IMAN DAN ISTIQOMAH

Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas
http://almanhaj.or.id/content/3351/slash/0/iman-dan-istiqamah/


عَنْ عَمْرٍو وَقِيْلَ أَبِيْ عَمْرَةَسُفْيَانَ بْنِ عَبْدِاللهِ
الثَّقَفِي رَضِيَ اللهُ عَنْهَ , قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ ,
قُلْ لِيْ فِيْ اْلإِسْلاَمِ قَوْلاً , لاَ أَسْأَلُ عَنْهُ
أَحَدًاغَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللهِ , ثُمَّ اسْتَقِمْ . رواه
مسلم

Dari Abu ‘Amr, dan ada yang mengatakan dari Abu ‘Amrah Sufyân bin
‘Abdillâh ats-Tsaqafi Radhiyallahu anhu, yang berkata : “Aku berkata,
‘Ya Rasulullah! Katakanlah kepadaku dalam Islam sebuah perkataan yang
tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.’ Beliau menjawab,
‘Katakanlah, ‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian
istiqâmahlah.’”

TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahîh. Diriwayatkan oleh Muslim (no. 38), Ahmad (III/413;
IV/384-385), at-Tirmidzi (no. 2410), an-Nasâ-i dalam as-Sunanul Kubra
(no. 11425, 11426, 11776), Ibnu Mâjah (no. 3972), ad-Dârimi (II/298),
ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabîr (no. 6396, 6397, 6398),
ath-Thayâlisi (no. 1327), Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (no. 21-22),
Ibnu Abid Dun-ya dalam ash-Shamt (no. 7), al-Hâkim (IV/313), Ibnu
Hibbân (no. 938, 5668, 5669, 5670, 5672-at-Ta’lîqâtul Hisân),
al-Baihaqi dalam Syu’abul Imân (no. 4572, 4574, 4575), dan al-Baghawi
dalam Syarhus Sunnah (no. 16).

Pada riwayat Imam Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasâi, dan Ibnu Mâjah ada tambahan:

قُلْتُ : يَارَسُوْلَ اللهِ, مَاتَخَافُ عَلَيَّ؟ فَأَخَذَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَرْفِ لِسَانِ نَفْسِهِ ,
ثُمَّ قَالَ: هَذَا

Aku berkata : “Ya Rasulullah! Apakah sesuatu yang paling engkau
khawatirkan padaku?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
memegang ujung lidahnya sendiri kemudian berkata, “Ini”
Imam at-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahîh.”

KEDUDUKAN HADITS
Hadits ini adalah hadits yang singkat, padat dan indah yang merupakan
kekhususan bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Walaupun
singkat, namun telah memberikan jawaban tentang pokok-pokok Islam yang
ditanyakan oleh si penanya dalam dua kata, yaitu iman dan istiqâmah
menurut manhaj yang benar. [1]

Sebagaimana telah diketahui bahwa Islam adalah tauhid dan taat. Tauhid
terkandung dalam kata "Amantu billâh (aku beriman kepada Allah Azza wa
Jalla)" dan taat terkandung dalam kata "Istiqâmah" karena arti
istiqâmah adalah mengerjakan yang diperintahkan dan meninggalkan yang
dilarang, termasuk yang berkait dengan amalan hati dan badan yaitu
iman, Islam, dan ihsan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاسْتَقِيمُوا إِلَيْهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ
…
“…Karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan
kepada-Nya…” [Fushshilat/41:6][2]

Dalam ayat di atas terdapat isyarat bahwa pasti ada kelalaian
(kekurangan) dalam istiqâmah yang diperintahkan; kemudian dilakukan
istighfâr (mohon ampun kepada Allah Azza wa Jalla) yang menghasilkan
taubat dan kembali kepada istiqâmah.[3]

SYARAH HADITS
Perkataan shahabat Radhiyallahu anhu, “Katakanlah kepadaku dalam Islam
sebuah perkataan yang tidak aku tanyakan kepada orang selain engkau.”
Maksudnya adalah ajarkanlah kepadaku suatu perkataan tentang
pengertian Islam yang jelas bagi diriku sehingga aku tidak perlu lagi
menanyakan tafsirnya kepada orang lain dan aku akan mengerjakannya.”
Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Katakanlah,
‘Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla,’ kemudian istiqâmahlah.”[4]

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ,”Katakanlah,” maksudnya,
ucapkanlah dengan lisanmu serta iringi dengan pembenaran hatimu ”Aku
beriman kepada Allah Azza wa Jalla,” bahwa Dialah Allah Azza wa Jalla,
Ilâh Yang Maha Esa yang wajib diibadahi oleh semua makhluk, yang
disifati dengan sifat-sifat yang sempurna Yang Mahatinggi, dan wajib
disucikan dari sifat-sifat yang jelek. Apa saja yang dijadikan-Nya
benar maka itulah yang benar dan apa saja yang dijadikan-Nya batil
maka itu batil. ”Kemudian Istiqâmahlah,” yaitu istiqâmahlah
(konsistenlah-red) di atas konsekuensi perkataan tersebut; berupa
mencintai Allah Azza wa Jalla yang mendatangkan keridhaan dan
kecintaan-Nya serta menjauhkan diri dari kemurkaan-Nya dengan
meninggalkan semua yang menyebabkan kemarahan-Nya.[5]

1. Pengertian Istiqâmah
Menurut bahasa, istiqâmah artinya adalah al-i’tidâl (lurus). Dikatakan
aqâmasy syai-a was taqâma artinya lurus dan mapan.

Sedang menurut syari’at, istiqâmah adalah meniti jalan lurus yaitu
agama yang lurus (Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri.
Istiqâmah mencakup melakukan seluruh ketaatan, baik yang terlihat
maupun yang tersembunyi dan meninggalkan seluruh yang dilarang.[6]

Banyak perkataan para Shahabat, Tabi’in, dan yang lainnya dalam
mendefinisikan istiqâmah. Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu dan Qatâdah
rahimahullah berkata, “Maksudnya, berlaku luruslah dalam melaksanakan
hal-hal yang diwajibkan.” Abu Bakar Radhiyallahu anhu menafsirkan
firman Allah Azza wa Jalla,  ثُمَّ اسْتَقَامُوْا  "Kemudian mereka
meneguhkan pendirian mereka,” (Fushshilat/41:30) dengan mengatakan,
”Mereka adalah orang-orang yang tidak menyekutukan Allah Azza wa
Jalladengan sesuatu pun.”[7]

Qâdhi ‘Iyâdh rahimahullah mengatakan, “Maksudnya, mereka mentauhidkan
Allah Azza wa Jalla dan beriman kepada-Nya kemudian berlaku lurus,
tidak menyimpang dari tauhid, dan selalu iltizâm (konsekuen dan
konsisten) dalam melakukan ketaatan kepada-Nya sampai mereka
meninggal.”[8]

Imam al-Qusyairi rahimahullah berkata, “Istiqâmah adalah sebuah
derajat, dengannya berbagai urusan menjadi sempurna dan berbagai
kebaikan dan keteraturan bisa diraih. Barangsiapa yang tidak istiqâmah
dalam kepribadiannya maka dia akan sia-sia dan gagal. Dikatakan,
”Istiqâmah tidak akan bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang
besar, karena ia keluar dari hal-hal yang dianggap lumrah,
meninggalkan adat kebiasaan, dan berdiri di hadapan Allah Azza wa
Jalla dengan jujur.”[9]

Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, ”Para ulama menafsirkan
istiqâmah dengan " لُزُوْمُ طَاعَةِ اللهِِ " artinya tetap konsekuen
dan konsisten dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla.”[10]

2. Keutamaan Istiqâmah
Istiqâmah mempermudah rizki dan melapangkan kehidupan di dunia. Allah
Azza wa Jalla berfirman,

وَأَنْ لَوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لَأَسْقَيْنَاهُمْ مَاءً غَدَقًا

“Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama
Islam), niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka air yang cukup.”
[al-Jinn/72:16]

Imam al-Qurhubi rahimahullah berkata, “Maksudnya, seandainya
orang-orang kafir itu beriman, niscaya Kami berikan mereka keleluasan
di dunia dan Kami lapangkan rezeki mereka.”[11]

Firman Allah Azza wa Jalla:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا
تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا
تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah Allah,”
kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat-malaikat
akan turun kepada mereka (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa
takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan
(memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.” [Fushshilat/41:30]

Maksudnya, mereka beriman kepada Allah Azza wa JallaYang Maha Esa,
kemudian istiqâmah di atasnya dan di atas ketaatan sampai Allah Azza
wa Jalla mewafatkan mereka.[12]

Tentang ayat di atas, al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata,
”Mereka mengikhlaskan amal semata-mata karena Allah Azza wa Jalla dan
melaksanakan ketaatan sesuai dengan syari’at Allah Azza wa Jalla.”[13]

Ayat ini menunjukkan bahwa para malaikat akan turun menuju orang-orang
yang istiqâmah ketika kematian menjemputnya, ketika dalam kubur dan
ketika dibangkitkan. Para malaikat itu memberikan rasa aman dari
ketakutan ketika kematian menjemput dan menghilangkan rasa sedih
akibat berpisah dengan anaknya karena Allah Azza wa Jalla adalah
pengganti dari hal itu. Juga memberikan kabar gembira berupa ampunan
dosa dan kesalahan serta amalnya diterima. Juga kabar gembira tentang
Surga yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga,
dan belum pernah terlintas dalam hati manusia.[14]

3. Istiqâmah Adalah Meniti ash-shirâthal Mustaqîm
Istiqâmah adalah meniti ash-shirâthal mustaqîm, yaitu agama yang lurus
yang tidak melenceng ke kiri dan ke kanan. Istiqâmah mencakup
pengamalan seluruh ketaatan, yang lahir maupun batin serta
meninggalkan larangan yang lahir maupun batin. Jadi sabda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menjadi wasiat yang menghimpun
seluruh ajaran agama.[15] Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasulullah
Shallallahu ’alaihi wa sallam dan para pengikutnya agar istiqâmah di
atas syari’at yang bijaksana, karena hal ini adalah agama yang kita
diperintahkan untuk beribadah dengannya. Sedangkan selain Islam yaitu
pendapat para tokoh yang kosong dari dalil tidak bisa disebut agama
dan tidak pula sebagai hujjah.[16]

Allah Azza wa Jalla berfirman:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ
إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Maka tetaplah engkau (Muhammad) (di jalan yang benar), sebagaimana
telah diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang bertaubat
bersamamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sungguh, Dia Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan.” [Hûd/11:112]

al-Hâfizh Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Allah Azza wa Jalla
memerintahkan Rasul dan hamba-hamba-Nya yang beriman agar teguh dan
selalu istiqâmah karena itu merupakan sebab untuk mendapatkan
pertolongan yang besar dalam mengalahkan musuh dan dapat menghindari
bentrokan serta dapat terhindar dari perbuatan melampaui batas. Karena
melampaui batas -meskipun terhadap orang musyrik- merupakan
kehancuran. Dan Allah Azza wa Jalla memberi tahu bahwa Dia Maha
Melihat perbuatan hamba-hamba-Nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak
lalai dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari-Nya.”[17]

Ibnu ‘Abbâs Radhiyallahu anhu berkata, “Tidak ada ayat yang diturunkan
kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam al-Qur`an yang
lebih berat dan sulit bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
daripada ayat ini.”[18]

Diriwayatkan dari Ibnu ’Abbâs Radhiyallahu anhu, ia berkata, ”Abu
Bakar Radhiyallahu anhu berkata, ’Wahai Rasulullah! Engkau telah
beruban.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

شَيَّبَتْنِيْ هُوْدٌ ، وَالْوَاقِعَةُ ، وَالْـمُرْسَلاَتُ ، وَعَمَّ
يَتَسَاءَلُوْنَ ، وَإِذَا الشَّمْسُ

‘Aku telah dibuat beruban oleh (surat) Hûd, al-Wâqi’ah, al-Mursalât,
‘Amma yatasâ-alûn, dan Idzasy Syamsu kuwwirat” [19]

4. Istiqâmah Hati
Hati adalah bagian tubuh yang paling penting. Seorang hamba hendaknya
berusaha dengan sungguh-sungguh agar hatinya tetap istiqâmah. Karena
hati adalah raja bagi seluruh anggota tubuhnya. Jika hati istiqâmah,
maka seluruh anggota tubuhnya pun ikut istiqâmah.

Dasar dari istiqâmah adalah keistiqâmah-an hati di atas tauhid seperti
penafsiran Abu Bakar ash-shiddîq dan lain-lain tentang firman Allah
Azza wa Jalla, إِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Rabb kami adalah
Allah Azza wa Jalla,” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka...(al-Ahqâf/46:13) bahwa mereka adalah orang-orang yang tidak
berbuat syirik kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak menoleh kepada
tuhan selain Allah Azza wa Jalla[20]. Jadi, jika hati telah istiqâmah
di atas ma’rifatullâh, takut kepada-Nya, mengagungkan-Nya, segan
kepada-Nya, mencintai-Nya, menginginkan-Nya, berharap kepada-Nya,
berdoa kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya dan berpaling dari selain
Dia, maka sungguh, seluruh anggota badan akan istiqâmah dengan taat
kepada-Nya. Karena hati adalah raja bagi organ tubuh (lainnya) yang
merupakan pasukan hati. Jika raja sudah istiqâmah, maka pasukan dan
rakyatnya akan istiqâmah pula[21].

5. Istiqâmah Lisan
Anggota tubuh yang terpenting yang perlu mendapatkan perhatian setelah
hati adalah lisan. Karena lisan adalah media yang mengungkapkan apa
yang tersimpan dalam lubuk hati. Terkadang keluar ucapan yang dianggap
sepele namun dapat membuat pengucapnya binasa di dunia dan akhirat.

Dalam hadits ini, ketika Sufyân bin ’Abdillâh Radhiyallahu anhu
bertanya, ”Apa yang engkau khawatirkan padaku?” Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam menjawab, ”Ini,” sambil memegang ujung lidah beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Ini menunjukkan bahwa lisan sangat
berbahaya, sebab seseorang dapat istiqâmah apabila lisannya istiqâmah
dalam ketaatan atau tidak mengucapkan perkataan yang mendatangkan dosa
dan murka Allah k. Diriwayatkan dari Abu Sa’id Radhiyallahu anhu, dia
memarfu’kannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ اْلأََعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ
اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ : اِتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَـا نَحْنُ بِكَ،
فَإِنِ اسْتَقَمْتَ ؛ اِسْتَقَمْنَا ، وَإِنِ اعْوَجَجْتَ ؛
اِعْوَجَجْنَا

“Jika anak keturunan Adam berada di pagi hari, seluruh organ tubuh
tunduk kepada lidah dengan berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah Azza wa
Jallapada kami, karena kami bersamamu. Jika engkau istiqâmah, kami
juga istiqâmah. Jika engkau menyimpang, kami juga menyimpang.”[22]

Dan kebanyakan yang menyeret manusia ke neraka adalah lisan. Banyak
nash yang berisi ancaman bagi yang membiarkan lisannya begitu saja
tanpa kendali.

إِنَّ الْعَبْدَ لَـيَـتَـكَـلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَـتَـبَـيَّـنُ
مَا فِـيْهَا يَـهْوِيْ بِـهَا فِـى النَّـارِ أَبْـعَدَ مَا بَيْـنَ
الْـمَشْرِقِ وَالْـمَغْرِبِ

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan kata-kata yang tidak jelas,
maka akan menjerumuskannya ke dalam Neraka lebih jauh daripada apa
yang ada di antara timur dan barat.”[23]

Demikian pula banyak nash yang mendorong agar menjaga lisan dan
meluruskannya sesuai dengan perintah Allah. Di antaranya:

Allah Azza wa Jalla berfirman:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya
Malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” [Qâf/50:18]

Dalam ayat ini terdapat penjelasan bahwa semua ucapan manusia akan
dihisab. Ada Malaikat yang selalu mengawasi semua perkataan manusia
dan selalu menulisnya, baik yang baik maupun yang buruk.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَازَعِيْمٌ فِيْ رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَوَإِنْ
كَانَ مُحِقًّا , وَأَناَزَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِيْ وَسَطِ الْجَنَّةِ
لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَ إِنْ كَانَ مَا زِحًا , وَأَنَا زَعِيْمٌ
بِبَيْتٍ فِيْ أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di taman-taman Surga
bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia yang benar; aku
menjamin dengan sebuah istana yang terdapat di tengah Surga bagi orang
yang meninggalkan dusta meskipun ia hanya bercanda; dan aku menjamin
dengan sebuah istana di Surga yang tertinggi bagi orang yang
membaguskan akhlaknya.”[24]

5. Kiat Menggapai Istiqâmah
Di antara kiat yang dapat mengantarkan kepada istiqâmah dalam berbagai
kondisi, perkataan, dan perbuatan ialah:
1. Taubat nasûha.
2. Murâqabatullâh, yaitu selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa
Jalla, baik ketika tidak terlihat orang lain maupun saat terlihat.
3. Muhâsabah, yaitu menginstrospeksi segala amal perbuatan yang telah
dikerjakan.
4. Mujâhadah, yaitu berjuang sungguh-sungguh menggembleng jiwa dalam
ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla

6. Berbagai Wasilah (Cara) Agar Tetap Teguh Di Atas istiqâmah
Agar tetap istiqâmah, ada beberapa hal yang bisa dilakukan, di antaranya :
1. Ikhlas dalam beramal dan mutâba’ah (mengikuti contoh Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).
2. Menjaga shalat lima waktu dengan berjama’ah di masjid.
3. Berani dalam melakukan amar ma’rûf dan nahi munkar.
4. Menuntut ilmu syar’i.
5. Takut kepada Allah Azza wa Jalla dengan mengingat siksa Neraka yang
sangat pedih.
6. Mencari teman yang shalih.
7. Menjaga hati, lisan, dan anggota badan dari yang diharamkan.
8. Mengetahui langkah-langkah setan.
9. Senantiasa berdzikir dan berdo’a agar diteguhkan di atas istiqâmah.

Di antara do’a yang sering dibaca Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قَلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas
agamamu.”[25]

FAEDAH HADITS
1. Semangat para shahabat Radhiyallahu anhum terhadap ilmu dan
semangat mereka dalam menjaga keimanan. Hal ini terlihat dari berbagai
pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam yang menyangkut semua yang bermanfaat bagi kehidupan dunia dan
akhirat mereka.
2. Orang yang tidak tahu hendaknya bertanya kepada orang yang berilmu.
3. Kecerdasan Abu ‘Amr atau Abu ‘Amrah Radhiyallahu anhu , dia
bertanya dengan pertanyaan agung yang merupakan puncak pertanyaan.
Pertanyaan beliau sangat dibutuhkan setiap muslim.
4. Selayaknya orang yang bertanya tentang ilmu mengajukan pertanyaan
yang singkat, padat, dan berbobot sehingga berbagai disiplin ilmu
tidak bercampur aduk.
5. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawâmi’ul kalim
(perkataan yang singkat, maknanya padat). Beliau Shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengumpulkan seluruh kebaikan agama dalam dua kalimat, yaitu
"Aku beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan istiqâmahlah".
6. Iman adalah keyakinan dengan hati, perkataan dengan lisan, dan
perbuatan dengan anggota badan. Ini ditunjukkan oleh makna istiqâmah
yang mencakup ketaatan hati, lisan, dan anggota badan.
7. Dalam hadits ini terdapat perintah agar istiqâmah di atas iman dan
tauhid dan mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla
semata dan melaksanakan ibadah dengan istiqâmah hingga meninggal
dunia.
8. Iman kepada Allah Azza wa Jalla tidak sempurna kecuali dengan
istiqomah, yaitu istiqomah dalam tauhid kepada Allah Azza wa Jalla dan
melaksanakan ketaatan kepada-Nya.
9. Anjuran untuk introspeksi diri, apakah ia orang yang istiqâmah atau
tidak, supaya ia memperbaiki diri.
10. Derajat istiqâmah sangat tinggi yang menunjukkan kesempurnaan iman
seseorang.
11. Istiqâmah sangat berat, dan Allah Azza wa Jalla memudahkan bagi
orang-orang yang ikhlas bertauhid dan terus-menerus dalam ketaatan.
12. Orang yang menyia-nyiakan kewajiban berarti ia bukan orang yang
istiqâmah bahkan ia telah menyeleweng. Dan penyelewengan akan semakin
besar tergantung sejauh mana dia meninggalkan kewajiban atau melakukan
hal yang diharamkan.
13. Seorang muslim dianjurkan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar
dikaruniai iman dan istiqâmah.
14. Seorang muslim dianjurkan berdoa kepada Allah Azza wa Jalla agar
dikaruniai iman dan istiqomah.

Mudah-mudahan apa yang saya tulis bermanfaat bagi penulis dan para
pembaca. Mudah-mudahan Allah menetapkan kita di atas Islam dan Sunnah
dan kita diwafatkan di atas Islam dan Sunnah. Kita memohon kepada
Allah Azza wa Jallaagar dikarunia ats-Tsabât (istiqâmah) dalam
mentauhidkan Allah Azza wa Jalla dan melaksanakan Sunnah. Dan kita
mohon kepada Allah agar kita diwafatkan dalam keadaan husnul khâtimah.
Amîn

Marâji’
1. Al-Qur-an dan terjemahnya.
2. Tafsîr Ibni Katsîr.
3. Tafsîr al-Qurthubi.
4. Shahîh Muslim
5. Musnad Imam Ahmad.
6. Sunan at-Tirmidzi.
7. Sunan Ibnu Mâjah.
8. Sunan ad-Dârimi.
9. Musnad ath-Thayâlisi.
10. Shahîh Ibni Hibbân (at-Ta’lîqâtul Hisân).
11. Sunan al-Baihaqi.
12. al-Mu’jamul Kabîr, karya Imam ath-Thabrâni.
13. Syarah Shahîh Muslim lin Nawawi.
14. Kitâbush Shamt libni Abid Dun-ya.
15. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, karya Ibnu Rajab al-Hanbali. Tahqîq:
Syu’aib al-Arnauth dan Ibrâhîm Bâjis.
16. Syarh al-Arba’în an-Nawawiyyah libni Daqîqil ’Ied.
17. Syarhul-Arba’în an-Nawawiyyah lil Allâmah as-Sindi.
18. Silsilatul Ahâdîtsish Shahîhah.
19. Qawâ’id wa Fawâ-id minal ‘Arba’în an-Nawawiyyah, karya Nâzhim
Muhammad Sulthân.
20. al-Wâfi fî Syarhil Arba’în an-Nawawiyyah, karya Dr. Musthafa
al-Bugha dan Muhyidin Mustha.
21. Syarhul Arba’în an-Nawawiyyah, karya Syaikh Muhammad bin Shâlih
al-‘Utsaimîn.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XIII/Rabiul Tsani
1430/2011M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl.
Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197
Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 185).
[2]. Lihat al-Wâfî fî Syarhil-‘Arba’în an-Nawawiyyah (hlm. 155).
[3]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/510) dan al-Wâfi fî
Syarhil-Arba’în (hlm. 155).
[4]. Syarahul-Arba’in libni Daqiqil ‘Ied (hlm. 85).
[5]. Syarahul-Arba’in (hlm. 74) karya al-‘Allâmah as-Sindi.
[6]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/510).
[7]. Tafsîr Ibni Katsîr (VII/176) tahqîq Sami bin Muhammad as-Salamah.
[8]. Syarh Shahîh Muslim (II/8-9).
[9]. Syarhul-Arba’în libni Daqîqil ‘Ied (hlm. 86).
[10]. Bahjatun Nâzhirîn, Syarh Riyâdhis Shâlihîn (I/165).
[11]. Tafsîr al-Qurthubi (XIX/17).
[12]. Lihat Syarhul-Arba’în libni Daqiqil ‘Ied (hlm. 85).
[13]. Tafsîr Ibni Katsîr (VII/175).
[14]. Lihat Tafsîr Ibni Katsîr (VII/177) dengan diringkas dan Qawâ’id
wa Fawâ-id (hlm. 186-187).
[15]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/510).
[16]. Lihat Qawâ’id wa Fawâ-id (hal. 187).
[17]. Tafsîr Ibni Katsîr (IV/354).
[18]. Lihat Tafsîr al-Qurthubi (IX/71)7
[19]. Shahih: HR. at-Tirmidzi (no. 3297), al-Hâkim (II/343), Abu
Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' (IV/388, no. 5964), dan selainnya. Lihat
Silsilatul-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 955).
[20]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/508).
[21]. Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam (I/511-512).
[22]. Hasan: HR. Ahmad (III/95-96), at-Tirmidzi (no. 2407), Ibnu Abid
Dunya dalam Kitâbush Shamt (no. 12), Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum
wal Lailah (no. 1), al-Baihaqi dalam Syu’abul Iimân (no. 4595), Abu
Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ' (III/342, no. 5779), al-Baghawi dalam
Syarhus Sunnah (no. 4126), dan selainnya. Lihat Shahîhul Jâmi’ish
Shaghîr (no. 351).
[23]. Shahîh: HR. al-Bukhâri (no. 6477) dan Muslim (no. 2988 (50)),
lafazh ini milik Muslim, dari Shahabat Abu Hurairah z.
[24]. Hasan: HR. Abu Dâwud (no. 4800) dan al-Baihaqi dalam as-Sunanul
Kubrâ (X/249) dari Shahabat Abu Umâmah z . Lihat Silsilatul Ahâdîts
ash-Shahîhah (no. 273).
[25]. Shahîh: HR. At-Tirmdizi (no. 3522) dan Ahmad (VI/302, 315) dari
Ummu Salamah.


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke