PENGHALANG-PENGHALANG DALAM MENUNTUT ILMU
Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3278/slash/0

8. Tidak Mengamalkan Ilmu
Tidak mengamalkan ilmu merupakan salah satu penyebab hilangnya
keberkahan ilmu. Orang yang memilikinya akan dimintai
pertanggungjawaban atas ilmunya. Allah Ta’ala benar-benar mencela
orang yang melakukan hal ini dalam firman-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang
tidak kamu kerjakan. Hal (itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika
kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” [Ash-Shaff: 3]

Tidak mengamalkan ilmu terbagi menjadi dua:

Pertama: Meninggalkan perintah-perintah syari’at dan meninggalkan
perintah untuk tidak melakukan berbagai hal yang diharamkan syari’at.
Hal ini termasuk dosa besar dan kepadanyalah ditujukan ayat-ayat dan
hadits-hadits tentang ancaman tidak mengamalkan ilmu.

Kedua: Meninggalkan perkara-perkara yang di-anjurkan dan meninggalkan
perintah untuk menjauhi perkara-perkara yang dimakruhkan. Terkadang
hal ini dicela, namun tidak masuk dalam nash-nash ancaman. Tetapi,
sudah seharusnya bagi seorang alim dan para penuntut ilmu untuk
melakukan berbagai perkara yang dianjurkan dan menjauhkan berbagai
perkara yang dimakruhkan.[1]

'Ali bin Abi Thalib (wafat th. 40 H) radhiyallaahu ‘anhu mengatakan,
“Ilmu itu memanggil amal. Jika ia memenuhi panggilan tersebut (maka
itu baik), dan jika tidak ia akan pergi.”[2]

Mengapa demikian? Karena ilmu dan amal adalah dua perkara yang saling
berkaitan. Bisa jadi keduanya berkumpul dan bisa jadi keduanya
berpisah. Apabila ada ilmu yang tidak diiringi dengan amal, maka orang
yang memilikinya akan dimintai pertanggungjawaban atas ilmu tersebut.

Imam adz-Dzahabi rahimahullaah menggambarkan kondisi di zamannya dalam
perkataannya, “Hari ini, tidak tersisa dari ilmu-ilmu yang sedikit ini
kecuali sangat sedikit dan ada pada orang tertentu saja. Begitu
sedikitnya orang yang mengamalkan di antara mereka yang berilmu
sedikit itu. Cukuplah Allah bagi kami dan Dia-lah sebaik-baik
penolong.” [3]

9. Putus Asa dan Rendah Diri
Wahai para penuntut ilmu! Kita, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnu
Hajar al-‘Asqalani (wafat th. 852 H), dan ulama-ulama lainnya
sama-sama disebutkan dalam firman Allah,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ
شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ
لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak
mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan
hati nurani, agar kamu bersyukur.” [An-Nahl: 78]

Kita semua adalah orang yang disebutkan dalam ayat di atas. Ayat ini
menyatakan bahwa semua manusia itu sama.

Putus asa dan tidak percaya diri merupakan salah satu sebab tidak
diperolehnya ilmu. Jangan merasa rendah diri dengan lemahnya kemampuan
menghafal, lemah dalam pemahaman, lambat dalam membaca, atau cepat
lupa... Semua penyakit ini akan hilang jika kita meluruskan niat dan
mencurahkan usaha.

Imam al-Bukhari (wafat th. 256 H) rahimahullaah pernah ditanya,
“Apakah obat lupa itu?” Beliau menjawab, “Senantiasa melihat ke
kitab.” (yaitu selalu mem-baca dan mengulangnya).[4]

Selain itu, menjauhi maksiyat adalah sebab paling utama dalam membantu
menguatkan hafalan. Jadi kita tidak boleh putus asa dan rendah diri,
namun kita harus bersungguh-sungguh dan memohon pertolongan kepada
Allah Ta’ala.

10. Terbiasa Menunda-nunda
Seorang ulama Salaf berkata, “Menunda-nunda adalah termasuk tentara iblis.”

Sebagian penuntut ilmu terbiasa menunda-nunda belajarnya dalam waktu
lama. Mereka mengatakan, “Saya akan menghafalkan kitab si fulan pada
hari anu. Saya akan membaca kitab si fulan setelah melakukan ini dan
itu.”

Yusuf bin Asbath (wafat th. 195 H) rahimahullaah mengatakan, “Muhammad
bin Samurah as-Sa-ih menulis surat kepadaku sebagai berikut, ‘Wahai
saudaraku, janganlah sifat menunda-nunda menguasai jiwamu dan tertanam
dalam hatimu karena ia membuat lesu dan merusak hati. Ia memendekkan
umur kita, sedangkan ajal segera tiba... .Bangkitlah dari tidurmu dan
sadarlah dari kelalaianmu! Ingatlah apa yang telah engkau kerjakan,
engkau sepelekan, engkau sia-siakan, engkau hasilkan, dan apa yang
engkau lakukan. Sungguh, semua itu akan dicatat dan dihisab sehingga
seolah-olah engkau terkejut dengannya dan engkau sadar dengan apa yang
telah engkau lakukan, atau menyesali apa yang telah engkau
sia-siakan.”[5]

Setiap orang yang ingin mendapatkan ilmu dan ingin berkepribadian
sebagaimana orang yang berilmu, hendaklah tidak menyia-nyiakan
waktunya sedikit pun. Sesungguhnya jika seseorang mau membaca sejarah
tentang kesungguhan ulama Salaf dalam memanfaatkan waktunya ia akan
merasa takjub sekaligus heran.

11. Belajar kepada Ahlul Bid’ah
Seorang penuntut ilmu tidak boleh belajar kepada Ahlul bid’ah karena
ia (ahlul bid’ah) merasa ridha dengan sesuatu yang menyelisihi agama
Allah, seolah-olah ia mengatakan, “Sesungguhnya Allah Ta’ala belum
menyempurnakan agama ini dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam
belum sempurna dalam menyampai-kan seluruh risalah.”

Tidak diragukan apabila seorang penuntut ilmu bermajelis dengan orang
yang memiliki sifat di atas maka ia akan memperoleh kejelekan, dan
tidak ada yang datang kepadanya, kecuali berbagai kerusakan. Karena,
meskipun orang yang bermajelis dengannya tidak mengamalkan bid’ahnya,
maka paling tidak ia mendapatkan syubhat (keraguan) darinya sehingga
ia menjadi bingung dalam segala urusannya. Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيْسِ السُّوْءِ
كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا
أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ
مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ
ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً.

“Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk hanyalah seperti
penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi,
bisa jadi ia memberikanmu minyak, atau engkau mem-beli darinya, atau
engkau mendapatkan aroma yang harum darinya. Sedangkan pandai besi,
bisa jadi ia membakar bajumu atau engkau mendapatkan bau yang tidak
sedap.” [6]

Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullaah berkata mengomentari
hadits ini, “Di dalam hadits ini terdapat keutamaan bermajelis dengan
orang-orang shalih, orang-orang yang memiliki kebaikan, akhlak mulia,
wara’, ilmu, dan adab. Dan (di dalamnya juga terdapat) larangan
bermajelis dengan pelaku kejahatan, ahlul bid’ah, orang-orang yang
membicarakan aib orang lain, dan yang selainnya dari berbagai macam
perbuatan tercela.” [7]

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ.

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda Kiamat adalah dipelajarinya ilmu
dari al-ashaaghir.” [8]

Imam Ibnul Mubarak (wafat th. 181 H) rahimahullaah ditanya tentang
al-ashaaghir? Beliau menjawab, “Al-ashaaghir adalah ahlul bid’ah.” [9]

Ibnu Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu mengatakan,

لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْـرٍ مَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِـبَـلِ
أَصْحَابِ مُـحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَكَابِرِهِمْ
فَإِذَا أَتَاهُمُ الْعِلْمُ مِنْ قِبَلِ أَصَاغِرِهِمْ فَذَلِكَ حِيْنَ
هَلَكُوْا.

“Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka mengambil ilmu
dari para Shahabat Nabi shallalaahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama
Ahlus Sunnah. Apabila mereka mengambil ilmu dari ahlul bid’ah, maka
itulah saat kebinasaan mereka.”[10]

Yang dimaksud dengan al-akaabir adalah ulama Ahlus Sunnah yang
memahami Al-Qur'an dan As-Sunnah menurut pemahaman para Shahabat. Dan
yang dimaksud dengan al-ashaaghir adalah ahlul bid'ah. [11]

Para ulama telah mengecam duduk-duduk bersama Ahlul Bid’ah, maka
bagaimana dengan mengambil ilmu dari mereka??!!

Imam al-Hasan al-Bashri dan Ibnu Sirin (wafat th. 110 H)
rahimahumallaah mengatakan, “Janganlah kalian bermajelis dengan
pengikut hawa nafsu (ahlul bid’ah), jangan berdebat dengan mereka, dan
jangan mendengarkan perkataan mereka.” [12]

Adapun alasan dilarangnya mendengarkan ilmu dari ahlul bid’ah adalah
agar namanya tidak terkenal, pengikutnya menjadi sedikit, dan selamat
dari berbagai syubhatnya.[13]

Bersungguh-sungguhlah dalam menimba ilmu dari para ulama atau para
ustadz yang memang telah dikenal keteguhannya dalam memegang Al-Qur-an
dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih.

Peringatan:
Pada zaman sekarang ini, tolok ukur manusia dalam menilai sesuatu
sudah rusak. Mereka menganggap bahwa “orang alim/ulama” adalah setiap
orang yang dapat memberikan nasehat yang dapat menyentuh hati atau
memberikan ceramah dengan semangat berapi-api, atau khutbah Jum’at
dengan retorika yang menge-sankan. Mereka inilah yang dianggap sebagai
ulama sehingga orang-orang awam belajar dengan mereka, bahkan meminta
fatwa dari mereka.
Wallaahul Musta’aan.

Oleh karena itu, jauhilah kebiasaan masyarakat awam yang mengambil
ilmu dari para pemberi nasihat dan khatib Jum’at yang mereka anggap
sebagai orang alim karena hal itu berarti menyandarkan ilmu bukan
kepada ahlinya. Apabila suatu urusan diserahkan ke-pada orang yang
bukan ahlinya, maka tunggulah datangnya hari Kiamat. Karena, tidak
semua orang yang pandai dalam memberikan nasehat, ceramah, maupun
khutbah Jum’at adalah orang alim. Ini bukan berarti kita tidak boleh
mendengar nasihat dan khutbah mereka, namun maksudnya adalah tidak
boleh mengam-bil (belajar) ilmu syar’i kepada mereka, dan tidak
me-nempatkan mereka pada kedudukan ulama. Allah-lah yang memberikan
taufiq.[14]

Imam Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H) rahimahullaah mengatakan,

إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِيْنٌ، فَانْظُرُوْا عَمَّنْ تَأْخُذُوْنَ دِيْنَكُمْ.

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka lihatlah dari siapakah
kalian mengambil agama kalian?” [15]

Imam Malik bin Anas (wafat th. 179 H) rahimahullaah mengatakan, “Ilmu
tidak boleh dipelajari dari empat orang: (1) orang bodoh yang
menampakkan kebo-dohannya meskipun banyak meriwayatkan hadits, (2)
ahlu bid’ah yang mengajak kepada hawa nafsunya, (3) orang yang
berdusta saat berbicara dengan orang lain meskipun ia tidak berdusta
dalam meriwayatkan hadits, dan (4) orang shalih ahli ibadah namun
tidak memahami apa yang ia katakan.” [16]

Syaikh Bakr Abu Zaid hafizhahullaah mengatakan, “Wahai para pelajar!
Jadilah Salafi sejati (ikutilah jejak para ulama Salaf). Hati-hatilah
jangan sampai para ahli bid’ah mencelakakanmu karena mereka banyak
membuat jalan untuk menjegalmu. Mereka bungkus semua itu dengan ucapan
yang manis seperti madu padahal ia adalah madu yang pahit dan kucuran
air mata, indah kulit luarnya dengan tipuan dan khayalan belaka,
mempertontonkan keluarbiasaan yang dianggap “karamah”, menjilati
tangan serta mencium pundak?? Tidaklah semua itu melainkan bara buatan
ahli bid’ah dan panasnya api fitnah yang ditanamkan dalam hatimu yang
akan menjeratmu dalam lingkaran syaitannya. Demi Allah! Tidaklah orang
yang buta bisa menuntun dan memberi petunjuk untuk memimpin
orang-orang buta sepertinya.”[17]

12. Tergesa-gesa Ingin Memetik Buah Ilmu
Seorang penuntut ilmu tidak boleh tergesa-gesa dalam usahanya untuk
memperoleh ilmu. Menuntut ilmu tidak cukup dilakukan satu atau dua
tahun karena yang demikian menyalahi jalan Salafush Shalih. Me-nuntut
ilmu agama tidak bisa melalui jalan kursus atau belajar dengan
singkat. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam saja menerima wahyu
selama 23 tahun.

Sebagian pelajar ada yang menyangka bahwa menuntut ilmu laksana
santapan lezat dan minuman segar, yang cepat terlihat hasil dan
manfaatnya sehingga ia beranggapan dalam hatinya bahwa setelah berlalu
satu tahun -atau lebih bahkan kurang- dari umurnya yang ia habiskan
untuk menuntut ilmu, maka ia akan menjadi seorang berilmu yang ahli.
Ini adalah pendapat yang keliru, gambaran yang rusak, dan cita-cita
yang rendah. Bahaya yang ditimbulkannya sangat besar dan kerusakannya
sangat luas karena dapat mendorong pelakunya berbicara tentang agama
Allah Ta’ala tanpa ilmu, menganggap dirinya hebat, dan akhirnya
mencintai kesombongan dan merasa sudah alim, padahal ia belum layak
untuk itu. [18]

Orang yang memperhatikan keadaan para Salaf, maka ia akan merasa heran
sekaligus takjub dengan kegigihan mereka dalam berusaha memperoleh
ilmu secara terus-menerus. Mereka tidak merasa lemah, pantang
menyerah, dan tidak pernah sombong. Semboyan mereka adalah ‘Menuntut
ilmu dari pangkuan sang ibu sampai masuk liang lahat’. Semboyan ini
bukanlah hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Imam Yahya bin Abi Katsir (wafat tahun 132 H) rahimahullaah
mengatakan, “Ilmu tidak bisa diperoleh dengan tubuh yang dimanjakan.”
[19]

Imam Ibnul Madini (wafat th. 234 H) rahimahullaah mengatakan,
“Dikatakan kepada Imam asy-Sya’bi, ‘Dari mana Anda peroleh semua ilmu
ini?’ Beliau menjawab, ‘Dengan tidak bergantung pada manusia,
menjelajahi berbagai negeri, bersabar seperti sabarnya benda mati, dan
berpagi-pagi mencarinya seperti ber-pagi-paginya burung gagak.’”[20]

[Disalin dari buku Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga “Panduan Menuntut
Ilmu”, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa,
PO BOX 264 – Bogor 16001 Jawa Barat – Indonesia, Cetakan Pertama
Rabi’uts Tsani 1428H/April 2007M]
_______
Footnote
[1]. Lihat ‘Awaa-iquth Thalab (hal. 23-24), karya ‘Abdus Salam bin
Barjas Ali ‘Abdul Karim.
[2]. Iqtidhaa’ al-‘Ilmi al-‘Amal (no. 40). Perkataan yang serupa
diri-wayatkan juga dari Ibnu Munkadir, Sufyan ats-Tsauri, dan Waki’
bin Jarrah. Lihat Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/707, no. 1274)
dan al-Iqtidhaa’ (no. 41).
[3]. Tadzkiratul Huffaazh (III/157), karya al-Hafizh adz-Dzahabi, cet.
Darul Kutub al-‘Ilmiyyah.
[4]. Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (II/1227, no. 2414).
[5]. Iqtidha al-‘Ilmi al-‘Amal (hal. 114, no. 201).
[6]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (IV/408), al-Bukhari (no.
2101, 5534) dan Muslim (no. 2628), lafazh ini milik Muslim, dari
Shahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallaahu ‘anhu.
[7]. Syarah Shahiih Muslim lin Nawawi (XVI/178).
[8]. Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab
az-Zuhd (no. 52), Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ (I/612, no. 1051
dan 1052), ath-Thabrani dalam al-Kabiir (XXII/908), dari Abu Umayyah
al-Jumahi radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah al-Ahaadiits
ash-Shahiihah (no. 695).
[9]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqad Ahlus Sunnah wal Jama’ah (I/95, no. 102).
[10]. Atsar shahih: Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam kitab
az-Zuhd (no.764), ‘Abdurrazzaq dalam Mushannaf (no. 20446, 20483), dan
Ibnu ‘Abdil Barr dalam al-Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/617,
no. 1060).
[11]. Ta'liq Syaikh Ahmad Farid atas kitab az-Zuhd karya Imam Ibnul
Mubarak (hal. 425)
[12]. Diriwayatkan oleh ad-Darimi dalam Sunannya (I/110). Lihat Syarah
‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah (hal. 528-536).
[13]. Dinukil dari ath-Thariiq ilal ‘Ilmi (hal. 87-88) dengan sedikit
perubahan dan tambahan.
[14]. Dinukil dari ‘Awaaiquth Thalab (hal. 33-34) dengan sedikit perubahan.
[15]. Diriwayatkan oleh Muslim dalam muqaddimah kitab Shahiihnya (I/14).
[16]. Siyar A’laamin Nubalaa’ (VI/ 61).
[17]. Hilyah Thaalibil ‘Ilmi (hal. 42).
[18]. Lihat ‘Awaa-iquth Thalab (hal. 57) dengan sedikit perubahan.
[19]. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 612 (175)) dan Ibnu ‘Abdil Barr
dalam Jaami’ Bayaanil ‘Ilmi wa Fadhlihi (I/384, no. 553).
[20]. Tadzkiratul Huffaazh (I/64).


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke