusuf Alaihissallam,
yang berkata kepada kedua temannya di penjara:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ
الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً
سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ
سُلْطَانٍ

“Hai kedua temanku dalam penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang
bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa? Kamu
tidak menyembah selain Allah, kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang
kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu
keterangan pun tentang nama-nama itu...” [Yusuf: 39-40]

Tauhid Uluhiyyah merupakan inti dakwah para Nabi dan Rasul عَلَيْهِمُ
الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ , dari Rasul yang pertama hingga Rasul
terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ
وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap ummat
(untuk menyerukan): ‘Beribadahlah kepada Allah (saja), dan jauhilah
Thagut itu...’” [An-Nahl: 36]

Dan firman-Nya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ
أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami
wahyukan kepadanya: ‘Bahwasanya tidak ada ilah (yang berhak untuk
diibadahi dengan benar) selain Aku, maka ibadahilah olehmu sekalian
akan Aku.’” [Al-Anbiyaa’: 25]

Semua Rasul عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ memulai dakwah mereka
kepada kaumnya dengan tauhid Uluhiyyah, agar kaum mereka beribadah
dengan benar hanya kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala saja.

Seluruh Rasul berkata kepada kaumnya agar beribadah hanya kepada Allah saja.[4]

Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

فَأَرْسَلْنَا فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا
لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرُهُ ۖ أَفَلَا تَتَّقُونَ

“Lalu Kami utus kepada mereka, seorang Rasul dari kalangan mereka
sendiri (yang berkata): ‘Sembahlah Allah olehmu sekalian, sekali-kali
tidak ada sesembahan yang haq selain-Nya. Maka, mengapa kamu tidak
bertaqwa (kepada-Nya)?’” [Al-Mukminuun: 32]

Orang-orang musyrik tetap saja mengingkarinya. Mereka masih saja
mengambil sesembahan selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka
menyembah, meminta bantuan dan pertolongan kepada tuhan-tuhan itu
dengan menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pengambilan tuhan-tuhan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik ini
telah dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan dua bukti:[5]

Bukti pertama: Tuhan-tuhan yang diambil itu tidak mempunyai
keistimewaan Uluhiyyah sedikit pun, karena mereka adalah makhluk,
tidak dapat menciptakan, tidak dapat menarik kemanfaatan, tidak dapat
menolak bahaya, serta tidak dapat menghidupkan dan mematikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ
يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا
وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah),
yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri
diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) suatu kemudharatan dari
dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) sesuatu kemanfaatan pun dan
(juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula)
membangkitkan.” [Al-Furqaan: 3]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِينَ زَعَمْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ
مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَمَا لَهُمْ
فِيهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَمَا لَهُ مِنْهُمْ مِنْ ظَهِيرٍ وَلَا تَنْفَعُ
الشَّفَاعَةُ عِنْدَهُ إِلَّا لِمَنْ أَذِنَ لَهُ

“Katakanlah: ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain
Allah. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit
dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam
(penciptaan) langit dan bumi, dan sekali-kali tidak ada di antara
mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’ Dan tiadalah berguna syafa’at
di sisi Allah, melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya
memperoleh syafa’at...” [Saba’: 22-23]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا
يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا أَنْفُسَهُمْ يَنْصُرُونَ

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang
tidak dapat menciptakan sesuatu pun? Sedangkan berhala-berhala itu
sendiri adalah buatan manusia. Dan berhala-berhala itu tidak mampu
memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya
sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.”
[Al-A’raaf: 191-192]

Apabila keadaan tuhan-tuhan itu demikian, maka sungguh sangat bodoh,
bathil dan zhalim apabila menjadikan mereka sebagai ilah (sesembahan)
dan tempat meminta pertolongan.

Bukti kedua: Sebenarnya orang-orang musyrik mengakui bahwa Allah
Subhanahu wa Ta'ala adalah satu-satunya Rabb, Pencipta, Yang di
tangan-Nya kekuasaan segala sesuatu. Mereka juga mengakui bahwa hanya
Dia-lah yang dapat melindungi dan tidak ada yang dapat melindungi dari
adzab-Nya. Ini mengharuskan pengesaan Uluhiyyah (penghambaan)
sebagaimana mereka mengesakan Rububiyyah (ketuhanan) Allah.

Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya konsekuensi untuk melaksanakan
Tauhid Uluhiyyah (beribadah hanya kepada Allah saja).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ
وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ الَّذِي جَعَلَ
لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ
السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Wahai manusia, baribadahlah kepada Rabb-mu yang telah menciptakanmu
dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertaqwa. Dia-lah yang
menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap. Dia
menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan
itu segala buah-buahan sebagai rizki untukmu, karena itu janganlah
kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.”
[Al-Baqarah: 21-22]

Tauhid Rububiyyah mengharuskan adanya tauhid Uluhiyyah.

Allah memerintahkan kita untuk bertauhid Uluhiyyah, yaitu menyembah
dan beribadah hanya kepada-Nya. Dia Subhanahu wa Ta'ala menunjukkan
dalil kepada mereka dengan tauhid Rububiyyah, yaitu penciptaan-Nya
terhadap manusia dari yang pertama hingga yang terakhir, penciptaan
langit dan bumi serta seisinya, diturunkannya hujan, ditumbuhkannya
tumbuh-tumbuhan, dikeluarkannya buah-buahan yang menjadi rizki bagi
para hamba. Maka, sangat tidak pantas bagi kita jika menyekutukan
Allah dengan selain-Nya; dari benda-benda ataupun orang-orang yang
mereka sendiri mengetahui bahwa ia tidak bisa berbuat sesuatu pun dari
hal-hal tersebut di atas dan lainnya.

Maka, jalan fitrah untuk menetapkan tauhid Uluhiyyah adalah
berdasarkan tauhid Rububiyyah. Karena manusia pertama kalinya sangat
bergantung kepada asal kejadiannya, sumber kemanfaatan dan
kemudharatannya. Setelah itu berpindah kepada cara-cara bertaqarrub
kepada-Nya, cara-cara yang bisa membuat Allah ridha serta menguatkan
hubungan antara dirinya dengan Rabb-nya. Maka, tauhid Rububiyyah
adalah pintu gerbang dari tauhid Uluhiyyah. Karena itu Allah berhujjah
atas orang-orang musyrik dengan cara ini.

Allah Ta’ala berfirman:

ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ خَالِقُ كُلِّ
شَيْءٍ فَاعْبُدُوهُ

“(Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu adalah Allah, Rabb-mu;
tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia;
Pencipta segala sesuatu, maka beribadahlah kepada-Nya …” [Al-An’aam:
102]

Dia berdalil dengan tauhid Rububiyyah-Nya atas hak-Nya untuk disembah.
Tauhid Uluhiyyah inilah yang menjadi tujuan dari penciptaan manusia.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah kepada-Ku.” [Adz-Dzaariyaat: 56]

Arti لِيَعْبُدُوْنِ “Agar mereka menyembah-Ku,” adalah:
“Mentauhidkan-Ku dalam ibadah.” Seorang hamba tidaklah menjadi
Muwahhid hanya dengan mengakui tauhid Rububiyyah semata, tetapi ia
harus mengakui tauhid Uluhiyyah serta mengamalkannya. Kalau tidak,
maka sesungguhnya orang musyrik pun mengakui tahuid Rububiyyah, tetapi
hal ini tidak membuat mereka masuk dalam Islam, bahkan Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam memerangi mereka. Padahal mereka
mengakui bahwa Allah-lah Sang Pencipta, Pemberi rizki, Yang
menghidupkan dan mematikan.

Di antara kekhususan Ilahiyah adalah kesempurnaan-Nya yang mutlak
dalam segala segi, tidak ada cela atau kekurangan sedikit pun. Ini
mengharuskan semua ibadah mesti tertuju kepada-Nya; pengagungan,
penghormatan, rasa takut, do’a, pengharapan, taubat, tawakkal, minta
pertolongan dan penghambaan dengan rasa cinta yang paling dalam, semua
itu wajib secara akal, syara’ dan fitrah agar ditujukan khusus hanya
kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, tidak kepada selain-Nya.[6]

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, Penulis
Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi'i, Po Box
7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M]
_______
Footnote
[1]. Pembahasan ini merujuk pada kitab Syarah Ushuulil Iimaan (hal.
21-23) oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, ‘Aqiidatut
Tauhiid (hal 36) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdilla al-Fauzan,
dan Nuurut Tauhiid wa Zhulumaatusy Syirki (hal. 17-18) oleh Dr. Wahf
bin ‘Ali bin Sa’id al-Qahthani.
[2]. Lihat Aqiidatut Tauhiid (hal. 36) oleh Dr. Shalih al-Fauzan,
Fat-hul Majiid Syarah Kitaabit Tauhiid dan al-Ushuuluts Tsalaatsah
beserta syarahnya.
[3]. Lihat Taisiirul Kariimir Rahmaan fii Tafsiiri Kalaamil Mannaan
(hal. 63), cet. Maktabah al-Ma’arif, th. 1420 H.
[4]. Sebagaimana perkataan Nabi Nuh, Hud, Shalih dan Syu’aib. Lihat
Al-Qur-an pada surat al-A’raaf: 65, 73 dan 85.
[5]. Lihat Syarah Ushuulil Iimaan (hal. 21-23).
[6]. Diringkas dari ‘Aqiidatut Tauhiid (hal.32-34) oleh Dr. Shalih al-Fauzan.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke