Nasehat Syaikh Bin Baz Rahimahullah [1] 
SAMBUTLAH BULAN RAMADHAN DENGAN TAKWA DAN TAUBAT YANG BENAR
http://almanhaj.or.id/content/3304/slash/0

Bulan yang sangat kita rindukan kedatangannya sebentar lagi akan datang. Ya, 
bulan Ramadhan, bulan penuh barakah, bulan yang memiliki banyak keutamaan. 
Sebagai seorang Muslim, tentu kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk 
menyongsong tamu agung itu. Kita mestinya sudah mulai menyiapkan diri kita agar 
bisa memaksimalkan momen istimewa ini untuk memperbaiki diri dan menyiapkan 
bekal keidupan akhirat. Kita tentu tidak ingin momen berharga ini lewat begitu 
saja. Alangkah ruginya dan alangkah ruginya, jika itu terjadi. Sebab belum 
tentu kita bisa menjumpai Ramadhan berikutnya dalam keadaan hidup. Betapa 
banyak orang yang hidup disekitar kita pada bulan Ramadhan tahun lalu, tapi 
kini mereka sudah tidak ada lagi, tidak ada lagi kesempatan mereka untuk 
memperbaiki diri dan memperbanyak bekal akhirat. Jangankan menunggu satu tahun, 
bulan Ramadhan yang tinggal beberapa hari ini pun belum tentu kita gapai. Ya, 
Allah, hanya kepada-Mu kami memohon, panjangkanlah usia kami sehingga bisa 
beribadah kepada-Mu di bulan Ramadhan ini. 

Berkenaan dengan bulan Ramadhan ini, kami menyajikan kehadapan para pembaca 
nasehat Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Abdirrahman bin Baz rahimahullah. 
Nasehat ini beliau sampaikan ketika beliau rahimahullah diminta untuk itu 
menjelang kedatangan bulan Ramadhan. Akhirnya, kami berharap semoga nasehat ini 
bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi kaum Muslimin umumnya. Berikut 
adalah nasehat beliau rahimahullah. 
_______________________________________________________________________

Nasehat saya kepada seluruh kaum Muslimin, hendaklah mereka senantiasa bertaqwa 
kepada Allâh Azza wa Jalla . Hendaklah mereka menyambut kedatangan bulan 
(Ramadhân) yang agung ini dengan benar-benar bertaubat dari segala dosa. 
Hendaklah mereka menyambutnya dengan berusaha memahami agama mereka dan 
mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan ibadah puasa serta qiyâmul lail 
(shalat malam) mereka. Berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu’alaihi wa 
sallam:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ 

Barangsiapa dikehendaki baik oleh Allâh Azza wa Jalla , maka Dia Azza wa Jalla 
memberikan kepadanya pemahaman tentang dien [2]

Juga sabda Rasûlullâh Shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِذَا دَخَلَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ 
جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Apabila bulan Ramadhân sudah tiba, maka pintu-pintu surga dibuka dan 
pintu-pintu neraka Jahannam ditutup serta setan-setan dibelenggu [3]

Juga berdasarkan sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ 
وَمَرَدَةُ الْجِنِّ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا 
بَابٌ وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ وَيُنَادِي 
مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ 
وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ 

Jika malam pertama bulan Ramadhân sudah tiba, maka setan-setan dan jin nakal 
dibelenggu, pintu-pintu neraka Jahannam ditutup tidak ada satu pun yang 
terbuka, pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satu pun yang tertutup. Kemudian 
ada malaikat yang menyeru, "Wahai para pencari kebaikan, menghadaplah (ke Allâh 
Azza wa Jalla dengan memperbanyak ketaatan) ! Wahai para pelaku keburukan, 
berhentilah ! Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla memiliki banyak hamba yang 
dibebaskan dari siksa api neraka. Itu terjadi setiap malam (bulan Ramadhân) [4]

Rasûlullâh Shallallahu’alaihi wa sallam bersabda : 

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ 
ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا 
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا 
غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Barangsiapa melakukan ibadah puasa karena rasa iman dan mengharapkan pahala 
dari Allâh Azza wa Jalla, maka dosanya yang telah lewat terampuni. Barangsiapa 
melakukan ibadah shalat malam karena rasa iman dan mengharapkan pahala dari 
Allâh Azza wa Jalla, maka dosanya yang telah lewat diampuni. Barangsiapa 
melakukan ibadah shalat malam pada malam al-qadar karena rasa iman dan 
mengharapkan pahala dari Allâh Azza wa Jalla, maka diampuni dosanya yang telah 
lewat .[5]

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي 
وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ 
أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ 
فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلُوفُ 
فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْـمِسْكِ لِلصَّائِمِ 
فَرْحَتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبَّهُ فَرِحَ 
بِصَوْمِهِ

Allâh Azza wa Jalla berfirman, "Semua amal kebaikan Bani Adam itu adalah 
miliknya, kecuali puasa. Karena puasa itu milik-Ku dan Saya yang memberikannya 
balasan. Puasa itu merupakan tameng. Jika salah diantara kalian sedang 
menjalankan ibadah puasa, maka janganlah dia berkata keji dan berteriak-teriak. 
Jika ia dicela oleh seseorang atau memeranginya, maka hendaklah dia mengatakan, 
"Saya sedang menjalankan ibadah puasa." Demi jiwa Muhammad yang ada di 
tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang sedang menjalankan ibadah puasa lebih 
wangi daripada minyak misik di sisi Allâh Azza wa Jalla. Orang yang menjalankan 
ibadah puasa memiliki dua kebahagiaan (yaitu) jika dia berbuka, dia bahagia dan 
ketika berjumpa dengan Rabbnya, dia bahagia dengan ibadah puasanya. [6] 

Juga sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي 
أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Orang yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allâh 
Azza wa Jalla sama sekali tidak butuh terhadap puasa orang itu. [7]

Jadi wasiat saya kepada seluruh kaum Muslimin, hendaklah mereka senantiasa 
bertaqwa kepad Allâh Azza wa Jalla dan berusaha memelihara ibadah puasa mereka 
dari semua perbuatan maksiat. Hendaklah mereka bersungguh-sungguh dalam 
melakukan kebaikan serta berlomba-lomba melakukan beragam kebaikan seperti 
bershadaqah, memperbanyak intensitas bacaan al-Qur'ân, tasbîh, tahlîl, tahmîd, 
takbîr serta istigfâr. Karena bulan (Ramadhân) ini adalah bulan al-Qur'ân:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ 
مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhân, bulan yang di 
dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur'ân sebagai petunjuk bagi manusia dan 
penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan 
yang bathil). [al-Baqarah/2:185]

Oleh karena itu, disyari'atkan bagi kaum Muslimin, laki-laki maupun peremuan 
untuk bersungguh-sungguh membaca al-Qur'ân, diwaktu siang maupun malam. Setiap 
satu hurup bernilai satu kebaikan dan satu kebaikan dibalasn dengan sepuluh 
kali lipat, sebagaimana diberitakan oleh nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa 
sallam. (Semangaat melakukan kebaikan ini) harus disertai semangat untuk 
menjauhi semua bentuk keburuakan dan perbuatan maksiat, (juga harus diiringi 
semangat untu) saling menasehati dengan kebenaran, amar ma'ruf dan nahi mungkar.

Bulan Ramadhân ini merupakan bulan yang dilipatgandakan (nilai) amal kebaikan 
di dalamnya, begitu pula balasan keburukan. Oleh karena itu, seorang Muslim 
berkewajiban untuk bersungguh-sungguh dalam menunaikan kewajiban yang Allâh 
Azza wa Jalla bebankan kepadanya serta menjauhi semua yang Allâh Azza wa Jalla 
haramkan. Dan hendaklah perhatiannya (terhadap kewajiban dan larangan itu-pent) 
pada bulan Ramadhân lebih ditingkatkan lagi. Sebagaimana juga disyari'atkan 
bagi seorang Muslim untuk bersunggug-sunggug dalam melaksanakan berbagai amal 
kebaikan seperti bershadaqah, mengunjungi orang sakit, mengantarkan jenazah (ke 
kuburan), menyambung tali silaturrahmi, baca al-Qur'an, membaca tasbîh, tahlîl, 
tahmîd, istigfâr, doa dan beragam kebaikan lainnya. Dia (mekukan itu, 
karena-pent) berharap bisa meraih pahala dari Allâh Azza wa Jalla dan karena 
takut terhadap siksa-Nya. Kami memohon kepada Allâh Azza wa Jalla , semoga 
Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada seluruh kaum Muslimin menuju 
keridhaan-Nya. Kami juga memohon kepada-Nya agar memanjangkan umur kita 
sehingga bisa melaksanakan ibadah puasa dan qiyâmul lail (shalat malam atau 
terawih-pent) dengan dilandasi keimanan dan keinginan meraih pahala-Nya. 
Sebagaimana juga kami memohon kepada Allâh Azza wa Jalla, semoga Allâh Azza wa 
Jalla memberikan kepada kami dan seluruh kaum Muslimin pemahaman terhadap agama 
ini, keistiqâmahan serta terhindar dari segala yang bisa mendatngkan murka dan 
siksa Allâh Azza wa Jalla . Kami memohon kepada Allâh Azza wa Jalla, semoga 
Allâh Azza wa Jalla memberikan taufiq-Nya kepada para penguasa kaum Muslmin; 
Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa memberikan hidayah kepada mereka, 
memperbaiki kondisi mereka serta memberikan taufiq kepada mereka supaya 
menerapkan syari'at-syari'at Allâh Azza wa Jalla dalam semua aspek kehidupan, 
sebagai perwujudan dari firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ

hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan 
Allâh [al-Mâidah/5:49]

Juga firman-Nya :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا 
لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih 
baik daripada (hukum) Allâh bagi orang-orang yang yakin ? [al-Mâidah/5:50]

Juga firman-Nya :

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ 
ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا 
تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka 
menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka 
tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu 
berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. [an-Nisâ/4:65]

Juga firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ 
وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى 
اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ 
ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allâh dan taatilah Rasul (nya), dan ulil 
amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, 
maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur'ân) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu 
benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian. yang demikian itu lebih 
utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [an-Nisâ/4:59]

Juga firman-Nya :

قُلْ أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

Katakanlah: "Taat kepada Allâh dan taatlah kepada rasul [an-Nûr/24:54]

Juga firman-Nya :

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ 
وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah, dan apa yang dilarangnya 
bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah 
amat keras hukumnya. [Hasyr/59:7]

Inilah beberapa kewajiban kaum Muslimin juga para pemimpin mereka. Para 
penguasa dan para Ulama (juga) wajib bertaqwa kepada Allâh Azza waa Jalla, 
tunduk kepada syari'at-Nya serta menerapkannya dalam kehidupan mereka. Karena 
dengan syari'at Allâh (kita akan meraih) kebaikan, hidayah, hasil akhir yang 
terpuji, keridhaan Allâh Azza wa Jalla , kebenaran serta dengan syari'at ini 
(kita bisa) menghindari tindakan kezhaliman.

Kami memohon kepada Allâh Azza wa Jalla, semoga memberikan petunjuk, niat dan 
amal perbuatan yang baik. 

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى أله وأصحابه أجمعين

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun XV/Syaban 1432/2011M. Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Diterjemahkan dari Majmû' Fatâwâ wa Maqâlâtu Mutanawwi'ah, 15/51-55
[2]. HR Imam Bukhari, dalam Kitâbul 'Ilmi, Bâb Man Yuridillâhu bihi Khairan 
Yufaqqihhu fid Dîn, no. 71 dan Riwayat Imam Muslim, Kitâbuz Zakat, Bâb an-Nahyu 
'anil Mas'alah, no. 1037
[3]. HR Imam Bukhari, dalam Kitâbu Bad'il Khalq, Bâb Shifati Iblîs wa Junûduhu, 
, no. 3277 dan Riwayat Imam Muslim, Kitâbus Shiyâm, Bâb Fadhli Syahri Ramadhân, 
no. 1079
[4]. HR. Tirmidzi dalam Kitabus Shaum, Bâb Ma Ja'a fi Fadhli Syahri Ramadhân, 
no. 682 dan Ibnu Majah, Kitabus Shiyam, Bâb Ma Ja'a fi Fadhli Syahri Ramadhân, 
no. 1642
[5]. HR Imam Bukhari, dalam Kitâbus Shaum, Bâb Man Shâma Ramadhân Îmânan wa 
ihtisâban, no. 1901 dan Riwayat Imam Muslim, Kitâbus Shalâtil Musâfirîn wa 
Qashrihâ, Bâb at-Targhîb fî Shiyâmi Ramadhân, no. 760 
[6]. HR Imam Bukhari, no. 7492 dan Riwayat Imam Muslim, no.1151 
[7]. HR Imam Bukhari, kitab as-Shaum, Bab Man Lâm Yada' Qaulaz Zûri wal 'Amala 
bihi, no. 1903                                     

Kirim email ke