BIMBINGAN BERHARI RAYA IDUL FITHRI

Oleh
Ustadz Abu Sulaiman Aris Sugiyantoro
http://almanhaj.or.id/content/3336/slash/0/bimbingan-berhari-raya-iedul-fithri/

MENGAPA DINAMAKAN ‘ID?
Secara bahasa, ‘Id ialah sesuatu yang kembali dan berulang-ulang. Sesuatu yang 
biasa datang dan kembali dari satu tempat atau waktu.

Kemudian dinamakan ‘Id, karena Allah kembali memberikan kebaikan dengan 
berbuka, setelah kita berpuasa dan membayar zakat fithri. Dan dengan 
disempurnakannya haji, setelah diperintahkan thawaf dan menyembelih binatang 
kurban. Karena, biasanya pada waktu-waktu seperti ini terdapat kesenangan dan 
kebahagiaan.

As Suyuthi rahimahullah berkata,”’Id merupakan kekhususan umat ini. Keberadaan 
dua hari ‘Id, merupakan rahmat dari Allah kepada ummat ini. Dari Anas 
Radhiyallahu 'anhu, ia berkata,”Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam datang ke 
Madinah, dan penduduk Madinah mempunyai dua hari raya. Pada masa Jahiliyyah, 
mereka bermain pada dua hari raya tersebut. Beliau bersabda, ’Aku datang dan 
kalian mempunyai dua hari, yang kalian bermain pada masa Jahiliyah. Kemudian 
Allah mengganti dengan yang lebih baik dari keduanya, (yaitu) hari Nahr dan 
hari Fithri’.” [Dr. Abdullah Ath Thayyar, Ahkam Al ‘Idain Wa ‘Asyri Dzil 
Hijjah, hlm. 9].

HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN PADA HARI ‘ID
Ada beberapa amalan yang disunnahkan bagi kita pada hari yang berbahagia ini, 
diantaranya:

1. Mandi.
Pada hari ‘Id, disunnahkan untuk mandi. Karena pada hari tersebut kaum muslimin 
akan berkumpul, maka disunnahkan mandi seperti pada hari Jum’at. Namun, apabila 
seseorang hanya berwudhu’ saja, maka sah baginya. (Ibnu Qudamah, Al Mughni, 
3/257). Dan kaifiyatnya seperti mandi janabat.

Nafi’ menceritakan, dahulu, pada ‘Idul Fithri, Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma 
mandi sebelum berangkat ke tanah lapang. [Diriwayatkan Imam Malik dalam Al 
Muwaththa’, 1/177].

Sa’id Ibnul Musayyib rahimahullah berkata,”Sunnah pada hari ‘Idul Fithri ada 
tiga. (Yaitu): berjalan kaki menuju tanah lapang, makan sebelum keluar rumah 
dan mandi. [Irwa’ul Ghalil, 2/104].

2. Berhias Sebelum Berangkat Shalat ‘Id.
Disunnahkan untuk membersihkan diri dan mengenakan pakaian terbaik yang 
dimilikinya, memakai minyak wangi dan bersiwak.

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma, ia berkata:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ يَوْمَ الْعِيْدِ 
بُرْدَةً حَمْرَاءَ

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, pada hari ‘Id, Beliau 
mengenakan burdah warna merah". [Ash Shahihah, 1.279].

Imam Malik rahimahullah berkata,”Saya mendengar Ahlul Ilmi, mereka menganggap 
sunnah memakai minyak wangi dan berhias pada hari ‘Id.” [Al Mughni, 3/258].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, ketika keluar pada shalat dua hari 
raya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenakan pakaian yang terindah. 
Beliau memiliki hullah yang dikenakannya untuk dua hari raya dan hari Jum,at. 
Suatu waktu, Beliau mengenakan dua pakaian hijau, dan terkadang mengenakan 
burdah (kain selimut warna merah)." [Zaadul Ma’ad, 1/426].

Sedangkan bagi kaum wanita, tidak dianjurkan untuk berhias dengan mengenakan 
baju yang mewah, atau mengenakan minyak wangi. Dan hendaknya, mereka menjauh 
dari kaum lelaki agar tidak menimbulkan fitnah, sebagaimana realita yang kita 
lihat pada zaman sekarang.

3. Makan Sebelum Shalat ‘Idul Fithri.
Dari Anas Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَغْدُو يَوْمَ 
الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ تَمَرَاتٍ. رواه البخاري

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar untuk shalat 
‘Idul Fithri, sehingga Beliau makan beberapa kurma". [HR Al Bukhari].

Dan dari Buraidah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَخْرُجُ يَوْمَ 
الْفِطْرِ حَتَّى يَطْعَمَ وَ يَوْمَ النَّحْرِ لَا يَأْكُلُ حَتَّى يَرْجِعَ
فَيَأْكُلُ مِنْ نَسِيْكَتِهِ. رواه الترمذي وابن ماجه

"Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari ‘Idul 
Fithri, sehingga Beliau makan. Dan Beliau tidak makan pada hari ‘Idul Adh-ha, 
sehingga Beliau pulang ke rumah, kemudian makan dari daging kurbannya".[HR At 
Tirmidzi dan Ibnu Majah].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, sebelum keluar untuk shalat ‘Idul 
Fithri, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam makan beberapa kurma, dengan jumlah 
yang ganjil. Dan pada hari ‘Idul Adh-ha, Beliau tidak makan sehingga kembali 
dari tanah lapang, maka Beliau makan dari daging kurbannya." [Zaadul Ma’ad, 
1/426].

4. Mengambil Jalan Yang Berbeda Ketika Berangkat Dan Pulang Dari Shalat ‘Id.
Disunnahkan untuk menyelisihi jalan, yaitu dengan mengambil satu jalan ketika 
berangkat menuju shalat ‘Id, dan melewati jalan yang lain ketika pulang dari 
tanah lapang.

Dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ 
خَالَفَ الطَّرِيقَ. رواه البخاري

"Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika hari ‘Id, Beliau mengambil 
jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang". [HR Al Bukhari di dalam Bab Al 
‘Idain]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
keluar dengan berjalan kaki, dan beliau menyelisihi jalan; (yaitu) berangkat 
lewat satu jalan dan kembali lewat jalan yang lain". [Zaadul Ma’ad, 1/432].

Hukum mengambil jalan yang berbeda ini hanya khusus pada dua hari ‘Id. Tidak 
disunnahkan untuk amalan lainnya, seperti shalat Jum’ah, sebagaimana disebutkan 
Ibnu Dhuwaiyan di dalam kitab Manarus Sabil 1/151. Atau dalam masalah amal 
shalih yang lain, Imam An Nawawi menyebutkan di dalam kitab Riyadhush Shalihin, 
bab disunnahkannya pergi ke shalat ‘Id, menjenguk orang sakit, pergi haji, 
perang, mengiringi jenazah dan yang lainnya dengan mengambil jalan yang 
berbeda, supaya memperbanyak tempat-tempat ibadahnya.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Hal seperti ini tidak bisa 
diqiaskan. Terlebih lagi amalan-amalan tersebut ada pada zaman Nabi Shallallahu 
'alaihi wa sallam. Dan tidak pernah dinukil bahwa Beliau mengambil jalan yang 
berbeda, kecuali pada dua hari ‘Id. Kita mempunyai satu kaidah yang penting 
bagi thalibul ilmi, segala sesuatu yang ada sebabnya pada zaman Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Beliau tidak mengerjakannya, maka amalan 
tersebut tertolak”. Hingga Syaikh Ibnu Utsaimin berkata: “Maka yang benar, 
ialah pendapat yang mengatakan, mengambil jalan yang berbeda, khusus pada dua 
shalat ‘Id saja, sebagaimana yang zhahir dari perkataan muallif -Al Hajjawi di 
dalam Zaadul Mustaqni’- karena ia tidak menyebutkan pada hari Jum’at, tetapi 
hanya menyebutkan pada dua hari ‘Id. Hal ini menunjukkan, bahwa dia memilih 
pendapat tidak disunnahkannya mengambil jalan yang berbeda, kecuali pada dua 
hari ’Id”. [Asy Syarhul Mumti’, 5/173-175].

5. Bertakbir.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ 
وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ البقرة- 185

"Dan supaya kalian sempurnakan hitungan Ramadhan dan bertakbirlah karena yang 
telah dikaruniakan Allah kepada kalian, semoga kalian bersyukur". [Al 
Baqarah:185].

Waktu bertakbir dimulai setelah terlihatnya hilal bulan Syawwal, hal ini jika 
memungkinkan. Dan jika tidak mungkin, maka dengan datangnya berita, atau ketika 
terbenamnya matahari pada tanggal 30 Ramadhan. Kemudian, takbir ini hingga imam 
selesai dari khutbah ‘Id. Demikian menurut pendapat yang benar, diantara 
pendapat Ahlul Ilmi. Akan tetapi, kita tidak bertakbir ketika mendengarkan 
khutbah, kecuali jika mengikuti takbirnya imam. Dan ditekankan untuk bertakbir 
ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang, atau ketika menunggu imam datang. 
[Ahkamul ‘Idain, 24].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: "Takbir pada hari Idul 
Fithri dimulai ketika terlihatnya hilal, dan berakhir dengan selesainya ‘Id. 
Yaitu ketika imam selesai dari khutbah, (demikian) menurut pendapat yang 
benar". [Majmu’ Fatawa, 24/220, 221].

Adapun sifat (shighat) takbir, dalam hal ini terdapat keluasan. Telah datang 
satu riwayat yang shahih dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu, bahwa ia 
bertakbir pada hari hari tasyriq dengan genap (dua kali) mengucapkan lafadz 
Allahu Akbar. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dan sanadnya shahih, akan 
tetapi disebutkan di lafadz yang lain dengan tiga kali.

اللهُ أَكْبَرُ , اللهُ أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله , اللهُ 
أَكْبَرُ, اللهُ أَكْبَرُ, وَللهِ الْحَمْدُ

Tidak selayaknya bertakbir secara jama’i, yaitu berkumpul sekelompok orang 
untuk melafadzkan dengan satu suara, atau satu orang memberi komando kemudian 
diikuti sekelompok orang tersebut. Karena, amalan seperti ini tidak pernah 
dinukil dari Salaf. Yang sunnah, setiap orang bertakbir sendiri-sendiri. 
Seperti ini pula pada setiap dzikir, atau ketika memanjatkan do’a-do’a yang 
masyru’ pada setiap waktu. [Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm. 30].

Syaikh Al Albani rahimahullah berkata: "Patut untuk diberi peringatan pada saat 
sekarang ini, bahwa mengeraskan suara ketika bertakbir tidak disyari’atkan 
secara berjama’ah dengan satu suara, sebagaimana yang dikerjakan oleh sebagian 
orang. Demikian pula pada setiap dzikir yang dibaca dengan keras atau tidak, 
maka tidak disyari’atkan untuk berjama’i. Hendaknya kita waspada terhadap 
masalah ini" [Silsilah Al Ahadits Shahihah, 1/121].

HUKUM SHALAT ID
Hukum shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, bagi setiap orang untuk mengerjakannya. 
Dari Ummu ‘Athiyyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata:

أَمَرَنَا -تَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- أَنْ نُخْرِجَ 
فِي الْعِيدَيْنِ الْعَوَاتِقَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ وَأَمَرَ الْحُيَّضَ أَنْ 
يَعْتَزِلْنَ مُصَلَّى الْمُسْلِمِينَ. متفق عليه

"Nabi memerintahkan kepada kami (kaum wanita) untuk keluar mengajak ‘awatiq 
(wanita berusia muda) dan gadis yang dipingit. Dan Beliau memerintahkan wanita 
haid untuk menjauhi mushalla (tempat shalat) kaum muslimin". [Muttafaqun 
‘alaih].

Dahulu, Rasululllah Shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa menjaga untuk 
mengerjakan shalat ‘Id. Ini merupakan dalil wajibnya shalat ‘Id. Dan karena 
shalat ‘Id menggugurkan kewajiban shalat Jum’at, jika ‘Id jatuh pada hari 
Jum’at. Sesuatu yang bukan wajib, tidak mungkin akan menggugurkan satu 
kewajiban yang lain. Lihat At Ta’liqat Ar Radhiyah, Syaikh Al Albani, 1/380.

Pendapat yang mengatakan bahwa shalat ‘Id adalah fardhu ‘ain, merupakan madzhab 
Abu Hanifah dan salah satu riwayat dari Imam Ahmad. Begitu pula pendapat yang 
dipilih Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Dia mengatakan di dalam Majmu’Fatawa 
(23/161), sebagai berikut: “Oleh karena itu, kami merajihkan bahwa hukum shalat 
‘Id adalah wajib ‘ain. Adapun pendapat yang mengatakan tidak wajib, adalah 
perkataan yang sangat jauh dari kebenaran, karena shalat ‘Id termasuk syi’ar 
Islam yang terbesar. Kaum muslimin yang berkumpul pada hari ini, lebih banyak 
daripada hari Jum’at. Demikian pula disyari’atkan pada hari itu untuk 
bertakbir. Adapun pendapat yang mengatakan hukumnya fardhu kifayah, tidak 
tepat”.

WAKTU SHALAT ‘IDUL FITHRI
Sebagian besar Ahlul Ilmi berpendapat, bahwa waktu shalat ‘Id adalah setelah 
terbitnya matahari setinggi tombak hingga tergelincirnya matahari. Yakni waktu 
Dhuha.

Juga disunnahkan untuk mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri, agar kaum muslimin 
memperoleh kesempatan menunaikan zakat fithri.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam 
mengakhirkan shalat ‘Idul Fithri dan menyegerakan shalat ‘idul Adh-ha. 
Sedangkan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma, seorang sahabat yang sangat berpegang 
kepada Sunnah. Dia tidak keluar hingga terbit matahari”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].

TEMPAT MENDIRIKAN SHALAT ‘ID
Disunnahkan mengerjakan shalat ‘Id di mushalla. Yaitu tanah lapang di luar 
pemukiman kaum muslimin, kecuali jika ada udzur. Misalnya, seperti: hujan, 
angin yang kencang dan lainnya, maka boleh dikerjakan di masjid.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata: “Mengerjakan shalat ‘Id di tanah lapang 
adalah sunnah, karena dahulu, Nabi Shallallahu 'alaihi wa salalm keluar ke 
tanah lapang dan meninggalkan masjidnya. Demikian pula khulafaur rasyidin. Dan 
ini merupakan kesepakatan kaum muslimin. Mereka telah sepakat di setiap zaman 
dan tempat untuk keluar ke tanah lapang ketika shalat ‘Id”. [Al Mughni, 3/260].

TIDAK ADA ADZAN DAN IQAMAH SEBELUM SHALAT ‘ID
Dari Ibnu Abbas dan Jabir Radhiyallahu 'anhuma, keduanya berkata:

لَمْ يَكُنْ يُؤَذِّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلاَ يَوْمَ الأَضْحَى.رواه البخاري ومسلم

"Tidak pernah adzan pada hari ‘Idul Fithri dan hari ‘Idul Adh-ha". [HR Al 
Bukhari dan Muslim]

Dari Jabir bin Samurah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَيْنِ 
غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَا مَرَّتَيْنِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلَا إِقَامَةٍ. رواه مسلم

"Saya shalat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada dua hari 
raya, sekali atau dua kali, tanpa adzan dan tanpa iqamat". [HR Muslim].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Dahulu, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam sampai ke tanah lapang, Beliau memulai shalat tanpa adzan dan iqamat 
ataupun ucapan “ash shalatu jami’ah”. Dan yang sunnah, untuk tidak dikerjakan 
semua itu”. [Zaadul Ma’ad, 1/427].

SHIFAT SHALAT ‘ID
Shalat ‘Id, dikerjakan dua raka’at, bertakbir di dalam dua raka’at tersebut 12 
kali takbir, 7 pada raka’at yang pertama setelah takbiratul ihram dan sebelum 
qira’ah, dan 5 takbir pada raka’at yang kedua sebelum qira’ah.

عن عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى 
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا فِي الْأُولَى 
وَخَمْسًا فِي الْآخِرَةِ. رواه ابن ماجه

"Dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, sesungguhnya Rasulullah 
Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir pada dua shalat ‘Id tujuh kali pada 
raka’at pertama, dan lima kali pada raka’at yang kedua". [HR Ibnu Majah].

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَبَّرَ 
فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى سَبْعًا وَخَمْسًا سِوَى تَكْبِيرَتَيْ الرُّكُوعِ. 
رواه أبو داود و ابن ماجه

"Dari Aisyah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertakbir 
pada shalat ‘Idul Fithri dan shalat ‘Idul Adh-ha tujuh kali dan lima kali, 
selain dua takbir ruku". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil, 639].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Beliau memulai shalat ‘Id sebelum 
berkhutbah. Beliau shalat dua raka’at. Bertakbir pada raka’at yang pertama, 
tujuh kali takbir yang beruntun setelah takbir iftitah. Beliau diam sejenak 
antara dua takbir. Tidak diketahui dzikir tertentu antara takbir-takbir ini. 
Akan tetapi (ada) disebutkan bahwa Ibnu Mas’ud Radhiyallahu 'anhu memuji Allah, 
menyanjungNya dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam (diantara dua takbir tersebut), sebagaimana disebutkan oleh Al Khallal. 
Dan Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhuma merupakan seorang sahabat yang sangat 
tamassuk (berpegang teguh) dengan Sunnah. Beliau mengangkat kedua tangannya 
setiap kali takbir. Dan setelah menyempurnakan takbirnya, Nabi memulai qira’ah. 
Beliau membaca Al Fatihah, kemudian membaca surat Qaaf pada salah satu raka’at. 
Pada raka’at yang lain, membaca surat Al Qamar. Terkadang membaca surat Al 
A’laa dan surat Al Ghasyiyah. Telah sah dari Beliau dua hal ini, dan tidak sah 
riwayat yang menyatakan selainnya.

Ketika selesai membaca, Beliau bertakbir dan ruku’. Kemudian, apabila telah 
menyempurnakan raka’at yang pertama, Beliau bangkit dari sujud dan bertakbir 
lima kali secara beruntun. Setelah itu Beliau membaca. Maka takbir merupakan 
pembuka di dalam dua raka’at, kemudian membaca, dan setelah itu ruku’”. [Zaadul 
Ma’ad, 1/427].

APAKAH ADA SHALAT SUNNAH SEBELUM DAN SESUDAH ‘ID?
Tidak disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah ‘Id. Disebutkan dari Ibnu 
Abbas Radhiyallahu 'anhuma:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلًّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى يَوْمَ الْفِطْرِ 
رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا. رواه البخاري

"Sesungguhnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam shalat ‘Idul Fithri dua 
raka’at, tidak shalat sebelumnya atau sesudahnya" [HR Al Bukhari].

Imam Ahmad rahimahullah berkata: “Sama sekali tidak ada satu shalat sunnah saat 
sebelum atau sesudah ‘Id”. Kemudian dia ditanya: “Bagaimana dengan orang yang 
ingin shalat pada waktu itu?” Dia menjawab: “Saya khawatir akan diikuti oleh 
orang yang melihatnya. Ya’ni jangan shalat”. [Al Mughni, Ibnu Qudamah 3/283].

Al Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata: "Kesimpulannya, pada shalat ‘Id 
tidak ada shalat sunnah sebelum atau sesudahnya, berbeda dari orang yang 
mengqiyaskan dengan shalat Jum’ah. Namun, shalat sunnah muthlaqah tidak ada 
dalil khusus yang melarangnya, kecuali jika dikerjakan pada waktu yang makruh 
seperti pada hari yang lain". [Fath-hul Bari, 2/476].

Apabila shalat ‘Id dikerjakan di masjid karena adanya udzur, maka diperintahkan 
shalat dua raka’at tahiyyatul masjid. Wallahu a’lam.

APABILA SESEORANG TERTINGGAL DARI SHALAT ‘ID, APAKAH PERLU MENGQADHA?
Dalam masalah ini, Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menyatakan di dalam Asy 
Syarhul Mumti’ 5/208: "Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berpendapat tidak diqadha. 
Orang yang tertinggal atau luput dari shalat ‘Id, tidak disunnahkan untuk 
mengqadha’nya, karena hal ini tidak pernah ada dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam. Dan karena shalat ‘Id merupakan shalat yang dikerjakan dengan berkumpul 
secara khusus. Oleh sebab itu tidak disyari’atkan, kecuali dengan cara seperti 
itu".

Kemudian beliau Syaikh Ibnu Utsaimin juga berkata: "Shalat Jum’at juga tidak 
diqadha. Tetapi, bagi orang yang tertinggal, (ia) mengganti shalat Jum’at 
dengan shalat fardhu pada waktu itu. Yaitu Dhuhur. Pada shalat ‘Id, apabila 
tertinggal dari jama’ah, maka tidak diqadha, karena pada waktu itu tidak 
terdapat shalat fardhu ataupun shalat sunnah".

KHUTBAH ‘IDUL FITHRI
Dalam Shahihain dan yang lainnya disebutkan:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ 
الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى فَأَوَّلُ شَيْءٍ يَبْدَأُ بِهِ 
الصَّلَاةُ ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُومُ مُقَابِلَ النَّاسِ وَالنَّاسُ جُلُوسٌ 
عَلَى صُفُوفِهِمْ فَيَعِظُهُمْ وَيُوصِيهِمْ وَيَأْمُرُهُمْ .رواه البخاري و مسلم

"Adalah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar ke tanah lapang pada ‘Idul 
Fithri dan ‘Idul Adh-ha. Pertama kali yang Beliau kerjakan ialah shalat, 
kemudian berpaling dan berdiri menghadap sahabat, dan mereka tetap duduk di 
barisan mereka. Kemudian Beliau memberikan mau’izhah, wasiat dan memerintahkan 
mereka". [HR Al Bukhari dan Muslim].

Dalam masalah khutbah ‘Id ini, seseorang tidak wajib mendengarkannya. 
Dibolehkan untuk meninggalkan tanah lapang seusai shalat. Tidak sebagaimana 
khutbah Jum’ah, yang wajib bagi kita untuk menghadirinya.

Di dalam hadits Abdullah bin As Sa’id Radhiyallahu 'anhu, ia berkata:

شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِيدَ 
فَلَمَّا قَضَى الصَّلَاةَ قَالَ إِنَّا نَخْطُبُ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجْلِسَ 
لِلْخُطْبَةِ فَلْيَجْلِسْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَذْهَبَ فَلْيَذْهَبْ

"Saya menyaksikan shalat ‘Id bersama Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika 
selesai, Beliau berkata: “Kami sekarang berkhutbah. Barangsiapa yang mau 
mendengarkan, silahkan duduk. Dan barangsiapa yang mau, silahkan pergi". 
[Dikeluarkan oleh Abu Dawud, An Nasa’i, Ibnu Majah. Lihat Irwa’ul Ghalil 3/96]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,"Dahulu, apabila Nabi Shallallahu 'alaihi wa 
sallam menyempurnakan shalat, Beliau berpaling dan berdiri di hadapan para 
sahabat, sedangkan mereka duduk di barisan mereka. Beliau memberikan mau’izhah, 
wasiat dan memerintahkan dan melarang mereka. Beliau membuka 
khuthbah-khutbahnya dengan memuji Allah. Tidak pernah diriwayatkan -dalam satu 
haditspun- bahwasanya Beliau membuka dua khutbah pada ‘Idul Fithri dan ‘Idul 
Adh-ha dengan bertakbir. Dan diberikan rukhshah bagi orang yang menghadiri ‘Id 
untuk mendengarkan khutbah atau pergi". [Zaadul Ma’ad, 1/429].

APABILA HARI ‘ID BERTEPATAN DENGAN HARI JUM’AT
Apabila hari ‘Id bertepatan dengan hari Jum’at, maka kewajiban shalat Jum’at 
bagi orang yang telah menghadiri ‘Id menjadi gugur. Tetapi bagi penguasa, 
sebaiknya memerintahkan agar didirikan shalat Jum’at, supaya dihadiri oleh 
orang yang tidak menyaksikan ‘Id atau bagi yang ingin menghadiri Jum’at dari 
kalangan orang-orang yang telah shalat ‘Id. Dan sebagai pengganti Jum’at bagi 
orang yang tidak shalat Jum’at, adalah shalat Dhuhur. Tetapi yang lebih baik, 
ialah menghadiri keduanya. [Lihat Ahkamul ‘Idain, Ath Thayyar, hlm. 18; Majalis 
‘Asyri Dzil Hijjah, Syaikh Abdullah Al Fauzan, hlm. 107].

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa 
sallam, Beliau berkata:

قَدْ اجْتَمَعَ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنْ 
الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ. رواه أبو داود و ابن ماجه

"Telah berkumpul pada hari kalian ini dua ‘Id. Barangsiapa yang mau, maka 
shalat ‘Id telah mencukupi dari Jum’at. Akan tetapi, kami mengerjakan shalat 
Jum’at". [HR Abu Dawud, Ibnu Majah]

MENGUCAPKAN SELAMAT PADA HARI ‘ID
Syaikhul Islam ditanya tentang mengucapkan selamat pada hari ‘Id. Beliau 
menjawab:

“Mengucapkan selamat pada hari ‘Id; apabila seseorang bertemu saudaranya, 
kemudian dia berkata تقبل الله منا ومنكم (semoga Allah menerima amal kebaikan 
dari kami dan dari kalian), atau أعاده الله عليك (semoga Allah memberikan 
kebaikan kepada Anda), atau semisalnya, dalam hal seperti ini telah 
diriwayatkan dari sekelompok diantara para sahabat, bahwa mereka dahulu 
mengerjakannya. Dan diperperbolehkan oleh Imam Ahmad dan selainnya. Imam Ahmad 
berkata,’Saya tidak memulai seseorang dengan ucapan selamat ‘Id. Namun, jika 
seseorang menyampaikan ucapan selamat kepadaku, aku akan menjawanya, karena 
menjawab tahiyyah hukumnya wajib. Adapun memulai ucapan selamat ‘Id bukan 
merupakan sunnah yang diperintahkan, dan tidak termasuk sesuatu yang dilarang. 
Barangsiapa yang mengerjakannya, maka ada contohnya. Dan bagi orang yang tidak 
mengerjakannya, ada contohnya juga". [Majmu’ Fatawa, 24/253, lihat juga Al 
Mughni, 3/294].

Wallahu a’lamu bish shawab.

Diselesaikan pada 15 Rajab 1425, bertepatan 30 Agustus 2004.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 07/Tahun VIII/1425/2004M. Penerbit 
Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton 
Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858197]                       
                   

Kirim email ke