SHALAWAT PARA MALAIKAT BAGI ORANG YANG BERSHALAWAT ATAS NABI
SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi
http://almanhaj.or.id/content/3295/slash/0


Di antara orang-orang yang berbahagia dengan shalawat dari para
Malaikat adalah orang-orang yang bershalawat kepada Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Di antara dalil yang menunjukkan ungkapan tersebut adalah sebuah
hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dari ‘Abdullah bin ‘Amr
Radhiyallahu anhuma, ia berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ
صَلاَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَمَلاَئِكَتُهُ سَبْعِيْنَ صَلاَةً,
فَلْيُقِلَّ عَبْدٌ مِنْ ذَلِكَ أَوْ لِيُكْثِرْ.

“Barangsiapa yang bershalawat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam sekali saja, maka Allah dan para Malaikatnya akan bershalawat
kepadanya sebanyak tujuh puluh shalawat, maka sedikitkanlah atau
perbanyaklah seorang hamba dalam membacanya.” [1]

Allaahu Akbar! Sungguh sebuah amal yang sangat mudah untuk dilakukan
tetapi memiliki pahala yang sangat besar. Seorang hamba bershalawat
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali saja,
lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala beserta para Malaikat bershalawat
kepadanya sebanyak tujuh puluh kali. Demi Rabb Ka’bah, sungguh jika
Allah memberikan sekali shalawat saja, maka itu sudah cukup, apalagi
jika hal tersebut dilakukan dengan tujuh puluh kali, ditambah lagi
dengan shalawat para Malaikat.

Walaupun hadits ini berada dalam hukum mauquf kepada ‘Abdullah bin
‘Amr Radhiyallahu anhuma, sesungguhnya hadits ini bisa dimasukkan ke
dalam hukum marfu’, karena hadits ini tidak bisa diungkapkan dengan
akal. Para ulama -semoga Allah merahmati mereka semua- telah
menjelaskan hal tersebut, di antaranya adalah ung-kapan berikut:

1. Al-‘Allamah as-Sakhawi berkata: “Hadits ini masuk ke dalam hukum
marfu’ karena tidak ada ruang ijtihad di dalamnya.” [2]

2. Syaikh Ahmad ‘Abdurrahman al-Banna berkata: “Hadits ini mauquf
kepada ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma, akan tetapi masuk ke
dalam hukum marfu’, karena hadits yang seperti ini tidak mungkin
diungkapkan dengan akal, apalagi telah diriwayatkan oleh م دمذ secara
marfu’[3] dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhuma bahwa beliau
mendengar hal tersebut dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا.

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah
bershalawat kepadanya sepuluh kali.”

Hadits ini menguatkan bahwa hadits pada bab ini berada dalam hukum marfu’.” [4]

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menganjurkan memperbanyak
membaca shalawat kepada beliau.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ubay bin Ka’ab, dari ayahnya
Radhiyallahu anhuma, beliau berkata:

قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي أُكْثِرُ الصَّلاَةَ عَلَيْكَ فَكَمْ
أَجْعَلُ لَكَ مِنْ صَلاَتِيْ؟ فَقَالَ: مَا شِئْتَ، قُلْتُ: الرُّبُعَ،
قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ:
النِّصْفَ؟ قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ،
قُلْتُ: فَالثُّلُثَيْنِ، قَالَ: مَا شِئْتَ، فَإِنْ زِدْتَ فَهُوَ
خَيْرٌ لَكَ، قُلْتُ: أَجْعَلْ لَكَ صَلاَتِيْ كُلَّهَا. قَالَ: إِذًا
تُكْفَى هَمَّكَ وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ.

“Aku bertanya: ‘Wahai Rasulullah, aku hendak memperbanyak shalawat
kepadamu [5], berapa banyakkah aku harus bershalawat kepadamu?’[6]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Berapa saja
sekehendakmu.’ Aku katakan: ‘Seperempat?’ Maka Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau
menambahnya, maka itu adalah suatu kebaikan bagimu.’ Aku katakan:
‘Setengah?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
‘Terserah engkau, dan jika engkau menambahnya, maka itu adalah sebuah
kebaikan bagimu.’ Aku katakan: ‘Dua pertiga?’ Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab: ‘Terserah engkau, dan jika engkau
menambahnya, maka itu adalah sebuah kebaikan bagimu.’ Aku kata-kan:
‘Aku akan menjadikan shalawat kepadamu seluruhnya.’ [7] Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Jika demikian, maka semua
keinginanmu terpenuhi, dan dosamu akan diampuni.’” [8]

Di antara hal yang dapat kita fahami dari hadits ini bahwa siapa yang
memperbanyak shalawat kepada Allah, di mana dia lebih mementingkannya
daripada do’a untuk dirinya sendiri, maka Allah Subhanahu wa Ta'ala
akan memenuhi semua keinginannya yang berhubungan dengan masalah dunia
atau akhirat, dan dosanya pun akan diampuni.

Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ubay bin Ka’ab Radhiyallahu
anhu, ia berkata: “Seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, bagaimana
menurutmu jika aku menggantikan semua do’aku dengan shalawat?’

Beliau menjawab: ‘Jika demikian, maka semua keinginanmu akan dipenuhi
oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, baik keinginan dunia atau akhirat.’”
[9]

Al-Imam ath-Thaibi ketika menjelaskan sabda Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam : “Jika demikian, maka semua keinginanmu akan
dipenuhi,” beliau berkata: “Maknanya adalah semua keinginan dunia dan
akhiratmu akan terpenuhi, karena bershalawat kepada beliau mencakup
berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus penghormatan
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga merupakan sebuah
pengorbanan hak diri sendiri dengan tulus dari hati mereka. Sungguh
sebuah amal mulia yang keluar dari hati yang agung dan merupakan
sebuah amal yang memiliki akibat yang terpuji. [10]

Semoga dengan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala kita dijadikan sebagai
orang-orang yang masuk ke dalam golongan mereka, yaitu orang-orang
yang memiliki akhlak terpuji dan perbuatan yang mulia.

Amiin yaa Rabbal ‘aalamiin.

[Disalin dari buku Man Tushallii ‘alaihimul Malaa-ikatu wa Man
Tal‘anuhum, Penulis Dr. Fadhl Ilahi bin Syaikh Zhuhur Ilahi, Penerbit
Idarah Turjuman al-Islami-Pakistan, Cetakan Pertama, 1420 H - 2000 M,
Judul dalam Bahasa Indonesia: Orang-Orang Yang Di Do'aka Malaikat,
Penerjemah Beni Sarbeni]
_______
Footnote
[1]. Al-Musnad (X/106-107 no. 6605). Al-Hafizh al-Mundziri
menghasankan sanad hadits ini, begitu pula al-Hafizh al-Haitsami,
al-‘Allamah asy-Sakhawi dan Syaikh Ahmad Syakir (lihat kitab
at-Targhiib wat Tarhiib II/497, Majma’uz Zawaa-id X/160, al-Qaulul
Badii’, hal. 153 dan catatan pinggir kitab al-Musnad X/106).
[2]. Al-Qaulul Badii’ fish Shalaati ‘alal Habiibisy Syafii’, hal. 153.
[3]. Yaitu Muslim, Abu Dawud dan at-Tirmidzi. (Lihat kitab Buluughul
Amaani, I/5).
[4]. Ibid, (XIV/310).
[5]. Yakni, aku ingin memperbanyaknya. (Mirqaatul Mafaatiih III/16).
[6]. Maknanya, ‘berapa banyak aku bershalawat kepadamu pada waktu aku
berdo’a untuk diriku.’ (Syarh ath-Thaibi III/1046).
[7]. Maknanya, aku akan bershalawat pada semua waktu do'aku yang aku
tujukan kepada diriku. (Syarah ath-Thaibi III/1045).
[8]. Jaami’ at-Tirmidzi bab Shifatul Qiyaamah (VII/129-130 no. 2457),
at-Tirmidzi berkata: “Ini adalah hadits hasan.” (Ibid, VII/130).
Syaikh al-Albani menghasankan hadits ini (lihat kitab Shahiih Sunan
at-Tirmidzi II/299).
[9]. Al-Musnad (V/136 cet. Al-Maktab al-Islami), al-Hafizh al-Mundziri
berkata: “Isnadnya shahih.” (At-Targhiib wat Tar-hiib II/501)
[10]. Syarh ath-Thaibi (III/1046). Dan bagi yang ingin mengetahui
lebih jelas lagi shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,
maka bacalah kitab Jalaa-ul Afhaam fii Fadh-lish Shalaati was Salaam
‘alaa Muhammadin Khairil Anaam, karya al-Imam Ibnu Qayyim, karena buku
itu sangatlah bagus


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke