KEUTAMAAN BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA DAN PAHALANYA

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/404/slash/0

Di Antara Fadhilah (Keutamaan) Berbakti Kepada Kedua Orang Tua.

Pertama.
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah amal yang paling utama. Dengan 
dasar diantaranya yaitu hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang 
disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari sahabat Abu Abdirrahman Abdullah bin 
Mas'ud radhiyallahu 'anhu dia berkata :


سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ 
أَفْضَلُ؟ قَالَ : اَلصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ : قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ 
: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ : قُلْتُ : ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ : اَلْجِهَادُ فِي 
سَبِيلِ اللَّهِ

"Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang amal-amal yang 
paling utama dan dicintai Allah ? Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 
Pertama shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal 
waktunya), kedua berbakti kepada kedua orang tua, ketiga jihad di jalan Allah" 
[Hadits Riwayat Bukhari I/134, Muslim No.85, Fathul Baari 2/9]

Dengan demikian jika ingin kebajikan harus didahulukan amal-amal yang paling 
utama di antaranya adalah birrul walidain (berbakti kepada kedua orang tua).

Kedua.
Bahwa ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua. Dalam hadits yang 
diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad, Ibnu HIbban, Hakim dan Imam 
Tirmidzi dari sahabat Abdillah bin Amr bin Ash Radhiyallahu 'anhuma dikatakan 
bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَبِّ فِى رِضَا الوَالِدِ و سُخْطُ الرَبِّ فِى سُخْطِ الوَالِدِ

"Ridla Allah tergantung kepada keridlaan orang tua dan murka Allah tergantung 
kepada kemurkaan orang tua" [Hadits Riwayat Bukhari dalam Adabul Mufrad (2), 
Ibnu Hibban (2026-Mawarid-), Tirmidzi (1900), Hakim (4/151-152)]

Ketiga.
Bahwa berbakti kepada kedua orang tua dapat menghilangkan kesulitan yang sedang 
dialami yaitu dengan cara bertawasul dengan amal shahih tersebut. Dengan dasar 
hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dari Ibnu Umar, dia berkata :

"Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Pada suatu hari tiga orang 
berjalan, lalu kehujanan. Mereka berteduh pada sebuah gua di kaki sebuah 
gunung. Ketika mereka ada di dalamnya, tiba-tiba sebuah batu besar runtuh dan 
menutupi pintu gua. Sebagian mereka berkata pada yang lain, 'Ingatlah amal 
terbaik yang pernah kamu lakukan'. Kemudian mereka memohon kepada Allah dan 
bertawassul melalui amal tersebut, dengan harapan agar Allah menghilangkan 
kesulitan tersebut. Salah satu diantara mereka berkata, "Ya Allah, sesungguhnya 
aku mempunyai kedua orang tua yang sudah lanjut usia sedangkan aku mempunyai 
istri dan anak-anak yang masih kecil. Aku mengembala kambing, ketika pulang ke 
rumah aku selalu memerah susu dan memberikan kepada kedua orang tuaku sebelum 
orang lain. Suatu hari aku harus berjalan jauh untuk mencari kayu bakar dan 
mencari nafkah sehingga pulang telah larut malam dan aku dapati kedua orang 
tuaku sudah tertidur, lalu aku tetap memerah susu sebagaimana sebelumnya. Susu 
tersebut tetap aku pegang lalu aku mendatangi keduanya namun keduanya masih 
tertidur pulas. Anak-anakku merengek-rengek menangis untuk meminta susu ini dan 
aku tidak memberikannya. Aku tidak akan memberikan kepada siapa pun sebelum 
susu yang aku perah ini kuberikan kepada kedua orang tuaku. Kemudian aku tunggu 
sampai keduanya bangun. Pagi hari ketika orang tuaku bangun, aku berikan susu 
ini kepada keduanya. Setelah keduanya minum lalu kuberikan kepada anak-anaku. 
Ya Allah, seandainya perbuatan ini adalah perbuatan yang baik karena Engkau ya 
Allah, bukakanlah. "Maka batu yang menutupi pintu gua itupun bergeser" [Hadits 
Riwayat Bukhari (Fathul Baari 4/449 No. 2272), Muslim (2473) (100) Bab Qishshah 
Ashabil Ghaar Ats Tsalatsah Wat-Tawasul bi Shalihil A'mal]

Ini menunjukkan bahwa perbuatan berbakti kepada kedua orang tua yang pernah 
kita lakukan, dapat digunakan untuk bertawassul kepada Allah ketika kita 
mengalami kesulitan, Insya Allah kesulitan tersebut akan hilang. Berbagai 
kesulitan yang dialami seseorang saat ini diantaranya karena perbuatan durhaka 
kepada kedua orang tuanya.

Kalau kita mengetahui, bagaimana beratnya orang tua kita telah bersusah payah 
untuk kita, maka perbuatan 'Si Anak' yang 'bergadang' untuk memerah susu 
tersebut belum sebanding dengan jasa orang tuanya ketika mengurusnya sewaktu 
kecil.

'Si Anak' melakukan pekerjaan tersebut tiap hari dengan tidak ada perasaan 
bosan dan lelah atau yang lainnya. Bahkan ketika kedua orang tuanya sudah 
tidur, dia rela menunggu keduanya bangun di pagi hari meskipun anaknya 
menangis. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan kedua orang tua harus didahulukan 
daripada kebutuhan anak kita sendiri dalam rangka berbakti kepada kedua orang 
tua. Bahkan dalam riwayat yang lain disebutkan berbakti kepada orang tua harus 
didahulukan dari pada berbuat baik kepada istri sebagaimana diriwayatkan oleh 
Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma ketika diperintahkan oleh bapaknya (Umar 
bin Khaththab) untuk menceraikan istrinya, ia bertanya kepada Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam 
menjawab, "Ceraikan istrimuu" [Hadits Riwayat Abu Dawud No. 5138, Tirimidzi No. 
1189 beliau berkata, "Hadits Hasan Shahih"]

Dalam riwayat Abdullah bin Mas'ud yang disampaikan sebelumnya disebutkan bahwa 
berbakti kepada kedua orang tua harus didahulukan daripada jihad di jalan Allah 
Subhanahu wa Ta'ala.

Begitu besarnya jasa kedua orang tua kita, sehingga apapun yang kita lakukan 
untuk berbakti kepada kedua orang tua tidak akan dapat membalas jasa keduanya. 
Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari disebutkan bahwa ketika 
sahabat Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'anhuma melihat seorang menggendong 
ibunya untuk tawaf di Ka'bah dan ke mana saja 'Si Ibu' menginginkan, orang 
tersebut bertanya kepada, "Wahai Abdullah bin Umar, dengan perbuatanku ini 
apakah aku sudah membalas jasa ibuku.?" Jawab Abdullah bin Umar Radhiyallahu 
'anhuma, "Belum, setetespun engkau belum dapat membalas kebaikan kedua orang 
tuamu" [Shahih Al Adabul Mufrad No.9]

Orang tua kita telah megurusi kita mulai dari kandungan dengan beban yang 
dirasakannya sangat berat dan susah payah. Demikian juga ketika melahirkan, ibu 
kita mempertaruhkan jiwanya antara hidup dan mati. Ketika kita lahir, ibu lah 
yang menyusui kita kemudian membersihkan kotoran kita. Semuanya dilakukan oleh 
ibu kita, bukan oleh orang lain. Ibu kita selalu menemani ketika kita terjaga 
dan menangis baik di pagi, siang atau malam hari. Apabila kita sakit tidak ada 
yang bisa menangis kecuali ibu kita. Sementara bapak kita juga berusaha agar 
kita segera sembuh dengan membawa ke dokter atau yang lain. Sehingga kalau 
ditawarkan antara hidup dan mati, ibu kita akan memilih mati agar kita tetap 
hidup. Itulah jasa seorang ibu terhadap anaknya.

Keempat.
Dengan berbakti kepada kedua orang tua akan diluaskan rizki dan dipanjangkan 
umur. Sebagaimana dalam hadits yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim, dari 
sahabat Anas Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
bersabda.

مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ، وَيَنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ 
فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

"Barangsiapa yang suka diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka 
hendaklah ia menyambung tali silaturahmi" [Hadits Riwayat Bukhari 7/72, Muslim 
2557, Abu Dawud 1693]

Dalam ayat-ayat Al-Qur'an atau hadits-hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
dianjurkan untuk menyambung tali silaturahmi. Dalam silaturahmi, yang harus 
didahulukan silaturahmi kepada kedua orang tua sebelum kepada yang lain. Banyak 
diantara saudara-saudara kita yang sering ziarah kepada teman-temannya tetapi 
kepada orang tuanya sendiri jarang bahkan tidak pernah. Padahal ketika masih 
kecil dia selalu bersama ibu dan bapaknya. Tapi setelah dewasa, seakan-akan dia 
tidak pernah berkumpul bahkan tidak kenal dengan kedua orang tuanya. Sesulit 
apapun harus tetap diusahakan untuk bersilaturahmi kepada kedua orang tua. 
Karena dengan dekat kepada keduanya insya Allah akan dimudahkan rizki dan 
dipanjangkan umur. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Nawawi bahwa dengan 
silaturahmi akan diakhirkannya ajal dan umur seseorang.[1] walaupun masih 
terdapat perbedaan dikalangan para ulama tentang masalah ini, namun pendapat 
yang lebih kuat berdasarkan nash dan zhahir hadits ini bahwa umurnya memang 
benar-benar akan dipanjangkan.

Kelima.
Manfaat dari berbakti kepada kedua orang tua yaitu akan dimasukkan ke jannah 
(surga) oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Di dalam hadits Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam disebutkan bahwa anak yang durhaka tidak akan masuk surga. 
Maka kebalikan dari hadits tersebut yaitu anak yang berbuat baik kepada kedua 
orang tua akan dimasukkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala ke jannah (surga).

Dosa-dosa yang Allah Subhanahu wa Ta'ala segerakan adzabnya di dunia 
diantaranya adalah berbuat zhalim dan durhaka kepada kedua orang tua. Dengan 
demikian jika seorang anak berbuat baik kepada kedua orang tuanya, Allah 
Subahanahu wa Ta'ala akan menghindarkannya dari berbagai malapetaka, dengan 
izin Allah.

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua 
Orang Tua, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Darul Qolam. Komplek 
Depkes Jl. Raya Rawa Bambu Blok A2, Pasar Minggu - Jakarta. Cetakan I Th 1422H 
/2002M]
_______
Footnote.
[1] Riyadlush Shalihin, hadits No. 319                                          
  

Kirim email ke