RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM TIDAK MENGETAHUI ALAM GAIB

Oleh
Ustadz Nur Kholis bin Kurdian.
http://almanhaj.or.id/content/3361/slash/0/rasulullah-shallallahu-alaihi-wa-sallam-tidak-mengetahui-alam-gaib/

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ
اللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ
الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ ۚ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ
وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Katakanlah (wahai Muhammad):Aku tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan
bagi diriku dan tidak pula kuasa menolak kemadharatan kecuali yang
dikehendaki Allah. Dan andaikata aku mengetahui yang ghaib, tentulah
aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa
kemadharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa
berita gembira bagi orang-orang yang beriman. [al-A’râf/7: 188]
.
PENJELASAN AYAT

TIDAK ADA YANG MENGETAHUI PERKARA GAIB KECUALI HANYA ALLAH TA’ALA.
Termasuk bagian dari dasar-dasar agama Islam adalah mengimani bahwa
tidak ada yang mengetahui perkara gaib kecuali hanya Allah Azza wa
Jalla semata, sedangkan para Nabi dan Rasul-Nya tidak mengetahui
perkara gaib, kecuali pada hal-hal yang telah dikabarkan oleh Allah
ta’ala kepada mereka.

Ayat di atas menerangkan, Allah Azza wa Jalla memerintahkan Rasul-Nya
Shallallahu ‘alaihi wa sallamuntuk menjawab pertanyaan orang-orang
Quraisy atau yang lainnya tentang kapan terjadinya hari Kiamat[1] ,
dengan suatu jawaban yang menunjukkan tidak ada makhluk yang
mengetahui kepastian waktu terjadinya kecuali Allah Azza wa Jalla
saja. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang
hamba dan utusan-Nya yang tidak kuasa mendatangkan kemanfaatan bagi
dirinya dan tidak pula kuasa menolak bahaya kecuali yang dikehendaki
Allah Azza wa Jalla . Oleh sebab itu, beliau tidak mempunyai
pengetahuan yang mutlak atas perkara gaib. Pengetahuan beliau tentang
itu terbatas dan tidak mencakup secara keseluruhan. Itu pun tidak
terlepas dari wahyu dari Allah Azza wa Jalla .

Asy-Syaukani t mengatakan, “Ayat ini menjelaskan ayat sebelumnya (yang
berbunyi) :

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا
عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ

Mereka menanyakan kepadamu tentang Kiamat; kapan terjadinya?,
Katakanlah:” Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada di sisi
Rabb-ku, tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya
selain Dia.” . [al-A’râf/7: 187].

Lantas beliau meneruskan, “(Oleh sebab itu) jika beliau tidak kuasa
mendatangkan kemanfaatan bagi dirinya dan tidak pula mampu menolak
kemadharatan kecuali yang dikehendaki Allah Azza wa Jalla , maka
demikian pula beliau tidak mengetahui perkara gaib yang tidak
dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla kepadanya. Hal ini menunjukkan
sifat ‘ubûdiyah (status sebagai seorang hamba dan makhluk) Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam (di hadapan Allah Azza wa Jalla ) dan
bahwa seorang hamba itu lemah, tidak mampu mengetahui urusan-urusan
Rabbnya.[2]

Kemudian dijelaskan di dalam firman Allah Azza wa Jalla berikutnya
yang berbunyi:

وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا
مَسَّنِيَ السُّوءُ

Dan andaikata aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan
sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemadharatan…

Pengertian penggalan ayat di atas, andaikata aku mengetahui semua
perkara yang gaib, pastilah aku akan selalu menyiapkan yang terbaik
dan selalu waspada terhadap apa yang akan menimpaku. Akan tetapi, aku
adalah seorang hamba yang tidak mengetahui apa-apa yang di sisi
Rabb-ku tentang qadha dan qadar-Nya (ketentuan dan takdir Allah Azza
wa Jalla ) atas diriku.[3]

Di dalam ayat yang lain, Allah Azza wa Jalla juga menjelaskan bahwa
kunci-kunci perkara gaib hanyalah ada disisi-Nya.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

Dan di sisi Allah-lah kunci-kunci yang ghaib.[al-An’âm/6:59].

Allah Azza wa Jalla juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ
وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ
غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ اللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Sesungguhnya hanya di sisi Allah sajalah pengetahuan tentang hari
Kiamat; dan Dia lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada
di dalam rahim, dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan
pasti) apa yang diusahakan besok, dan tiada seorang pun yang
mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Mengenal. [Luqmân/31: 34]

Perkara-perkara yang diberitakan Allah dalam ayat di atas adalah
kunci-kunci perkara gaib. Allah Azza wa Jalla merahasiakannya dari
siapapun. Termasuk juga pengetahuan tentang datangnya hari Kiamat juga
dirahasiakan oleh Allah Azza wa Jalla , tidak ada yang dapat
mengetahuinya, baik seorang Nabi yang diutus maupun malaikat yang
terdekat dengan Allah Azza wa Jalla sekalipun.[4]

KEYAKINAN YANG PARAH
Ayat di atas merupakan salah satu bantahan terhadap keyakinan sebagian
orang Sufi yang bersikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka sampai mengatakan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallammengetahui seluruh perkara gaib secara
mutlak dan takdir Allah Azza wa Jalla atas semua yang akan terjadi
pada makhluk-Nya yang telah ditulis di Lauhul mahfuzh.

Contoh nyata dari keyakinan keliru itu, perkataan al-Bushiri penulis
qashidah Burdah yang sudah masyhur di tanah air, ia mengatakan:

فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدُّنْيَا وَضَرَّتِهَا وَمِنْ عُلُوْمِكِ عِلْمُ
اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ

Sesungguhnya termasuk dari kemurahanmu-lah (wahai Rasul) adanya dunia
dan akhirat.

Dan di antara pengetahuanmu, pengetahuan (tentang isi) di Lauhul
mahfuzh dan pena (yang menulisnya)
.
Sudah jelas, perkataan ini tidak pantas diucapkan kecuali untuk Allah
Azza wa Jalla .[5]

Ada juga yang mengaku mengetahui kapan terjadinya hari Kiamat melalui
proses kasyf yang telah dicapainya [6]. Dengan lantang, ia mengatakan,
“Pada tahun sekian, tanggal sekian, dan jam sekian, akan terjadi hari
Kiamat”, -Na’udzubillah min dzalik- bukankah perkataan tersebut
perkataan kufur?. Bagaimana tidak??!! Perkataan ini jelas-jelas
menentang ayat di atas. Sebab, Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan
bahwa tidak ada satu makhluk pun yang mengetahui kapan terjadinya hari
Kiamat kecuali hanya Dia Azza wa Jalla saja?

Sementara orang juga meyakini bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallamjuga mengetahui kapan terjadinya hari Akhir. Pernyataan ini
terbantahkan dengan riwayat yang berasal dari istri Rasulullah ‘Aisyah
Radhiyallahu anuma.

‘Aisyah, Ummul Mukminin Radhiyallahu anhuma berkata:

وَمَنْ زَعَمَ أَنَّهُ يُخْبِرُ بِمَا يَكُونُ فِى غَدٍ فَقَدْ أَعْظَمَ
عَلَى اللَّهِ الْفِرْيَةَ وَاللَّهُ يَقُولُ (قُلْ لاَ يَعْلَمُ مَنْ
فِى السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ الْغَيْبَ إِلاَّ اللَّهُ ).

Barang siapa yang mengatakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi
wa sallam mengetahui apa yang akan terjadi di esok hari, maka sungguh
dia telah berbuat dusta yang besar kepada Allah Azza wa Jalla (Karena)
Allah Azza wa Jalla telah berfirman (yang artinya), ”Katakanlah, tidak
ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang
gaib, kecuali Allah .”.[7] [8]

Jika keyakinan seperti ini, yaitu meyakini Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallammengetahui apa yang akan terjadi esok hari, sudah
merupakan kedustaan yang amat besar terhadap Allah Azza wa Jalla ,
maka bagaimana dengan orang yang mengaku bahwa dirinya mengetahui apa
yang akan terjadi esok hari?.

Kemudian di akhir ayat, Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنْ أَنَاْ إِلاَّ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira
bagi orang-orang yang beriman.

Ayat ini menerangkan bahwa tugas Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallamialah memberi peringatan kepada orang musyrik dan para pelaku
maksiat akan datangnya adzab Allah Azza wa Jalla (atas mereka) dan
memberi kabar gembira dengan perolehan pahala yang atas keimanan dan
tauhid serta amal shaleh (bagi orang mukmin). (Dan penetapan) bahwa
beliau bukanlah Rabb (Penguasa alam) yang mengetahui yang gaib secara
mutlak.[9]

BUKTI RASULUALLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TIDAK MENGETAHUI PERKARA GAIB.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamtidaklah mengetahui perkara
gaib kecuali yang telah dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada
beliau. Tidak semua perkara gaib itu diketahui oleh beliau. Berikut
ini dua diantara banyak riwayat yang membuktikan Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menguasai ilmu gaib:

1. Di bulan Jumâdal ula dan Jumâdats tsâniyah , pada tahun ke-2
Hijriyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersama 150 atau 200
pasukan Muhajirin keluar dari Madinah untuk menghadang kafilah dagang
suku Quraisy yang bergerak dari Mekkah menuju Negeri Syam yang
dipimpin oleh Abu Sufyan. Sesuai berita yang sampai kepada beliau,
rombongan dagang itu membawa banyak barang dagangan Ketika sampai pada
daerah ‘Usyairah (tempat dekat kota Yanbu’), beliau ternyata tidak
menjumpainya, karena kafilah dagang milik kaum Quraisy telah melewati
tempat itu beberapa hari sebelumnya. Maka, beliau bersama pasukannya
kembali ke Madinah.[10]

Dari peristiwa di atas, seandainya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengetahui dengan pasti kapan kafilah tersebut sampai di
‘Usyairah, tentu beliau akan tiba di sana tepat waktu.

2. Ketika ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma tertinggal dari rombongan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena mencari kalungnya yang
hilang, beliau dan rombongan tidak mengetahui kalau ‘Aisyah
Radhiyallahu anhuma tidak ada di dalam sekedupnya.Waktu itu mereka
menyangka ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma sudah berada di dalamnya,
setelah menyelesaikan urusannya. Mereka baru mengetahui dimana ‘Aisyah
Radhiyallahu anhuma , saat Shafwân bin Mu’aththal Radhiyallahu anhu
mengantar ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma kepada Rasulullah Shallallahu
‘alaihi wa sallam.

Selanjutnya, berkembang isu ‘Aisyah berselingkuh yang disebarkan oleh
orang-orang munafik. Berita itu pun sampai ke telinga Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Saat itu, beliau tidak mengetahui
benar tidaknya kabar yang sedang tersiar itu. Selama sebulan, beliau
berdiam diri. Beberapa Sahabat pun sempat beliau mintai pendapat,
seperti ‘Ali bin Abi Thâlib dan Usâmah bin Zaid Radhiyallahu anhuma
tentang ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma
.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambaru mengetahui bahwa tuduhan
tersebut merupakan kedustaan setelah Allah Azza wa Jalla menurunkan
ayat tentang barâ`ah (terbebasnya) ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma dari
tuduhan itu.[11]

Dan masih banyak lagi bukti lain yang menunjukkan bahwa Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam tidak mengetahui yang gaib kecuali apa-apa
yang telah dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla kepada beliau.

PELAJARAN DARI AYAT:
1. Pengetahuan tentang waktu terjadinya Kiamat itu hanya ada pada
Allah Azza wa Jalla saja, sedangkan setiap orang yang ditanya tentang
hal ini, dia tidaklah lebih mengetahui dari si penanya.

2. Tanda-tanda hari Kiamat yang disebutkan di dalam al-Qur’ân maupun
Hadits, bukan berarti hari Kiamat telah diketahui kapan terjadinya,
akan tetapi tanda-tanda tersebut merupakan indiktor awal akan
terjadinya hari Kiamat.

3. Hanya Allah Azza wa Jalla yang mengetahui perkara yang gaib secara
mutlak. Para rasul dan nabi Allah Azza wa Jalla adalah hamba-hamba-Nya
yang tidak mengetahui yang gaib kecuali yang telah diberitakan kepada
mereka.

4. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah utusan-Nya, insan
yang dipilih oleh Allah Azza wa Jalla untuk mengemban risalah Ilahi
kepada seluruh umat manusia. Kedudukan beliau sangat tinggi di
sisi-Nya. Sungguhpun demikian, beliau tidak mengetahui kapan
terjadinya hari Kiamat, apalagi orang yang derajatnya di bawah beliau.

5. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammengetahui beberapa
perkara gaib setelah diberitahu oleh Allah Azza wa Jalla , maka tidak
boleh dikatakan bahwa beliau mengetahui yang gaib secara mutlak.
Wallahu a’lam.

Maraji’:
1. Aisarut Tafâsîr, Abu Bakr Jabir al-Jazâiri, Maktabatul Ulûm Wal
Hikam, Madinah. Cetakan 5. Tahun 1424 H – 2003 M.
2. Tafsîr al-Qur’ânul ‘Azhîm, Ibnu Katsir. Tahqiq Sami bin Muhammad
Salamah. Dar Thaibah. Cetakan 2, Tahun 1420 H – 1999 M.
3. Fat-hul Qadîr, Muhammad bin ‘Ali asy-Syaukani. Darul Kutub
al-Ilmiah Beirut-Lebanon. Cetakan 1. Tahun 1415 H – 1994 M.
4. Shahîh Bukhâri, Muhammad bin Isma’il al-Bukhâri. Tahqiq Dr.
Mushtafa Dibul Bugha. Dar Ibnu Katsîr, Beirut, Cetakan 3, Tahun 1407 H
– 1987 M.
5. Shahîh Muslim, Muslim Ibnul Hajjâj an-Naisâburi, Dârul Jîl dan
Dârul Afâq al-Jadîdah Beirut.
6. Sîrah Nabawiyah, Ibnu Hisyâm. Dârul Ma’rifah Beirut – Lebanon.
7. Sîrah Nabawiyah fi Dhauil Mashâdir al-Ashliyyah, Dr. Mahdi
Rizqullah. Dâr ‘Imâmud Da’wah, Riyadh. Cetakan II, Tahun 1424 H – 2003
M.
8. Rahîqul Makhtûm, Shafiyurrahmân Mubârakfuri. Cetakan Muassasah
Haramain al-Khairiyyah, Riyadh.
9. At-Tamhîd Li Syarhi Kitâbit Tauhid, Shâlih bin ‘Abdul ‘Aziz Alu
Syaikh. Dârut Tauhîd, Riyadh, Cetakan 1, Tahun 1423 H – 2002 M.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun XII/Shafar 1430/2009M.
Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8
Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Aisarut Tafâsîr (2/271).
[2]. Fat-hul Qadîr (1/349).
[3]. Fat-hul Qadîr (1/349).
[4]. Tafsîr al-Qur’ânul ‘Azhîm (6/352).
[5]. At-Tamhîd Li Syarhi Kitâbit Tauhid hl.239.
[6]. Pengertian kasyf dalam idiologi Sufi adalah terbukanya tabir
(rahasia Ilahi) bagi hati dan penglihatan orang Sufi sehingga dia
(bisa melihat alam kabir dan alam shaghir), serta mengetahui apa-apa
yang di langit dan di bumi dan mengetahui apa-apa yang akan terjadi.
[7]. an-Naml: 65
[8]. Shahîh Bukhâr (4/1840), Shahîh Muslim (1/110). Teks ini milik Muslim
Aisarut Tafâsîr (2/271).
[9]. Rahîqul Makhtûm hal.295, Sîrah Nabawiyah fi Dhauil Mashâdir
al-Ashliyyah (1/400-4001).
[10]. Makhtûm hal.295, Sîrah Nabawiyah fi Dhauil Mashâdir al-Ashliyyah
(1/400-4001).
[11]. Shahîh Muslim (8/112) dengan diringkas


------------------------------------

Website anda http://www.almanhaj.or.id
Berhenti berlangganan: [email protected]
Ketentuan posting : http://milis.assunnah.or.id/aturanmilis/
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/assunnah/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke