SIKAP SEORANG MUSLIM TERHADAP PERSELISIHAN

Oleh
Ustadz Abu Isma’il Muslim Al-Atsari
http://almanhaj.or.id/content/3340/slash/0/sikap-seorang-muslim-terhadap-perselisihan/

Hikmah Allâh Azza wa Jalla menetapkan adanya perbedaan dan
perselisihan diantara manusia. Diantara penyebabnya adalah adanya
perbedaan ilmu, kecerdasan, sifat, pengalaman, lingkungan, dan
lain-lainnya. Oleh karena itu perselisihan merupakan takdir Allâh
Subhanahu wa Ta’alayang pasti terjadi. Karena perselisihan sudah
terjadi dan pasti akan terus terjadi, maka sangat penting bagi kita
memahami beberapa hal yang berkait dengan masalah ini, sehingga kita
bisa menyikapinya dengan benar. Semoga tulisan singkat ini bisa
menambah wawasan kita seputar masalah yang besar ini.

APA HIKMAH ADANYA PERSELISIHAN?
Semua takdir Allâh Azza wa Jalla pasti mengandung hikmah, karena Allâh
Azza wa Jalla adalah al-Hakîm (Yang Maha Bijaksana). Allâh Subhanahu
wa Ta’ala telah memberitakan kepada kita tentang hikmah penciptaan
dalam beberapa ayat al-Qur’ân, diantaranya adalah:

تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ
قَدِيرٌ الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ
أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Maha suci Allâh yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Maha
Kuasa atas segala sesuatu.Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia
menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya, dan Dia
Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. [al-Mulk/67: 1-2]

Juga firman-Nya yang artinya, "Dia-lah yang menciptakan langit dan
bumi dalam enam masa, dan adalah singgasana-Nya (sebelum itu) di atas
air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik
amalnya." [Hûd/11: 7]

Juga firman-Nya, "Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi
sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara
mereka yang lebih baik perbuatannya. [al-Kahfi/18: 7]

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa diantara hikmah Allâh Azza wa Jalla
menciptakan makhluk ini adalah sebagai ujian bagi manusia, agar tampak
siapakah di antara mereka yang lebih baik perbuatannya. Termasuk
adanya perselisihan bahkan perpecahan diantara manusia atau bahkan di
antara kaum muslimin, adalah sebagai ujian siapa di antara mereka yang
paling baik perbuatannya.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu
agar Allâh Azza wa Jalla menguji kamu. Karena Dia telah menciptakan
apa saja yang ada di langit dan di bumi dengan disertai perintah-Nya
dan laranganNya, lalu Dia akan melihat siapa diantara kamu yang paling
baik perbuatannya. Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, ‘Yang
paling ikhlas dan paling shawab (benar)’. Beliau ditanya, ‘Hai Abu
‘Ali, apakah (yang dimaksud dengan) ‘yang paling ikhlas dan paling
shawab (benar)?’ Beliau menjawab, ‘Sesungguhnya amalan itu jika
ikhlas, tetapi tidak benar, tidak akan diterima. Dan jika benar,
tetapi tidak ikhlas, tidak akan diterima. Amal akan diterima jika
ikhlas dan benar. Ikhlas maksudnya amalan itu untuk wajah Allâh dan
benar maksudnya amalan itu mengikuti syari’at dan sunnah”. [Taisîr
Karîmir Rahmân, surat Hûd, ayat ke-7]

MACAM-MACAM PERSELISIHAN DAN HUKUM ORANG YANG BERSELISIH
Perselisihan itu banyak jenisnya. Oleh karena itu merupakan kesalahan
ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu buruk dan
tercela. Juga ketika seseorang mengatakan bahwa semua perselisihan itu
boleh, bahkan merupakan rahmat. Yang benar adalah mensikapi
perselisihan itu sesuai dengan sebab-sebab perselisihan itu. Ada
beberapa bentuk perselisihan di antara manusia sebagai berikut :

1. Bentuk atau jenis perselisihan yang terpenting dan terbesar adalah
perselisihan (perbedaan) antara iman dengan kekafiran, antara ketaatan
dengan kemaksiatan, antara al-haq dengan al-batil. Perselisihan jenis
ini, salah satunya terpuji, sedangkan yang satu lagi tercela. Allâh
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ فَمِنْكُمْ كَافِرٌ وَمِنْكُمْ مُؤْمِنٌ

Dia-lah yang menciptakan kamu, maka di antara kamu ada yang kafir dan
di antaramu ada yang mukmin. [at-Taghâbun/64: 2]

Juga firman-Nya:

تِلْكَ الرُّسُلُ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۘ مِنْهُمْ مَنْ
كَلَّمَ اللَّهُ ۖ وَرَفَعَ بَعْضَهُمْ دَرَجَاتٍ ۚ وَآتَيْنَا عِيسَى
ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ ۗ وَلَوْ
شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِنْ بَعْدِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا
جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُمْ مَنْ آمَنَ
وَمِنْهُمْ مَنْ كَفَرَ

Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian
yang lain. Di antara mereka ada yang Allâh berkata-kata (langsung
dengan dia) dan sebagiannya Allâh meninggikannya beberapa derajat. Dan
Kami berikan kepada Isa putera Maryam beberapa mukjizat serta Kami
perkuat dia dengan Ruhul Qudus. Dan kalau Allâh menghendaki, niscaya
tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah
Rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam
keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka
yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir.
[al-Baqarah/2: 253]

Perselisihan ini terjadi dengan kehendak dan takdir Allâh Azza wa
Jalla , dan Allâh memiliki hikmah yang sempurna dalam semua takdirnya.
Dan dari sebab perselisihan ini muncul sikap saling membenci,
memisahkan diri, bahkan saling memerangi. Walaupun orang-orang beriman
dilarang berbuat zhalim kepada siapapun. Karena perselisihan yang
disebabkan iman dan kekafiran ini adalah perselisihan pokok.
Perselisihan ini akan terus berlangsung, perselisihan antara al-haq
dengan al-batil, antara wali-wali Allâh dengan musuh-musuh-Nya, antara
hizbullah (golongan Allâh) dengan hizbusy syaithan (golongan setan).
Kebenaran yang ada dari perselisihan jenis ini jelas berada di pihak
para Rasul dan pengikut mereka. Maka barangsiapa ingin selamat,
bahagia, dan ingin sukses, hendaklah dia bergabung dengan pihak ini.
Barangsiapa berada di pihak yang lain, maka dia telah menentang Allâh
dan Rasul-Nya. Allah berfirman :

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ شَاقُّوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ وَمَنْ يُشَاقِقِ
اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

(Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka
menentang Allâh dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allâh dan
Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allâh Amat keras siksaan-Nya.
[al-Anfâl/8: 13)]

Perbedaan yang jelas ini juga berdampak pada kondisi akhir
masing-masing golongan. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

هَٰذَانِ خَصْمَانِ اخْتَصَمُوا فِي رَبِّهِمْ ۖ فَالَّذِينَ كَفَرُوا
قُطِّعَتْ لَهُمْ ثِيَابٌ مِنْ نَارٍ يُصَبُّ مِنْ فَوْقِ رُءُوسِهِمُ
الْحَمِيمُ يُصْهَرُ بِهِ مَا فِي بُطُونِهِمْ وَالْجُلُودُ وَلَهُمْ
مَقَامِعُ مِنْ حَدِيدٍكُلَّمَا أَرَادُوا أَنْ يَخْرُجُوا مِنْهَا مِنْ
غَمٍّ أُعِيدُوا فِيهَا وَذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِإِنَّ اللَّهَ
يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِنْ
ذَهَبٍ وَلُؤْلُؤًا ۖ وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ

Inilah dua golongan (golongan mukmin dan golongan kafir) yang
bertengkar, mereka saling bertengkar mengenai Rabb mereka. Maka
orang-orang kafir akan dibuatkan untuk mereka pakaian-pakaian dari api
neraka. Disiramkan air yang sedang mendidih ke atas kepala mereka.
Dengan air itu dihancur luluhkan segala apa yang ada dalam perut
mereka dan juga kulit (mereka). Dan untuk mereka cambuk-cambuk dari
besi. Setiap kali mereka hendak ke luar dari neraka lantaran
kesengsaraan mereka, niscaya mereka dikembalikan ke dalamnya. (kepada
mereka dikatakan), "Rasailah azab yang membakar ini". Sesungguhnya
Allâh memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh
ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. di surga
itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan
mutiara, dan pakaian mereka adalah sutera. [Al-Hajj/22: 19-23]

Dan perlu diketahui bahwa mayoritas manusia berada dalam golongan
setan, sebagaimana firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَا رَيْبَ فِيهَا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ
النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan
tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman.
[al-Mukmin/40: 59]

Juga firman-Nya, yang artinya, "Dan jika kamu menuruti kebanyakan
orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu
dari jalan Allâh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan
belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allâh).
[al-An’âm/6: 116]

2. Di antara bentuk perselisihan atau perbedaan yang ada di kalangan
manusia adalah perselisihan di antara agama-agama kafir. Dalam
perselisihan jenis ini, semua pelakunya tercela, semuanya berada di
dalam kesesatan, walaupun dengan derajat kesesatan yang berbeda-beda.

Allâh berfirman, yang artinya, "Dan mereka (Yahudi dan Nasrani)
berkata: "Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang
beragama) Yahudi atau Nasrani". Demikian itu (hanya) angan-angan
mereka yang kosong belaka. Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu
jika kamu adalah orang yang benar".

(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada
Allâh, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi
Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati.

Orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai
suatu pegangan", dan orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi
tidak mempunyai sesuatu pegangan," Padahal mereka (sama-sama) membaca
al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan
seperti ucapan mereka itu. Maka Allâh akan mengadili diantara mereka
pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.
[al-Baqarah/2: 111-113]

3. Diantara bentuk perselisihan atau perbedaan adalah perselisihan
diantara umat Islam. Penyebabnya adalah perbedaan dalam berpegang
kepada al-Qur’an dan As-Sunnah. Banyak kaum Muslim tidak berpegang
kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah dengan benar, sehingga terjerumus dalam
berbagai kesesatan. Mereka menjalankan agama dengan sesuatu yang tidak
disyari’atkan oleh Allâh Azza wa Jalla . Sebagian mereka memiliki
keyakinan yang tidak ada dalilnya dari wahyu Allâh Azza wa Jalla ,
sehingga muncul berbagai firqah (golongan) di kalangan umat ini.
Mereka membuat atau mengikuti berbagai bid’ah (perkara baru di dalam
agama), lalu menganggapnya sebagai agama. Mereka berselisih satu sama
lain, dan masing-masing golongan berbangga dengan perkara yang ada
padanya.

Perselisihan antar golongan di kalangan umat Islam ini juga berbahaya,
karena hal itu akan melemahkan mereka dan menghilangkan kewibawaan
mereka. Bahkan golongan-golongan yang menyimpang dari Ahlus Sunnah,
dari jalan yang telah ditempuh oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan para sahabatnya, mereka diancam dengan neraka, sebagaimana
disebutkan di dalam hadits al-firqatun-najiyah sebagai berikut :

عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ
فِرْقَةً فَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ
وَافْتَرَقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً
فَإِحْدَى وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَتَفْتَرِقَنَّ أُمَّتِي عَلَى
ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَثِنْتَانِ
وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ قَالَ
الْجَمَاعَةُ

Dari Auf bin Malik Radhiyallahu anhu , dia berkata: Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Orang-orang Yahudi telah
bercerai-berai menjadi 71 kelompok, satu di dalam sorga, 70 di dalam
neraka. Orang-orang Nashoro telah bercerai-berai menjadi 72 kelompok,
71 di dalam neraka, satu di dalam sorga. Demi (Allah) Yang jiwa
Muhammad di tanganNya, umatku benar-benar akan bercerai-berai menjadi
73 kelompok, satu di dalam sorga, 72 di dalam neraka”. Beliau ditanya:
“Wahai Rasûlullâh! siapa mereka itu?”, beliau menjawab, “al-Jama’ah”.
[HR.Ibnu Majah no: 3992; Ibnu Abi Ashim, no: 63; Al-Lalikai 1/101.
Hadits ini berderajat Hasan. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih
Ibni Majah, no: 3226]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى
عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ حَتَّى إِنْ
كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي
مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ وَإِنَّ بَنِي إِسْرَائِيلَ تَفَرَّقَتْ عَلَى
ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ
وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً
قَالُوا وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَنَا عَلَيْهِ
وَأَصْحَابِي

Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh
Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh umatku akan ditimpa
oleh apa yang telah menimpa Bani Israil, persis seperti sepasang
sandal. Sehingga jika diantara mereka ada yang menzinahi ibunya
terang-terangan, dikalangan umatku benar-benar ada yang akan
melakukannya. Dan sesungguhnya Bani Isra’il telah bercerai-berai
menjadi 72 agama, dan umatku akan bercerai-berai menjadi 73 agama,
semuanya di dalam neraka kecuali satu agama”. Para sahabat bertanya:
“Siapa yang satu itu wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Apa yang
saya dan para sahabatku berada di atasnya”. [Hadits Shahih Lighairihi
riwayat Tirmidzi, al-Hâkim, dan lainnya. Dishahihkan oleh Imam Ibnul
Qayyim dan asy-Syathibi, dihasankan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi dan
Syaikh al-Albani. Syeikh Salim al-Hilali menulis kitab khusus membela
hadits ini dalam sebuah kitab yang bernama “Daf’ul Irtiyab ‘An Haditsi
Maa Ana ‘Alaihi Wal Ash-hab]

Perselisihan di kalangan umat Islam ini dari satu sisi menyerupai
perselisihan antara kaum Mukminin dengan orang-orang kafir, karena
perselisihan antara Ahlus Sunnah dengan semua ahli bid’ah adalah
perselisihan tadhad (kontradiksi). Ahlus Sunnah di tengah-tengah ahli
bid’ah adalah seperti umat Islam di tengah-tengah orang-orang kafir.
Meski jumlah mereka sedikit, namun kebenaran selalu berada di pihak
Ahlus Sunnah, yaitu orang-orang yang berpegang dengan Sunnah Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sedangkan ahli
bid’ah tetap dalam penyimpangan mereka. Penyimpangan mereka
bervariasi, semakin jauh dari Sunnah, maka kesesatan mereka juga
semakin besar. Semakin dekat kepada Sunnah, kesesatan mereka semakin
sedikit.

Perselisihan di antara umat Islam ini benar-benar terjadi, bahkan
telah dijelaskan oleh al-Qur’ân dan as-Sunnah. Karena Allâh Azza wa
Jalla telah memberitakan bahwa umat-umat zaman dahulu telah
berpecah-belah, sebagaimana firman-Nya :

وَمَا تَفَرَّقُوا إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ

Dan mereka (ahli Kitab) tidak berpecah belah, kecuali setelah datang
pada mereka ilmu pengetahuan, karena kedengkian di antara mereka.
[asy-Syûra/42:14]

Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan bahwa
sebagian umat ini pasti akan mengikuti perilaku umat-umat zaman
dahulu, termasuk perbuatan mereka yang berselisih dan berpecah belah.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ
شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ
ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ
وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ؟

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda: “Kamu benar-benar akan mengikuti jalan-jalan orang-orang
sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga
seandainya mereka melewati lobang dhob (satu jenis kadal pasir), kamu
benar-benar juga akan melewatinya”. Kami (para sahabat) bertanya:
“Wahai Rosululloh, apakah anda maksudkan orang-orang Yahudi dan
Nashoro?” Beliau menjawab: “Siapakah selain mereka?” [HR. Bukhari, no:
3456; Muslim, no: 2669]

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh mengatakan, “Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam menghendaki bahwa umatnya tidaklah meninggalkan
sesuatupun yang telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi dan Nashoro
kecuali umat ini melakukan semuanya. Mereka tidak akan meninggalkan
sesuatupun darinya. Oleh karena itulah Sufyan bin ‘Uyainah berkata:
“Orang yang rusak di antara ulama kita, maka padanya terdapat
perserupaan dengan Yahudi. Dan orang yang rusak di antara ahli ibadah
kita, maka padanya terdapat perserupaan dengan dan Nashoro”. Alangkah
banyaknya dua kelompok ini. Akan tetapi di antara rohmat Alloh dan
nikmatNya, tidak menjadikan umat ini tidak akan bersatu di atas
kesesatan”.[Fathul Majid, hal: 240, penerbit: Dar Ibni Hazm]

Di antara contoh hal ini adalah penjelasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam dalam hadits sebagai berikut:

عَنْ عَرْفَجَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ
أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الْأُمَّةِ وَهِيَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ
بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ (وفي رواية: فَاقْتُلُوهُ )

Dari ‘Arfajah, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Akan
terjadi musibah demi musibah. Maka barangsiapa ingin mencerai-beraikan
umat ini, saat mereka bersatu, maka pukullah dia dengan pedang,
siapapun dia”. (Dalam riwayat lain, “maka bunuhlah dia”. [HR. Muslim,
kitab: Imaâah, no: 1852]

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat
perintah memerangi orang yang memberontak terhadap imam, atau ingin
mencerai-beraikan kaum Muslimin atau perbuatan sejenis lainnya. Dia
dilarang dari hal itu, jika dia tidak berhenti, maka dia diperangi.
Jika kejahatannya tidak tertolak kecuali dengan membunuhnya, maka dia
dibunuh, dan kematiannya sia-sia. Maka sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam , “Maka pukullah dia dengan pedang”, pada riwayat lain,
“Maka bunuhlah dia”, maksudnya, jika tidak tertolak kecuali dengan
itu”. [Shahih Muslim, Syarh Nawawi 12/241-142]

4. Ada juga perselisihan di antara Ahlus Sunnah, namun perselisihan
ini bukan dalam masalah-masalah pokok dalam aqidah, tidak sebagaimana
perselisihan antar sesama ahli bid’ah, atau perselisihan ahli bid’ah
dengan Ahlus Sunnah. Perselisihan sesama Ahlus Sunnah ini ada dua
jenis :

a). Perselisihan tanawwu’ (perselisihan variasi), yaitu jenis
perselisihan yang kedua pihak yang berselisih berada dalam kebenaran
dan terpuji. Namun mereka akan berdosa jika berbuat zhalim terhadap
pihak lain, atau mengingkari kebenaran yang ada di pihak lain. Contoh,
kejadian yang dikisahkan dalam hadits di bawah ini :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَجُلاً قَرَأَ آيَةً سَمِعْتُ
مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفَهَا
فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ فَأَتَيْتُ بِهِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كِلاَكُمَا مُحْسِنٌ قَالَ شُعْبَةُ
أَظُنُّهُ قَالَ لاَ تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ
اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

Dari Abdullah (bin Mas’ud), dia berkata, “Aku mendengar seorang
laki-laki membaca sebuah ayat, yang (bacaan)nya menyelisihi yang telah
aku dengar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Maka aku pegang
tangannya, dan aku bawa kepada Rasûlullâh n , lalu beliau bersabda,
“Kamu berdua telah berbuat sebaik-baiknya.” Syu’bah berkata: Aku
sangka dia mengatakan: “Janganlah kamu berselisih, karena orang-orang
sebelum kamu telah berselisih, lalu mereka binasa”. [HR. Bukhari no:
2410]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang perselisihan yang di dalamnya
orang-orang yang berselisih menolak kebenaran yang ada pada pihak
lain. Karena dua orang yang membaca (al-Qur’an) itu telah benar
bacaan. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan
alasan (larangan) tersebut adalah kebinasaan orang-orang sebelum kita
akibat perselisihan”.

Syaikhul Islam rahimahullah juga bmengatakan: “Ketahuilah, bahwa
mayoritas perselisihan antara umat, yang melahirkan hawa-nafsu, engkau
dapati termasuk jenis ini, yaitu: setiap orang dari orang-orang yang
berselisih itu benar, atau sebagiannya benar, tetapi dia keliru karena
telah menafikan kebenaran yang ada pada orang lain.” [Iqtidhâ’
Shirâthil Mustaqîm]

b). Perselisihan tadhâd (perselisihan kontradiksi), perselisihan ini
ada dua jenis:
1). Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan terdapat dalil
tegas yang menunjukkan kebenaran satu pendapat dari pendapat-pendapat
yang ada.
Dalam hal ini, pendapat yang benar adalah pendapat yang sesuai dengan
dalil, yang lain salah. Namun jika orang-orang yang berselisih ini
berijtihad, yakni berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari
kebenaran, dengan disertai keikhlasan, maka mereka semua terpuji dan
mendapatkan pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ ،
وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ

Jika seorang hakim menghukumi, dia telah berijtihad, lalu ketetapannya
sesuai dengan kebenaran, maka dia mendapatkan dua pahala. Dan jika dia
menghukumi, dia telah berijtihad, lalu dia melekukan kesalahan, maka
dia mendapatkan satu pahala. [HR. Bukhâri, no. 7352; Muslim, no.1716]

2). Perselisihan kontradiksi dalam suatu masalah dan tidak terdapat
dalil tegas yang menunjukkan kebenaran salah satu dari dua pendapat
yang berselisih.
Maka dalam masalah ini, kedua pendapat itu boleh diikuti dan semua
pihak yang telah berijtihad terpuji dan mendapatkan pahala, wallahu
a’lam bishh shawwab.
Contoh hal ini adalah sebuah peristiwa yang dikisahkan oleh sahabat
Ibnu Umar Radhiyallahu anhu sebagai berikut :

قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنَ
الأَحْزَابِ « لاَ يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلاَّ فِى بَنِى
قُرَيْظَةَ » . فَأَدْرَكَ بَعْضُهُمُ الْعَصْرَ فِى الطَّرِيقِ فَقَالَ
بَعْضُهُمْ لاَ نُصَلِّى حَتَّى نَأْتِيَهَا ، وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ
نُصَلِّى لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ . فَذُكِرَ لِلنَّبِىِّ - صلى الله
عليه وسلم - فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

Ketika kami telah kembali dari perang Ahzâb, Nabi Shallallahu ‘alaihi
wa sallam bersabda kepada kami, “Janganlah seseorang melakukan shalat
Ashar kecuali di kampung Bani Quraizhah!”. Sebagian mereka (sahabat)
mendapati waktu shalat Ashar di jalan, maka sebagian mereka berkata,
“Kita tidak akan melakukan shalat Ashar sampai mendatanginya”.
Sebagian yang lain berkata, “Kita melakukan shalat Ashar (sekarang),
tidak dikehendaki dari kita hal itu (yakni shalat Ashar di kampung
Bani Quraizhah walaupun habis waktunya-pen)”. Hal itu disampaikan
kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan beliau tidak
menyalahkan seorangpun dari mereka. sampai mendatanginya”. [HR.
Bukhâri, no. 946 dan 4119]

SOLUSI PERSELISIHAN
Kewajiban seorang Muslim adalah berpegang teguh denan al-Qur’ân dan
as-Sunnah, dan bersikap adil dalam hukum dan perkataan. Bersikap adil
dalam menghukumi antara orang Muslim dengan orang kafir, antara Ahlus
Sunnah dengan ahlul bid’ah, antara orang yang taat dengan orang yang
bermaksiat, dengan menerima kebenaran dari orang yang membawanya, jika
telah nyata kebenarannya.

Tidak boleh fanatik kepada pendapat pribadinya, atau pendapat gurunya,
atau pendapat siapapun yang menyelisihi al-Qur’ân dan as-Sunnah.

Dan kewajiban semua orang Muslim untuk mengembalikan permasalahan yang
diperselisihkan kepada al-Qur’ân dan as-Sunnah. Allâh Azza wa Jalla
berfirman, yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, ta'atilah
Allâh dan ta'atilah Rasul-Nya, dan ulil amri (ulama dan umaro’) di
antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allâh (al-Qur'ân) dan Rasul (Sunnahnya),
jika kamu benar-benar beriman kepada Allâh dan hari kemudian." (QS.
an-Nisâ’/4:59)

Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Allâh Azza wa Jalla
perintahkan manusia agar mentaati-Nya dan mentaati Rasul-Nya. Allâh
Subhanahu wa Ta’alamengulangi kata kerja (yakni: ta'atilah !) dalam
rangka memberitahukan bahwa mentaati Rasul-Nya wajib secara otonomi,
dengan tanpa meninjau ulang perintah beliau dengan al-Qur’an. Jika
beliau memerintah, maka wajib ditaati secara mutlak, baik perintah
beliau itu ada dalam al-Qur’ân atau tidak ada. Karena sesungguhnya
beliau n diberi al-Kitab dan yang semisalnya.” [I’lâmul Muwaqqi’in
2/46), penerbit: Darul Hadits, Kairo, th: 1422 H / 2002 H]

Beliau rahimahullah juga berkata, “Kemudian Allâh memerintahkan
orang-orang yang beriman agar mengembalikan apa yang mereka
perselisihkan kepada kepada Allâh dan Rasul-Nya, jika mereka
orang-orang yang beriman. Dan Allâh Azza wa Jalla memberitakan kepada
mereka, bahwa itu lebih utama bagi mereka di dunia ini, dan lebih baik
akibatnya di akhirnya. Ini memuat beberapa perkara :

a). Orang-orang yang beriman terkadang berselisih pada sebagian hukum.
Perselisihan ini tidak menyebabkan mereka keluar dari iman, selama
mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu kepada Allâh
(al-Qur'an) dan Rasul-Nya, sebagaimana yang disyaratkan oleh Allâh
Azza wa Jalla . Dan sudah tidak diragukan lagi bahwa (jika) sebuah
hukum ditetapkan dengan sebuah syarat (tertentu), maka hukum itu akan
hilang seiring dengan hilangnya syarat.

b). Firman Allâh Azza wa Jalla yang artinya, "Kemudian jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu," mencakup seluruh masalah agama
yang diperselisihkan oleh kaum Muslimin, baik yang kecil maupun yang
besar, yang tampak jelas maupun yang masih samar.

c). Seluruh kaum Muslimin sepakat bahwa mengembalikan kepada Allâh
maksdunya adalah mengembalikan kepada kitab-Nya; mengembalikan kepada
Rasul-Nya (maksudnya) adalah mengembalikan kepada diri beliau di saat
hidup beliau, dan kepada Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
setelah wafat beliau.

d). Allâh Azza wa Jalla menjadikan keharusan mengembalikan seluruh
perkara yang diperselisihkan kepada Allâh dan Rasul-Nya sebagai
kewajiban dan konsekwensi iman. Jika ini tidak ada, maka iman hilang.
[Diringkas dari I’lamul Muwaqqi’in 2/47-48), penerbit: Darul Hadits,
Kairo, th: 1422 H / 2002 H]
Oleh karena itu, seorang Mukmin harus menerima dengan sepenuh hati,
jika datang kepadanya dalil dari al-Qur’ân, atau hadits shahih dari
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dengan pemahaman yang
benar, pemahaman para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Kesimpulannya, orang-orang yang berselisih wajib mengembalikan semua
permasalahan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah. Jika ia tidak mampu
mengembalikan kepada keduanya, karena tidak memiliki ilmu tentang
nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah, maka kewajibannya adalah bertanya
kepada para ahli ilmu. Oleh karena itu, menghormati para ulama itu
wajib, sesuai dengan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi, tidak
bersikap ghuluw (melewati batas).

Inilah sedikit tulisan berkaitan dengan masalah ini, semoga Allâh
selalu memberikan bimbingan kepada kita di atas jalan yang Dia cintai
dan ridhai, menganugerahkan keikhlasan niat dan kebenaran amalan,
sesungguhnya Dia Maha Mendengar doa dan Maha Kuasa mengabulkannya.

Semoga shalawat dan salam selalu dilimpahkan kepada Nabi Muhamad,
keluarganya, dan para sahabatnya, al-hamdulillahi rabbil ‘alamin.

Catatan :
Makalah ini banyak mengambil manfaat dari muhadharah (ceramah) syaikh
Abdurrahman bin Nashir Al-Barraak dengan judul Mauqiful Muslim minal
Khilaf (Sikap Seorang Muslim Terhadap Perselisihan)

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XV/1432/2011M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke