HAK IBU LEBIH BESAR DARI PADA HAK AYAH 
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/457/slash/0

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta'alaa berfirman :

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا 
وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ 
إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ 
أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ 
أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ 
إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, 
ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah 
(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga 
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo'a, "Ya 
Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau 
berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal 
yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi 
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan 
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".

Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya 
adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga 
tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]

Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang 
pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu 
kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.

Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah 
Radhiyallahu 'anhu ia berkata.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ 
مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ : أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ 
قَالَ : ثُمَّ أُمُّكَ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ: ثُمَّ أُمُّكَ،قَالَ : ثُمَّ 
مَنْ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوكَ

"Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata, 
'Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?' Nabi 
Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Ibumu!' Orang tersebut kembali 
bertanya, 'Kemudian siapa lagi ?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 
'Ibumu!' Ia bertanya lagi, 'Kemudian siapa lagi?' Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam menjawab, 'Ibumu!', Orang tersebut bertanya kembali, 'Kemudian siapa 
lagi, 'Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Bapakmu' "[Hadits Riwayat 
Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:

"Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah 
sembilan tahun. 

Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. 

Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena 
menjagamu. 

dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya 
serta atas makanannya. 

Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. 

Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh 
tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan 
dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya 
dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup 
dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak 
baik. 

Dia selalu mendo'akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun 
terang-terangan. 

Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia 
sebagai barang yang tidak berharga disisimu. 

Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. 

Engkau puas dalam keadaan dia haus. 

Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. 

Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. 

Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah.

Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. 

Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. 

Padahal Allah telah melarangmu berkata 'ah' dan Allah telah mencelamu dengan 
celaan yang lembut. 

Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu.

Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul 'Aalamin. 

ذَٰلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

"(Akan dikatakan kepadanya), 'Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan 
yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali 
tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya"[Al-Hajj : 10]

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu 
terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa 
dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau 
mengatakan, "Itu belum bisa membalas". Kemudian juga beberapa riwayat 
disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan 
harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan 
oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

أَنْتَ ومَالُكَل لأَِبِيْكَ

"Kamu dan hartamu milik bapakmu" [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, 
Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua 
Orang Tua, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Darul Qolam. Komplek 
Depkes Jl. Raya Rawa Bambu Blok A2, Pasar Minggu - Jakarta. Cetakan I Th 1422H 
/2002M]                                           

Kirim email ke