PENGHALANG-PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU[1]
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3280/slash/0


Menuntut ilmu memiliki beberapa penghalang yang menghalangi antara
ilmu itu dan orang yang mencarinya. Di antara penghalang tersebut
adalah:

1. Niat yang Rusak
Niat adalah dasar dan rukun amal. Apabila niat itu salah dan rusak,
maka amal yang dilakukannya pun ikut salah dan rusak sebesar salah dan
rusaknya niat.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّـمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا
نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ
إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا
يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ
إِلَيْهِ.

“Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan apa yang
diniatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka
hijrahnya itu karena Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya
karena dunia yang hendak diraihnya atau karena wanita yang akan
dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
[2]

Sesungguhnya kewajiban yang paling penting untuk diperhatikan oleh
seorang penuntut ilmu adalah mengobati niat, memperhatikan
kebaikannya, dan menjaganya dari kerusakan.

Imam Sufyan ats-Tsauri (wafat th. 161 H) rahimahullaah mengatakan,
“Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat untuk aku obati daripada
niatku.” [3]

Al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullaah menuturkan, “Siapa
yang mencari ilmu karena mengharap negeri akhirat, ia akan
mendapatkannya. Dan siapa yang mencari ilmu karena mengharap kehidupan
dunia, maka kehidupan dunia itulah bagian dari ilmunya.” Imam az-Zuhri
(wafat th. 124 H) rahimahullaah berkata, “Maka ilmu itulah bagian dari
dunianya.” [4]

Imam Malik bin Dinar (wafat th. 130 H) rahimahullaah mengatakan,
”Barangsiapa mencari ilmu bukan karena Allah Ta’ala, maka ilmu itu
akan menolaknya hingga ia dicari hanya karena Allah.”[5]

Baiknya niat merupakan penolong yang paling besar bagi seorang
penuntut ilmu dalam memperoleh ilmu, sebagaimana dikatakan Abu
‘Abdillah ar-Rudzabari (wafat th. 369 H) rahimahullaah, “Ilmu
tergantung amal, amal tergantung keikhlasan, dan keikhlasan mewariskan
pemahaman tentang Allah ‘Azza wa Jalla.”[6]

Imam Ibrahim an-Nakha’i (wafat th. 96 H) rahimahullaah mengatakan,
“Barangsiapa mencari sesuatu berupa ilmu yang ia niatkan karena
mengharap wajah Allah, maka Allah akan memberikan kecukupan padanya.”
[7]

Hendaklah kita memperbaiki niat kita dalam menuntut ilmu dan menjauhi
niat buruk yang hanya untuk memperoleh keuntungan duniawi. Karena,
terkadang seorang penuntut ilmu terbetik niat dalam hatinya untuk
tampil (ingin terkenal). Apabila ia benar-benar ingin mempelajari
ilmu, membaca berbagai nash dan buku sejarah serta memperhatikan
isinya, lalu ia termasuk orang yang dikehendaki kebaikan oleh Allah
Ta’ala, hal itu akan menjadikannya sadar kembali, perhatiannya
terhadap kitab-kitab itu membuatnya bersemangat kembali untuk berbuat
kebenaran dan kebaikan. Adapun jika ia termasuk orang-orang yang
dikalahkan hawa nafsu dan syahwatnya, hendaklah ia tidak mencela,
kecuali kepada dirinya sendiri.[8]

2. Ingin Terkenal dan Ingin Tampil
Ingin terkenal dan ingin tampil adalah penyakit kronis. Tidak seorang
pun dapat selamat darinya, kecuali orang-orang yang dijaga oleh Allah
Ta’ala.

Apabila niat seorang penuntut ilmu adalah agar terkenal, ingin
dielu-elukan, ingin dihormati, ingin dipuji, disanjung, dan yang
diinginkannya adalah itu semua, maka ia telah menempatkan dirinya pada
posisi yang berbahaya.
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا نَعَايَا الْعَرَبِ، يَا نَعَايَا الْعَرَبِ (ثَلاَثًا)، أَخْوَفُ
مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ: اَلرِّيَاءُ، وَالشَّهْوَةُ الْـخَفِيَّةُ.

“Wahai bangsa Arab, wahai bangsa Arab (tiga kali), sesuatu yang paling
aku takutkan menimpa kalian adalah riya’ dan syahwat yang
tersembunyi.”[9]

Imam Ibnul Atsir (wafat th. 606 H) rahimahullaah mengatakan, “Maksud
syahwat yang tersembunyi dalam hadits ini adalah keinginan agar
manusia melihat amalnya.”[10]

Mahmud bin ar-Rabi’ (wafat th. 66 H) radhiyallaahu ‘anhu berkata,
“Ketika kematian hendak menjemput Syaddad bin Aus (wafat th. 58 H), ia
berkata, ‘Yang paling aku takutkan menimpa ummat ini adalah riya’ dan
syahwat tersembunyi.’” Dikatakan bahwa syahwat tersembunyi adalah
seseorang ingin (senang) apabila kebaikannya dipuji.[11]

Seorang hamba yang bergembira dan senang dihormati orang lantaran ilmu
yang dimiliki dan amal yang dikerjakannya, maka ini menunjukkan bahwa
adanya sifat riya’ (ingin dilihat orang lain) dan sum’ah (ingin
didengar orang lain) dalam dirinya. Barangsiapa memperlihatkan amalnya
karena riya’, maka Allah Ta’ala akan memperlihatkannya kepada manusia,
dan barangsiapa memperdengarkan amalnya, maka Allah Ta’ala akan
memperdengarkan amal (kejelekan)nya kepada manusia.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللهُ بِهِ.

“Barangsiapa memperdengarkan (menyiarkan) amalnya, maka Allah akan
menyiarkan aibnya. Dan barangsiapa beramal karena riya’, maka Allah
akan membuka niatnya (di hadapan manusia pada hari Kiamat).”[12]

Syahwat merupakan musibah, kecuali bagi orang yang hatinya ingat
kepada Allah Ta’ala. Ketika Imam Ahmad bin Hanbal (wafat th. 241 H)
rahimahullaah mendengar bahwa namanya disebut-sebut, beliau
mengatakan, “Semoga ini bukan ujian bagiku.” [13]

3. Lalai Menghadiri Majelis Ilmu
Para ulama Salaf mengatakan bahwa ilmu itu di-datangi, bukan
mendatangi. Tetapi, sekarang ilmu itu mendatangi kita dan tidak
didatangi, kecuali beberapa saja.

Jika kita tidak memanfaatkan majelis ilmu yang dibentuk dan pelajaran
yang disampaikan, niscaya kita akan gigit jari sepenuh penyesalan.
Seandainya kebaikan yang ada dalam majelis-majelis ilmu hanya berupa
ketenangan bagi yang menghadirinya dan rahmat Allah yang meliputi
mereka, cukuplah dua hal ini sebagai pendorong untuk menghadirinya.
Lalu, bagaimana jika ia mengetahui bahwa orang yang menghadirinya
-insya Allah- memperoleh dua keberuntungan, yaitu ilmu yang bermanfaat
dan ganjaran pahala di akhirat?!

Seorang Muslim hendaklah sadar bahwa Allah Ta’ala telah memberikan
kemudahan kepada hamba-Nya dalam menuntut ilmu. Allah Ta’ala telah
memberikan kemudahan dengan adanya beberapa fasilitas dalam menuntut
ilmu, berbeda dengan zamannya para Salafush Shalih. Bukankah sekarang
ini dengan mudahnya kita bisa dapatkan bekal untuk menuntut ilmu
seperti uang, makanan, minuman, pakaian, dan kendaraan?? Berbeda
dengan para ulama Salaf, mereka sangat sulit mendapatkan hal di atas.
Bukankah sekarang ini telah banyak didirikan masjid, pondok pesantren,
majelis ta’lim, dan lainnya disertai sarana ruangan yang serba mudah,
baik dengan adanya lampu, kipas angin, AC, dan lainnya??!! Bukankah
sekarang ini berbagai kitab ilmu telah dicetak dengan begitu rapi,
bagus, dan mudah dibaca??!! Lalu dimanakah orang-orang yang mau
memanfaatkan nikmat Allah yang sangat besar ini untuk mengkaji dan
mempelajari ilmu syar’i??? Bukankah sekarang sudah banyak
ustadz-ustadz yang bermanhaj Salaf mengajar dan berdakwah di tempat
(daerah) Anda, lantas mengapa Anda tidak menghadirinya?? Mengapa Anda
tidak mau mendatangi majelis ilmu??

4. Beralasan dengan Banyaknya Kesibukan
Alasan ini dijadikan syaitan sebagai penghalang dalam menuntut ilmu.
Berapa banyak saudara kita yang telah dinasihati dan dimotivasi untuk
menuntut ilmu syar’i, tetapi syaitan menggoda dan membujuknya.

Orang yang menyia-nyiakan kesempatan mencari ilmu, maka kesibukannya
membuat ia tidak dapat menghadiri majelis ilmu. Ia menjadikannya
sebagai bahan alasan yang sengaja dibuat-buat sehingga
ketidakhadirannya di majelis ilmu memiliki alasan yang jelas.

Berbagai kesibukan yang ada adalah penyebab utama yang menghalangi
seorang penuntut ilmu menghadiri majelis ilmu dan memperoleh ilmu yang
banyak. Tetapi, orang yang Allah Ta’ala bukakan mata hatinya, ia akan
mengatur waktunya dan mengguna-kannya sebaik mungkin sehingga
memperoleh manfaat yang banyak. Kalau seseorang mau berfikir secara
wajar, mempunyai niat dan kemauan untuk menuntut ilmu, maka ia akan
dapat mengatur waktunya dan Allah akan memudahkannya.

Oleh karena itu, pandai-pandailah mengatur waktu yang Allah Ta’ala
berikan kepada kita. Berikanlah bagian untuk menuntut ilmu syar’i.
Sisihkanlah satu atau dua hari dalam seminggu untuk menghadiri majelis
ilmu jika tidak mampu melakukannya sesering mungkin. Jangan biarkan
hari-hari kita penuh dengan kesibukan, namun kosong dari menuntut ilmu
dan berdzikir kepada Allah Ta’ala. Ingat, bahwa orang yang tidak
meghadiri majelis ilmu dan tidak mau menuntut ilmu syar’i, maka ia
akan merugi di dunia dan di akhirat.

5. Menyia-nyiakan Kesempatan Belajar di Waktu Kecil
Seseorang akan iri apabila melihat orang-orang yang lebih muda darinya
lebih bersemangat dan lebih awal mendatangi majelis ilmu. Ia akan
merasa iri pada saat melihat anak-anak kecil dan para pemuda telah
hafal Al-Qur-an. Ia menyesali masa mudanya yang tidak dimanfaatkan
sebaik mungkin untuk menghafal dan menuntut ilmu. Akibatnya, ketika ia
berkeinginan menghafal dan menuntut ilmu di masa tuanya, banyak
kesibukan dan banyak tamu yang mengunjunginya siang dan malam. Karena
itulah al-Hasan al-Bashri (wafat th. 110 H) rahimahullaah mengatakan,
“Belajar hadits di waktu kecil bagai mengukir di atas batu.” [14]

Oleh karena itu, sebelum kita disibukkan oleh orang lain, direpotkan
berbagai urusan, dan menyesal seperti orang yang mengalaminya, maka
manfaatkanlah masa muda untuk menuntut ilmu syar’i. Ini bukan berarti
orang yang sudah tua boleh berputus asa dalam menuntut ilmu, namun
seluruh umur yang kita miliki adalah kesempatan untuk menuntut ilmu
karena ia adalah ibadah. Allah Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan beribadahlah kepada Rabb-mu hingga datangnya keyakinan
(kematian).” [Al-Hijr: 99]

Oleh karena itu, para remaja maupun orang tua, laki-laki maupun
wanita, segeralah bertaubat kepada Allah Ta’ala atas segala apa yang
telah luput dan berlalu. Sekarang mulailah menuntut ilmu, menghadiri
majelis ta’lim, belajar dengan benar dan sungguh-sungguh, dan
menggunakan kesempatan sebaik-baiknya sebelum ajal tiba.

Ketika ditanyakan kepada Imam Ahmad, “Sampai kapankah seseorang
menuntut ilmu?” Beliau pun men-jawab, “Sampai meninggal dunia (mati).”
[15]

6. Bosan dalam Menuntut Ilmu
Di antara penghalang menuntut ilmu adalah merasa bosan dan beralasan
dengan berkonsentrasi mengikuti informasi terkini guna mengetahui
peristiwa yang sedang terjadi.

Ilmu yang kita cari mendorong kita untuk mengetahui keadaan kita. Kita
tidak akan bisa mengatasi berbagai masalah dan musibah yang menimpa,
kecuali dengan meletakkannya pada timbangan syari’at. Seorang penyair
mengatakan,

اَلشَّرْعُ مِيْزَانُ اْلأُمُورِ كُلِّهَا وَشَاهِدٌ لِفَرْعِهَا وَأَصْلِهَا

Syari’at adalah timbangan semua permasalahan,
dan saksi atas cabang masalah dan pokoknya. [16]

Orang yang enggan menuntut dan menghafalkan ilmu, namun menyibukkan
diri dengan mengikuti berita koran dan majalah, radio, televisi,
internet, dan mencurahkan waktu dan tenaganya untuk hal yang demikian,
kemudian berupaya mengatasi permasalahan dengan pandangannya yang
kerdil tanpa merujuk kepada para ulama, maka ia merugi dan ia akan
menge-tahui kerugiannya nanti di kemudian hari.

Sangat disayangkan, banyak aktifis muda yang marah apabila larangan
Allah Ta’ala dilanggar dan menangis karena larangan Allah Ta’ala
dilecehkan, namun mereka meremehkan berbagai kemaksiyatan yang lainnya
seperti ghibah, namimah, dan lainnya. Mereka tidak melaksanakan shalat
seperti contoh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau
bersabda,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِيْ أُصَلِّيْ.

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku shalat!” [17]

Mereka pun tidak berwudhu’ seperti wudhu’nya Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam, padahal beliau bersabda,

مَنْ تَوَضَّأَ كَمَا أُمِرَ وَصَلَّى كَمَا أُمِرَ غُفِرَ لَهُ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barangsiapa berwudhu’ seperti yang diperintahkan dan shalat seperti
yang diperintahkan, diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.” [18]

Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan ada obatnya.
Tidaklah musibah terjadi, melainkan ada jalan keluar dalam Al-Qur-an
dan As-Sunnah. Ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi.

Oleh karena itu, jangan sekali-kali Anda berpaling atau bosan dalam
menuntut ilmu. Belajarlah sampai Anda mendapatkan nikmatnya menuntut
ilmu. Informasi yang paling baik, benar dan akurat adalah infor-masi
dari Al-Qur-an dan Sunnah yang shahih.

7. Menilai Baik Diri Sendiri
Maksudnya adalah merasa bangga apabila dipuji dan merasa senang
apabila mendengar orang lain memujinya.

Memang pujian manusia kepada Anda merupakan kabar gembira yang
disegerakan Allah Ta’ala bagi Anda. Diriwayatkan dari Abu Dzarr Jundub
bin Junadah (wafat th. 32 H) radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata,
“Ditanyakan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,
‘Bagaimana pendapat Anda tentang seseorang yang melakukan kebaikan,
kemudian manusia memujinya karena perbuatan tersebut?’ Nabi
shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ.

‘Itu adalah kabar gembira yang Allah segerakan bagi seorang mukmin.’” [19]

Tetapi, berhati-hatilah jika Anda merasa gembira ketika dipuji dengan
apa yang tidak Anda miliki. Sekali lagi berhati-hatilah agar hal ini
tidak menimpa Anda. Ingatlah firman Allah Ta’ala mengenai celaan-Nya
terhadap suatu kaum,

وَيُحِبُّونَ أَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا

“...Dan mereka suka dipuji atas perbuatan yang tidak mereka
lakukan...” [Ali ‘Imran: 188]

Kemudian ingatlah bahwa merasa diri baik itu pada umumnya adalah
perbuatan tercela, kecuali pada beberapa perkara yang sesuai dengan
aturan-aturan syari’at. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang
orang yang bertakwa.” [An-Najm: 32]

Begitu juga ingatlah celaan Allah Ta’ala kepada Ahli Kitab,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ
يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang
menganggap dirinya suci? Sebenarnya Allah menyucikan siapa yang Dia
kehendaki dan mereka tidak dizalimi sedikit pun.” [An-Nisaa': 49]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ اَللهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ.

“Janganlah menganggap diri kalian suci, Allah lebih mengetahui orang
yang berbuat baik di antara kalian.” [20]

Boleh saja seseorang merasa dirinya baik dalam beberapa hal,
sebagaimana telah kami sebutkan tadi. Misalnya perkataan Nabi Yusuf
‘alaihis salaam,

قَالَ اجْعَلْنِي عَلَىٰ خَزَائِنِ الْأَرْضِ ۖ إِنِّي حَفِيظٌ عَلِيمٌ

“Dia (Yusuf) berkata, ‘Jadikanlah aku bendaharawan (Mesir),
sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga dan
berpengetahuan.’” [Yusuf: 55]

Tetapi pada umumnya merasa diri baik dan suka dipuji adalah di antara
pintu masuk syaitan kepada hamba-hamba Allah Ta’ala. Karena itu,
berhati-hatilah agar Anda tidak menjadi orang yang suka dan bangga
apabila dipuji dan jangan berusaha untuk mendengar-kan pujian-pujian
itu.

Apabila Anda ingin mengetahui bahaya senang dipuji, perhatikanlah
ketaatan Anda yang mulai menurun, lalu perhatikanlah orang yang memuji
Anda. Sungguh, seandainya ia mengetahui apa yang tidak terlihat
olehnya tentang diri dan amal Anda yang tidak diridhai Allah Ta’ala,
apakah ia akan tetap memuji Anda??!!

Pelajaran yang dapat dipetik di sini adalah hendak-lah kita
berhati-hati terhadap sikap menganggap baik diri sendiri. Hendaklah
kita berhati-hati dari perbuatan mencantumkan gelar pada nama dengan
gelar yang tidak kita miliki. Sebab, barangsiapa tergesa-gesa untuk
mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, maka ia tidak akan
mendapatkannya.

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut
Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa,
PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama
Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
_______
Footnote
[1]. Dinukil dari kitab Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi,
‘Awaa-iquth Thalab, dan Thariiq ilal ‘Ilmi.
[2]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1, 54, 2529),
Muslim (no. 1907), Abu Dawud (no. 2201), at-Tirmidzi (no. 1647),
an-Nasa-i (I/85-60, VI/158-159, VII/13), dan Ibnu Majah (no. 4227)
dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu.
[3]. Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim (hal. 112).
[4]. Iqtidha al-‘Ilmi al-‘Amal (hal. 66, no. 103).
[5]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/748, no. 1376).
[6]. Iqtidha al-‘Ilmi al-‘Amal (hal. 32, no. 30).
[7]. Sunan ad-Darimi (I/82).
[8]. Lihat kitab Ma’aalim fii Thariiq Thalabil ‘Ilmi (hal. 20).
[9]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul
Kabiir, Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyaa’ (VII/136, no. 9922), dan
Majma’uz Zawaa-id (VI/255). Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah
(no. 508).
[10]. An-Nihaayah fii Ghariibil Hadiits (II/516).
[11]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlih (I/682, no. 1203).
[12]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 6499) dan
Muslim (no. 2987), dari Shahabat Jundub bin ‘Abdillah radhi-yallaahu
‘anhu.
[13]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (XI/210).
[14]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/357, no. 482).
[15]. Al-‘Ilmu Fadhluhu wa Syarafuhu (hal. 77).
[16]. Ishlaahul Masaajid minal Bida’ wal ‘Awaa-id (hal. 110), karya
al-‘Allamah Muhammad bin Jamaluddin al-Qasimi rahimahullaah.
[17]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 631, 6008,
7246), dari Shahabat Malik bin al-Huwairits radhiyallaahu ‘anhu.
[18]. Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (V/423), an-Nasa-i
(I/90-91), Ibnu Majah (no. 1396), Ibnu Hibban (no. 1039), dan
ad-Darimi (I/182), ini lafazh Ibnu Hibban dari Shahabat Abu Ayyub dan
‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallaahu ‘anhuma.
[19]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2642).
[20]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2142 (19)) dari
Shahabiyah Zainab binti Abi Salamah radhiyallaahu ‘anha.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke