BICARA TANPA PAHALA

Oleh
Ustadz Abu Isma'il Muslim Al-Atsari
http://almanhaj.or.id/content/3360/slash/0/bicara-tanpa-pahala/

Waktu (baca : usia) adalah modal untuk melakukan amal shalih. Orang
yang mengerti hakikat ini, maka dia tidak akan menggunakannya kecuali
untuk perkara yang bermanfaat. Dia akan berusaha memanfaatkan segala
potensi diri untuk mendapatkan pahala sebanyak mungkin. Diantara yang
bisa mudah dimanfaatkan untuk menabung bekal disisi Allah Azza wa
Jalla adalah lidah. Dengan lidah, seseorang bisa berdzikir dan saling
nasehat menasehati sehingga meraih banyak pahala. Namun sebaliknya,
lidah juga bisa mengakibatkan dosa dan menyeret seseorang ke neraka,
jika tidak dimanfaatkan untuk kebaikan. Kesadaran seseorang terhadap
fungsi dan bahaya lisan ini akan mendorong dirinya untuk menjaga
lidah, tidak berbicara kecuali yang bermanfaat.

Berikut kami nukilkan beberapa bencana yang dapat ditimbulkan oleh
lidah. Dengan harapan agar kita menjauhinya setelah kita faham. Karena
kita tidak akan bisa menghindarinya kalau kita belum mengetahui
berbagai bencana ini. Diantara bencana-bencana itu adalah :

1. Membicarakan Sesuatu Yang Tidak Bermanfaat.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكَهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Sesungguhnya di antara kebaikan Islam seseorang adalah dia
meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat [HR. Tirmidzi, no. 2317;
Ibnu Mâjah, no. 3976; Mâlik, 2/470; al-Baghawi, no. 4132. Dishahihkan
oleh al-Albâni]

Sesuatu yang tidak bermanfaat itu, bisa berupa perkataan atau
perbuatan; perkara yang haram, atau makruh, atau perkara mubah yang
tidak bermanfaat. Oleh karena itu, supaya terhindar dari bahaya lisan
yang pertama ini, hendaklah seseorang selalu sesuatu yang mengandung
kebaikan. Jika tidak bisa, hendaknya diam. Nabi Muhammad Shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا
أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia
mengucapkan sesuatu yang baik atau diam. [HR. Bukhâri, no. 6475;
Muslim, no. 47; dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Walaupun ini berat, namun seyogyanya seorang hamba yang ingin selamat
di akhirat agar selalu berusaha untuk melakukannya. Diriwayatkan bahwa
Muwarriq al-‘Ijli rahimahullah berkata : “Ada satu perkara yang aku
sudah mencarinya semenjak duapuluh tahun lalu. Aku belum berhasil
meraihnya. Namun aku tidak akan berhenti mencarinya”. Orang-orang
bertanya: “Apa itu wahai Abu Mu’tamir?” Dia menjawab : “Diam (tidak
membicarakan-red) dari sesuatu yang tidak bermanfaat bagiku”

2. Berdebat Dengan Cara Batil Atau Tanpa Ilmu.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللَّهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang
selalu mendebat. [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll]

Mendebat dalam hadits diatas maksudnya adalah mendebat dengan cara
batil atau tanpa ilmu. Sedangkan orang yang berada di pihak yang
benar, sebaiknya dia juga menghindari perdebatan. Karena debat itu
akan membangkitkan emosi, mengobarkan kemurkaan, menyebabkan dendam,
dan mencela orang lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ
وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ
الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ
لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang
meningalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar. Saya memberikan
jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meningalkan kedustaan
walaupun dia bercanda. Saya memberikan jaminan rumah di surga yang
tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya. [HR. Abu Dawud, no.
4800; dishahîhkan an-Nawawi dalam Riyâdhus Shâlihîn, no. 630 dan
dihasankan oleh Syaikh al-Albâni di dalam ash-Shahîhah, no. 273]

Mengingkari kemungkaran dan menjelaskan kebenaran merupakan kewajiban
seorang Muslim. Jika penjelasan itu diterima, itulah yang dikehendaki.
Namun jika ditolak, maka hendaklah dia meninggalkan perdebatan. Ini
dalam masalah agama, apalagi dalam urusan dunia, maka tidak ada alasan
untuk berdebat.

3. Banyak Berbicara, Suka Mengganggu Dan Sombong
Masalah-masalah ini dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallamdengan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ
وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ
وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا
الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ

Sesungguhnya termasuk orang yang paling kucintai di antara kamu dan
paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah
orang-orang yang paling baik akhlaqnya di antara kamu. Dan
sesungguhnya orang yang paling kubenci di antara kamu dan paling jauh
tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah ats-tsartsârûn,
al-mutasyaddiqûn, dan al-mutafaihiqûn. Para sahabat berkata: “Wahai
Rsulullah, kami telah mengetahui al-tsartsârûn dan al-mutasyaddiqûn,
tetapi apakah al-mutafaihiqûn? Beliau menjawab: “Orang-orang yang
sombong”. [Hadits Shahih dengan penguat-penguatnya. HR Tirmidzi, no.
2018 dari Jâbir Radhiyallahu anhu ; dan Ahmad 2/369 dari Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu]

Setelah meriwayatkan hadits ini, imam Tirmidzi rahimahullah
mengatakan, ”ats-Tsartsâr adalah orang yang banyak bicara, sedangkan
al-mutasyaddiq adalah orang yang biasa mengganggu orang lain dengan
perkataan dan berbicara jorok kepada mereka”.

Imam Ibnul Atsîr rahimahullah menjelaskan dalam kitab an-Nihâyah :
“ats-Tsartsârûn adalah orang-orang yang banyak bicara dengan
memaksakan diri dan keluar dari kebenaran. al-Mutasyaddiqûn adalah
orang-orang yang berbicara panjang lebar tanpa hati-hati.. Ada juga
yang mengatakan, al-mutasyaddiq adalah orang yang mengolok-olok orang
lain dengan mencibirkan bibir kearah mereka”.

Imam al-Mundziri rahimahullah mengatakan dalam at-Targhîb :
“ats-Tsartsâr adalah orang yang banyak bicara dengan memaksakan diri.
al-Mutasyaddiq adalah orang yang berbicara dengan seluruh bibirnya
untuk menunjukkan kefasihan dan keagungan perkataannya. al-Mutafaihiq
hampir semakna dengan al-mutasyaddiq. karena maknanya adalah orang
yang memenuhi mulutnya dengan perkataan dan berbicara panjang lebar
untuk menunjukkan kefasihannya, keutamaannya, dan merasa lebih tinggi
dari orang lain. Oleh karena inilah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallammenafsirkan al-mutafaihiq dengan orang yang sombong. [Dinukil
dengan ringkas dari Tuhfatul Ahwâdzi, Syarh Tirmidzi]

Tetapi tidak termasuk sajak yang dibenci, lafazh-lafazh yang
disampaikan khatib, kalimat indah untuk memberi peringatan, asal tidak
berlebihan dan aneh. Karena tujuannya adalah untuk membangkitkan hati
dan menggerakkannya menuju kebaikan, kalimat yang indah, dan
semacamnya.

4. Mengucapkan Perkataan Keji, Jorok, Celaan, Dan Semacamnya.
Semua hal ini tercela dan terlarang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ
وَلَا الْبَذِيءِ

Seorang mukmin bukanlah orang yang banyak mencela, bukan orang yang
banyak melaknat, bukan orang yang keji (buruk akhlaqnya), dan bukan
orang yang jorok omongannya. [HSR. Tirmidzi, no. 1977; Ahmad, no. 3839
dan lain-lain]

Fuhsy (keji) dan badza’ (jorok) adalah mengungkapkan perkara-perkara
yang dianggap keji (tabu) dengan kata-kata gamblang. Biasanya tentang
lafazh-lafazh jima’ dan yang berkaitan dengannya. Orang-orang yang
sopan akan menjauhi ungkapan-ungkapan itu dan mengunakan kata-kata
sindiran, sebagaimana dicontohkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan
Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Betapa banyak perkataan keji dan jorok tersebar di zaman ini, di
koran-koran, majalah-majalah, buku-buku, novel-novel, radio, HP, atau
lainnya. Bahkan ada perkara yang lebih buruk dan lebih keji dari
sekedar ucapan !! Namun yang bisa merasakan keburukannya adalah
orang-orang yang hatinya masih hidup. Sedangkan orang yang hatinya
sakit atau mati, maka dia tidak akan merasakan keburukannya, bahkan
mungkin sebaliknya, dia akan merasa nikmat. Sebagaimana luka yang
hanya dirasakan oleh orang yang masih hidup, sedangkan orang yang
mati, dia tidak akan merasakan sakit akibat luka. Wallahul Musta’an.

5. Keterlaluan Dalam Bercanda.
Yaitu semua waktunya digunakan untuk bercanda dan membuat orang
tertawa. Sesungguhnya banyak canda akan menjatuhkan wibawa,
menyebabkan dendam dan permusuhan, serta mematikan hati. Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda :

لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Janganlah kamu memperbanyak tawa, karena sesungguhnya banyak tertawa
itu akan mematikan hati. [HSR. Ibnu Mâjah, no. 4193; dishahîhkan oleh
al-Albâni dalam Silsilah ash-Shahîhah, no. 506]

Apalagi jika banyak bercanda ini ditambahi dusta, maka jelas akan
lebih berbahaya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallammemperingatkan
dengan sabda beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ بِالْحَدِيثِ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ
فَيَكْذِبُ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

Kecelakaan bagi orang yang menceritakan suatu, lalu dia berdusta untuk
membuat orang-orang tertawa. Kecelakaan baginya ! Kecelakaan baginya
!. [HSR. Tirmidzi, no. 2315; Abu Dâwud, no. 4990; dishahîhkan oleh
al-Albâni]

Di zaman dahulu, bercanda dan membuat tertawa itu hanyalah dilakukan
oleh pribadi-pribadi tertentu. Namun sekarang, grup lawak bermunculan
seperti jamur di musim hujan, diperlombakan, dan dipertontonkan serta
dibayar dengan honor tinggi. Setan telah menjerat banyak orang dalam
kesesatan dan memanfaatkan mereka sebagai perangkap. Semoga Allah Azza
wa Jalla menjaga kita dari segala jebakan setan.

Namun jika canda itu dilakukan kadang-kadang dan dengan perkataan yang
benar serta dilakukan kepada orang-orang yang membutuhkannya, seperti
anak-anak, wanita, sebagian orang laki-laki, sebagaimana canda Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hal itu tidak mengapa. Karena
canda akan menyenangkan hati dan menyegarkan suasana. Sebagian ulama
menyatakan bahwa canda dalam perkataan itu seperti garam dalam
makanan.

6. Membicarakan Suatu Yang Bathil.
Maksudnya adalah menceritakan perbuatan-perbuatan maksiatnya, seperti
berbangga dengan perbuatan bermabuk-mabukan atau kemungkaran yang
lain. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda:

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ
الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ
يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ
عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ
وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ

Semua umatku mu’âfan (akan diampuni dosanya; atau tidak boleh
dighibah) kecuali orang-orang yang melakukan dosa dengan
terang-terangan. Dan termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan
adalah seseorang melakukan suatu perbuatan buruk pada malam hari,
kemudian di waktu pagi dia mengatakan, ”Hai Fulan, tadi malam aku
melakukan ini dan ini”. Padahal di waktu malam Allah Azza wa Jalla
telah menutupi perbuatan buruknya, namun di waktu pagi dia membongkar
tutupan Allah. [HR. Bukhâri, no. 6069; Muslim, no. 2990]

Oleh karena itulah, barangsiapa yang telah bertaubat dari perbuatan
dosa, hendaklah dia menutupi aib dirinya, tidak perlu bercerita kepada
orang lain.

7. Perkataan Yang Salah Berkaitan Dengan Masalah Agama, Apalagi Jika
Berkaitan Dengan Sifat-Sifat Allah Azza wa Jalla .
Kesalahan lisan yang satu ini, tentu susah diatasi kecuali oleh para
ahli ilmu dan ahli bahasa. Orang yang malas atau tidak
bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan bahasa, maka perkataannya tidak
lepas dari ketergelinciran. Semoga Allah Azza wa Jalla mema’afkan
kesalahan akibat ketidaktahuan. Diantara contoh perkataan yang salah
berkaitan dengan masalah agama yaitu perkataan ‘Apa yang Allah dan
engkau kehendaki’. Dalam hadits dijelaskan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقُولُ مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ فَقَالَ
بَلْ مَا شَاءَ اللَّهُ وَحْدَهُ

Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam mendengar seorang laki-laki berkata: "Mâ syâ’allah
wa syi'ta" (apa yang Allah dan engkau kehendaki), maka beliau bersabda
: "Bukan begitu, tetapi (katakanlah) : "Mâ syâ’allah wahdah" (apa yang
dikehendaki oleh Allah semata). [HR. Ahmad, no: 1965]

Hikmah larangan ucapan "Mâ syâ’allah wa syi'ta" (apa yang Allah dan
engkau kehendaki), dan semacamnya adalah karena ucapan itu merupakan
bentuk menyekutukan kehendak Allah. Karena kata sambung "dan" bermakna
mengumpulkan, menyamakan dan menyekutukan. Yang benar, dalam
menggabungkan kehendak hamba dengan kehendak Allah ialah dengan
menggunakan kata "kemudian". Karena kata “kemudian” mengandung makna
urutan (berikutnya) dan ada selang waktu. Hal ini karena kehendak
Allah Azza wa Jalla mendahului kehendak hamba. Maka tidak ada satu pun
peristiwa yang terjadi kecuali yang dikehendaki oleh Allah Azza wa
Jalla . Semua yang Allah Azza wa Jalla kehendaki maka pasti terjadi,
dan yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi.

Syaikh Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallamâshiruddîn al-Albâni
berkata dalam kitab Silsilah al-Ahâdîst ash-Shahîhah, 1/266-267 :
"Dalam hadits-hadits ini terdapat dalil bahwa ucapan seseorang kepada
yang lain "mâ syâ’allah wa syi'ta" (apa yang Allah dan engkau
kehendaki) dinilai syirik dalam syari'at. Dan ini termasuk syirik
dalam kata-kata. Karena memberikan kesan bahwa kehendak hamba
sederajat dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala . Sebabnya adalah
karena menggabungkan dua kehendak tersebut. Contoh yang lain adalah
perkataan sebagian orang-orang awam dan orang-orang seperti mereka
yang mengaku berilmu : "Tidak ada bagiku selain Allah dan anda", "Kami
bertawakkal kepada Allah dan kepada anda". Dan seperti perkataan
sebagian para penceramah: "Dengan nama Allah dan dengan nama tanah
air", atau "Dengan nama Allah dan dengan nama bangsa", dan kata-kata
syirik yang sejenisnya wajib ditinggalkan dan bertaubat, dalam rangka
beradab kepada Allah Tabâraka wa Ta'âla".

Selain yang telah disebutkan diatas, sesungguhnya bencana-bencana
lidah masih banyak, seperti ghibah, namimah, dusta, dan lain
sebagainya. Namun sedikit yang kami sampaikan ini mudah-mudahan
sebagai pemacu bagi kita semua untuk selalu menjaga lidah kita dari
keburukan dan selalu menghiasinya dengan kebaikan. Al-hamdulillahi
Rabbil 'Alamiin.

Maraji :
1. Mukhtashar Minhâjul Qâshidîn, Imam Ibnu Qudamah, tahqîq Syaikh Ali al-Halabi.
2. Aafâtul Lisân fî Dhauil Kitâb was Sunnah, Dr. Sa'id bin 'Ali bin
Wahf Al-Qahthâni
3. Jâmi’ul ‘Ulûm wal Hikam, Imam Ibnu Rajab, tahqîq Syu’aib al-Arnauth
dan Ibrâhim Bajis; penerbit ar-Risâlah; cet: 5; th: 1414 H/ 1994 M)
4. Hashâ-idul Alsun, karya Syaikh Husain al-'Awaisyah, penerbit. Dârul
Hijrah. Dan lain-lain.

Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/Shafar 1430/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke