KEBERKAHAN MAKAN SAHUR
Oleh
Dr. Nashir bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i
http://almanhaj.or.id/content/3310/slash/0

DEFINISI
(السَّحُوْرُ), adalah dengan memfat-hahkan siin yaitu untuk sesuatu
yang dipakai bersahur [1] berupa suatu makanan atau minuman, dan
dengan mendhammahkan, yaitu sebagai masdar (asal kata) dan untuk kata
kerjanya pun seperti itu pula.[2]

Ibnul Atsir berkata, “Yang lebih banyak diriwayatkan adalah dengan
menfathahkan, ada yang berpendapat: ‘Yang benar adalah dengan
didhummahkan karena dengan menfat-hahkan adalah untuk makanan,
keberkahan, ganjaran dan balasan perbuatan, bukan pada makanan.’”[3]

WAKTUNYA
Dinamakan Sahur, karena dilaksanakan pada waktu Sahur, sedang as-Sahir
adalah, akhir dari malam sebelum Shubuh, ada yang berkata, ia dari
sepertiga malam akhir hingga terbit fajar,[4] maksudnya adalah bahwa
akhir dari waktu sahur bagi seorang yang berpuasa adalah terbitnya
fajar.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ
مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

“...Dan makan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang
hitam, [5] yaitu fajar...” [Al-Baqarah: 187]

Disunnahkan untuk mengakhirkan Sahur jika tidak dikhawatirkan
terbitnya fajar, riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Anas Radhiyallahu
anhu dari Zaid bin Harits Radhiyallahu anhu, ia berkata: “Kita
bersahur bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu kita
mendirikan shalat.” Saya berkata: “Berapa lamakah antara keduanya?” Ia
berkata: “Lima puluh ayat.”[6]

Imam al-Baghawi berkata: “Para ulama menganjurkan mengakhirkan makan sahur.” [7]

HUKUMNYA
Sahur hukumnya adalah mustahab (disunnahkan) bagi orang yang berpuasa
karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

"تَسَحَّرُوْا! فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ."

“Bersahurlah kalian karena dalam bersahur tersebut terdapat keberkahan.” [8]

Dan dalam riwayat yang lain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"فَصْلٌ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ، أَكْلَةُ السَّحَرِ."

”Pembeda antara puasa kita dengan puasanya ahlul Kitab adalah makan Sahur.” [9]

Maka, dengan makan Sahur berarti telah menyelisihi ahlul Kitab.

Imam an-Nawawi berkata, “Artinya, pemisah dan pembeda antara puasa
kita dengan puasa mereka adalah sahur, karena mereka tidak bersahur
sedang kita dianjurkan untuk bersahur.” [10]

Makan Sahur dapat berupa sesuatu yang paling sedikit untuk disantap
oleh seseorang, baik berupa makanan maupun minuman. [11]

KEUTAMAAN SAHUR DAN KEBERKAHANNYA
Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"تَسَحَّرُوْا! فَإِنَّ فِي السَّحُوْرِ بَرَكَةٌ."

“Bersahurlah, karena pada makan Sahur itu ada keberkahan.” [12]

Dan diriwayatkan dari al-‘Irbadh bin Sariyah Radhiyallahu anhu[13] ,
ia berkata: “Aku telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memanggil seseorang untuk makan Sahur seraya bersabda:

"هَلُمَّ إِلَى الْغَدَاءِ الْمُبَارَكِ."
“Kemarilah untuk menyantap makanan yang diberkati.” [14]

Makan Sahur memiliki keberkahan dunia dan akhirat, Imam an-Nawawi
rahimahullah berkata saat menjelaskan keberkahan Sahur, “Keberkahan
yang terdapat pada makan Sahur sangatlah jelas sekali, karena ia
menguatkan untuk berpuasa dan membuatnya bergairah untuknya serta
mendapatkan keinginan untuk menambah puasa oleh karena ringannya
kesulitan padanya bagi orang yang bersahur.” Dikatakan: “Sesungguhnya
ia mengandung terjaga dari tidur, dzikir dan do’a pada saat itu,
dimana waktu tersebut adalah waktu turunnya Malaikat, penerimaan do’a
dan istighfar, dan kemungkinan ia mengambil wudhu’ lalu shalat atau
terus melanjutkan terjaga untuk dzikir, do’a, shalat atau
mempersiapkan diri untuk shalat hingga terbit Fajar.” [15]

Yang benar, bahwa keberkahan meliputi semua itu dan hal-hal lain dari
manfaat-manfaat Sahur, baik duniawi maupun ukhrawi, dan bahwa makan
Sahur mencakup makanan dan minuman, sedangkan kata kerjanya adalah
التَّسَحُّرُ.

Dalam kitab Fat-hul Baari, Ibnu Hajjar berkata: “(Pendapat) yang
terbaik adalah, bahwa keberkahan dalam makan Sahur dapat diperoleh
dari banyak segi, yaitu mengikuti Sunnah dan menyalahi ahlul Kitab,
taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan beribadah, menambah
semangat beramal dan mencegah akhlak yang buruk yang diakibatkan oleh
kelaparan, menjadi sebab bersedekah kepada siapa yang meminta saat itu
atau berkumpul bersama dengannya untuk makan, membuatnya berdzikir,
berdo’a pada waktu-waktu dikabulkannya do’a, memperbaiki niat puasa
bagi mereka yang melalaikannya sebelum tidur, Ibnu Daqiqil ‘Ied [16]
berkata, ‘Keberkahan ini dapat juga berlaku terhadap hal-hal ukhrawi
karena dengan menegakkan Sunnah, maka akan diganjar dan bertambahnya
Sunnah (yang dilakukan), begitu pula bisa saja berlaku terhadap
hal-hal duniawi, seperti kekuatan tubuh untuk berpuasa dan juga
memudahkan dirinya tanpa ada bahaya bagi orang yang melaku-kan
puasa.’” [17]

Di antara keutamaan-keutamaan yang ditambah bagi makan Sahur adalah
Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Malaikat-Nya akan bershalawat bagi
orang-orang yang makan Sahur, tidak dipungkiri bahwa itu adalah
keutamaan yang besar.

Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu telah meriwayatkan dari Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

"السَّحُوْرُ أَكْلُهُ بَرَكَةٌ، فَلاَ تَدْعُوْهُ وَلَوْ أَنْ يُجْرَعَ
أَحَدُكُمْ جُرْعَةً مِنْ مَاءٍ، فَإِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ
يُصَلُّوْنَ عَلَى الْمُتَسَحَّرِيْنَ."

“Makan Sahur adalah keberkahan, maka janganlah kalian meninggalkannya,
walaupun hanya berupa seteguk air, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala
dan Malaikat-Nya bershalawat bagi orang-orang yang bersahur.” [18]

Maka seyogyanyalah bagi seorang Muslim mengikuti Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam dalam perbuatannya pada masalah ini, hingga
memperoleh keber-kahannya dan keutamaan-keutamaannya serta manfaat
dunia dan akhirat.

[Disalin dari buku At Tabaruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu, Judul dalam
Bahasa Indonesia Amalan Dan Waktu Yang Diberkahi, Penulis Dr. Nashir
bin ‘Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir]
_______
Footnote
[1]. Ash-Shihah (II/679) oleh al-Jauhari, al-Qamuus al-Muhiith
(II/528) disusun oleh az-Zawi.
[2]. An-Nihaayah (II/347) oleh Ibnul Atsir.
[3]. Ibid, II/347.
[4]. Lisaanul ‘Arab (IV/350), dengan sedikit perubahan.
[5]. Yaitu gelapnya malam dan terangnya siang, seperti yang dijelaskan
oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits ‘Adiy bin Hatim
Radhiyallahu anhu, lihat Shahih al-Bukhari (II/231) Kitaabush Shaum
bab Qaulullaahu Ta’aalaa: وَكُلُوْا وَاشْرَبُوْا....
[6]. Shahih al-Bukhari (II/771) Kitaabush Shaum bab Qadru Kam bainas
Suhuur wa Shallatul Fajr dan Shahih Muslim (II/771).
[7]. Syarhus Sunnah (VI/253) oleh al-Baghawi.
[8]. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahihnya (II/232) Kitaabush
Shaum bab Barakatus Suhuur min Ghairi Iijaab liannan Nabi j wa
Ash-haabuhu Waashalu wa lam Yudzkaris Suhuur juga Muslim dalam
Shahihnya (II/770) Kitaabush Shiyaam bab Fadhlus Suhuur, dari Anas bin
Malik Radhiyallahu anhu dan dalam Shahih Ibni Khuzaimah (III/213).
[9]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya (II/771) kitab
ash-Shiyaam bab Fadhlus Suhuur dari ‘Amr bin ‘Ash Radhiyallahu anhu.
[10]. Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (VII/207).
[11]. Lihat Fat-hul Baari (IV/140) oleh Ibnu Hajjar.
[12]. Telah diriwayatkan dalam ash-Shahihain.
[13]. Beliau adalah al-‘Irbadh bin Sariyah as-Sulami atau Najih,
beliau termasuk dari ahli fiqh dan tinggal di Himsh -wilayah Syam-,
wafat pada tahun 75 H, lihat Asaadul Ghaabah (III/518), al-Ishaabah
(II/266) dan Tahdziibut Tahdziib (VII/174).
[14]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunannya (II/758) Kitaabush
Shiyaam bab Man Sammas Sahuural Ghadaa’ dan an-Nasa-i (IV/126)
Kitaabush Shiyaam bab ad-Da’wah ilas Sahuur, Imam Ahmad dalam
Musnadnya (IV/126), Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya (III/214) Kitaabush
Shiyaam bab Dziktud Dallilin Naas Sahuur Qad Yaqa’a ‘alaihi Ismul
Ghadaa’, Ibnu Hibban dalam Shahihnya (V/194) disusun oleh al-Farisi,
al-Albani berkata dalam Misykatul Mashabiih (I/622), “Sanadnya hasan.”
[15]. Syarhun Nawawi li Shahiihi Muslim (VII/206), dengan perubahan.
[16]. Beliau Muhammad bin ‘Ali bin Wahb al-Qusyairi al-Manfaluthi
Taqiyuddin Abul Fath, imam, faqih, mujtahid, hafizh, muhaddits,
menulis banyak karangan, dikenal dengan nama Ibnu Daqiq al-‘Ied,
beliau seorang yang cerdas di zamannya, sangat luas ilmunya, tenang,
berwibawa, seorang hafizh yang kuat, menjadi hakim di Mesir. Di antara
karyanya: Syarhul ‘Umdah, al-Imaam fil Ahkaam, al-Iqtiraah fii
‘Uluumil Hadiits, wafat pada tahun 702 H. Lihat Tadzkiiratul Huffaazh
(IV/1481), Thabaqatul Huffazh (hal. 516), Syadzaa-ratudz Dzahab (VI/5)
dan al-A’laam (VI/283).
[17]. Fat-hul Baari (IV/140). Lihat Ihkaamul Ahkaam Syarhu ‘Umdatul
Ahkaam (II/18) oleh Ibnu Daqiqil ‘Ied.
[18]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (III/12-44),
al-Mundziri berkata dalam at-Targhiib wat-Tarhiib (II/139):
“Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang kuat.” Al-Haitsami berkata
dalam Majmaa’-uz Zawaa-id (III/150): “Diriwayatkan oleh Ahmad dan di
dalamnya ada perawi yang bernama Rafa‘ah, aku tidak tahu ada yang
menguatkannya. Dia dan tidak pula ada yang melemahkannya, sedangkan
para perawi yang lain adalah shahih.” Diriwayatkan juga oleh Ibnu
Hibban dalam Shahihnya, al-Ihsaan bi Tartiibi Shahih Ibni Hibban
(V/194). Lafazh terakhir dari hadits, إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتِهِ
adalah dari ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhuma.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke